Untuk bisa sampai disana saja harus menumpang bis atau menumpang kereta jurusan arah timur, belum seperti sekarang dimana sudah ada kereta yang memiliki tujuan Madiun. Saya kecil slelau menghapalkan urut-urutan arah dari jogja hingga madiun. Seperti Jogja-Klaten-Delanggu-Kartosuro-Surakarta(solo)-Sragen-Mantingan-Ngawi-Magetan-Maospati-Jiwan-Madiun. Kadang juga transit di beberapa tempat yang saya sebutkan itu. Madiun lambat laun mengalami kemajuan pesat, terutama semenjak saya menginjak bangku SMA. Saya pun sedikit banyak bisa membaur dengan kota yang dulu bagi saya adalah semacam daerah terisolasi. Jauh dari hiburan dan suasana kota. Ya, maklum saja, rumah eyang saya tidak berada di Madiun kota, namun ada di perbatasan antara karesidenan dan kota.
Kota yang dijuluki kota Gadis ini sekarang telah jauh berbeda. Banyak masuknya industri kapitalis dan juga semakin banyak kendaraan bermotor yang ada disana, menggambarkan seolah kota ini tak mau ketinggalan. Bahkan merchant2 terkenal juga telah membuka cabang di kota yang mempunyai makanan khas pecel dan brem ini. Uuaahh, padal saya teringat cerita ibu, Madiun dulu belum seperti sekarang. Masih sarat dengan pergerakan karate teratai putih, dimana salah satu paman saya adalah pendekar sabuk hitam Teratai. Atau sesekali ingin mengafdrukkan foto dari kamera yang masih menggunakan film, di studio Mirako. Dan hingga sekarang studio tersebut masih eksis dan tetap laris. Sebab, yaaa.. mau bagaimana lagi, itu satu-satunya studio yang ada disana. Kalau mendadak ketika disana keluarga besar kami ingin foto, yaa harus ke tempat ini. ;p
Madiun dulu juga masih heboh dengan adanya perayaan tahunan, yang berupa bazaar di sepanjang jalan pabrik gula Redjo Agung selama 3 km. Bazaar tersebut digelar untuk memperingati panen raya gula yang berlangsung setiap tahun. Dalam moment tersebut, seringkali bisa dilihat kereta – kereta yang sangat panjang, membawa banyak sekali tebu yang sudah matang, berjalan beriringan di pinggir jalan raya. Hal itu menjadi suatu tontonan khas, yang mana banyak anak – anak berlomba untuk memunguti tebu-tebu yang berjatuhan. Beruntung saya juga masih sempat menikmati moment itu walau hanya 2 kali saja. Dan bahkan sepanjang jalan raya Madiun-Surabaya dulu, masih banyak tanaman tebu yang sangat tinggi dan tumbuh subur. Dan jujur saja, saya kangen akan suatu moment kalau melihat tanggul belakang rumah eyang yang membendung sungai Madiun. Di masa kecil saya, saya sering sekali berjalan di atas tangkis (jalan raya dipinggir bendungan) hanya untuk melihat sungai yang airnya masih jernih. Dan kemudian menunggu sampan kayu tiba dan menyeberang ke seberang, lalu kembali ke tempat asal. Pulang pergi cukup 300 Rupiah saja.
Untuk soal kuliner, madiun juga tidak kalah. Sebut aja pecel, cenil, krai, lempeng beras, puli, madu mongso, ledre, kripik tempe, brem, tahu campur kikil, adalah sedikit dari daftar menu khas madiun. Dari dulu hingga sekarang, makanan ini tetap saja eksis, dan mash dijual di berbagai tempat oleh-oleh atau pasar tradisional disana. Saya pun juga tak pernah melewatkan beberapa diantaranya. Oh ya, saya juga punya menu wajib saat berada di Madiun, yaitu Penthol, Pecel, dan Bakso Granat. Bakso granat adalah bakso urat, dengan ukuran jumbo dan supeeer besar, mirip bakso tenis. Penthol itu semacam bakso mungil, dicampur bumbu kacang dan kecap, walau tampaknya biasa saja, namun rasanya tetap ngangenin, bentuknya juga imut bikin gemes..;) Kalau pecel tentu setiap orang sudah tahu. Dengan bayam, kecambah, krai, kembang tahu, dan lamtoro, rasanya menjadi lebih nikmat dan nendang. Namun, jangan mengaku makan pecel kalau belum pernah mencicipi sambel pecel khas Madiun, yang rasanya sangat khas. Apalagi yang Bharata (*sebut merk), yang saya rasa paling enak. Beda dengan pecel-pecel liar yang mengaku asli, tapi setelah dicoba mirip tekdo, alias lotek dan gado-gado. :) Tiga makanan ini pasti saya beli, seolah telah menjadi suatu trademark tersendiri.
Hmm..,akan tetapi…. bahkan sekarang sudah tidak ada lagi beberapa moment-moment indah itu. Namun begitu, masyarakat disana tetap hidup dengan kesederhanaan. Masih erat dengan kehidupan gotong royong, symbol dua anak cukup juga masih dijunjung cukup tinggi. Penduduknya masih sangat original, walaupun juga ada beberapa diantaranya yang telah mengusung prinsip hidup ala modern. Mereka juga masih menjunjung semboyan kota madiun, yaitu Madiun Aapik, yang banyak terpampang di hampir setiap pagar di rumah-rumah disana. Dan yang saya suka banyaknya rumah joglo berbentuk limasan khas jawa timur, sangat banyak bertebaran di berbagai ruas jalan raya.
Daaaan, semuanya pasti berubah. Termasuk kota ini dan saya. Kenangan indah itu sudah hilang, namun tidak di hati dan ingatan saya. Saya juga turut berubah, tidak lagi membenci kota perdagangan ini. Saya mulai bisa membaur dengan kehidupan disana. Entah karena apa, tapi yang jelas ini kota kecil yang membuat saya ingin kembali. Kembali melahap bakso granat, pecel, dan penthol, tiga makanan wajib yang harus masuk ke perut saya ketika berkunjung kesana. Dan semoga selera untuk ketiga makanan itu tidak ikut berubah. :)
Madiun, jangan bosan menerimaku kembali.
Yogyakarta under the blue sky, Sept 10, 2011 @11.00 pm
![]() | |||
| Bakso granat |
![]() |
| pentol Madiun |
![]() |
| Krupuk beras (krupuk Puli) khas Madiun |
![]() |
| Sambel pecel yang sudah kondang, Bharata |




