Tulisan sederhana tentang Kelud, Valentine, dan Kasih Sayang! What? Yeah, Thou have to read about it. Tulisan ini saya ambil dari kutipan timeline teman saya @wildmehendra. Cukup menyentuh, dengan kekuatan majas personifikasi dan juga sebagai cambukan untuk mengingat the meaning of life.
Jumat, 14 Februari 2014
Selamat hari valentine yaa! Perkenalkan, nama saya Kelud.
Saya gunung di jawa bagian timur yg kemaren sempat batuk2.
Hmm, bukan bermaksud cari perhatian dari orang2 kok. Saya cuma berusaha
menunjukkan kasih sayang Tuhan. Kata Tuhan, saya akan lebih “sehat”
kalau batuknya dikeluarkan.
Ah ya, berhasil. Saya sudah lega sekarang Tuhan, sudah tidak ada ganjalan. Saya sbg gunung harus ikhlas juga untuk batuk kan ya?
Saya lihat di sekeliling saya orang2 sedang sibuk berjuang, bahu
membahu memberi pertolongan. Saling perhatian dan memberi informasi
untuk menyelamatkan saudara, keluarga, & orang2 terkasih. Tuh lihat,
saya berhasil menumbuhkan empati & persaudaraan kn?
Hei
lihat… sebagian jawa sudah menjadi putih sekarang. Cantik ya? Setelah
ini akan tumbuh semakin banyak cinta & kesuburan.
Mungkin
tdk bnyak yg tau juga ini hari apa, tapi saya masih ingat dgn jelas
peristiwa tgl 14 Februari 1945. Saya masih ingat betul bgaimana
perjuangan PETA Supriyadi di Blitar. Ya, bukan tnpa alasan saya meletus
kemaren. Saya cuma ingin manusia d masa sekarang mengingat “sedikit
saja” peristiwa heroik.
Sungguh bukan keinginan saya untuk
membuat siapapun cemas, ini hanya sebuah proses alam yg harus saya
jalani. Kita semua akan menjadi lebih bijak & dewasa setelah ini
kan? Saya harap demikian.
Kita semua makhluk Tuhan, mari sama2 berdzikir untukNya yg telah memperkenankan kita untuk bertemu & membuat cerita.
You’re in my prayers
Kelud
Tuesday, February 18, 2014
Thursday, February 6, 2014
Find the Soul of Traveling (Part 1)
| The world behind my wall.... |
Disini? Disana? Ah, tidak juga.
Rumah saya ada di mana-mana. My house is everywhere, but my home is as where as my heart in.
Bagi saya, melakukan sebuah perjalanan adalah soal berpindah. Bukan tentang berapa banyak negara atau kota yang dijelajahi. Bukan bagaimana membuat footprint sebanyak-banyaknya. Bukan juga seberapa jauh jarak yang akan ditempuh. Melainkan, bagaimana kita berpindah ke tempat yang lain dan kemudian pulang dengan membawa ribuan bahkan cerita-cerita sederhana yang membangun. Membawa ribuan pengalaman dan juga peningkatan pengetahuan. I just want to see the world behind my wall. And if you see it, you will get at least a learning. Because there ain`t no travel that don`t change you some. I think its freakin true!
Untuk itulah, motivasi saya beberapa hari lalu pergi ke Bali, adalah untuk melakukan perjalanan, entah apa motivasi teman-teman lain yang juga pergi bersama saya. Aku ingin embali lagi ke pulau yang hampir 4 tahun terakhir ini tidak pernah lagi kujamah. Sejenak kembali ingin merasakan, bau gunung Agung lewat sayup angin yang dihembuskannya pagi-pagi buta. Rindu bagaimana suara sapu lidi yang selalu terdengar sebelum kokok ayam terdengar. Sapu lidi yang dihentakkan oleh perempuan-perempuan Bali, yang diiringi oleh senda dan cerita tentang harapan. Sepintas bahkan aku sempat melihat ke belakang, betapa dulu saat kecil, hampir selalu tiapku dibawa kemari oleh orang tuaku, aku selalu bermain di pinggiran pantai Jimbaran.
Namun kini, aku lebih menginginkan bagaimana mataku bisa terbuka lebih lebar. Bukan hanya sekadar bermain di pantai Jimbaran. Bukan sekadar menghirup segarnya udara di kaki gunung Agung. Aku ingin mataku melihat lebih jelas, segala sesuatu yang belum sempat kulihat. Aku ingin sendi-sendi ototku bergerak lebih keras, untuk bisa berjalan lebih jauh menikmati setapak yang telah Tuhan ciptakan. Aku ingin darahku tersekat, karena menikmati keindahan yang disaksikan secara langsung oleh mataku. Aku ingin, hatiku terbuat sekeras baja, agar nantinya aku bisa lebih paham, kenapa keberagaman diciptakan.
Bali.
Dalam sejenak aku bungkam, ternyata tak banyak berubah. Aku tetap terpana dalam beberapa suasana. Menyaksikan keelokan alam yang ditawarkan daerah Bali utara, Ubud, Gianyar, dan Klungkung. Tak lupa selalu menikmati setiap detik aksen berbicara para pemuda-pemudi sana yang sedang menjajakan barang dagangan di setiap tempat yang kami kunjungi. Mencoba melihat kegigihan masyarakat Bali menentang penjajah lewat simbol Monumen Braja Rana yang kini berada di Renon.
Aku juga selalu senang dengan banyaknya pemandangan dimana aku melihat banyak bli* dan juga mbok** yang berduyun-duyun sembahyang dengan pakaian adatnya yang khas. Takjub dengan kekuatan kepala perempuan Bali yang sanggup memikul beban berat tanpa dipegang atau menggunakan alat bantu. Juga bagaimana masyarakatnya mampu menerima keberagaman dari seluruh penjuru negeri.
Well. Melakukan sebuah perjalanan, selalu membuatku mendapatkan point of view baru untuk melihat kehidupan. Belajar dari setiap individu dan orang-orang yang kutemui. Menambah keyakinanku bahwa setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah. Lalu kemudian pada akhirnya membentuk sebuah angan-angan dan mimpi baru. And oh come on! I’ll put that dream as one of the targets i gotta pursue! If other peep can do it, of course i also can do it as well then! should it be?
Bali masa kini telah mengajarkan padaku bagaimana aku harus lebih membuka mata selebar-lebarnya. Mengadopsi nilai-nilai positif yang berguna di masa depan kelak. Menghargai bagaimana alam dengan seharusnya. Menyeimbangkan zen positif untuk diriku dan untuk orang-orang di sekitarku.
I haven’t isolated myself. I am not flying on a private plane. I am going to the airport, I am with people, some of the interactions are good, some of them are not so good, but it keeps me in touch with being, you know, part of society…. I travel, some of us forever, to seek other states, other lives, other souls….
Terima kasih Bali. Karena telah boleh merayakan alammu.
_Yogyakarta, Feb 6th, 2014
* panggilan untuk laki-laki
** panggilan untuk perempuan
Subscribe to:
Posts (Atom)