“Gua bingung, bakal ngikutin kemauan ortu gua atau perjuangin
keinginan gua sendiri’”
Saya masih ingat, kira-kira begitulah yang diucapkan teman
saya beberapa saat setelah kami merayakan kelulusan dari universitas. Kami
seolah kaget ketika berhadapan dengan kenyataan, bahwa kami bukan lagi
mahasiswa, kami sudah diketok palu, menjadi seorang sarjana. Penambahan huruf
di belakang nama kami itu, bukan saja membanggakan, namun juga suatu beban.
Kami hanya dua orang sahabat yang seolah sedang belajar
mencari jati diri. Dua orang yang bingung bagaimana menentukan nasib di tangan
sendiri. Diluar sana,mungkin tidak hanya kita berdua.Mungkin bisa tiga,
sepuluh, seratus, atau bahkan jutaan orang yang sudah lulus dari universitas
yang dihadapkan pada dilema untuk menentukan langkah selanjutnya. Kami punya
mimpi pribadi, punya angan – angan dan kriteria hidup yang telah kami susun.
Berkali – kali kami melamar berbagai lowongan, dari berbagai job fair di
berbagai lembaga karir, termasuk melalui ECC UGM.
Saya tidak akan ber-ba-bi-bu membahas bagaimana kehidupan
mahasiswa dalam kaitannya memperjuangkan idealisme yang berbanding terbalik
dengan pragmatisme. Saya hanya ingin
sedikit berkelakar tentang bagaimana perdebatan pragmatis dan idealis pada kehidupan mahasiswa setelah lulus. Banyak mahasiswa yang tetap bertahan dengan keyakinan dan
keinginannya untuk bisa bekerja di perusahaan atau berada dalam posisi tertentu.
Atau mungkin juga tidak akan bekerja, namun berwirausaha.
Dalam kondisi tersebut, kebingungan mulai merasuk. Apalagi ketika
dihadapkan pada kebutuhan yang semakin banyak, namun pekerjaan atau posisi idaman
belum berhasil didapatkan. Saat itulah pertentangan antara idealisme dan
pragmatisme mulai berdengung. Saat itu
juga, kita harus segera memutuskan pijakan hidup kita selanjutnya.
Idealisme, bagi saya, tidak melulu berakar pada sebuah
gerakan yang memperjuangkan kepentingan suatu kelompok tertentu. Idealisme,
dalam hemat saya, adalah sebuah standar yang kita ciptakan sendiri dalam hal
apapun. Atau bisa jadi merupakan sebuah celah, dimana kita ingin menjadikan diri
kita memilliki posisi di mata orang lain. Yaaah, semacam bargaining position yang baik.
Idealisme juga memiliki banyak arti untuk bisa
diejawantahkan. Ada yang menganggapnya sebagai sebuah patokan dalam hidup, atau
menganggapnya sebagai sebuah standar dalam pencapaian sesuatu. Mimpi, bagi
saya, adalah salah satu contoh idealisme. Saya, sebagai manusia, punya mimpi. Mimpi yang
setinggi langit, atau kata Iwan Fals dalam salah satu lagunya, mimpi-mimpi yang
tak terbeli. Sebab mungkin terlalu tinggi, dan bahkan mungkin saya tak bisa
menjangkaunya. Tapi saya cuek, saya
percaya kok pada diri saya sendiri. Saya yakin saya mampu meraih semua mimpi –
mimpi saya. Mungkin itulah gambaran sangat sederhana mengenai idealisme.
Hari demi hari berlalu, hingga mungkin warna toga sudah
mulai luntur menjadi kelabu, tapi satu pun mimpi belum terwujud. Sementara itu, kebutuhan semakin banyak,
gengsi semakin ditekan, dan rasa geregetan untuk
bekerja sudah menggerayangi. Akibatnya,
otak mulai berpikir panjang, nafas mulai tertahan, dan logika dipermainkan. Pada
akhirnya tergoda untuk meng-ho`oh-kan tawaran atau
segala jenis pekerjaan yang datang menghampiri. Even, itu bukanlah tujuan utama kita, bukan mimpi kita, dan
berbanding terbalik dengan passion yang kita yakini. Ah, mungkin itulah
pragmatis, dalam hemat saya.
Pragmatis Demi
Idealis
Memperjuangkan mimpi itu boleh lho, tidak ada yang melarang. Bagi saya, mimpi itu kan suara hati.
Bahkan ibu Eleanor Rooseevelt mengatakan
bahwa yang perlu dilakukan seseorang terhadap mimpinya adalah memperjuangkan
dan mempercayainya. Kalau sudah kepentok,
pasti akan selalu ada tembok yang bisa dihancurkan sehingga akan menjadi jalan
baru yang bisa kita lalui.
Memperjuangkan idealisme itu juga sah – sah saja kok, tidak ada yang melarang. Toh,
yang penting tidak ada orang lain yang
dirugikan. Hanya, sekarang permasalahannya adalah mampukah seorang
mahasiswa mempertahankan idealisme yang telah ditetapkannya sendiri? Simpelnya,
apakah idelaisme mampu memberikan penghidupan bagi manusia kelak?
Saya mungkin mempunyai pandangan yang rada senewen dalam
melihat hidup. Ada kalanya, menurut saya, kita boleh pragmatis untuk
memperjuangkan idealisme kita. Artinya begini, kita berada dalam suatu keadaan
dimana kita terhimpit oleh posisi yang tidak kita harapkan tapi mengharuskan
kita untuk bertahan.
Saya tidak akan munafik untuk mengatakan tidak begitu saja
terhadap produk – produk pragmatis yang
datang kepada saya. Namun demikian, saya juga tidak melupakan idealis yang
telah lama saya bangun dengan begitu saja. Idealis tetap harus diperjuangkan,
walau dengan sedikit pengorbanan. Tidak ada salahnya juga,kok. Itu adalah pilihan kita pribadi. Bukankah setiap orang diberi
kebebasan untuk memilih? Dan bukankah setiap orang diberi kebebasan untuk
memperjuangkan sesuatu yang diyakininya? Itu harga mati.
Saya tidak akan berhenti, untuk kemudian memperjuangkan
idealisme saya. Tidak ada yang mustahil dan tidak ada yang pernah terlambat
untuk memulai sesuatu. Terkadang, manusia perlu berhenti sejenak di sudut-
sudut hidupnya. Mungkin agar sejenak bisa menghela nafas, untuk bisa memandang
hidup dalam perspektif yang lebih luas. Yah, mungkin istilahnya idealis
realistis. Kita boleh tetap memperjuangkan idealis kita, namun kita juga harus
realistis melihat keadaan yang ada di sekeliling kita. Namun, tetap dengan
memperjuangkan mimpi – mimpi kita yang (memang) harus diwujudkan.
_dalam pencarian pseudo diri, masih dibawah langit Yogyakarta_
Jan 22nd, 2013
