Sunday, June 4, 2017

Si Pencuri dan Tuan Rumah



Kamu memang sangar. Menyusup secara tiba-tiba. Biasanya aku selalu sadar lebih dulu sehingga bisa memutuskan. Ah, sebenarnya aku bisa lho tidak mentolerir, tapi anehnya aku cukup diam saja dan membiarkan semua terjadi. 

Atau enaknya gimana? Kalau aku sudah terjerembab sejauh ini, apa aku bisa rikues untuk kembali? Memainkan semacam rewind, gitu? Dan membiarkan semua permainan dilakukan kembali dari awal. Maksudnya dari mulai sejak kamu belum menyusup. 

Tapi apa iya ceritanya akan sama? Aku kok malah jadi takut kalau semuanya malah berubah cerita. Aku kok seolah ragu, kalau ternyata aku malah hanya pura-pura tidak rela menjadi tuan rumah yang ramah. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi seperti sangkar besi. Dingin dan mungkin juga banyak misteri. Tapi entahlah juga karena mungkin hanya ketakutan saja yang terlalu menguasai pikiranku.

Andaikata notabene ini diperkarakan, mungkin Bapak Hakim tidak akan setuju bahwa kasus ini pencurian. Beliau akan meyakini bahwa urusan ini sebenarnya hanya masalah perspektif saja. Bagi beliau, kamu bukan penyusup, karena kamu tidak mencuri apapun, melainkan sang tuan rumah yang terlalu jumawa akan barang berharganya dan menuduh sembarangan. Tuan rumahlah yang merasa sesuatu telah hilang, padahal mungkin sebenarnya hanya disembunyikan. 

Ok, kalau gitu perkaranya hanya disembunyikan ya. Berarti tidak perlu diperkarakan sejauh itu kan? Perkara ini cukup diwakili dengan kegigihan untuk memunculkan kembali apa yang sedang disembunyikan. Nggak boleh pantang menyerah mencari barang yang sedang hilang itu. Tapi anehnya, semakin mencoba mencari, kemungkinan menghilangnya semakin tak masuk akal. Jadi dimana lagi harus mencari?

Jika begini adanya, lebih baik kita harus bikin win win solution. Yaa…biar nggak terlalu panjang dan mungkin sama-sama membuang waktu karena terus-terusan dirundung pertanyaan dan ketidakjelasan. Gimana, setuju kan? Kasih tahu saja kapan aku bisa membantu kamu untuk mengembalikannya. Eh…tapi kamu butuh bantuanku atau tidak? Jangan-jangan kamu malah tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya dan tidak mau tahu juga. Tapi coba dipikirkan, mungkin ada baiknya juga kalau kita duduk bersama. Tapi masalahnya, kamu yang terlanjur dianggap ‘maling’ mungkin juga tidak bersedia karena pertemuan itu akan semakin menguatkan stereotype itu. 

Sebenarnya mudah saja, kalau mau bernegosiasi, jangan beritahu yang lainnya. Sebuah negosiasi tidak harus disaksikan kan? Biar nanti kita saja yang mengetahui apa jalan keluarnya. Itu kalau kamu mau. Kan kamu bukan maling dan tidak menganggap dirimu itu maling. Jadi kemungkinan kamu juga akan acuh tak acuh. Ya, kan? 

Begitu saja kok kayanya repot banget. Mungkin sebaiknya aku juga harus putar cara supaya kamu juga tidak terus-terusan dicap maling sih. Adakah ide tentang cara yang lebih hangat dan transparan? Aku kadang terlalu naif untuk ide seperti itu. Nah barangkali kamu yang pernah mengaku lebih berpengalaman, ada jalan keluar yang bisa diandalkan. Aku tunggu dengan segera, ya. 

Ehm. Jangan lupa juga bahwa kamu tidak pernah mengetuk pintu. Jadi kamu jangan mencoba menyentuhnya nanti. Tujuannya supaya alibimu kuat karena tidak akan ada sidik jarimu di sana. Sekaligus agar yang lainnya yakin bahwa memang kamu bukanlah pencuri. Hanya mungkin tuan rumahnya saja yang merasa bahwa sesuatu di rumahnya sedang dicuri. Nah lho? Beres.

Jadi gimana? Mau jadi atau nggak untuk bernegosiasi? Supaya mungkin urusannya bisa segera selesai dan kita juga bisa meneruskan urusan yang lainnya. Juga biar tidak lagi ada tuduhan atas kamu, dan barangkali ke depan, akan ada yang lain yang bisa mengembalikan barang yang tadinya hilang itu. Setuju, kan? Begitu saja kok.
Pada akhirnya, semua yang di dekat kita juga akan dapat tersenyum lega. Sebab akan mendapatkan kepastian kalau kamu memang bukan pencuri, jadi aku berharap kamu juga akan mendapatkan reputasimu kembali, juga berada jauh di tempat dimana yang lainnya akan selalu percaya kepadamu. Karena tidak mungkin juga kan kalau pada akhirnya kamu tetap akan tinggal dan malah mengakui kalau kamu memang benar-benar mencurinya?? 

credit : leonid afromor