Sunday, June 4, 2017

Si Pencuri dan Tuan Rumah



Kamu memang sangar. Menyusup secara tiba-tiba. Biasanya aku selalu sadar lebih dulu sehingga bisa memutuskan. Ah, sebenarnya aku bisa lho tidak mentolerir, tapi anehnya aku cukup diam saja dan membiarkan semua terjadi. 

Atau enaknya gimana? Kalau aku sudah terjerembab sejauh ini, apa aku bisa rikues untuk kembali? Memainkan semacam rewind, gitu? Dan membiarkan semua permainan dilakukan kembali dari awal. Maksudnya dari mulai sejak kamu belum menyusup. 

Tapi apa iya ceritanya akan sama? Aku kok malah jadi takut kalau semuanya malah berubah cerita. Aku kok seolah ragu, kalau ternyata aku malah hanya pura-pura tidak rela menjadi tuan rumah yang ramah. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi seperti sangkar besi. Dingin dan mungkin juga banyak misteri. Tapi entahlah juga karena mungkin hanya ketakutan saja yang terlalu menguasai pikiranku.

Andaikata notabene ini diperkarakan, mungkin Bapak Hakim tidak akan setuju bahwa kasus ini pencurian. Beliau akan meyakini bahwa urusan ini sebenarnya hanya masalah perspektif saja. Bagi beliau, kamu bukan penyusup, karena kamu tidak mencuri apapun, melainkan sang tuan rumah yang terlalu jumawa akan barang berharganya dan menuduh sembarangan. Tuan rumahlah yang merasa sesuatu telah hilang, padahal mungkin sebenarnya hanya disembunyikan. 

Ok, kalau gitu perkaranya hanya disembunyikan ya. Berarti tidak perlu diperkarakan sejauh itu kan? Perkara ini cukup diwakili dengan kegigihan untuk memunculkan kembali apa yang sedang disembunyikan. Nggak boleh pantang menyerah mencari barang yang sedang hilang itu. Tapi anehnya, semakin mencoba mencari, kemungkinan menghilangnya semakin tak masuk akal. Jadi dimana lagi harus mencari?

Jika begini adanya, lebih baik kita harus bikin win win solution. Yaa…biar nggak terlalu panjang dan mungkin sama-sama membuang waktu karena terus-terusan dirundung pertanyaan dan ketidakjelasan. Gimana, setuju kan? Kasih tahu saja kapan aku bisa membantu kamu untuk mengembalikannya. Eh…tapi kamu butuh bantuanku atau tidak? Jangan-jangan kamu malah tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya dan tidak mau tahu juga. Tapi coba dipikirkan, mungkin ada baiknya juga kalau kita duduk bersama. Tapi masalahnya, kamu yang terlanjur dianggap ‘maling’ mungkin juga tidak bersedia karena pertemuan itu akan semakin menguatkan stereotype itu. 

Sebenarnya mudah saja, kalau mau bernegosiasi, jangan beritahu yang lainnya. Sebuah negosiasi tidak harus disaksikan kan? Biar nanti kita saja yang mengetahui apa jalan keluarnya. Itu kalau kamu mau. Kan kamu bukan maling dan tidak menganggap dirimu itu maling. Jadi kemungkinan kamu juga akan acuh tak acuh. Ya, kan? 

Begitu saja kok kayanya repot banget. Mungkin sebaiknya aku juga harus putar cara supaya kamu juga tidak terus-terusan dicap maling sih. Adakah ide tentang cara yang lebih hangat dan transparan? Aku kadang terlalu naif untuk ide seperti itu. Nah barangkali kamu yang pernah mengaku lebih berpengalaman, ada jalan keluar yang bisa diandalkan. Aku tunggu dengan segera, ya. 

Ehm. Jangan lupa juga bahwa kamu tidak pernah mengetuk pintu. Jadi kamu jangan mencoba menyentuhnya nanti. Tujuannya supaya alibimu kuat karena tidak akan ada sidik jarimu di sana. Sekaligus agar yang lainnya yakin bahwa memang kamu bukanlah pencuri. Hanya mungkin tuan rumahnya saja yang merasa bahwa sesuatu di rumahnya sedang dicuri. Nah lho? Beres.

Jadi gimana? Mau jadi atau nggak untuk bernegosiasi? Supaya mungkin urusannya bisa segera selesai dan kita juga bisa meneruskan urusan yang lainnya. Juga biar tidak lagi ada tuduhan atas kamu, dan barangkali ke depan, akan ada yang lain yang bisa mengembalikan barang yang tadinya hilang itu. Setuju, kan? Begitu saja kok.
Pada akhirnya, semua yang di dekat kita juga akan dapat tersenyum lega. Sebab akan mendapatkan kepastian kalau kamu memang bukan pencuri, jadi aku berharap kamu juga akan mendapatkan reputasimu kembali, juga berada jauh di tempat dimana yang lainnya akan selalu percaya kepadamu. Karena tidak mungkin juga kan kalau pada akhirnya kamu tetap akan tinggal dan malah mengakui kalau kamu memang benar-benar mencurinya?? 

credit : leonid afromor

Monday, March 28, 2016

PCMI Jogja Buka Pendaftaran Youth Exchange Program 2016

PCMI Yogyakarta (Purna Caraka Muda Indonesia) atau lebih dikenal dengan PCMI Jogja, merupakan organisasi non-laba yang diinisiasi oleh alumni program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) sejak 17 Desember 1977 dengan negera tujuan Malaysia, kapal pemuda Jepang-ASEAN (SSEAYP), Australia, Korea Selatan, Kanada, dan Tiongkok. Dan mulai tahun 2015 ini, ada satu negara tambahan yang menjadi tujuan program, yakni India. Konten program untuk setiap negara juga berbeda antara satu dengan lainnya, misalnya professionalism (Australia), kepemimpinan untuk SSEAYP, Art & Culture (Korea Selatan&India), Community Development (Kanada), dan Enterpreneur (Tiongkok&Malaysia).
PPAN merupakan program yang diselenggarakan setiap tahun oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI sesuai dengan Undang-undang No. 23 Tahun 2014 yang bertujuan menyiapkan kader pemuda berkualifikasi nasional melalui kerjasama kepemudaan internasional. Selain itu, program PPAN ini merupakan pelaksanaan amanat Pasal 22 Undang-undang Kepemudaan yang secara eksplisit tercantum dalam rangka menghadapi tantangan global. Semua program terbagi ke menjadi dua kegiatan, yakni fase Indonesia dan juga fase di negara yang menjadi tujuan masing-masing program dengan sistem full accommodation.
Para peserta pada setiap program berasal dari hampir semua provinsi di Indonesia, sesuai dengan pembagian kuota program dan kuota gender oleh Kemenpora kepada provinsi yang bersangkutan. Dalam artian, setiap tahunnya, suatu provinsi tidak selalu mendapatkan program yang sama dan kuota gender yang sama, atau bahkan tidak mendapat kuota sama sekali untuk program tertentu. Semua perwakilan untuk setiap program dari masing-masing provinsi akan menjalani Pre-Departure Training (PDT) secara bersama-sama di Jakarta dan untuk selanjutnya akan dinobatkan sebagai Duta Muda Indonesia untuk menjalani dan menyelesaikan program.
Para alumni yang telah menjalani program, akan kembali ke provinsi masing-masing dan bergabung dengan PCMI di provinsi masing-masing. Demikian halnya dengan PCMI Jogja, yang juga merupakan organisasi alumni PPAN yang merupakan perwakilan Yogyakarta.
Dalam perkembangannya, disamping memberikan manfaat untuk kelangsungan organisasi, kami, PCMI Jogja, juga turut melaksanakan beragam Post Program Activity (PPA). PPA merupakan salah satu kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap alumni PPAN selepas menjalani program. Kegiatan tersebut meliputi personal development, local community development, dan volunteering activity. Atau beragam kegiatan lain yang disesuaikan dengan kondisi yang terjadi di lapangan.
Salah satu perwujudan dan kontribusi yang dilakukan oleh PCMI Jogja misalnya mewadahi para komunitas yang ada di Yogyakarta dalam sebuah forum bertajuk `Voluntary Day` yang biasanya digelar menjelang kegiatan seleksi PPAN setiap tahunnya, yakni sekitar Maret/April. Kegiatan ini bertujuan sebagai sarana sharing komunitas, memperkuat eksistensi komunitas, serta memperluas jaringan.
Tak hanya itu, sebagai salah satu perwujudan membangun local community, PCMI Jogja juga kerap menjadi fasilitator dalam berbagai event. Misalnya memfasilitasi warga di seputar Waduk Sermo, Kulon Progo, untuk turut memberikan cultural exposure experience. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dalam program pertukaran Indonesia-Australia. Pun demikian halnya menjadi fasilitator dan event organizer untuk Lokal Mondiaal, sebuah organisasi non profit asal Belanda yang fokus pada organisasi media, juga pada international development, foreign reporting, dan global citizenship. Kami menjadi fasilitator mahasiswa Belanda dan Bulgaria untuk program tersebut selama tiga kali putaran dengan durasi dua bulan untuk setiap putaran.
Selama bulan Juni-Awal Agustus 2015 ini, PCMI Jogja juga menjadi host untuk program USINDO Summer Studies, sebuah program musim panas yang telah berjalan selama 20 tahun dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa Amerika untuk belajar Bahasa Indonesia dan kebudayaan di Yogyakarta. Untuk memperkenalkan mereka pengalaman langsung dengan kearifan lokal, beberapa diantara mereka juga mendapat kesempatan untuk menjadi seorang abdi dalem. Mereka berkesempatan menjalani program magang di Tepas Tandhayekti di Keraton Yogyakarta.
Kontribusi kami juga tak hanya berhenti pada lingkup organisasi. Para anggota dari PCMI Jogja, secara pribadi dan individu, juga senantiasa berkiprah sesuai dengan bidangnya. Salah satunya adalah Hambar Riyadi yang mendirikan komunitas Anak Wayang Indonesia (AWI). Alumni Program Indonesia-Australia tahun 2012 ini berharap AWI dapat berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan pendampingan anak-anak. Termasuk juga berupaya mewujudkan anak-anak yang sejahtera, mandiri, demokratis dan berbudaya. Salah satu kegiatannya adalah mengajarkan bahasa Inggris secara gratis untuk anak-anak.
Tak hanya itu, beberapa alumni ada juga yang merupakan alumni gerakan Indonesia Mengajar yang senantiasa juga kerap mengadakan beragam event pemberdayaan masyarakat seperti salah satunya membantu memasyarakatkan produk pertanian di Minggir, Sleman. Dalam bidang seni dan budaya, beberapa anggota kami juga turut menjembatani keberlangsungan sebuah organisasi dengan melakukan pendampingan pada Loka Art Studio, sebuah organisasi non profit yang berlokasi di Ngaglik, Sleman, dan berkiprah secara rutin dalam pelestarian kesenian tari dan batik.
Pun demikian halnya dalam bidang enterpreneur berbasis budaya. Meika Hazim, alumni kapal pemuda ASEAN-Jepang (SSEAYP) 2008 adalah womanpreneur penggagas dan pemilik Cokelat nDalem. Signature rasa dari setiap produknya adalah jenis minuman tradisional dari Yogyakarta. Tak jauh berbeda yang dilakukan oleh Sekarlangit Saptohoedojo, SSEAYP 1995, yang berkiprah dalam bidang seni dan budaya. Ia senantiasa memperkenalkan ragam budaya lewat lukisannya dan juga melalui kain batik dan dipajang di gallery Saptohoedojo yang kini dikelolanya.
Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, beberapa alumni PCMI Jogja juga menjalani peran sebagai pengajar di berbagai universitas. Desideria Murti, alumni Indonesia-Kanada 2008, adalah wakil dekan dan juga dosen di sebuah universitas di Yogyakarta. Dia adalah peraih master dari Colorado State University dan saat ini akan meneruskan ke jenjang doctoral di Australia.
Ada pula anggota PCMI Jogja yang tergabung organisasi internasional seperti yang dijalani oleh Notonegoro, alumni pertukaran Indonesia-Kanada 1994. Menantu Sri Sultan Hamengkubuwono X ini kini berkiprah di PBB dan berkantor di New York, Amerika Serikat. Bahkan, salah satu anggota PCMI Jogja program SSEAYP 1974, Abdurrahman Mohammad Fachir, adalah Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia yang baru saja dilantik oleh Jokowi pada Oktober 2014 lalu.
Ke depannya, kami, PCMI Jogja, akan senantiasa berupaya untuk meningkatkan partisipasi masyararakat pada umumnya, dan pemuda pada khususnya, terutama kaitannya dalam hal local community development.
Ingin menjadi delegasi Jogja selanjutnya dan bergabung bersama kami? Tahun ini, Jogja mendapatkan 5 kuota dari Kemenpora yaitu Australia, India, Jepang-Asean, Malaysia, dan Tiongkok. Akan ada 4 tahapan seleksi yang akan dilaksanakan yaitu seleksi administrasi, seleksi interview (9 April), semi final (12-14 April), dan Grand Final (22-24 April). Nantinya hanya akan dipilih satu orang perwakilan untuk setiap kuota program.
Tertarik? Silakan daftarkan diri Anda ke ppan2016.pcmijogja.com paling lambat 3 April pukul 06.00 WIB.
Lebih dekat dengan kami? Follow twitter dan LINE@: @pcmijogja dan FB : PCMI JOGJA dan http://pcmijogja.com/.

Salam, 
Vinia R. Prima 
Perwakilan Jogja untuk IMYEP 2013 


Thursday, July 30, 2015

Akik : Si Seksi Untuk Investasi


Belakangan ini, masyarakat Indonesia  sedang gencar berburu batu akik.  Bagaimana tidak? Barang galian  bukan logam yang termasuk dalam  industri manufaktur ini mengalami  pertumbuhan produksi sebesar 9,76  persen pada tahun 2014. Bahkan,  google trends mencatat peningkatan  minat terhadap batu akik di Indonesia  meningkat sangat tajam dimulai pada  bulan Agustus 2014.

Batu ini sebenarnya sudah banyak dijumpai  di Indonesia, jauh sebelum Indonesia  terjangkiti fenomena demam batu akik. Kini, batu  ini seolah menjadi barang idaman dimana hampir  setiap orang ingin memilikinya. Ketika batu  menjadi sebuah komoditas, ia tentunya akan  memiliki nilai jual. Hal yang membedakannya  adalah kualitas dan juga tiga faktor yang akan  memberikan pengaruh terhadap harga yang  ditawarkan.






Pertama, adalah faktor usia, dimana semakin  besar langka kekerasan batuan tersebut.  Sehingga, apabila dijual, harga bebatuan tersebut  akan mahal. Kedua, faktor lokasi, dimana jika  dua bebatuan dengan jenis yang sama, akan  bernilai berbeda diakibatkan karena letak lokasi  bebatuan tersebut. Lokasi akan berpengaruh  terhadap serapan energi yang akan menentukan  besar kecilnya khasiat ataiu daya kekuatan  bebatuan tersebut. Faktor yang ketiga adalah  faktor spesifi kasi, sebuah faktor yang sulit  diidentifikasi karena untuk membuktikannya juga  jauh lebih sulit.

Akan tetapi, sebagai orang awam ada beberapa  tips yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan  akik yang berkualitas, di antaranya:
a.  Pertama, adalah faktor usia, dimana semakin  besar langka kekerasan batuan tersebut.  Sehingga, apabila dijual, harga bebatuan tersebut  akan mahal. Kedua, faktor lokasi, dimana jika  dua bebatuan dengan jenis yang sama, akan  bernilai berbeda diakibatkan karena letak lokasi  bebatuan tersebut. Lokasi akan berpengaruh  terhadap serapan energi yang akan menentukan  besar kecilnya khasiat ataiu daya kekuatan  bebatuan tersebut. Faktor yang ketiga adalah  faktor spesifi kasi, sebuah faktor yang sulit  diidentifi kasi karena untuk membuktikannya juga  jauh lebih sulit.  Berhati-hatilah jika ada yang menawarkan  batuan yang murah, teliti dahulu keaslian  batuan tersebut

b. Pilih bahan batu dalam keadaan kering  karena akan lebih terlihat corak dan serat  yang akan dihasilkannya.

c. Pilihlah warna bebatuan yang lebih gelap  yang menandakan bahwa batuan tersebut  sudah mengkristal. Sementara, biasanya  batuan dengan warna yang lebih terang  lebih memiliki kadar kapur yang tinggi dan  proses pengkristalannya belum sempurna.

d. Pergunakanlah senter untuk menilik kristal  batu, apakah tembus cahaya, ataukah tidak

e. Tanyalah kepada penjual mengenai  sertifikasi bebatuan tersebut

f. Anda mungkin bisa  mengajak rekan atau  sanak saudara yang lebih  berpengalaman dalam  memilih bebatuan

Menurut Yuswohady, seperti dilansir dari selasar. com, kalangan peminat batu akik ini sebagian  besar adalah kalangan kelas menengah ke  bawah, yang dalam hal ini ia menyebutnya  sebagai Consumer 3000. Kalangan ini biasanya  memiliki tiga ciri khas utama, Pertama,  memiliki daya beli tinggi (high buying power).  Kedua, berpengetahuan dan berwawasan luas  (knowledgeable) mengingat sumber-sumber  informasi terbuka luas terutama internet. Ketiga,  terhubung satu sama lain (socially-connected)  melalui media baru seperti blog, Twitter, atau  Facebook, termasuk juga word of mouth!

Namun yang perlu digaris bawahi, justru yang  menjadi peminat untuk berburu batu akik adalah kalangan kelas menengah. Padahal harga  batu akik sendiri juga bisa dibilang tidaklah  murah. Bagaimana bisa? Ciri keempat yang  dimiliki kelas menengah adalah memiliki uang menganggur yang banyak. Mereka akan punya  banyak waktu untuk melakukan hobi, merancang  sebuah agenda, dan berinvestasi ke dalam  sebuah portofolio—yang dalam hal ini adalah
batu akik.

Jika boleh meminjam pernyataan  dari Alan Greenspan, tingkah laku masyarakat  kelas menengah ini bisa dikategorikan sebagai  irrational exhuberance, yaitu mewujudkan  kebebasan finansial dengan cara-cara yang instan. Fenomena tersebut mirip seperti yang  terjadi di Amerika Serikat tahun 1999-2000  dimana terjadi kegilaan pasar di Amerika Serikat terhadap harga saham teknologi yang  melambung sangat tinggi pada fenomena Dotcom
bubble.
The NASDAQ Composite (dotcom bubble)

Alan Greenspan

Namun demikian, pergerakan bisnis batu akik  yang terjadi justru bisa membawa pertumbuhan  perekonomian ke arah yang lebih baik karena  mampu menjadi magnet dan komoditi yang  bisa menjanjikan sebuah investasi di masa  mendatang, jika kita mampu membaca pasar  dan peluang, but still, stay away from the monkey  business!

Wednesday, March 11, 2015

Pagimu Akan Menjadi Baru....

Masih ingat jelas bahwa saat pertama kali bertemu, kamu menganggapku malu-malu. Kamu kira, dalam jiwaku secara utuh, aku adalah sosok yang santun dan pendiam. Kamu kira, dalam keseharianku, aku tak akan bertindak konyol, macam-macam, pun bergurau layaknya hidup memang ditakdirkan hanya untuk tertawa dan bersenang-senang.

Lambat laun kamu pun percaya, bahwa penilaianmu melenceng jauh dari perkiraan. Kau pun sudah mengakuinya,kan? Setahun demi setahun usia kita pun bertambah, hingga akhirnya toga pun tersemat di kepala. Kemudian kita sama-sama menyadari, bahwa ada satu titik dimana kita memang harus beranjak ke fase hidup yang selanjutnya. Sebuah fase—yang kata orang— adalah sebuah fase transisi untuk kemantapan hidup yang lebih baik. Di titik itu, aku pun tersadar, bahwa tua bukanlah usia, tapi dari seberapa banyak momen dan pengalaman yang kita lewati bersama.

Menjadi jurnalis bersama dan meliput sebuah konser klasik, kita pernah. Kamu yang saat itu menginap di rumahku karena kemalaman, merasa takjub akan ringtone ponselku yang saat itu bernada lagu milik Letto. Hingga akhirnya tingkat kekagumanmu pada Letto menjadi turun karenanya. :p

Memori kita juga menyimpan cerita-cerita sederhana, di balik anak tangga di sebuah kantor koran lokal di kota ini. Cerita tentang hasil beberapa liputan kita selama  sehari, yang pada akhirnya hanya satu tulisan saja yang dimuat di koran bernuansa hijau itu. Pun cerita soal editorku yang galak, namun ternyata memiliki hati seperti hati hello kitty. Ataupun kisah luar biasa di balik dingin dan pengapnya studio salah satu televisi swasta. Hingga suguhan tiap sore dari mereka yang menjadi pelanggan setia di sebuah barbershop bernama Dorlen.

Hei. Kita pun adalah saksi, bahwa toilet persma kita mungkin memang keterlaluan. (haha). Bersama kita tak memedulikan lagi karena terlalu sibuk memikirkan deadline tulisan yang tinggal menghitung jam, dan akhirnya baru usai saat subuh mulai bergema. Selalu begitu. Hampir selalu kita berkesempatan menjadi penulis di rubrik yang sama.

Dan tampaknya celotehan dan bumbu di balik sebuah tulisan kita lebih menarik dari tulisan itu sendiri. Hingga kini kita tahu bahwa masa itu memang emas, sebuah endapan memori dan pembelajaran berarti bagi kita yang kini sedang berjuang melangkah lebih jauh ke depan....

Kamu pun pernah bercerita, soal bagaimana kamu menjadi dewasa. Melewati beberapa masa dimana kamu harus terbiasa dengan keadaan. Kamu yang saat itu masih menjadi pelanggan Total Ada, selalu memancarkan raut binar tentang perjuanganmu dengan menjalani semua proses hidup dengan baik.

Aku selalu yakin kegigihanmu untuk bisa bangkit dan memperbaiki situasi dan kondisi di sekitarmu. Tentang laptop kesayangamu yang kamu beli susah payah dengan beasiswamu. Tentang oleh-oleh sederhana untuk orang tuamu dari hasil perasan keringatmu from 8am to 4pm. Tiga kali kamu gigih mencoba masuk ke sebuah universitas yang katanya terbaik di negeri ini. Aku rasa itu sudah bisa menjadi cukup bukti, bahwa kegigihanmu tak pernah main-main...


Oh ya, masih ingat juga soal curhatanmu yang 'gagal' ke negeri seberang, mewakili kota ini. Jangan khawatir, kamu akan temukan apa yang bahkan tidak pernah kamu duga sebelumnya. Aku ingat betul, saat itu kamu akan merasa ikhlas bila aku yang berangkat.

Terima kasih banyak. Ternyata memang aku....

Kamu akan tahu, bahwa mungkin kamu perlu berjuang lebih hebat untuk kesana. Tetap bercita-citalah untuk menemukan rezekimu yang tertunda. Sesungguhnya dia tak pernah lari. Namun masih bersembunyi dalam buliran kerja keras sampai tiba masanya kelak.


Aku rasa delapan tahun bukanlah waktu yang bisa dibilang sebentar. Mungkin benar kata pepatah. Saat kita memutarbalik pikiran dan memori, kita akan tersadar bahwa cukup banyak kesempatan di dalam hidup ini yang terlewat begitu saja. Termasuk kesempatan untuk sebuah kebersamaan antar insan pasti tak akan pernah cukup. Seperti halnya kebersamaan kita? Mungkin.

Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja kita harus siap menerima sebuah konsekuensi atas pilihan yang kita ambil. Bisa saja soal memilih itu mudah. Namun bagaimana seorang manusia bertahan dalam pilihannya sampai tercapainya sebuah tujuan yang dikehendaki, itu yang akan menjadi tugas yang cukup berat, sepertinya.....

Dan aku tahu, kamu telah memilih dengan mantap. Memilih dia yang dua hari lagi mungkin akan berkeringat dingin saat mengucapkan kalimat dalam satu nafas panjangnya... Lalu setelah ia berhasil menunaikan tugasnya, kamu pun akan kembali menjadi seorang wartawan. Seperti kita dulu...

Kamu akan menjadi seorang wartawan yang selalu bertanya pada dia yang kau pilih untuk setiap keputusan yang akan kalian ambil bersama. Seorang wartawan yang akan rajin bertanya dan berdiskusi soal operasional bulanan.. Wartawan yang akan menuliskan cerita di setiap halaman surat kabar yang akan kalian jalankan bersama. Sebuah surat kabar yang semoga akan terbit selamanya...


Akan ada sebuah masa, bahwa kebebasan dan ego kita harus dibagi, dengan ikhlas dan lapang dada. Tampaknya kamu lebih dulu memilih berangkat menuju ke sana. Tapi aku yakin, kamu masih akan tetap sama. Menjadi seorang yang selalu ceria. Menjadi sukarelawanku berbagi cerita, dan 'mendukung' keisenganku di atas level konyol...  :D

Semoga kamu tak lupa. Bahwa walau status teman tak ada peresmian, kejayaannya akan tetap abadi, hingga waktu yang berhak menentukannya nanti. Semoga kamu juga tak lupa. Mencuci kaos kaki dan tak lagi meletakkannya di rak bawah mushola.

Semoga kamu tak lupa. Skripsi kita nangkring bersama-sama di perpus kampus (nggaya). Semoga kamu tak lupa, bahagianya kita menikmati udara segar di kawah Bromo dan kicauan burung di sekitarnya yang menambah cerianya kita saat bersama, dua bulan lalu. Semoga kamu tak lupa. Tentang bagaimana cara menemuiku dan teman-teman lainnya, di tengah kesibukan di duniamu yang baru..


Tapi mungkin kamu boleh lupa. Boleh lupa akan kenanganmu bersama dia yang sebelum-sebelumnya. Kamu boleh lupa, tentang masa sedihmu dalam pembebasan dirimu menuju sebuah pendewasaan dalam memilih.

Mungkin setelah ini, persentase prioritas hidupmu juga akan berubah. Tapi percayalah, bahwa kami, teman-temanmu akan selalu ada. Walaupun mungkin di masa mendatang, kita tak akan sering bersua karena jarak, yakin saja bahwa semesta akan selalu mengikat kita dalam rasa.

Aku yakin pilihanmu adalah sebaik-baiknya yang kamu pilih. Kamu sudah berpikir masak-masak. Kamu sudah siap untuk melangkah, lebih maju ke depan. Membangun kembali semuanya dari nol. Merayakan sebuah kemenanganmu akan sebuah ketulusan dan sikap memiliki antar insan manusia.


Terima kasih untuk delapan tahun ini.

Selamat menempuh duniamu yang baru. Salam hangat untuk fase hidupmu yang selanjutnya. Semesta akan mendukung atas semua pilihanmu.


Sampaikan salamku, kepada semua yang berbahagia....saat 14 Maret tiba, karena saat itu, pagimu akan menjadi baru...

Love,


  V












Wednesday, December 31, 2014

Terima Kasih Bebek Adus Kali!

cr:vemale.com

Sayup-sayup lagu ini menghantuiku beberapa hari ini,
'Bebek adus kali, nututi sabun wangi. Ibu mundut roti, kowe ora diparingi'


Dari lagu itu, kemudian tokoh si bebek menjadi ikon. Mulai banyak miniatur bebek lucu yang bisa dimiliki dengan harga yang murah. Bebek yang dielukan di akhir tahun 80-an oleh sebagian besar bocah. Pun aku.

Maka tak mengherankan, bebek mungil karet berwarna kuning selalu bertengger di depan kaca kamar mandi aku. Selalu menjadi teman bicara setia dan turut menemani aku berendam dalam banyaknya buih buatan.

Dalam kesehariannya, bebek kecil itu tak jarang untuk aku ajak keluar dari singgasananya dan menikmati udara segar di luar. Aku ajak dia bermain walau sejenak, berkenalan dengan mainan baby block aku yang lainnya di kamar tengah. Kala itu, bapak pun tak jarang juga turut mengajaknya berbicara. Ia seolah turut laut dalam keceriaan kami, dengan menggoyangkan tangannya memainkan si bebek, walau tentu saja si bebek diam saja.

Dalam sebuah suasana, kamu kemudian pun harus kupinjamkan kepada adik ponakanku yang datang dari seberang. Sungguh sebenarnya aku enggak rela, bek. Karena ritualku tak akan sempurna tanpa adanya kamu. Dan aku juga tak rela, kalau kemudian kamu bertugas lagi, untuk menghiburku. Aku takut kamu kelelahan dan cepat rusak, karena kamu harus menjalani peran ganda.

Oh, Bebek.

Dulu kamu menemani hari-hariku. Dari mulai pagi hingga pagi lagi. Kamu juga yang seolah menjadi alarm pengingatku bahwa aku harus segera mandi sebelum fajar bergegas pergi. Lalu.... Ah, kamu.
Sayangnya, semakin hari, kamu pun semakin tampak lapuk, dan kemudian berubah warna.

Bebek.

Hingga pada suatu hari, kamu pun harus benar-benar tak bisa bertugas lagi. Bertugas untuk menemaniku di kamar mandi. Kamu sudah mulai tak bisa kuandalkan. Senyumku sudah tak seceria dahulu saat bertemu denganmu. Kamu berbeda, bek. Kamu bebek yang sudah mulai lapuk dan tua, dimakan memori dan suasana.

Tapi tahukah kamu, bek?
Perubahanmu itu pun tentunya seiring dengan membesarnya tulang-tulangku. Meningkatnya kadar hormonku, dan berkembangnya perspektif serta pandanganku. Terutama soal hidup, bek. Soal hidup.
Dimana dunia remaja sudah mulai kujejaki. Dan kamu pun seolah tak lagi penting dan hanya sebagai sebuah benda sambi lalu.

Aku tak akan mengutuk keadaan. Pun juga berusaha untuk tetap bisa bermain riang denganmu, dalam sebuah ruang kotak tak seberapa bernama kamar mandi. Kamu pun begitu. Tampaknya kamu sadar, bahwa aku tak lagi terlalu peduli denganmu. Kamu pun semakin cuek, dan membiarkan dirimu semakin tampak usang. Kemudian kamu pun memutuskan untuk menjauh, dengan membuat dirimu tampak tak berarti dan tak lagi berfungsi dengan baik. Kamu memperjelek tampilanmu, tak lagi tampil sempurna sekalipun aku membersihkanmu dengan sabar setiap hari.

Bebekku.

Bukannya aku jahat. Tapi mungkin keadaan yang tak memungkinkanku, untuk sejenak bersama dan bermain denganmu lagi. Bapakku pun terpaksa membuatmu benar-benar menjauh dariku, teman masa kecilmu. Aku pun juga tak bisa menolaknya, bek. Dan....emmm..aku seolah tak mau mencegahnya.

Maaf. Bukannya aku lupa tentang jasamu. Bukannya aku cuek tentang semua kebaikanmu dan semua waktumu yang telah kamu berikan kepadaku. Bukan pula aku punya teman baru yang lebih baik dan lebih bersahabat dari kamu. Tidak!

Tapi....aku sadar, bahwa semuanya pasti akan berubah, bek. Masa remajaku saat itu akan terus bertransformasi, hingga pada akhirnya akan menuai raga yang lebih tua. Akan berubah menjadi seorang aku yang lebih baru, yang berusaha keluar dari template jiwa yang mulai bosan. Dan menjelma menjadi aku yang kekinian, aku yang sekarang.

Aku yakin. Bahwa memang pada saatnya aku harus bisa terlepas dari hasrat kanak-kanakku. Namun tidak untuk melupakan memorinya. Ingat. Tidak untuk melupakannya! Kamu selalu ada di memoriku. Kamu menjadi garis merah bahwa masa kecilku benar-benar bahagia. Kamulah saksinya, bek. Kamu!

Dan pagi itu aku menyaksikan pandanganmu yang terakhir dari atas bak truk menuju ke tempatmu yang terakhir. Sekali lagi, maaf ya bek. Mungkin aku bisa untuk menggantimu dengan bebek yang lain, yang persis, dan sama baiknya dengan kamu. Tapi........ sepertinya aku akan memilih untuk menjadi lebih dewasa. Aku tetap bisa menyayangimu, walau tak lagi menjamahmu dan mengajakmu bermain bersama dengan air sisa sari mandiku.

Bebek.

Di detik ini, aku kembali mengingatmu. Bukan lagi di dimensi kanak-kanakku. Tapi dimensi lain pada sebuah masa dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan berbekal pengalaman yang telahkupunya, lalu ditambah dengan sedikit bumbu keyakinan, aku yakin bahwa kamu –yang kini entah dimana— akan tetap berbahagia untuk hidupku. Tersenyum atas semua pencapaianmu, atau mungkin menebak apakah aku selalu tetap bernyanyi, walau tanpamu.

Ya bek, kamu benar. Aku tetap selalu bernyanyi walau tanpa kamu.

Makasih ya bek. Kamu adalah teman di masa kecil yang indah. Dan seperti yang sudah aku bilang, sebenarnya aku bisa untuk tetap melakukan kebiasaan yang sama bersama bebek-bebek baru yang lainnya. Tapi, aku memilih untuk menjadi lebih dewasa. Meski mungkin ada juga orang dewasa, yang tetap menjadikanmu sahabat dalam ritual mandi mereka.

Tapi maaf aku memilih tidak. Karena harus ada sebuah revolusi dalam hidup ini, bek. Kita harus memilih untuk tetap stagnan, atau berubah. Dan tidak ada yang bisa mengukur apakah keputusan yang kita lakukan sudah tepat. Silakan saja untuk merencanakan jalur mana yang akan kamu lalui. Karena hidup ini berlangsung setiap hari. Tapi matinya yang sekali.

Kamu mengerti kan, sahabatku? Baik-baik di sana ya, di tempat yang bahkan aku nggak tahu itu dimana. Satu lagi yang perlu kamu tahu bek, bahwa aku tak pernah menyesal dengan keputusanku, karena aku selalu bisa mendapatkan pelajaran berharga di baliknya. Bahwa setiap keputusan bisa mengantarkanmu pada pintu-pintu ajaib yang tidak akan pernah kamu duga. Semua itu karena bukan karena kebetulan. Karena aku tak pernah percaya akan adanya kebetulan. Nggak pernah percaya.

Selamat memilih. Selamat menemukan caramu sendiri untuk mengambil keputusan.

Selamat tahun baru. Jangan latah ya.



Monday, November 10, 2014

Untuk Lelaki di Sepertiga Malam



via Behance.net/angelstanich

Kepada seorang lelaki yang seringkali mengkhawatirkanku di setiap lewat jam 22.00 wib. Dialah lelaki yang selalu duduk di sofa sudut ruang tamu karena cemas aku belum berada di rumah. Kepada lelaki yang seringkali membuatkan sarapan kecil untuk kubawa pergi keluar rumah. Mencoba memastikan aku tak akan sakit maag hanya karena tak bisa mengatur pola makan.

Dialah jugalah yang selalu menyemir sepatuku waktu aku masih menjadi seorang perempuan kecil yang tak bisa lepas dari bantal usang berwarna biru dan merah jingga. Saat menjadi seorang perempuan kecil, ceriwis, yang menyebalkan dan manja.

Ah. Ternyata dia jugalah yang selalu menjanjikanku beragam macam hadiah jikalau aku bisa meraih juara pertama saat di bangku SD hingga SMP. Pun mengajariku bagaimana caranya memasukkan kopling dan tancap gas dengan benar dengan mobil kesayangannya. Dia yang selalu bercerita, tentang masa kecilnya yang bandel dan tak takut kepada siapapun.

Bapak.

Sayup nyanyian sederhana yang pernah kau lantunkan saat aku masih berusia muda, tampaknya masih membekas di telinga. Senyum ceria dengan tawa terbahakmu di pantai Kuta saat kau masih di pertengahan 30-an, masih selalu kuingat hingga sekarang. Dan dalam sebuah diam, kau selalu bicara. Seolah kau tak mau melewatkan semua prosesku menuju dewasa.

Mungkin tak hanya pagi yang menawarkan ceritanya. Kau pun bergitu, pak. Kau selalu berkata, bahwa setiap hari adalah sebuah semangat baru. Cerita lama boleh hilang, tapi sebuah keyakinan akan harapan, tak boleh kulupakan.

Hingga mungkin kini pagimu itu telah berganti petang, percayalah... semangat pagimu akan terbawa lagi sampai hari berganti. Putihnya rambutmu seolah akan mengungkapkan, semua kesederhanaan atas sebuah perjalanan panjang yang telah kau lalui.

Bapak.

Mungkin aku selalu beradu argumen denganmu dalam beberapa hal. Keras kepala dan perfeksionis yang ada di diri ini tampaknya pernah menggoresmu dalam sebuah suasana. Juga soal keyakinanku tak ingin menikah muda sempat melenyapkan impianmu untuk menimang cucu dan memamerkannya pada kolega bisnismu sesegera mungkin.

Tapi percayalah, pak. Waktunya akan tiba. Aku tak ingin menjanjikannya pun meramalkannya. Tapi serahkan padaku soal kehidupan. Juga soal bagaimana aku memutuskan akan membina sebuah keluarga.

Suatu saat akan ada seorang lelaki, seperti yang kau idealkan, dan seperti yang aku butuhkan. Aku tahu persis dia seperti apa yang aku butuhkan. Seorang lelaki yang tentunya harus kuat dan pekerja keras sepertimu. Karena kau kan tahu, aku sangat tidak suka mereka yang lembek dan seolah tak mau berjuang bahkan untuk dirinya sendiri.

Dia yang akan menggantikanmu menjaga dan meyakinkanku bahwa harapan akan kebaikan akan selalu ada. Dia akan bersedia, membantuku untuk melompat lebih tinggi, dari apa yang aku bisa sekarang.  Yakinlah bahwa pilihanku itu tidak akan pernah mengecewakanmu. Karena kau tahu kan, aku selalu memegang janji?


Bapak.

Sepuluh tahun lalu mungkin aku belum mengenal high heels, stiletto, atau gincu bermerek Lancome. Make up-ku pun hanya sebuah senyum lebar atas candamu dalam hangatnya sebuah acara keluarga. Kini, aku perempuan kecilmu yang dulu sangat suka balap sepeda itu, telah sedikit demi sedikit berubah menjadi seorang gadis yang akrab dengan benda-benda tersebut. Namun percayalah. Bahwa itu hanyalah tampilan luarku saja.

Dalam hati ini, aku masih selalu kecil. Aku hanyalah seorang perempuan yang masih saja senang, saat membuka album foto dan melihat senyummu yang lebar di pantai Kuta. Aku yang selalu mengendap saat pulang malam, selalu tersenyum senang ketika aku tahu kau ketiduran di sofa karena menungguku.

Kau juga masih bercerita tentang apapun denganku. Namun bukan lagi tentang kenakalanmu saat kecil dulu. Kini kau kadang berkata padaku soal teman kantormu, klien atau orang kantormu yang menyebalkan. Yang terkadang menyebabkanmu harus bekerja dua kali lipat lebih keras untuk mem-back-up semuanya. Temanmu yang lempar tanggung jawab, dan kaulah yang kemudian harus menyelesaikannya. Sudahlah, pak.

Bukankah kau pernah bilang, jangan pernah mengukur sesuatu dari keringat yang telah kamu jatuhkan. Tapi pandanglah sebagai sebuah dedikasi atas profesimu. Kamu akan lebih pintar dan menguasai hal itu daripada yang lain. Kamu akan jadi bintang, yang walau sinarnya redup di mata orang lain, tapi kamu telah menghidupkan sinar untuk dirimu sendiri. Dedikasimu akan berujung pada sebuah kebaikan yang jauh lebih baik. Kau tahu itu.

Ingat saja dulu, saat keluarga kita terpuruk. Tak pernah sedikitpun kau mengeluh. Kau hanya yakin, bahwa semuanya baik-baik saja. Kau sangat yakin bahwa keterpurukan itu terjadi karena kurangnya kerja keras dan memang jatah kita untuk mencoba hidup dalam sisi yang lain.

Ingat tidak saat ibu berkata dan meminta maaf padaku karena uang jajanku harus dipotong? Ingat tidak saat beliau dengan iba memberikanku dua ribu rupiah untuk uang jajan dan transportasiku selama satu hari?

Kita hebat ya, pak? Kita berhasil melewati masa-masa itu. Dan aku tak pernah menyesal sama sekali,pak! Terima kasih karena aku berkesempatan melaluinya. Percaya atau tidak, kekuatan dan kemahiranku soal hidup meningkat drastis karena kita pernah terpuruk.

Aku jadi semakin tahu, untuk menjadi lebih hebat itu harus ada sebuah proses jatuh bangun. Untuk menjadi luar biasa, harus ada deras air mata dan ratusan malam yang berganti pagi dengan dibungkus kecemasan karena tak tahu besok harus membeli makan dengan apa. Tapi, aku bangga!

Bapak.

Seringkali ibu berkata dan menceritakan kepadaku soal harapan-harapanmu. Beliau memberi tahuku soal bagaimana kau selalu mencemaskan umurku yang semakin bertambah dan juga pekerjaanku. Ibu terkadang memberitahuku bahwa kadang kau selalu menebak apakah gajiku sekarang sudah bisa mengkover semua kebutuhan dan keinginanku.

Lalu kau pun menyarankan pada ibu, agar aku berkarir dengan lebih baik. Sebelum masa tuaku datang dan produktivitasku menurun. Sebelum aku tak kuat lagi menaiki tangga-tangga mimpi yang baru dan lebih berat.

Bapak.

Jangan pernah khawatir soal gaji dan pemenuhan kebutuhanku. Aku bisa membagi dan memprediksi semuanya. Tenang saja. Seperti yang kau bilang, akan selalu ada harapan di semua suasana. Jika suatu ketika, aku akan pergi dari sini. yakinlah bahwa sebenarnya aku tak akab benar-benar pergi.

Tentang perkataanku soal mimpi, aku akan tetap mengejarnya. Mungkin meninggalkanmu sesaat di sini bersama ibu. Tapi bukan selamanya. Aku tetap akan mengejarnya karena aku menghormatinya. Satu-satunya alasan kenapa kita perlu memperjuangkan mimpi adalah karena kita harus menghormatinya. Ia seperti janji, yang seyogyianya memang harus ditepati.

Bapak.

Pada sebuah kenyataan yang mengharuskan kita tunduk oleh sebuah siklus kehidupan, maka mungkin saja kita tak bisa mengelak. Hidup akan berjalan seperti biasa. Setiap jengkal prosesnya adalah sebuah sejarah. Dua puluh lima tahun sudah, nafas ini meninggalkan jejak dan cerita bersamamu. Dari pagi hingga pagi lagi.

Jangan pernah lagi menanyaiku kenapa aku tak seperti temanku lainnya yang menikah muda. Setiap orang memiliki keputusan dan pilihan di dalam hidup. Pun aku. Yakinlah, seperti yang telah aku bilang sebelumnya, aku akan menemukannya, sosok menantu yang juga akan bisa membantuku menjagaku di masa tuamu.

Jangan pernah meragukan kesetiaanku akan keluarga. Meskipun aku tak akan pernah menjadi anak yang benar-benar baik dan patuh, aku tetap akan menjadikan kau dan keluarga sebagai bagian terbaik dalam hidupku. Sebagai sebuah bagian yang selalu mendorongku untuk bisa lebih jauh mengalahkan limit.

Oh ya, pak. Suatu saat nanti, pasti kau juga akan menimang buah hatiku. Bapak, mau enggak berhenti merokok? Aku hanya tidak ingin, saat anakku lahir nanti, kau tak bisa turut berbahagia dan menggendongnya karena kau mulai sakit-sakitan karena efek rokok. Bapak enggak mau hal itu terjadi, kan?
Aku mau bapak menggendong anakku dengan suka cita. Dengan seulas senyum dan kondisi kesehatan yang sangat baik.

Aku ingin nanti, ketika di pelaminan, bapak masih tampak segar dan bugar. Tak seperti seorang yang tampak redup karena telah teracuni efek rokok. Aku cuma mau itu, pak. Cuma itu saja. Semoga doaku di sepertiga malam dikabulkan. Bapak akan berhenti merokok. Selamanya.


Mau kan, pak?

Karena sesungguhnya aku lebih cemas akan kesehatanmu daripada dengan kesendirianku di malam minggu.



Yogyakarta, 8 November 2014



Saturday, October 4, 2014

Menemukan Jiwa yang Lain di Abhayagiri Restaurant, Sumber Watu Heritage, Sleman, Yogyakarta

Beberapa orang mungkin membayangkan ingin melepas penat sejenak di sebuah tempat yang sunyi dan tenang. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota dan kebodohan klakson mobil dan motor yang dimainkan semena-mena (baca: biadab). Tempat dengan nuansa alam yang hangat, banyak dekorasi bebatuan seperti halnya yang ada di sebuah candi.

Mungkin Anda bisa mencoba berkunjung ke Abhayagiri Restaurant di Sumber Watu Heritage, Sleman, Yogyakarta. Abhayagiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti biara agung di bukit yang penuh kedamaian. Biara ini digunakan untuk relaksasi dan mendalami spiritual dengan tenang karena suasana di sekitarnya penuh kedamaian. Dan ternyata, memang benar begitu adanya.

Lokasinya tak jauh dari kompleks Keraton Ratu Boko, dan hanya berjarak sekitar 15 km dari pusat kota Yogyakarta. Mudah saja menemukannya bila Anda berkendara dari Jogja, silakan belok kanan di pertigaan sebelum pasar Prambanan (bila belok kiri menuju panggung Ramayana). Lurus saja ke selatan sekitar 1-2 km dan kemudian belok kiri pada papan penunjuk arah Abhayagiri. Jalan terus saja ikuti jalan dan papan penunjuk arah selanjutnya.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, aku merasakan aura yang sama seperti ketika aku mengunjungi Hotel Amanjiwo yang ada di Kabupaten Magelang, Sleman. Konsep yang ditawarkan sederhana, namun pemandangan dan nuansa yang diberikan itulah yang membuatnya menjadi luar biasa.

Luas Abhayagiri adalah sekitar 2,5 hektare, dan terdiri dari tiga ruangan utama, yakni indoor dining room, semi outdoor dining room, dan full outdoor dining room. Dekorasi interiornya cenderung menggunakan bahan alam seperti kayu eboni dan sengon. Pun juga dengan lantai yang digunakan, menggunakan keramik model keraton jaman dulu (yang tentunya sangat mahal), dan biasanya bermerek 'kuntji'. (Bila Anda ingin memesan keramik yang sama, Anda bisa menghubungi salah satu toko yang ada di bilangan gang di belakang Bakpia Pathuk 25, daerah Pathuk, Yogyakarta.)

Untuk perabot di outdoor dining room, didominasi oleh kursi rotan dan juga karpet rumput berwarna hijau. Ada beberapa arca Buddha yang diletakkan di sudut-sudut tangga, juga sebuah stupa berukuran cukup besar di sisi halaman sebelah tengah. Oh ya, satu hal yang menarik dari tempat ini adalah banyaknya lampu gantung berbentuk lampion di berbagai tempat. Plus juga jalan setapak semacam altar untuk menuju ke pinggiran tebing, dimana di bawahnya Anda bisa melihat keindahan kota Yogya dari atas.

Selain itu, Abhayagiri juga menyediakan fasilitas berupa hotel (soon), villa, dan juga villa yang memiliki rate sekitar Rp 600.000 per malam, dan saat ini masih dalam tahap pembangunan berkelanjutan. Pun juga sebuah aula dan juga kolam renang. Cukup membayar Rp 150.000, Anda sudah bisa berenang dan menikmati suasana kota Yogya dari salah satu tempat tinggi yang ada di sebelah timur kabupaten Sleman ini. Dan fix, aku seperti menemukan jiwaku yang lain, yang berbalut dengan semangat baru untuk terus menjalani hidup.

This is a very recommended place to visit in.


Tempat ini cocok untuk siapapun yang ingin mendapatkan sebuah pengalaman tak terlupakan dari sebuah kota bernama Yogyakarta.


Notes: Im not a paid-person or an influencer, either :D






Waiting for sunset


Look like a beautiful chandelier


Parang rusak untuk motif taplak
 

Aula berkonsep joglo yang telah berusia puluhan tahun



Tegel mahal, cap 'kuntji'


Pintu masuk dari parkiran


 Lets make a footprint here!


Nah, ini peta menuju lokasinya:

GPS Coordinate: S7°46'5.96" E110°29'49.88"