Dalam sekejap saja, deru mesin kereta telah berdecit. Meninggalkan
penjual nasi langgi yang sibuk membungkus dagangan dan menunggu kapan
pembeli merayap menyelamatkan perut mereka yang digombali keroncongan.
Ya, pagi ini adalah pagi yang lain dari biasanya. Pagi yang terasa lain
bagi lelaki yang akan menjumpai kota kelahirannya di ujung sana.
Dipandanginya
satu demi satu penumpang yang duduk satu gerbong dengannya. Tampak di
raut wajah mereka, pancaran kebahagiaan menuju tempat tujuan
masing-masing di seberang. Pancaran wajah kebahagiaan yang selamaini
menurutnya jarang ia dapatkan. Ia merasa hidup terkungkung di kota
besardengan kebahagiaan yang semu dan jarak rindu yang lama-lama telah
meranggas.
Matanya terus berkelana, menatap raut
wajah para penumpang yang sedari tadi sibuk bercanda, berbagi, dan
bergurau dengan santainya. Ia membuka tasnya, mengambil sebuah buku dan
membuka halaman tengahnya. Diambilnya 3 lembar foto masa kecilnya.
Setiap foto dilihatnya lama secara mendetail.Tampak di matanya, jutaan
kenangan kembali bergaung. Bak sebuah rol film yang diputar ulang ke
belakang. Tangannya menggenggam erat foto-foto itu, seerat ia
menggenggam kenangan. Ia tak tahu apa tujuannya pulang saat itu. Ia
hanya ingin menuruti saja kemauan kakaknya yang menyuruhnya pulang.
Sudah
6 tahun ia tak menjamah kota kelahirannya. Termasuk rumah dan sanak
saudara yang juga tak tahu bagaimana kabarnya. Jabatan dan popularitas
tinggi yang dimilikinya di kota besar, membuatnya tak sebebas
dulu.Membuatnya dibatasi oleh tembok sistem dan relasi kekuasaan
kapitalisme yang sering membuatnya diperbudak oleh keinginan materi
saja. Ia pernah lupa. Pernahlupa bagaimana dulu hidupnya pada suatu
kota. Kota yang memberikan penghidupan,memberikan bekal dan
menjadikannya insan yang penuh dengan kekuatan melangkah ke kota besar.
Ia
juga pernah lupa. Sosok paling tegar yang menghidupinya dari setiap
bulir keringat yang dipacu bersama harapan. Sosok yang dulu diberikan
keyakinan olehnya tentang jaminan masa tua apabila ia diperbolehkan
bekerja dikota. Lalu diberikannya juga sebuah harapan, tentang apa itu
sebuah kebersamaan ketika usianya tak lagi muda. Dan mungkin dalam
kegagahan yang dimilikinya sekarang adalah berkat kiriman doa darinya,
yang tak putus.
Ibu.
Ya,
mungkin selama ini ibu hampir dilupakannya. Sejak kematian ayahnya 3
tahun lalu, sang ibu hidup sendiri. Hanya ditemani lukisan-lukisan yang
digoreskan lelaki itu semasa kecil. Ditemani janji-janjinya yang bergema
di dinding rumah. Janji yang mengatakan bahwa ia akan rajin pulang satu
bulan sekali. Ha-Ha-Ha. Mungkin lucu sekali, bila ia mengingat kembali
janji-janjinya itu kini.
Dilihatnya lagi foto yang
sedari tadi digenggamnya. Di semua foto ada ibunya. Ada foto ketika ia
pertama kali bisa berjalan, foto ketika ia merayakan ulang tahun ke-17,
hingga foto ketika ia wisuda. Ah! Darimana saja ia selama ini. Seruan
telpon dan pesan singkat yang berulang kali datang dari sanak saudara
dan memintanya pulang tak pernah dihiraukannya.
Di
kehidupannya sekarang, ia sering merasa risau. Ia merasa seperti
kehilangan sesuatu. Ia terlalu sering mendapatkan kehidupan yang semu
dan kebahagiaan yang menurutnya tak paten. Ada yang hilang. Benar-benar
baginya ada yang hilang. Materi dan asset yang dimilikinya sekarang tak
lagi bisa membuatnya terbahak. Pendar gemerlap sinar kota tak pernah
lagi memberinya ketentraman. Ia kehilangan sesuatu.
Ia kehilangan restu ibu.
Dan
ia baru menyadarinya kini. Di tengah kereta yang terus melaju. Di
tengah gumpalan awan dan sederet padi yang berjejer di sawah hijau yang
tampak di kanan-kiri. Ia merasa datar. Bahwasanya ternyata apa yang
menjadi fokus hidupnya selama ini adalah samar. Lalu untuk siapa semua
pencapaian dan perolehannya selama ini? Diri sendiri? Bukan. Tapi untuk
ibu. Seperti janjinya ketika dulu. Dan lagi-lagi ia juga lupa itu. Uh!
Lamunnya
terus menyeruak, hati dan perasaannya jadi tidak menantu. Tetiba ia
ingin secepatnya tiba di rumah. Entah bagaimana caranya. Ia terlalu
pandir untuk tak segera menjumpai ibunya yang sering dikabarkan
sakit-sakitan. Tetiba ia sadar bahwa mungkin selama ini dia telah
melakukan kebodohan. Tak ada lagi sempuh pada ibunya, yang sudah terlalu
banyak ia bebani.
Lelaki itu sudah tak sabar
lagi. Baginya, ini adalah kereta terbagus yang pernah dinaikinya. Ini
adalah kereta yang paling hebat yang mengantarkannya pulang. Pulang
kembali ke peraduan, pada kasih sayang dan kerinduan yang akan terus ada
di hati seorang ibu untuk anaknya.
Dalam hatinya, dia mantap dan bergumam dengan lirih, “Saya pulang untuk ibu,”.
Bagimu
jiwa-jiwa petualang yang hampir lupa pulang, pulanglah. Maybe your
house is everywhere, but your home is where your heart in…. We`ll always
be a little child.
yogyakarta_July 13rd,2013 3.10pm
Jika
ada kesamaan ide,sudut pandang, sori2 ye, inspirasi ini datang waktu
saya kemarin nglihat lelaki pakai ransel di stasiun. Dia lalu beli nasi
bungkus dan kemudian lari2an naik ke gerbong kereta. :p
Sunday, July 14, 2013
Sunday, April 7, 2013
Kamseupay : sebenarnya siapa yang payah??
Yeep. KAMSEUPAY. Istilah ini makin kondang semenjak digunakan di salah satu iklan provider seluler (seperti yang saya pake juga) di televisi. Kamseupay, bagi yang belum tahu, ini adalah semacam akronim, yakni KAMpungan SEkali Udik PAYah. Usut demi usut, menurut beberapa sumber tertulis, yang mempopulerkan justru artis ibukota kita, tante Marissa Haque, lewat perang twitternya dengan anak salah satu musisi papan atas negeri ini (baca : negeri BBM).
Sebenarnya yah, sebenarnya, menurut kacamata saya, apa malah kata – kata semacam itu justru menimbulkan efek diskriminasi terhadap suara akar rumput yang semakin terpinggirkan. Dan sebentar dulu, kata `kampungan` tentunya berasal dari kata dasar kampung, sedangkan udik, adalah desa pinggiran. Selama ini, penggunaan kata – kata kampungan justru mengidentikkan warga desa dan kampung memiliki pola pikir yang wagu, aneh, dan memiliki peradaban di bawah orang kota. Kalau mau berkiblat ke peradaban yang tinggi dan baik, yaa….ke orang – orang kota. Begituah kira – kira pemikiran sederhananya. Udik juga diibaratkan sebagai kata sifat bagi seseorang/hal yang sangat terbelakang/ketinggalan jaman.
Penggunaan kata – kata `kampungan` tentunya menyiratkan bahwa orang – orang desa dan kampung itu tampak seperti yang paling ga banget dan kuno sekali. Kenapa tidak ada orang desa yang sudah tenar dan mampu berhasil lalu disebut dengan `kotaan` dan atau istilah lainnya. Apakah standar kehidupan orang yang tinggal di kampung justru lebih rendah daripada orang – orang (yang katanya) berkelas yang hidup di kota – kota. Mereka dengan rumah yang berpagar tinggi, atau tinggiii sekali (sampai tukang koran harus berlatih lombat galah) dan juga bahkan tak kenal lagi apa itu namanya kerja bakti dan siskamling.
Mengutip pernyataan dari Dhanang Dhave, seorang kompasianer, yang menambahkan bahwa suara orang – orang kampung -yang banyak ditipu oleh para pejabat neheri ini-, banyak yang memberikan suaranya dalam pemilu, agar para pejabat negeri ini menjadi orang nomor satu. Lalu kemudian kembali menipu lagi dan lagi.
Oh ya, dan apakah keramahan, toleransi, rasa saling menghargai, dan juga menghormati, yang sebagian besar masih bisa dirasakan di kampung, bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang `kampungan`? Lalu, apakah seorang yang sedang merantau di kota, kemudian kembali ke kota asalnya, atau yang ngetrend dengan istilah pulang kampung, juga bisa dikatakan sebagai seorang yang kampungan yang balik ke kampung?
Orang - orang besar dan pandai di negeri ini, tumbuh dan berkembang karena jasa dari orang – orang kampung, orang desa. Tidak ada yang mampu menyangkal bahwa nasi dari padi yang setiap harinya merupakan makanan pokok bagi sebagian masyarakat Indonesia, ditanam dan didistribusikan oleh orang kampung, orang desa. Ikan yang lezat, buah – buahan, dan sayur mayur, juga demikian adanya, banyak berasal dari kerja keras para nelayan, petani, yang tinggal di kampung – kampung nelayan atau desa.
Sekarang pertanyaannya, kapan? Kapan orang kampung mendapat citra yang lebih baik? Lampiaskan kemarahan atau kekecewaan dengan istilah dan cara yang benar dan positif. Tidak adakah istilah yang lebih baik untuk mengungkapkan kekecewaan? Ayo, ada yang mau usul?
Agar setidaknya makin banyak yang tidak mendiskreditkan kampung sebagai tempat yang memiliki peradaban rendahan. Biar orang kampung bisa sedikiiiiit tersenyum. Tak juga terus – terusan berangan – angan. Berharap tentang sesuatu yang pernah dijanjikan kepada mereka. Membeli mimpi yang bahkan kadang mereka tak bisa mengusahakannya sendiri.
(#np_Iwan Fals : Mimpi Yang Terbeli)
Sampai Kapan Mimpi – Mimpi Itu kita Beli…
Sampai nanti sampai habis terjual, harga diri…
Ah, saya memang bukan guru bahasa dan sastra Indonesia, tapi yaaa…saya boleh juga dong menyuarakan pendapat demi perbaikan bersama. Negara kita kan negara demokrasi. Ini Indonesia kan??
_nasi goreng, cha sayur,dan jus jeruk didepan saya ini, sungguh.…harus saya lahap habis.
(260312, 20.20pm)
SLUKU-SLUKU BATHOK
“Nduk maem dulu, lanjut nanti maen gamenya”
Nggih mbah…
Samar – samar suara simbah putri, tepatnya 18 tahun lalu, saat dimana aku masih getol2nya main Mario Bross, Pacmann, namun begitu aku sangat suka setrika dan cuci piring di usiaku yang masih kecil (mbakat babu kali yah,, haha). Simbah seringkali menungguiku di saat aku mengerjakan PR, atau terkadang meninabobokan aku dengan lau sluku-sluku bathok atau kadang juga lagu kidang talun atau menthog-menthog.
Dua lagu itu masih aku hafal sampai sebesar ini, lagu anak – anak versi Jawa. Dan bahkan masih terdengar jelas, suara simbah yang sedikit parau saat itu, pada usianya yang menginjak 72 tahun. Namun begitu, semangat simbah untuk hidup dan bekerja keras patut diacungi jempol.
Terlantun pula cerita ibu tentang kehidupannya saat kecil. Ibu adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Tinggal di sebuah kota yang dijuluki kota gadis (perdagangan dan industri), Madiun, suatu karesidenan kecil di Jawa Timur. Suami simbah putri, yaitu mbah kakungku, (yaiyalah) sudah menibggal dunia karena diabetes ketika ibuku masih berusia 6 tahun. Sejak saat itu, simbah menjadi seorang single parents untuk kelima anaknya yang masih belum bisa mandiri. Anak pertama simbahlah yang berprofesi sebagai mariner-lah yang menjadi tumpuan keluarga saat itu.
Pagi-siang-malam, simbah berjuang mencari seupil nasi untuk anak – anaknya. Tengah malam menjelang, simbah pergi ke sawah di belakang rumah dengan menggunakan caping kesayangannya. Dia melakukan apa itu yang diistilahkan dengan derep (menggarap sawah milik orang lain), menjual jasa kesana kemari. Terkadang anak – anaknya yang bungsu membantu sebisa mungkin, termasuk ibuku. Upah yang didapatkan juga tidak seberapa, namun simbah tetap saja bersyukur atas apa yang didapatkan. Yaah…walau katanya, upah itu tetap tidak cukup untuk makan sehari – hari. Terkadang, simbah harus mengerjakan beberpa sawah lagi untuk mendapat penghasilan tambahan. Atau bahkan, saking melasnya, harus berhutang satu kilogram beras di warung depan rumah. Itu pun tidak sekali atau dua kali,namun dua, tiga, hingga berkali - kali hingga utang – utangnya tidak terhitung di warung itu. Hingga pada suatu saat, sang pemilik warung tidak mau lagi memberikan beras tanpa dibayar terlebih dulu.
Apa yang terjadi di hidup simbah, tetaplah diterimanya dengan ikhlas, namun juga tetap berusaha. Simbah punya tekad yang membuatnya tetap bertahan : melihat kesuksesan anak – anaknya di masa depan kelak. Simbah pun tetap mati – matian berusaha agar semua anaknya tidak putus sekolah, karena menurutnya, pendidikan adalah bekal terbaik untuk hidup seorang manusia. Dia pun kemudian menitipkan salah satu anaknya yang perempuan, yaitu ibuku, kepada kakaknya yang telah menjadi seorang keluarga darah biru di Sukonandi, Yogyakarta. Sebab, kakak simbah menikah dengan anak seorang bupati kala itu dan masih keturunan keraton, dia menjadi seorang darah biru, dan lalu bergelar Raden Ajeng. Maka sudah dipastikan, ibu mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang layak ketika tinggal bersama kakak simbah. Ibu mendapat gemblengan mental dan tata karma yang sangat baik serta halus yang masih terpatri sampai sekarang. Salah satu anak simbah sudah bisa dikatakan sedikit keluar dari keterpurukan istilahnya. Anak simbah yang lain masih tinggal di Madiun, dengan masih berjuang untuk terus sekolah dan bekerja dengan baik. Ada yang kemudian menyusul ke Jogja dan menjadi guru, yang lainnya berpencar menemukan nasib yang telah dirancang sendiri.
Simbah selalu berusaha menjadi sosok yang baik bagi anak – anak mereka, bukan teladan, namun sebagai sosok yang mengayomi serta welas asih. Hingga pada suatu hari, aku, sebagai cucunya yang kesepuluh lahir, kata ibu, simbahlah yang pertama kali memandikan dan meninabobokanku. Simbah juga yang mengajari ayahku bagaimana caranya memendam tali pusarku.
Aku lahir secara caesar dan dirawat di incubator, sehingga membutuhkan perawatan yang intensif selama satu minggu. Simbah adalah orang yang rajin menunggu dan menjengukku setiap hari. Kata ibu, simbah juga yang mengusap – usap ubun – ubunku agar bentuknya lebih enak dilihat, sebab saat itu kepalaku sedikit peyang. Secara sabar dan telaten dirawatnya aku setiap hari. Yaahh..mungkin kepalaku tidak akan seperti ini bila bukan karena simbah.
Simbah.
Di usianya yang ke 75, dia terkena stroke gangguan pada sebagian saraf kanan tubuhnya. Tidak ada lagi kunjungan ke rumah kami. Tidak ada lagi lagu sluku – sluku bathok yang menggema di hati dan dinding2 rumah kami. And even, tidak ada yang memperdengarkan lagu ninabobo padaku lagi, lalu ibu yang menggantikannya.
Simbah harus terbaring di kasurnya yang sederhana, di Madiun sana. Berbaring diatas kesendirian, tanpa suami dan juga kesendirian masa tuanya. Kami, anak dan cucunya hanya sesekali menengok dan mengiriminya obat. Hanya ada dua anaknya yang tinggal bersama dan merawat simbah. Simbah tak lagi seperti dulu. Sifatnya berubah seperti anak – anak yang cari perhatian. Simbah bahkan seringkali tampak blank dan membuat bingung kami semua. Tak jarang pula, berulang kali simbah seperti ingin menyudahi hidupnya. Kami tetap berikhtiar semampunya dan berusaha, apapun yang terjadi semoga yang terbaik bagi simbah.
Tapi…
Mbah, dengarkan aku…
Walau jasad tak lagi bisa bertemu, kami yang perlu engkau tahu, usaha dan tugasmu sebagai nenek, ibu, dan orang tua, sudah selesai dan tuntas dengan bagus. Lihatlah lihat anak – anakmu sekarang. Kami sudah hidup lebih dari cukup, bahkan sangat cukup. Dengan kesehatan, ilmu, dan materi yang kami punyai, itu adalah buah kerja kerasmu yang tak kenal henti. Lihatlah lihat cucu - cucumu kini, sudah tumbuh dewasa dan siap menuai hasil kerja keras dan masa depan yang menjelang. Terima kasih.
Tanah, udara, dan sebuah lagu sluku – sluku bathok..Tengah mengantarkanmu ke peristirahatanmu yang terakhir, satu minggu lalu di suatu sudut tanah merah, berbaring didekat suamimu…
Selamat jalan simbah…Note ini untuk mengenang satu minggu kepergianmu…Hanya untuk simbah – simbah kami yang terbaring di sana,
Hardja Sahir dan Sumila Sahir (May 29th, 2012)
and did you know where`s the name of `Sahir` in my twitter name taken from? It takes from someone who did care of me since i was child.. i won`t replace it…
and there`s always a goodbye in every hello… R.I.P
Nb : …dan cucumu yang satu ini masih disini, berputar – putar di wilayah jogja bagian utara….sambil menyanyi lirih dalam hati… sluku – sluku bathok, bathoke ela elo…..
Antri Tiket Yuuukkk
Antrian panjang memang bikin jengah, suntuk, dan kadang naik darah. Hahaha. Nah itulah yang seringkali terjadi di bagian reservasi stasiun. Saya, yang sering memesan tiket kereta dan yang lebih suka memesan langsung ke reservasi daripada online, seringkali harus dihadapkan dengan ratusan orang yang mengantri tiket. Mau tau caranya biar cepet dapet tiket? Sebenernya biasa aja sih, sama aja ketika kita ngantri di loket tiket di bioskop, kita bisa SKSD trus minta tolong dibeliin sekalian sama antrian yang paling depan. Tapi, lain lading lain belalang, lain bioskop lain stasiun.
Di bagian reservasi stasiun, (yang saya maksud adalah stasiun tugu, Jogja), situasi dan kondisi, apalagi pada musim liburan dan weekend, hampir selalu penuh sesak. Orang – orang banyak yang menjejali ruangan reservasi yang hanya berukuran sekitar 9x9 m itu. Setiap orang yang datang diberikan nomer antrian. Kita tidak tahu, orang yang mana dan nomer berapa yang dia punya. Sebab, mereka duduk secara menyebar. Beda dengan antrian loket bioskop dimana kita langsung tahu siapa yang berada di antrean terdepan. Tapi itu bukan masalah kok, hanya perlu sedikit usaha dan ikuti tips aja :
- Baca keadaan. Pastikan anda tahu, saat ini loket pelayanan sedang sampai di antrian berapa dan anda mendapat antrean berapa. Hitunglah jarak antrean anda kira – kira harus melewati berapa orang lagi.
- Siapkan pede, malu, muke gile, muke tebel, dan juga keyakinan sekuat baja.
- Kepo! Yup, ini yang paling penting. Saatnya anda kepo di dunia nyata. Berjalanlah berkeliling ruangan. Amatilah setiap nomer antrean yang dipegang para calon pembeli.
- Jika sudah dapat, lihatlah wajah si orang tersebut. Bagaimana nada suaranya, dan pastikan dia seorang yang easy going, dan bisa diajak kerja sama (haha).
- Pastikan orang tersebut adalah mereka yang sudah merasa cukup, hanya dengan kita mengucapkan terima kasih… (free is the best)
- Aktinglah seorang terburu – buru dan lalu ajaklah kenalan. Bila kurang pede, mungkin bisa diajak ngobrol dulu atau ditawari snack. (soyo edan)
- Jurus sok kenal sok dekat dengan penuh pengharapan, silakan digunakan.
- Bila orang tersebut bersedia membantu, aturlah scenario yang akan dijalankan. Akuilah dia sebagai kakak, bapak, atau adik anda (temuan juga boleh)
- Titipkanlah uang dan daftar beli yang anda butuhkan. Dan jangan lupa, tetap jangan lupa, nanti di akhir, mintalah kembalian uang anda (lihat point 5)
- Berikanlah senyum termanis sebagai bonus untuk orang tersebut.
- Akhirnya, nomer antrean yang tadinya berjarak 100 lebih, tidak menjadi masalah bagi anda.
- Dapat tiket lebih cepat
- Dapat kenalan baru
- Melatih keberanian dan kejelian dalam mengamati seseorang
- Tidak merasa gambling akan ketersediaan tiket dengan jumlah antrean
- Hemat waktu
- Melatih dan meng-olahragakan urat – urat malu
_dalam suasana ngakak karena undian palsu_ @Yogyakarta, 21 Juni 2012
(M)(P) ILIH
YuhuUu…ada sobekan kertas terkapar tak berdaya berlukiskan wajah-wajah Sigmund Freud setelah berhasil saya keluarkan dari tumpukan paling bontot di bawah kamus – kamus tebal. Sekilas saya pandangi sobekan yang sudah tak beraturan dengan gambar mbah Sigmund dengan berbagai posisi,gaya rambut, metamorfosa,namun tetap dengan sorot matanya yang angker dan khas. Khas seseorang yang berpikiran `njelimet`,tidak terjangkau, atau kalau disamain kaya harga, bukan harga mahasiswa, tidak terjangkau.
Pandangan saya menerawang mengingat bagaimana saya bisa punya gambar mbah Sigmund.Dan oh…yaap! Lalala, saya ingat kuliah psikologi komunikasi semester dua beberapa waktu lalu , yangmewajibkan saya membuat esay mengenai id, ego,dan super ego. Tiga hal fenomenal yang digelontorkan dan menjadi `signature word` si embah yang keturunan Yahudi ini. Ah,waktu itu saya sebal setengah mati, yasudahlah copy paste langsung jadi. Tapi ternyata sosok mbah Sigmund terus membayangi, terutama ketika ujian.Mau tak mau,akhirnya tugas tentang mbah Sigmund saya buat dengan sepenuh hati.
Yaaah..berbicara tentang id,ego,super ego…tampaknya hari ini,semuanya bekerja maksimal dalam diri saya, bisa juga kamu,engkau, anda,kita, semua. Ketiganya tengah berkolaborasi,seperti orchestra yang bermain apik membentuk kesatuan lagu hingga usai. Id.ku tadi mengatakan suatu prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan dan kebutuhan. Ego saya juga bekerja berdasarkan prinsip realitas. Serta Super Ego-ku memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Yup….hari ini saya sedang membuat keputusan. Semacam keputusan yang sulit,bagi saya.
Sebuah pilihan bukan lagi menjadi suatu objek, ia telah menjadi objek. Menjelma menjadi suatu kalimat perintah : Pilih namun juga dapat menjadi kalimat adjective : yaitu Milih/memilih. Hanya tinggal dipandang dari sudut pandang yang berlainan. Itu semacam gertakan pada diri sendiri, bisa jadi sebagai sesuatu yang setara dimana kita tinggal memilih salah satunya. Atau bila kita sudah mentog dan bingung mengambil keputusan,ubahlah suatu pilihan tersebut menjadi suatu perintah : Pilih. Maka dengan mudah kita akan mendapat kepastian. Dan tampaknya, memilih tidak bisa bekerja pada saya. Id,ego, dan super ego saya terlalu perfeksionis hanya dengan memilih. Mereka bertiga perlu sebuah gertakan : Pilih. Lalu akhirnya, saya pun membuat sebuah keputusan.
Dan kini sudah pukul 22.44pm, dua jam lalu, keputusan sudah diproklamasikan. Saya pilih apa yang benar-benar bisa menjadi rumah yang nyaman bagi id, ego, dan super ego saya. Saya pilih salah satu dari dua hal yang membingungkan saya. Ah, id,ego,super ego..andai tidak ada kalian,mungkin saya hanya akan memilih dan tidak ada gertakan bagi diri saya untuk berpikir lebih.
Ooooh,mbah Sigmund...Untuk kali ini, saya cinta padamu. Semoga apa yang saya `Pilih` benar – benar tepat.
(untuk cakrawalaku yang tanpa batas, juga maverick yang masih berkelana)
_saya masih menunggu datangnya keajaiban, ditemani tetes – tetes terakhir jus sari buah… serta alunan lagu Hotel California : I was talking to my self this could heaven or this could be the hell??
Yogyakarta, 5 September 2012, 22.50pm
Habibie dan rona Ke-Indonesiaannya
Ini adalah catatan singkat ketika Habibie berkunjung ke GARUDA INDONESIA setahun lalu,
12 Jan 2012
Sumber : Capt. Pilot Novianto Herupratomo
Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.
Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.
Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.
Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).
Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?
Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-
escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.
Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.
N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………
Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:
“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia
Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.
Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’
Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.
Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….
Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….
Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?
Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.
Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”
Pak Habibie menghela nafas…………………..
Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;
Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin.
Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.
Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..
N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.
Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.
***
Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..
“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.
“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,
? Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”
Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:
“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………
“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”
Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam………………………..seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.
Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………
“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.
Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.
Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;
1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.
Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;
“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia………….
Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”
Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………
Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;
“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………
Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.
Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.
Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.
Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”
(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.
Entekke!!
Akhirnya dengan setetes air murni dari selokan sebelah, saya berhasil lagi mengumpulkan niat untuk mandi --kalau kata orang, niat menikah lebih mudah daripada mandi, mungkin itu (ada) benar (nya)--, lalu saya beranjak menulis. Yaaah,
awalnya saya hanya mau bayar utang untuk menyelesaikan tulisan saya
yang lama, yang sudah banyak ditagih oleh penggemar blog saya (nggaya
tenan!!). Tapi...kok tampaknya tidak terwujud malam ini. Saya lebih asyik masyuk ke pengembaraan pikiran yang ini saja.
Bukan namanya kalo Karl Marx tidak terkenal dengan Marxisme.nya,bukan saya kalau tidak berpikiran aneh. Bahkan untuk sebutir nasi yang tersisa di piring makan. Nasi yang telah menjelma dari sebuah pengembaraan benih padi selama beberapa musim, yang pada akhirnya jatuh ke tangan Bu Tani untuk dikonsumsi manusia. Sebutir nasi, dalam kisahnya, mencengkeram erat perjuangan – perjuangan para petani. Didalamnya terkandung jutaan butir keringat dan 100% harapan untuk anak mereka yang tengah merantau ingin jadi orang pandai. Satu butirnya berisi harapan akan modal usaha dan hasil panen yang diharapkan mampu menaikkan kesejahteraan mereka yang nyaris nihil terkadang. Satu butirnya berisi kantuk dan kelelahan dalam suatu pengorbanan di siang yang terik atau subuh yang dingin. Walaupun rasanya akan selalu sama, tapi tidak akan ada artinya sepiring tanpa sebutir.
Jikalau mulut dan hati ada pada sebutir nasi, tentu ia akan bercerita, bagaimana perjalanan panjang yang dilaluinya. Bagaimana bila secara sengaja maupun tak disengaja, mereka kemudian berpindah tempat tinggal, bukan lagi di dandang keren atau mejikjer atau dandang molek warna hitam di dapur nenek. Mereka akan tinggal di sekitar kumpulan lalat – lalat hijau. Bercampur dengan teman – teman baru yang juga menunggu untuk diangkut bersama. Dan hanya tinggal menunggu saja, kapan matahari mungkin akan lebih ganas, yang akhirnya membuat mereka mengering lalu berkerak.
Ah, nasi.
Ada adik saya yang baru saja makan dengan menyisakan beberapa butir nasi di piringnya. Piringnya masih disamping saya, berikut beberapa butir yang masih rada menggumpal itu. Dalam fatamorgana dan personifikasi saya, si nasi sedang berbincang dengan saya. Sebegitunyakah manusia bila perut sudah terpuaskan? Apakah tidak ada tanggung jawab moril untuk sekalian mengajaknya berpesta bersama kawan – kawannya di dalam perut adik saya? Tidak pulakah membayangkan, ada berapa manusia yang menyisakan nasi di piringnya?Apakah pasti hanya sebutir?Lalu bagaimana rumus perkalian untuk menghitung berapa bangsanya yang sebenarnya bisa dipersatukan untuk memakmurkan perut anak-anak yang lainnya? Atau mungkin akan dipuja – puja dalam suatu parodi pembagian BLT.. (wekekek)?Begitu mungkin yaa...yang ingin mereka katakan pada saya.
Dan oh, tentu saja. Dalam sebutir nasi, ada jutaan cerita dan tangis anak – anak busung lapar. Sebutir nasi, menyiratkan wajah – wajah lelah istri – istri petani dikala petang. Dan lagi – lagi, sebutir nasi bersama koloninya, akan memberikan cerita bagi anak – anak TK dalam program 4 sehat 5 sempurna. Dalam satu butirnya, ada pundi-pundi rejeki dan secercah harapan baru sang petani membangun keluarganya.
Ibu, Bapak, Adik, Mbak, Tante, Pacarmu, atau mungkin Pacarku tentunya butuh nasi. Perlakukanlah nasimu secara bertanggung jawab dengan menghabiskannya. Tukang sapu di perumahan saya bilang, dia bahkan pernah merasa tersayat, bila melihat nasi dibuang-buang percuma. Just because you are capable to buy everything, it doesn`t mean that you can do whatever you want,Dude!
Satu butir nasi yang dibuang....,di dunia luar sana bakal ada jutaan tangan yang berlomba memungutinya.
NB : Saya sudah siap ambil cambuk dan menyuruh adik saya tidak menyia-nyiakan petani. Dek, entekke! (habiskan – red) :)
Bukan namanya kalo Karl Marx tidak terkenal dengan Marxisme.nya,bukan saya kalau tidak berpikiran aneh. Bahkan untuk sebutir nasi yang tersisa di piring makan. Nasi yang telah menjelma dari sebuah pengembaraan benih padi selama beberapa musim, yang pada akhirnya jatuh ke tangan Bu Tani untuk dikonsumsi manusia. Sebutir nasi, dalam kisahnya, mencengkeram erat perjuangan – perjuangan para petani. Didalamnya terkandung jutaan butir keringat dan 100% harapan untuk anak mereka yang tengah merantau ingin jadi orang pandai. Satu butirnya berisi harapan akan modal usaha dan hasil panen yang diharapkan mampu menaikkan kesejahteraan mereka yang nyaris nihil terkadang. Satu butirnya berisi kantuk dan kelelahan dalam suatu pengorbanan di siang yang terik atau subuh yang dingin. Walaupun rasanya akan selalu sama, tapi tidak akan ada artinya sepiring tanpa sebutir.
Jikalau mulut dan hati ada pada sebutir nasi, tentu ia akan bercerita, bagaimana perjalanan panjang yang dilaluinya. Bagaimana bila secara sengaja maupun tak disengaja, mereka kemudian berpindah tempat tinggal, bukan lagi di dandang keren atau mejikjer atau dandang molek warna hitam di dapur nenek. Mereka akan tinggal di sekitar kumpulan lalat – lalat hijau. Bercampur dengan teman – teman baru yang juga menunggu untuk diangkut bersama. Dan hanya tinggal menunggu saja, kapan matahari mungkin akan lebih ganas, yang akhirnya membuat mereka mengering lalu berkerak.
Ah, nasi.
Ada adik saya yang baru saja makan dengan menyisakan beberapa butir nasi di piringnya. Piringnya masih disamping saya, berikut beberapa butir yang masih rada menggumpal itu. Dalam fatamorgana dan personifikasi saya, si nasi sedang berbincang dengan saya. Sebegitunyakah manusia bila perut sudah terpuaskan? Apakah tidak ada tanggung jawab moril untuk sekalian mengajaknya berpesta bersama kawan – kawannya di dalam perut adik saya? Tidak pulakah membayangkan, ada berapa manusia yang menyisakan nasi di piringnya?Apakah pasti hanya sebutir?Lalu bagaimana rumus perkalian untuk menghitung berapa bangsanya yang sebenarnya bisa dipersatukan untuk memakmurkan perut anak-anak yang lainnya? Atau mungkin akan dipuja – puja dalam suatu parodi pembagian BLT.. (wekekek)?Begitu mungkin yaa...yang ingin mereka katakan pada saya.
Dan oh, tentu saja. Dalam sebutir nasi, ada jutaan cerita dan tangis anak – anak busung lapar. Sebutir nasi, menyiratkan wajah – wajah lelah istri – istri petani dikala petang. Dan lagi – lagi, sebutir nasi bersama koloninya, akan memberikan cerita bagi anak – anak TK dalam program 4 sehat 5 sempurna. Dalam satu butirnya, ada pundi-pundi rejeki dan secercah harapan baru sang petani membangun keluarganya.
Ibu, Bapak, Adik, Mbak, Tante, Pacarmu, atau mungkin Pacarku tentunya butuh nasi. Perlakukanlah nasimu secara bertanggung jawab dengan menghabiskannya. Tukang sapu di perumahan saya bilang, dia bahkan pernah merasa tersayat, bila melihat nasi dibuang-buang percuma. Just because you are capable to buy everything, it doesn`t mean that you can do whatever you want,Dude!
Satu butir nasi yang dibuang....,di dunia luar sana bakal ada jutaan tangan yang berlomba memungutinya.
NB : Saya sudah siap ambil cambuk dan menyuruh adik saya tidak menyia-nyiakan petani. Dek, entekke! (habiskan – red) :)
Wednesday, January 23, 2013
Pragmatis Demi Idealis
“Gua bingung, bakal ngikutin kemauan ortu gua atau perjuangin
keinginan gua sendiri’”
Saya masih ingat, kira-kira begitulah yang diucapkan teman
saya beberapa saat setelah kami merayakan kelulusan dari universitas. Kami
seolah kaget ketika berhadapan dengan kenyataan, bahwa kami bukan lagi
mahasiswa, kami sudah diketok palu, menjadi seorang sarjana. Penambahan huruf
di belakang nama kami itu, bukan saja membanggakan, namun juga suatu beban.
Kami hanya dua orang sahabat yang seolah sedang belajar
mencari jati diri. Dua orang yang bingung bagaimana menentukan nasib di tangan
sendiri. Diluar sana,mungkin tidak hanya kita berdua.Mungkin bisa tiga,
sepuluh, seratus, atau bahkan jutaan orang yang sudah lulus dari universitas
yang dihadapkan pada dilema untuk menentukan langkah selanjutnya. Kami punya
mimpi pribadi, punya angan – angan dan kriteria hidup yang telah kami susun.
Berkali – kali kami melamar berbagai lowongan, dari berbagai job fair di
berbagai lembaga karir, termasuk melalui ECC UGM.
Saya tidak akan ber-ba-bi-bu membahas bagaimana kehidupan
mahasiswa dalam kaitannya memperjuangkan idealisme yang berbanding terbalik
dengan pragmatisme. Saya hanya ingin
sedikit berkelakar tentang bagaimana perdebatan pragmatis dan idealis pada kehidupan mahasiswa setelah lulus. Banyak mahasiswa yang tetap bertahan dengan keyakinan dan
keinginannya untuk bisa bekerja di perusahaan atau berada dalam posisi tertentu.
Atau mungkin juga tidak akan bekerja, namun berwirausaha.
Dalam kondisi tersebut, kebingungan mulai merasuk. Apalagi ketika
dihadapkan pada kebutuhan yang semakin banyak, namun pekerjaan atau posisi idaman
belum berhasil didapatkan. Saat itulah pertentangan antara idealisme dan
pragmatisme mulai berdengung. Saat itu
juga, kita harus segera memutuskan pijakan hidup kita selanjutnya.
Idealisme, bagi saya, tidak melulu berakar pada sebuah
gerakan yang memperjuangkan kepentingan suatu kelompok tertentu. Idealisme,
dalam hemat saya, adalah sebuah standar yang kita ciptakan sendiri dalam hal
apapun. Atau bisa jadi merupakan sebuah celah, dimana kita ingin menjadikan diri
kita memilliki posisi di mata orang lain. Yaaah, semacam bargaining position yang baik.
Idealisme juga memiliki banyak arti untuk bisa
diejawantahkan. Ada yang menganggapnya sebagai sebuah patokan dalam hidup, atau
menganggapnya sebagai sebuah standar dalam pencapaian sesuatu. Mimpi, bagi
saya, adalah salah satu contoh idealisme. Saya, sebagai manusia, punya mimpi. Mimpi yang
setinggi langit, atau kata Iwan Fals dalam salah satu lagunya, mimpi-mimpi yang
tak terbeli. Sebab mungkin terlalu tinggi, dan bahkan mungkin saya tak bisa
menjangkaunya. Tapi saya cuek, saya
percaya kok pada diri saya sendiri. Saya yakin saya mampu meraih semua mimpi –
mimpi saya. Mungkin itulah gambaran sangat sederhana mengenai idealisme.
Hari demi hari berlalu, hingga mungkin warna toga sudah
mulai luntur menjadi kelabu, tapi satu pun mimpi belum terwujud. Sementara itu, kebutuhan semakin banyak,
gengsi semakin ditekan, dan rasa geregetan untuk
bekerja sudah menggerayangi. Akibatnya,
otak mulai berpikir panjang, nafas mulai tertahan, dan logika dipermainkan. Pada
akhirnya tergoda untuk meng-ho`oh-kan tawaran atau
segala jenis pekerjaan yang datang menghampiri. Even, itu bukanlah tujuan utama kita, bukan mimpi kita, dan
berbanding terbalik dengan passion yang kita yakini. Ah, mungkin itulah
pragmatis, dalam hemat saya.
Pragmatis Demi
Idealis
Memperjuangkan mimpi itu boleh lho, tidak ada yang melarang. Bagi saya, mimpi itu kan suara hati.
Bahkan ibu Eleanor Rooseevelt mengatakan
bahwa yang perlu dilakukan seseorang terhadap mimpinya adalah memperjuangkan
dan mempercayainya. Kalau sudah kepentok,
pasti akan selalu ada tembok yang bisa dihancurkan sehingga akan menjadi jalan
baru yang bisa kita lalui.
Memperjuangkan idealisme itu juga sah – sah saja kok, tidak ada yang melarang. Toh,
yang penting tidak ada orang lain yang
dirugikan. Hanya, sekarang permasalahannya adalah mampukah seorang
mahasiswa mempertahankan idealisme yang telah ditetapkannya sendiri? Simpelnya,
apakah idelaisme mampu memberikan penghidupan bagi manusia kelak?
Saya mungkin mempunyai pandangan yang rada senewen dalam
melihat hidup. Ada kalanya, menurut saya, kita boleh pragmatis untuk
memperjuangkan idealisme kita. Artinya begini, kita berada dalam suatu keadaan
dimana kita terhimpit oleh posisi yang tidak kita harapkan tapi mengharuskan
kita untuk bertahan.
Saya tidak akan munafik untuk mengatakan tidak begitu saja
terhadap produk – produk pragmatis yang
datang kepada saya. Namun demikian, saya juga tidak melupakan idealis yang
telah lama saya bangun dengan begitu saja. Idealis tetap harus diperjuangkan,
walau dengan sedikit pengorbanan. Tidak ada salahnya juga,kok. Itu adalah pilihan kita pribadi. Bukankah setiap orang diberi
kebebasan untuk memilih? Dan bukankah setiap orang diberi kebebasan untuk
memperjuangkan sesuatu yang diyakininya? Itu harga mati.
Saya tidak akan berhenti, untuk kemudian memperjuangkan
idealisme saya. Tidak ada yang mustahil dan tidak ada yang pernah terlambat
untuk memulai sesuatu. Terkadang, manusia perlu berhenti sejenak di sudut-
sudut hidupnya. Mungkin agar sejenak bisa menghela nafas, untuk bisa memandang
hidup dalam perspektif yang lebih luas. Yah, mungkin istilahnya idealis
realistis. Kita boleh tetap memperjuangkan idealis kita, namun kita juga harus
realistis melihat keadaan yang ada di sekeliling kita. Namun, tetap dengan
memperjuangkan mimpi – mimpi kita yang (memang) harus diwujudkan.
_dalam pencarian pseudo diri, masih dibawah langit Yogyakarta_
Jan 22nd, 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)
