Sunday, August 28, 2011

BUKAN KITA? LALU SIAPA??

Walaupun saya telah mengenyam pendidikan ke barat, tapi pada dasarnya saya adalah dan tetap adalah orang Jawa dan Indonesia….
(Sri Sultan HB IX)

Bawalah ragamu keliling dunia, tapi berikan jiwamu pada Tuhan dan Indonesia..
(Sukarno)


Dua tokoh tersebut tampaknya bisa menjadi motivasi kita untuk tetap mencintai Negara Indonesia (baca: yang katanya sarang koruptor). Bahkan kalimat tersebut seringkali membuat saya merinding ketika membacanya beberapa kali. Suatu kalimat yang menurut saya cerdas, dan tepat sasaran.

Saya bukannya ingin sok tahu, tapi saya sempat prihatin dengan kepesimisan beberapa orang atau teman terdekat saya, yang sering menyacat negara ini. Negara yang telah menyediakan sumber daya alam yang melimpah ruah. Negara yang sangat kaya akan budaya dan adat istiadat. Ada beberapa hal di Indonesia yang sama sekali tidak ada di negara lain. Setidaknya ini yang saya tahu :

  1. Kecap botol, aneka jenis sambel, dan teh botol. Semua produk ini merupakan peroduk asli buatan Indonesia. Bahkan satu – satunya perusahaan yang berinisiatif untuk menjadikan teh dalam kemasan botol, hanya ada di Indonesia. Dan teh dalam kemasan botol, peloppornya adalah Indonesia. Aneka jenis sambel hanya dapat dibuat di Indonesia karena bahan-bahan pembuatnya hanya ada di Indonesia.
  2. Multikultural. Hal ini menyebabkan sebagian orang Indonesia lebih mudah bertoeransi. Dan bahkan Indonesia selalu menjadikan hari besar perayaan 5 agama yang diakui disini, sebagai hari libut nasional. Di negara lain, hanya hari yang benar-benar penting saja yang dijadikan sebagai libur nasional.
  3. Indomie.Ini adalah suatu merk mie instant yangsudah snagat terkenal, bahkan diimpor ke berbagai negara. Apabila anda pernah ke Eropa, akan snagat susah menemukan indomie walaupun sudah keliing mencari di berbagai supermarket besar.
  4. Tradisi Mudik. Terjadi ketika lebaran dan melibatkan semua elemen masyarakat. Semua sibuk, semua bingung untuk pulang kampung. Namun suasana tetap berkesan dan keharmonisan relative terjaga.
  5. Indonesia punya lebih kurang 17.000 pulau! Dan tentu saja what an amazing fact! Kita perlu memberdayakan setiap potensi yang ada di setiap pulau dan kepulauan sebagai salah satu daya tarik wisata…
  6. Indonesia punya berbagai kebudayaan yang sudah diakui dunia.    
  7. Beberapa waktu lalu, bahkan UNESCO memberikan hak paten atas batik, angklung reog ponorogo, dll sebagai budaya asli Indonesia.
  8. Indonesia adalah negara dengan konsep demokrasi terbaik. Entah benar atau tidak, tentu saja ini merupakan suatu amanah sekaligus beban berat. Penghargaan bukan semata-mata prestise belaka, namun juga sebagai sebuah cambukan yang mendorong suatu pembuktian nyata.
  9. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia  (tanah + udara + air) setelah Brasil.
  10. Jika kita membutuhkan satu hari untuk menjelajah satu pulau, maka butuh 64 tahun mengunjungi semua pulau yang kita miliki.
  11. Ada sekitar 300.000 tentara di Angkatan Darat Indonesia, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
  12. Badak Jawa! Hanya ada di Indonesia dan banyak diminati oleh berbagai orang dari belahan penjuru dunia.
  13. Tiga dari sepuluh pulau terbesar di dunia ada di Indonesia.
  14. Indonesia punya tim aerobtic yang patut dibanggakan, Jupiter Aerobatic Team. Semoga dalam kiprahnya ke depan, tidak kalah dengan tim2 aerobatic dari negara lain semacam Red Arrows (Inggris), The Roullettes (Australia), Black Eagles ( KorSel), Blue Angel ( Milik US Navy), Patrouille (Prancis) dsb. Semoga!

Sebenarnya masih banyak fakta lain, namun mungkin hanya beberapa itu saja yang saya tahu. Namun, yang jelas Indonesia itu kaya! Indonesia harus optimis dan yakin mampu melalui semua rintangan. Indonesia harus bangkit dan belajar, layaknya manusia yang harus belajar, seoah akan hidup selamanya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli? Hei, ini negeri kita. Seperti dalam kalimat patriotisme seorang bung Karno :

This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke! Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita!!!!  


Dan saya rasa…..saya (harus) cinta Indonesia…
(Vinia Rizq Prima)

Friday, August 19, 2011

Yang Tak Terungkapkan...


by Vinia Rizq Prima on Friday, 30 April 2010 at 14:00

Ini terinspirasi dari cerita seorang temanku,tentang temannya, yang aku coba tuangkan ke bentuk huruf – huruf beralinea ini……….



Seorang lelaki muda berdiri termangu. Dilihatnya lagi foto ayah dan ibunya. Tak terasa air mata telah mengalir di matanya. Pelan – pelan diambilnya sapu tangan yang ada di saku celananya. Satu demi satu tetes air matanya diusapnya perlahan – lahan. Lelaki itu sudah sejak tadi mematung, tak menghiraukan udara siang yang panas menyengat.
Jarum jam telah lama bergerak ke berbagai sudut. Namun, lelaki itu tetap saja masih di tempat yang sama. Tempat dimana dia menghabiskan masa anak – anaknya. Masa kecil yang diisinya dengan keceriaan bersama orang tuanya. Lalu dia kemudian tertegun. Teringat permintaan ibunya yang terakhir kali.
*****
”Nak, jadi orang itu harus saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya.” kata sang ibu. ”Iya, bu, saya akan ingat pesan ibu,” jawab si lelaki.
”Lebih baik, kalu sudah besar, kamu jadi dokter saja, seperti ayahmu. Kan bisa menolong orang lain,” pinta ibunya kala itu.
Profesi sang ayah memang seorang dokter. Dokter yang cukup terpandang di desanya. Tak jarang, orang – orang miskin yang berobat, tidak dipungut biaya. Bahkan obat pun diberikan secara cuma – cuma. Hal itulah yang membuat sang ayah dihormati di desanya. Seorang dokter yang berjiwa besar dan tanpa pamrih.
Pernah suatu kali lelaki kecil diajak sang ayah berkunjung kerumah seorang kakek yang sudah renta. Si kakek tinggal di seorang diri di rumahnya yang sudah tak layak huni. Anak – anaknya sudah sibuk merantau dan jarang pulang ke rumah. Istrinya pun sudah lama menikah lagi dan meninggalkannya. Penyakitnya sudah menahun dan tidak kunjung disembuhkan karena tak ada biaya. Sang ayah pun dengan senang hati memberikan operasi gratis, sehingga sang kakek sembuh dan sehat kembali.
Dari situ kemudian si lelaki kecil dapat belajar dari pekerjaan anaknya. Dia jadi paham betapa mulianya menjadi seorang dokter. Sebuah permintaan ibunya untuk dirinya. Permintaan yang menjadi permintaan terakhirnya, sebab setelah itu ayah dan ibunnya meninggal dunia, dalam kecelakaan pesawat.

******
Waktu telah berganti sore. Sang lelaki masih juga tak berpindah tempat. Tampaknya ada kebimbangan yang menghinggapi dirinya. Rasa bimbang sebab dia tak lagi bisa bertemu dengan orang tuanya, hanya untuk sekadar memberi kabar dan mengucapkan kata maaf.
Dengan cepat disimpannya foto keluarganya itu lagi. Dan dia tiba – tiba beranjak. Kemudian beralih menuju sebuah tempat peristirahatan. Tempat peristirahatan terakhir. Dihampirinya dua nisan yang ada di pojokan. Lalu duduk bersimpuh di depan pusara kedua orang tuanya. Dia ingin mengungkapkan apa yang selama ini tak terungkapkan.
Pelan – pelan dia menata perasaannya. Lalu kemudian dia berbisik, ”Bu, maafkan anakmu tak bisa memenuhi pintamu. Mungkin aku anak tak berbakti, namun tampaknya hatiku telah berkata lain,” ucapnya pelan.
Dia berusaha mengambil nafas panjang, lalu dilanjutkanlah kata – katanya. ”Pak, Bu, kini aku ingin pamit, sebab ada tugas besar yang memanggilku. Inilah saatnya aku membuktikan ketangguhanku. Aku harus setia dengan sumpah dan janji yang telah aku ucapkan. Doakan semoga saya berhasil, saya tidak akan mengecewakan bapak dan ibu,” katanya. Perlahan ditinggalkannya pusara ayah ibunya. Hatinya masih bergejolak. Namun dia sadar, keputusan haruslah tetap diambilnya.

******
Hari telah berganti. Sang lelaki tengah bersiap – siap untuk melaksanakan kewajibannya. Dia tengah berbaris di barisan yang paling depan. Dilihatnya kembali kota yang telah menjadikan masa kecilnya indah. Dipandanginya kawan – kawan yang nanti akan menjadi kawan seperjuangannya. Dalam hati dia merasa iri, ketika kawan – kawannya diantarkan oleh orang tuanya. Dikecup di kening sebagai tanda perpisahan. Suatu hal yang kini tak bisa lagi dirasakannya. Sekali lagi batinnya berjanji, dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Dia akan berjuang memberikan yang terbaik.
Pesawat sudah disiapkan, kawan - kawannya sudah naik, kemudian disusul olehnya. Sang lelaki memantapkan hatinya , meyakinkan dirinya bahwa pilihannya tidak salah. Pesawat sudah siap take off, siap berangkat untuk sebuah misi perdamaian. Sang lelaki bergumam lirih dalam hatinya, ”Pak, Bu, negara telah memanggilku. Aku memilih menjadi tentara. Ini pilihan hidupku. Pemuda pembela tanah air,” batinnya.

Dedicated to : jiwa - jiwa pemberani yang berjuang di bawah naungan merah putih....... ;p


_di siang hari yang panas, jumat, 30 April 2010,pulang dari tanah lapang luas dikelilingi mesin2 berselubung baja_

A Letter to My Mother...ultah ke-46...

Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu
Sebagai balasannya kau menangis sepanjang malam
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan
Sebagai balasannya kau kabur saat dia memanggilmu
Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang
Sebagai balasannya, kau tuang piring berisi makanan ke lantai
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna
Sebagai balasannya, kau coret – coret dinding rumah dan meja makan
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian yang mahal dan indah
Sebagai balasannya kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah
Sebagai balasannya Kau berteriak , 'Nggak Mau!"
Saat kau berumur 7 tahun dia membelikanmu bola
Sebagai balasannya kau lemparkan bola ke jendela tetangga
Saat kau berumur 8 tahun, dia membelikanmu es krim
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tak pernah berlatih
Saat kau berukur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, kolam renang, hingga pesta ulang tahun
Sebagai balasannya kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam
Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman2mu ke bioskop
Sebagai balasannya , kau minta dia duduk di barisan lain
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk menonotn acara TV khusus orang dewasa
Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai keluar rumah
Saat kau berukur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk potong rambut, karena sudah waktunya
Sebagai balasannya, kau katakan dia tak tahu mode
Saat kau berukur 14 tahun, dia membayar biaya kempingmu selama sebulan
Sebagai balasannya, kau sama sekali tak pernah meneleponnya
Saat kau berumur 15 tahun, ketika dia pulang kerja ia ingin memelukmu
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu
Saat kau beurmur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilmu
Sebagai balasannya, kau pakai mobil setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar kuliahmu dan mengantarmu kuliah di hari pertama
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari gerbang agar tak malu pada teman2mu
Saat kau berumur 20 tahun, Dia berkata "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasaanya ," Ah, cerewet amat sih, mau tahu urusan orang..! "
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan suatu pekerjaan bagus untukmu di masa depan
Sebagai balasannya kau berkata ." Aku tidak mau seperti ibu!"
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu ketika kau lulus dari perguruan tinggiSebagai balasannya, kau bertanya kapan bisa berlibur ke Bali
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu
Sebagai balasannya, kau cerita pada temanmu betapa jeleknya furniture itu
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan
Sebagai balasannya , kau berkata, "Aduuh, gimana kok bertanya seperti itu?!"
Saat kau berumur 25 tahun, dia membantu membiayai pernikahanmu
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaranya lebih dari 500 km
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikanmu nasehat bagaimana cara merawat anakmu
Sebagai balasannya, Kau katakan padanya, "SEKARANG JAMANNYA SUDAH BERBEDA!"
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon utnuk memberitahu ada pesta ulang tahun seorang kerabat
Sebagai balasannya, kau berkata "Bu, saya sibuk sekali, Gak ada waktu! "
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit2an dan membutuhkan perawatanmu
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anaknya. Dan kemudian mengirimkan ke panti jompo.
Hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang, dan tiba2 kau menyadari banyak hal yang belum kau lakukan untuknya.
Dan perasaan bersalah datang bagai palu gondam, tanpa akhir.

THERE IS ONLY PRETTY CHILD IN THE WORLD AND EVERY MOTHER HAS IT.

Buat ibuku, Endang Sukmawati,

Terima kasih telah bertarung nyawa, membagi waktu, kasih sayang,canda, semuanya.
Maaf. Ini anakmu. Yah beginilah anakmu. Dengan segala jiwa dan jati diri yang masih rapuh. Dengan beribu dosa yang masih belum tuntas dimusnahkan. Dan tak pernah bisa mengembalikan semua yang telah kau berikan.
Terima kasih juga telah memberikanku pelajaran tentang hidup yang memang harus diselesaikan.
Dan aku ga pernah meragukan ketulusanmu, bu...
Semua itu karena ibu,

Kartiniku.

Selamat Ulang Tahun ke-46
21 APRIL 2011

OMS : OH.MY.SHIT! The Two Amazing Thing…

by Vinia Rizq Prima on Monday, 25 October 2010 at 22:15


Beberapa waktu lalu saya membaca artikel di sebuah majalah, yang menulis adalah Andrie Wongso, sang motivator terkenal itu….tulisan ini cukup menggelitik, walaupun sederhana. Makna dan pesan yang terkandung di dalamnya cukup member motivasi untuk selalu berpikir positif.
Dia mencontohkan perlunya berpikir positif terhadap semua hal yang terjadi di depan kita. Diceritakan dalam tulisan itu, ada seorang lelaki yang sedang santai dan hamper terlelap di dalam kereta api.
Suasana kereta menentramkan hatinya dan membuatnya bagai dibuai biduan di negeri awan. Lalu pada waktu yang bersamaan , dia tampak gelisah. Penyebabnya adalah ada suara anak – anak yang berlarian di sepanjang gerbong rel kereta. Anak – anak itu ributnya bukan main. Teriak sana teriak sini. Lalu sang lelaki yang merasa terganggu ketentramannya berusaha mencari siapa sihsi empunya, anak – anak itu. Kok bisa sih si orang tua itu memiarkan anak – anak itu berlarian begitu dan mengganggu orang lain??
Lama keamaan dia jengah juga. Kata - kata yang tadinya hanya disimpan dalam hati, terpaksalah dikeluarkannya… ‘Aahh.. siapa sih orang tuanya,, bikin repot aja nih anak – anak,” katanya.
Dan tak ada jawaban sama sekali.
Ditengokinyalah orang – orang yang berada satu gerbong bersamanya. Tetap tak ada yang bergeming, semua tetap di kursinya masing – masing. Tak ada yang meladeni si anak – anak tadi. Lelaki itu pun semakin gusar dan pasrah.
Akan tetapi, tiba – tiba bapak – bapak yang duduk di sampingnya kemudian berkata,”Nak, saya minta maaf ya, mereka semua anak – anak saya. Maaf membuat anda terganggu. Saya membiarkannya berlarian dan gembira. Sebab, selama hampir sebulan ini keduanya murung saja di dalam kamar. Tak mau keluar dan tak mau makan. Ibunya baru saja meninggal tertabrak kereta sebulan yang lalu,’ katanya member penjelasan.
Seketika, raut wajah sang lelaki yang tadinya sudah berapi-api, tiba - tiba tampak berubah ramah dan meras malu.
“Ah, tidak apa – apa kok, pak,” hehehe, katanya perlahan.
Dalam hati, lelaki itu menggumam, ‘Ya Tuhan, ternyata apa yang saya pikirkan dan lakukan barusan itu sama sekali salah dan tak cocok pada orang lain. Ternyata dibalik semua kekecewaan saya ini, ada suatu hal positif yang seringkali luput dari pandangan mata dan hati saya,” gumamnya.

Contoh lain misalnya, tapi kali ini bukan dari Andrie Wongso, melainkan salah satu oenulis kesukaan saya, Dale Carnegie.
Dia mencontohkan perlunya bersyukur atas segala apa yang kita punyai.
Suatu ketika, dirinya baru saja selelsai mandi di suatu pagi yang cerah. Lalu dia bergegas untuk melakukan rutinitas paginya yaitu mencukur jenggot. Lalu setelah itu, berpakaian dan berangkat lebi awal, karena hari itu dia ada janji engan dokter gigi langganannya.
Dia memasang segala sesuatunya dengan rapi. Akan tetapi kemudian, ketika hendak memakai sepatu, dia mengeluh, karena dia belum juga bisa membeli sepatu baru. Lalu dengan setengah semangat, dipakainyalah sepatu itu lalu segera bergegas pergi.
Di tengah jalan, dia masih juga terkadang menggerutu sambil melihat keadaan sepatunya. Akan tetapi, alangkah terkejutnya dia, ketika baru saja melintasi beberapa blok di depannya. Dia menemukan suatu hal yang sekaligus menamparnya yang kemudian membuatnya membodoh – bodohi dirinya sendiri.
Dari situ, dia kemudian berjanji ketika sampai di rumah, dia harus segera menulis hal terbesar yang ditemuinya pagi itu, hal yang membuatnya mengubah sifatnya.
Dan benar saja, ketika dia sudah tiba di rumahnya lagi. Dia kemudian, segera mengambil alat tulis, pensil dan secarik kertas. Hasil dari tulisan itu dia tempelkan di depan kaca yang mana setiap pagi dia selalu beridri di depannya untuk mencukur jenggotnya. Tulisan yang menurutnya sangat inspiratif dan menggelitik emosi. Kira – kira bunyinya begini : “Aku selalu mengeluh tak bisa membeli sepatu baru. Namun alangkah terkejutnya aku suatu pagi. Ketika baru berjalan beberapa blok dari rumah, AKU MENEMUKAN SESEORANG YANG TAK MEMILIKI KAKI. “

Oh God….dua cerita yang bagi saya cukup membuat saya merenung dan meracuni pikiran saya. Kemanapun dan apapun yang saya lakukan. Dan sungguh luar biasa seseorang yang telah mampu mensyukuri apa yang telah dia miliki dan apa yang telah dilimpahkan oleh Tuhan kepada makhlukNya. Ditambah lagi selalu berpikiran positif terhadap segala permasalahan yang terjadi di sekitarnya…..dan memang sangat susah melakukannya, tapi sedikit – sedikit tar kan juga jadi gunung `kan?? ;P

What a beautiful life i think….

(Sleman, Tuesday, September 28th, 2010)
di bawah sinar rembulan, dan pikiran yang juga melayang) ,, 00.55 am

F.E.R.N.A.N.D.O

Can you hear the drum Fernando? I remember long ago another starry night like thisIn the firelight Fernando, you were humming to yourself. And softly strumming your guitar, I could hear the distant drums. And sounds of bugle calls were coming from the far. They were closer now Fernando. Every hour, every minute seemed to last eternally. I was so afraid Fernando, we were young and full of life. And none of us prepared to die, and I’m not ashamed to say. The roar of guns and cannons almost made me cry* There was something in the air that night. The stars were bright Fernando. They were shining there for you and me for liberty Fernando. Though we never thought that we could lose, there’s no regret. If I had to do the same again I would my friend Fernando. If I had to do the same again I would my friend Fernando. Now we’re old and grey Fernando and you are far away. And since many years I have’t seen a rifle in your hand. Can you hear the drums Fernando?. Do you still recall the frightful night we crossed the Rio Grande? I can see it in your eyes. How proud you were to fight for freedom in your new land....


this is a song JUST for remembering you.....a song from ABBA,,to you


fernando.....


you`ve actually erased in my life....goodbye


this is the day : Dec, 11 st, 2010

Dia Memang TERLALU Mempesona...

by Vinia Rizq Prima on Thursday, 16 December 2010 at 21:57


(Mungkin) Ini hanya tentang Kekaguman…………………

                Setiap orang tentu memiliki kesenangan dan kecintaan terhadap suatu hal. Hal yang mampu membuat hidup semakin berwarna dan bergairah. Begitu juga dengan aku. Aku juga memiliki kesenangan yang bisa membuatku lupa akan segala kepenatan. Kekagumanku pada sesuatu ini bagi sebagian orang tidaklah lumrah. Jarang aku bertemu orang yang benar – benar pahami aku, bahwa aku benar- benar mengagumi sesuatu ini.
                Kekagumanku ini melebihi kekaguman – kekagumanku yang lain. Melebihi tentang kesenanganku menonton Frank Lampard dkk menggiring bola di lapangan hijau. Atau kesenanganku menonton Valentino Rossi di MotoGp pada tikungan terakhir, juga tentang kesenanganku menjelajahi setiap keanehan- keanehan yang ada di berbagai daerah. Atau kesenanganku saat mengikuti les menjahit baju atau mengisi TTS……
                Mungkin sebagian besar orang menganggap sesuatu yang aku kagumi ini hal yang biasa. Tak memberikan arti apa – apa bagi pikiran dan kehidupan mereka. Sesuatu yang mereka acuh tak acuhkan, namun bagiku luar biasa. Bagiku selalu bisa memberikan warna yang berbeda. Memberikan nuansa yang berbeda.
                Ketika sebagian besar orang menengadahkan kepala ke atas, mungkin tidak ada sesuatu yang menarik yang ada di benak mereka. Mereka hanya melihat gumpalan barisan putih biru yang terkadang menyusahakan mereka bila telah berubah menjadi mendung. Tidak berarti apapun bagi jiwa dan perasaan mereka. Namun bagiku, barisan putih biru itu selalu mempesona.
Ya….aku mengagumi angkasa…..
                Aneh dan lucu mungkin kedengarannya., tapi memang benarlah adanya. Angkasa selalu memberikanku inspirasi baru. Memberiku motivasi dan berjuta ide – ide segar yang terkadang susah sekali kudapatkan. Birunya……putihnya menyejukkan perasaan dan pikiran ketika memandangnya. Seperti goresan warna – warni yang mempesonakan hati. Dan ini bukan tentang kesenangan Tiger Woods dengan stick Golfnya. Bukan juga tentang Valentino Rossi dengan YZR M1-nya. Atau adikku dengan stick Play Stationnya. Kalau boleh dibilang, kekagumanku lebih dari itu. Lebay mungkin ya…tapi aku berkata jujur.
Angkasa selalu memberi kesan tersendiri bagiku.   Dua warna yang serasi dan membuat teduh pikiran. Akan lebih sempurna ketika barisan putih biru itu dilintasi oleh burung – burung baja. Apapun burung baja yang melintas, membuat panorama makin memukau. Perpaduan yang menawan dengan si dua warna. Mataku seolah tak mau kehilangan momen itu barang sedetik saja. Burung – burung baja itu adalah partner resmi angkasa. Sebagai vetsin agar lebih sedap soulnya.
Kekagumanku ini sering disalahartikan oleh sebagian orang agar aku bisa lebih dekat dengan a man behind the jet. Aku memang tak bisa memungkiri bahwa mereka itu gagah, tapi niat awalku bukan itu. Niat awalku adalah kesenangan yang sempurna akan barisan putih biru itu. Apalagi ketika aku melayang tinggi, seolah tanganku ingin menjamah dan mengambil sebagian atau dua bagian warna – warna itu untuk dibawa pulang ke rumah. Namun itu mustahil. Aku hanya dapat merasakan sensasinya. Merasakan kemegahannya. Dan kuharap kini kau paham. Dan keluargaku kuharap juga demikian.  
Kuharap keluargaku tidak marah ketika aku sering mengalihkan pembicaraan. Ketika babe sedang asyik mengobrolkan rencana piknik, aku mengalihkan pembicaraan bahwa akan diadakan airshow. Atau bahwa nanti ada film TOP GUN, dengan Maverick-nya yang juga menjadi tokoh dalam film yang juga idolaku. Atau mungkin film Stealth, atau Fighter Pilot, ah, kuharap gak jengah ya Be, dengan anakmu ini.....hehehe
Haaaaaahhhh……secara konkritnya, aku juga tidak bisa menggambarkan seberapa besarnya rasa kagumku ini. Namun yang jelas, aku sendiri yang bisa merasakannya. Sensasi itu muncul tiba – tiba. Sensasi yang hanya dapat dinikmati oleh seseorang yang juga merasakan hal yang sama denganku. Orang yang bisa kujadikan tempat berbagi tentang indahnya angkasa disetiap keindahan itu ada.  Akan tetapi bila juga aku tak tahu siapa lagi yang menjadi sky admirer, aku juga tak berharap banyak. Aku masih terus menjadi pengagumnya…melihatnya dengan jelas, angkasa yang menjadi sumber inspirasiku….kapanpun aku mau…..

Untuk barisan putih biru, janganlah sering berubah kelabu…
Jadilah putih biru yang selalu mempesona…..
The sky…..will always make me wonderful…………………..

(16 des 10)

Kebanyakan Nonton TV Tanda Kurang Bahagia...


by Vinia Rizq Prima on Sunday, 09 January 2011 at 14:47

Jadi teringat kuliah psikologi komunikasi, dimana waktu kuliah, diberi softfile berisi hasil penelitian tentang TV. yah, saya ingat gara - gara kok sepertinya cocok sekali dengan kondisi sekarang ini. Terlebih lagi orang - orang yang saya temui. Entah percaya atau tidak, tingkat kemasygulannya juga belum dibuktikan secara akurat sepertinya.....tapi saya coba share disini,, ^^

KEBANYAKAN NONTON TV TANDA KURANG BAHAGIA

Orang tidak bahagia makin banyak menonton TV sedangkan yang “sangat bahagia” akan banyak menghabiskan waktu dengan membaca dan bergaul
Studi yang dilakukan para sosiolog itu akan dimuat di jurnal “Social Indicators Research” edisi Desember.
Kesimpulan studi tersebut adalah hasil dari analisa terhadap penelitian-penelitian pemanfaatan waktu berdasarkan data nasional sepanjang 30 tahun. Studi itu juga melanjutkan hasil survai serangkaian sikap sosial.
“Untuk jangka panjang, TV tampaknya tidak bisa memuaskan orang dibandingkan membaca atau bermasyarakat,” kata sosiolog Universitas Maryland, John P. Robinson.
Robinson adalah salah satu penyusun penelitian itu dan perintis berbagai penelitian pemanfaatan waktu.
“TV itu lebih pasif dan bisa jadi pelarian - khususnya pada saat beritanya sedang tidak menyenangkan sebagaimana keadaan ekonomi. Data menyarankan kita bahwa kebiasaan menonton TV bisa memberi kesenangan sesaat tapi merugikan untuk jangka panjang.”
Berdasarkan data survai pemanfaatan waktu, Robinson memperkirakan orang akan semakin banyak menonton TV seiring ekonomi kian memburuk.
Dalam “General Social Survey” para peneliti mendapati bahwa orang yang menggambarkan dirinya sangat bahagia adalah mereka yang aktif bermasyarakat, banyak beribadah, dan banyak membaca koran. Sebaliknya, orang yang tidak bahagia lebih banyak menonton TV di saat senggang.
Menurut penelitian tersebut, orang yang tidak bahagia 20 persen lebih banyak menonton televisi dibandingkan orang yang sangat bahagia.
Menurut data tersebut, TV dipandang sebagai sesuatu yang “gampang”, untuk menikmatinya tidak perlu beranjak, berdandan, cari teman, merencanakan terlebih dulu, mengeluarkan energi, dikerjakan dahulu, atau keluar uang.
“Anda jadi mengerti alasan orang Amerika menghabiskan lebih dari setengah waktu senggang mereka untuk menonton televisi,” kata para peneliti tersebut.
Kesimpulan lainnya adalah menonton televisi mirip dengan ketagihan. “Orang yang paling gampang ketagihan adalah yang cenderung punya masalah pribadi maupun dalam bermasyarakat.” [ant]


yah,, tapi boleh percaya boleh tidak,, karena kbahagiaan juga sepenuhnya anda yang menentukan.,
kebahagiaan bukan untuk dicari tapi diciptakan kan? ;)

Cerita Abu-abu...

by Vinia Rizq Prima on Friday, 11 February 2011 at 23:47


Malam ini tampak biasa, hanya ditemani jangkrik dan semburat senyum bintang di kejauhan....
Malam ini seperti biasanya, gelap, tanpa lampu dan warna...dan aku tak sanggup mewarnainya...
Jika dulu warna - warna itu bisa dengan mudahnya kulukiskan, kini tidak lagi...
beribu macam pena atau hiasan warna warni kini seolah bungkam...seolah mereka kehabisan tinta yang ceria,,berwarna kadaluarsa...
Malam tak lagi mau kulukiskan dengan warna warnaku....

Berkali - kali kucoba goreskan warna cerah untuk menyinarinya, tapi tetap saja kemudian sang warna luntur dihapus mendung,
Berkali - kali kucoba meraut pena yang mungkin kurang runcing, tapi tetap saja, sang warna luntur karena hujan telah datang...
Lalu terus saja berulang kali kucoba menggoreskan warna, dengan tinta dan pena serta dengan cara yang berbeda, namun lagi - lagi, sang malam tetap menolak, dia bahkan lebih memilih warna bulan yang keemasan....
Dan lama kelamaan, sang warna terus mencoba memahami karakter malam, untuk kemudian mengabadikan warnanya di tubuh sang malam..
tapi justru sang malam berontak...
dia tetap memilih cahaya bulan...
Lalu sang warna pun mengurungkan niat, tak ingin lagi dia mengganggu malam...
Dia gundah...lama kelamaan sang warna kehilangan gairah, lalu lambat laun dia pun mulai redup, warnanya pudar...
menjadi abu - abu.....

Sementara sang malam semakin terlena dengan cahaya bulan yang keemasan, yang dianggapnya mempesona....
Namun, dimata sang warna, kini malam tak lagi indah, malam tak lagi memancarkan aura gelap seperti dulu, tak lagi bisa digoreskan dengan warna - warna indahnya.....
Walau sinar bulan tetap terang menyinari malam,, tapi bagi sang warna, malam tampak abu - abu...tidak hitam tidak putih,,
Malam tampak bagai suatu zat yang tak lagi bersahabat dengan warna....
Dan akan selalu begitu...
Sampai kemudian sang warna berusaha bangkit, mengembalikan kekuatan warna, dan menyapa keramahan malam di sudut kota yang lain..
karena malam - malam miliknya telah lama berubah...tak bisa tergores dengan warna indah...
Telah berubah menjadi abu - abu...

seperti kamu.....yang mungkin selamanya tetap abu - abu....
Selalu begitu...

Mbah Kakung, 1 Maret, dan Pintu Hijaunya…

by Vinia Rizq Prima on Tuesday, 01 March 2011 at 19:36
Uaaaahhhh,,, ini tanggal 1 Maret ya……
Dan aku duduk di sini. Di sofa yang ada di sudut salah satu restoran fastfood, di salah satu mall yang ada di Jogja. Ini salah satu tempat favoritku, karena menawarkan view dan spot yang lumayan bagus di luar sana. Makanya aku lumayan sering kesini. Apalagi bisa melihat napak tilas mbah kakung yang memiliki makna yang luar biasa baginya.
Dari sini, aku seolah bisa melihat dengan jelas suatu cerita, bahwa di balik pintu hijau, di samping gedung di seberang jalan sana, telah terjadi suatu cerita yang mengubah hidup simbah.
Enam puluh satu tahun yang lalu tepatnya. Ketika seluruh wilayah Yogyakarta dikuasai oleh tentara Jepang. Semua daerah dikepung dan siapa saja orang pribumi yang lewat dan berkeliaran di jalan akan disandera,disiksa, dan diasingkan.Apalagi, di daerah ini dahulunya adalah markas tentara – tentara Jepang ketika mereka berada di Yogyakarta.  Dan simbah termasuk salah satu remaja yang bergerilya. Beliau tak pernah gentar dan takut, terhadap semua tentara yang sewaktu – waktu bisa saja menangkapnya.
Untuk itulah, beliau juga tidak pernah takut untuk tetap `berkeliaran` di jalan – jalan di sekitar sini. Terutama, sang pacar, yang kini adalah nenekku, tinggal di balik pintu hijau itu, di seberang jalan ini.
Suatu ketika, tepatnya 1 Maret 1949 ketika mbah kakung sedang mengunjungi kekasihya, tiba – tiba datang gerombolan tentara Jepang, dengan banyak tank – tank raksasa, yang berhenti di sepanjang jalan dan juga tiba – tiba berhenti di depan pintu hijau itu. Katanya, para tentara itu mencari simbah, karena dianggap sebagai salah satu gerilyawan. Dan tahu sendiri, bila mereka berhasil menangkap seorang gerilyawan hidup - hidup, maka akan langsung ditempak di tempat.
Dan lalu pintu hjau itu pun didobrak, calon simbah putriku yang cepat tanggap, sebelumnya telah menyuruh mbah kakung untuk bersembunyi, di kamar paling belakang, kamar yang cukup luas, di balik pintu kayu, dengan posisi pintu yang terbuka. Dan mbah putri sudah berkata bahwa mbah kakung tidak ada, dan dia tidak kenal mbah kakung. Namun, tetap saja, para tentara tak percaya.
Para tentara pun tak banyak ba-bi-bu, langsung memeriksa seluruh isi rumah. Mendobrak lemari, membuka kamar mandi, dapur, bawah kolong tempat tidur. Dan pada akhirnya, dua orang tentara yang terkenal keji menuju ke kamar tempat simbah bersembunyi. Dagdigdug jantung mbah putri, takut bila simbah kakung tertangkap.
Para tentara itu pun masuk ke dalam kamar itu, berkeliling, dan sempat melihat pintu kayu itu ….dan lalu…. Dorrrrr! Suara tembakan. Ada darah.
***
Namun, bukan simbah yang terkena peluru, namun seorang gerilyawan yang lain yang ada di rumah sebelah. Dia Dead. Tapi, simbah selamat. Berkat para tentara tidak memeriksa ada apa di balik pintu kayu itu. Sebab, mereka segera pergi setelah mendengar tembakan.
Dan simbah sangat bersyukur, bahwa dia berhasil selamat dari marabahaya.

Yeaaaahh,, dan sejak itu, setiap tanggal 1 Maret, simbah selalu mengadakan syukuran. , tumpengan nasi kuning. Beliau selalu mengadakan syukuran atas berkah masih diberikan kesempatan kepadanya dari Tuhan, untuk lebih lama hidup. Sekaligus kesadaran bahwa kematian bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Selama 59 tahun, ada 59 nasi kuning yang dibuat untuk memperingati hari bersejarah itu, setiap 1 Maret tiba.
Namun, sepeninggalan simbah 2008 lalu, sudah dua tahun ini, tidak ada lagi tumpengan. Termasuk hari ini. Jadi, total, sudah tiga 1 Maret tanpa tumpeng.
***
Mbah,, walau sudah tak ada tumpeng, namun cucu2mu masih sangat jelas ketika kau menceritakan pada kami kisahmu di balik pintu hijau itu. Dan semua pesanmu, bahwa hidup ini harus dihargai, hidup adalah sebuah tugas yang harus diselesaikan. Maka dari itu, kita harus mengisi hidup ini dengan sesuatu yang bermakna.

Baik, mbah, meski engkau telah mendahului kami, namun sisa2 cerita masa lalumu masih dapat terlihat jelas dari sini. Kami akan berusaha eling titahmu, bahwa hidup harus dihargai……eling titah seorang simbah kami, Poepunn Kawhit Muljahardjanna. Dan sejarah bukan hanya sekadar peringatan dan perayaan. tapi harus digunakan sebagai pengalaman untuk sesuatu yang lebih baik.
***
Dan aku masih asik disini, menghabiskan minumanku yang masih setengah. Sembari menikmati hari yang mulai beranjak makin malam. Memandang lalu lintas yang merayap di depan mata dan rintik hujan yang makin seksi. Menajamkan retina dengan terus menatap pintu hijau yang ada di seberang sana. Yaaa…walaupun sebagian bangunan yang dulunya adalah bagian dari pintu hijau itu telah berubah menjadi suatu pertokoan di Yogyakarta. Guess what? Sebut saja Time Gallery…..


Happy 1 Maret 2011……Lets brighter our life…

Someday in Ho Chi Minh City, Vietnam

Just a little thing to share…


This is it! Konsorsium Bus Cambodian baru saja meninggalkan pintu masuk imigrasi negara komunis ini. Welcome to Vietnam, dude! Dan saat menjelajahkan kaki pertama kali di negara ini, saya merasa senang. Sebab,  kurs rupiah lebih tinggi daripada kurs Dong (Dong=mata uang Vietnam). Yeeeyy, saya merasa menjadi orang makmur disini, sebab 20.000 Dong itu sama dengan 1 U$D, sangat jauh dibandingkan dengan rupiah yang ketika itu Rp 8.600 setara dengan 1 U$D. Glad to hear that certainly. Wah, sekali –sekali lah jadi orang kaya. (*baca : di negeri orang).
Ho Chi Minh. Yup. Tak ubahnya seperti kota Surabaya yang padat lalu lintasnya.Namun, jalanan di Vietnam tak selebar jalan raya di Surabaya. Hanya saja, kalo boleh bilang sih, jumlah perbandingan motor dan mobil di negara ini mungkin 4:1. Dan pengaturan lalu lintasnya sangat sangat (satu lagi ya)…sangat parah. Lampu hijau dinyalakan secara bersama –sama di tiga sisi. Walhasil, banyak kendaraan yang saling serobot, tidak mau mengalah, dan memainkan klakson sana – sini. Ah, saya rasa anda bisa membayangkan sendiri, betapa kisruhnya jalanan di Vietnam. Masih parah daripada ibukota negara ini. :P
Saya berkeliling kota yang tampak asri dengan berbagai taman berkeliaran di bagian tengah setiap distrik. Distrik adalah semacam penyebutan untuk suatu lingkup daerah. Kalo di Jogjam ya semacam kecamatan lah. Dan taman ini dimanfaatkan untuk menjalankan berbagai aktifitas bagi warga sekitar. Baik istirahat, rekreasi, memancing di kolam taman, atau berlaih yga dan berlari. Suatu public area yang sangat bermanfaat,ajang untuk berinteraksi yang sifatnya lebih kekeluargaan, jauh dari unsur kapitalisasi, mungkin Jogja bisa mencontoh kali yaa….
Saya juga berkeliling menikmati beragam suguhan gedung ala Vietnam. Gedung yang rata – rata ramping, namun memiliki lantai lebih dari satu. Di seberang juga saya melihat Building Tower, namanya gedung  Bitexcoland Tower, yang konon katanya adalah gedung tertinggi di Ho Chi Minh City (HCMC). KBRI juga katanya tidak jauh dari sini, tapi entah saya tidak menemukannya tuh. Hehehe…Saya malah menemukan pasar tradisional yang sangat terkenal di HCMC, namanya Ben Thanh Market. Suatu pasar tradisional yang bersih, rapi, dan ramai dikunjungi oleh wisatawan. Saya membeli beberapa souvenir dan oblong disini. Barang  - barang souvenir disini kebanyakan dihiasi oleh gambar wanita petani, suatu symbol khas negara yang merupakan penghasil gandum terkemuka di dunia ini.
Setelah puas belanja, saya kemudian melanjutkan jalan – jalan, kali ini agak masuk ke sekitar  wilayah distrik 3, di dekat Lotteria,(restoran fast food yang cukup terkenal disini). Di seputaran jalan menuju Lotteria, banyak sekali toko yang berjejeran di blok ini. Dan semuanya adalah toko souvenir, sebagian besar menjual berbagai barang hasil daur ulang, seperti yang biasa kita jumpai di Indonesia.Ohya yang jelas, kalo mau wisata perang, ya pilihannya Vietnam ini....banyak banget simbol2 perang yang masih kental kerasa disini. Saya sempat takut juga akan pengaruh dari `Orange District`, orange district adalah daerah di vietnam yang masih kena dampak akibat peledakan nuklir di Vietnam, waktu perang vietnam dulu...dampaknya masih ada hingga sekarang. Mungkin vietnam, bisa dijadikan referensi kinjungan buat pembelajaran para calon tentara nasional Indonesia.
Di sudut seberang ada gedung pertunjukan yang biasa menampilkan Water Puppet Show setiap harinya. Suatu bentuk pertunjukan kesenian khas negara ini. Berupa boneka tokoh yang dimainkan di air, yang mengangkat seputar cerita asli negara ini atau cerita – cerita lain yang relevan. What an amazing show I think. Di blok sebelah juga ada war museum yang berisi meriam2 asli yang dulu digunakan ketika perang Vietnam. Dipajang secara jelas di depan pintu masuk.
Yeeaahh….yang saya tidak suka dari negara ini adalah banyak dari warganya yang tidak bisa berbahasa Inggirs, sehingga saya cukup kesulitan ketika berkomunikasi. Bahkan public service,nya sekalipun, juga tak bisa berbahasa Inggris. Oh, damn its true..tapi apa boleh buat, saya berbekal peta, buku informasi dan juga papan petunjuk arah untuk terus melanjutkan pengembaraan.
Oh, iya, supir taksi disini banyak yang senang memanfaatkan kesempatan turis asing, dengan menaikkan harga argo taksi yang tidak masuk akal. Saya juga sempat jadi korbannya. Bayangkan, untuk jarak lebih kurang 7 km saja yaitu dari penginapan menuju bandara, saya (yang ketika itu  naik taksi bersama 3 teman saya) harus membayar 434.000 Dong, atau setara dengan Rp 210.000!! Sudah gitu, supir taksi masih minta tambahan sekitar Rp 35.000 atau 80.000 Dong untuk keluar bandara. What??!!!
Huaahh, actually, saya tetap rindu dengan negara ini. HCMC tetap memberikan suatu foot print yang indah bagi perjalanan saya. Saya juga jadi semakin mencintai negara saya sendiri (;p). Dan itu dia, petugas bandara telah melakukan panggilan, artinya saya harus segara meninggalkan negara Mr.Nguyen ini, sebab gate d5 dimana saya harus checkin pulang sudah dibuka. Gate yang sangat rapi dan tampak eksklusif. Ditambah lagi dengan fasilitas dan bangunan bandara Than Son Nath yang juga istimewa, bandara dengan apron dan luas yang sangat besar. Kemewahan yang sempurna untuk para pelancong. Dan tentu berbanding terbalik dengan kehidupan beberapa warga Vietnam yang hidup di luar sana, apalagi yang tinggal di perbatasan. Tapi, walau bagaimanapun, negara ini mampu membentuk senyum simpul di bibir saya. Ah,Vietnam, banyak cerita tentangmu.  Oh, God, biarkan kaki ini menginjak di tanah ranjau itu,melihat cerita berbeda negara berbendera bintang itu, sekali lagi…..

Atau beberapa kali juga boleh :)

The Water Puppet Show, Vietnamese Traditional Cultural Show

Cho Ben Thant alias Ben Thant Market, pasar tradisional terkenal di Ho Chi Minh City

  
rata2 taksi adalah toyota kijang in*ova
Delta sungai Mekong...

Mini LAS VEGAS dan U$D 20. : its KAMBOJA!!

Otak saya penat malam ini. Tidak tahu kenapa, padaha tadiny mau coba revisi proposal skripsip saya..haha,, tapi tiba2 saya ngelantur sendiri, saya jadi inget suatu negara yang baru saja saya kunjungi beberapa waktu lalu. Negara yang belum lama merdeka. Negara yang bahkan bisa dikatakan belum cukup makmur di Asia Tenggara (emangnya Indonesia makmur? ;p)
Sebenernya saya juga tidak terlalu lama disini. Hanya dua hari. Tapi, entah kenapa negaranya mbak Lara Croft ini sangat menelisik pikiran saya, khususnya malam ini. Kamboja. Yuhu, suatu negara yang asing bagi saya saat pertama menginjakkan kaki disana.
Saya pergi bersama beberapa teman saya, novi, galuh, ike, wahyu, yesa, nguy2 wisnu, dan dosen saya. Sebenarnya ini hanya transit sementara perjalanan saya menuju Ho Chi Minh, Vietnam.
Kami masuk ke negara ini di siang bolong yang panasnya terik. Masuk ke imigrasi negara ini dengan petugas imigrasi yang kasar. Kami pun cukup santai menghadapi mereka. Tapi ketika mereka mewajibkan kami membayar biaya U$D 20, sebagai visa on arrival, kami pun tak terima. Pasanya, om Marty Nattalegawa sudah taken kontrak dengan pemerintah Kamboja. Bahwa Indonesia dan kamboja memberakukan free visa bagi kedua warga negara yang salaing mengunjungi. Its Suckss! Kami pun ngeyel dan ingin bertemu dengan kepala imigrasi. Perjanjian tetap perjanjian bung. Bukannya kami tak mau bayar, tapi kan sudah ada tertulisnya toh?

Oh, damn, kami tetap tak berhasil membujuk petugas imigrasi itu. Alasannya, belum ada perintah resmi dari pemerintah mereka untuk melaksanakan perjanjian itu. Padahal kami juga sudah membawa copy salinan berita yang menyatakan Indonesia bebas visa to Kamboja. Huh, capek dehh! Masa perjanjian yang katanya terealisai januari 2011, sampai Maret ini belum direalisasiin juga, yawislah. Toh, kami juga harus cepat pergi melanjtkan perjalanan.
Tapi yang membuat saya membealakkan mata, adalah setelah  kami melewati perbatasan, Saya tak percaya apa yang saya lihat. Di sepanjang jalan yang saya lewati, kurang lebih sepanjang 1,5 kilometer, banyak sekali, di kanan dan kiri, tempat – tempat judi dengan gedung yang sangat mewah dan besar, berdiri berjejer, istilah jawanya ngawu – awu. Tempat judi itu berkonsep semi hotel dengan pelayanan mewah, terbukti dari fasilitas dan harga yang ditawarkan. Sungguh, kalo di Jogja yaaa,, gedung – gedung judi itu paling kecil, minimal besarnya seperti took buku Gramedia lahh.
Tampaknya mereka sangat bangga dengan apa yang mereka sajikan ini. Dan judi juga tampaknya adalah sesuatu yang dilegalkan disini. Jangan2 para petugas imigrasi tadi juga mencari hiburan kemari ya…dengan `label` visa on arrival..hhehehe….
Kendaraan kami terus melaju,, menuju Siem Reap.
Dan ketika perjalanan awal sebelum sampai Siem Reap, ternyata banyak pemandangan yang sama dengan Indonesia. Banyak anak peminta – minta. Namun, mereka cukup cerdik untuk meminta duit dari para wisatawan atau pelancong yang singgah di rumah makan setempat. Mereka pura – pura baik pada para turis, juga kemudian melilitkan gelang sebagai tanda perkenalan. Ujung – ujungnya, minta duit juga. Harga satu gelang sekitar 15.000 rupiah atau sekitar 500 reel kamboja. Setelah mendapat uang, mereka kemudian membagi uang itu dengan teman2 mereka. Hal yang sama juga dilakukan kepada turis lain yang baru saja tiba.
Uuuhh… ini kesan pertama tiba di Kamboja. Bagi kami, saat ini adalah hal yang sangat tidak mengenakkan, dengan awal mula yang cukup tak mengenakkan. Apalagi orang Kamboja tidak bisa bahasa Inggris. Hanya orang – orang tertentu saja yang bisa bahasa Inggris dan itupun jumlahnya sangat sangaaaat sedikit.
Kami melewati kota kecil yang jarang penduduk, seperti di pinggiran kota. Mungkin seperti rumah – rumah di pinggiran tol Surabaya. Kanan kiri hanya dihias beberapa rumah tradisional, terbeuat dari kayu dan ditingkat satu lantai. Disana – sini juga banyak orang lalu lalang naik sepeda, truk – truk pasir dan juga anak – anak yang berlarian di jam sekolah. Sepanjang mata memandang hanya area persawahan dan padang rumput tanpa rumput yang luas membentang.

Ya sudahlah, apa boleh buat. Saya dan teman2 harus tetap semangat di tengah gurun dan daerah yang sangat asing bagi kami ini. Bagiamana bisa anak – anak itu hidup sangat ceria dan bahagia di tengah gurun dan hutan seperti ini. Huh, mungkin bila TIM SAR mencari kami, kami susah ditemukan. Mungkin koordinat kami tidak akan ditemukan di dalam peta back azzimute mereka. (alay!). Oh, God please tell me where we are!!!
Dan akhirnya kami terus melanjutkan perjalanan di siang yang semakin panas itu. Kami heran, mbak Angelina Jolie sangat terpesona dengan keeksotisan negara ini (Mana eksotisnya ya, perasaan beraroma pasir dan lempung  ;p)

And finally, here we are! Kami tiba di Siem Reap selepas pukul 19.00. Kami melewati jalanan menuju Siem Reap dengan perasaan yang dag – dig-dug, sebab, masih saja, perjalanan kami diselimuti padang rumput tanpa rumput dan entah kami berada dimana. Padahal kata orang, Siem Reap itu akan membuat kita ingin kembali. Saya ingin melihat apakah mereka bisa mempertanggungjawabkan omongannya..hehehe
Tak berapa lama, sang supir, dalam bahasa Kamboja, menyebut2 kata Siem Reap…yah, mungkin artinya,, kita telah sampai, sebentar lagi bus akan berhenti.
Yap dan benar saja, beberapa saat setelah itu bus mulai meambat. Dan oh, saya jadi tahu ternyata orang – orang yang bercerita pada saya tentang Siem Reap, berkata benar!
Mata kami layaknya menemukan penyegaran di tengah kenistaan (alay lagi ;p).
Kalau begini sih, saya tak heran kalu si Lara Croft senang berlibur kesini. Kanan kiri, isinya villa mewah, fasilitas sangat lengkap. Desain eksteriornya juga tak main2, sangat kental dengan Ke-Kamboja-an, berupa kuil2 indah yang sangat gemerlap. Lampu – lampu besar juga memungkinkan kita untuk melihat interior di dalam vila2 mewah itu. Wow,, its amazing. Nuansanya sangat indah, mewah, dan setiap villa dilengkapi dengan kolam renang yang juga luxury. Wah, kami berharap, villa yang kami pesan adalah satu diantaranya.
Tapi, ternyata tidak, kami malah menginap di villa standar, namanya No Problem Villa (ngakak dengar namanya). Itu pun kami harus nyasar dan harus diantar tuktuk lebih dulu. Sang sopir tuktuk yang bernama Ella, kebetulan adalah keponakan sang pemilik villa. Huft. (Hi, Ella, how are you, huh? Long taim nosi)
Yup. Dan kami menginap satu malam disini. Bersama bule – bule punk dan juga sekelompok pemuda Azerbaijan yang ngeri. Yang terkadang melotot pada saya ketika saya sedang ada di lobby. Hi…Dan parahnya villa ini hanya menyediakan air panas jam 7 pagi saja. Selebihnya usaha sendiri. Ohya, kamarnya juga bau apeg, kayanya spreinya jarang diganti..hhihi….yasudahlah, disyukuri saja…..
Kami pun, bergesas menuju Ho Chi Minh esok harinya. Menaiki bus berbeda, melewati jalanan Siem Reap dan hanya beberapa meter dari Angkor Wat yang mempesona. Ah, andai kami lebih lama disini. Apa boleh buat, HoChi Minh telah menunggu kami.
Selepas dari SiemReap, pemandangan yang sama ada kembali menyelimuti jendela kanan kiri. Gurun, antah berantah, dan rumah – rumah serta pemandangan yang sangat tradisional. Bus kami melaju perahan di sebelah kanan,(ohya, kalo di Kamboja, setir kemudi kendaraan ada di kiri, sehingga, bus jalannya di sebelah kanan jalan, seperti negara barat lain). Ah, saya memutuskan untuk tidur sampai nanti tiba di Phnom Penh.

 ****

Uah. Phomh Penh. Akhirnya. Akhirnya ada kehidupan layaknya kota pada umunya. Kota ini sangat sibuk, dikanan kiri banyak sekali kendaraan berlalu lalang. Banyak jalan satu arah disini. Tidak banyak rambu lalu lintas yang terlihat. Kendaraan disini rata – rata berukuran besar. Hampir 80 % penduduk Kamboja, menggunakan Lexus untuk kendaraan pribadi. Dan untuk angkutan umum, kebanyakan menggunakan kendaraan mirip kijang kapsul namun lebih lebar dan panjang.
Saya ga tau, kenapa justru Lexus yang menjadi kendaraan utama disini. Hampir setiap belokan, pasti saya bertemu dengan Lexus, baik buatan lama ataupun baru. Atau mungkin, mereka termasuk produsen lexus? I don’t know exactly. Yang saya tahu, warga di sini berarti cukup makmur. Dan saya juga terpesona dnegan delta Sungai Mekong yang menawan, yang katanya banyak ikan lele raksasa. ;)
Lebih kurang selama 3 jam kami berada di ibukota. Melihat – lihat kota. Mencoba makanan khas Kamboja, yaitu Sticky Rice. Nasi khas Kamboja yang dibakar dan dibungkus dengan bamboo. Gurih dan manis. Mungkin rasanya mirip seperti ketan bila di Indonesia. Sticky Rice ini pemberian Ke Sophorn, seorang Kamboja yang bisa bahasa Inggris. Kami ngobrol cukup lama dengannya. Ternyata dia adalah seorang guide. And I think he is fun and nice. (Ke Sophorn, why you never update your FB? Hahaha)
Dan, akhirnya tepat jam 15.oo, kami meninggalkan Phnom Penh Menuju Ho Chi Minh. Ternyata wanita Kamboja yang saya temui itu cantik – cantik….tapi lakinya yang saya temui lebih enak didengar suaranya daripada dipandang.hahahaha
Huaah, sekitar jam 18.30 kami tiba di perbatasan Kamboja-Vietnam. Dan lagi – lagi, banyak sekali di kanan – kiri, bertebaran rumah – rumah judi, yang (sumpah), lebih besar dan megah daripada yang siang tadi. Mereka terang – terangan dan lebih berani memasang nama tempat judi. Bahkan ada yang dengan pedenya memamsang nama Las Vegas, Casino Royal, Don Casino, Emerald, dll. Semua desain eksteriornya dihias dengan ampu2 disko yang sangat gemerlap dan warna – warni. Air mancur yang besar juga turut menghiasi bagian depannya. Banyak orang lalu-lalang, keluar masuk dari tempat2 itu, terutama di Casino Royale, Mobil2 parkir memenuhi area tempat judi itu.
Wah, sungguh, mungkin ini bisa jadi satu-satunya hiburan yang mereka punya.
Yah, finally, beberapa saat kemudian kami memasuki Vietnam. Suatu negara yang aura militernya masih sangat kuat. Di perbatasan saja sudah dijaga sangat ketat dengan petugas imigrasi yang galak.
Tapi, entah kenapa, setelah memasuki Vietnam, saya seperti rindu dengan negara yang baru saja saya tinggalkan. Saya belum puas di Kamboja. Menikmati SiemReap lebih lama. Mendengarkan cerita – cerita tentang Kamboja.
Ah, mungkin nanti, saya akan kembali. Tapi mungkin tak akan lagi menikmati `pesona` gurun. Yang jelas, Kamboja tetap berkesan, entah bagaimana saya memandang. Harapan saya hanya supaya setiap rakyat Kamboja mampu merasakan kemakmuran. Bukan hanya daerah tertentu saja yang makmur dan rakyatnya senang.
Malam ini pun, saya teringat jelas Kamboja, di kepala saya. Ah, saya masih rindu Kamboja dan ternyata waktu sudah bergulir, pukul 01.00 am, hujan pun rintik menyapa bumi.
Sudahlah, mungkin saya akan lanjutkan cerita ini dalam mimpi saja.
Siem Reap, see you in my dream.

Tahukah kamu, saya ingin kembali.

Yang Ketinggalan dari Singa(pure)a………

Berbeda dengan cerita saya sebelumnya tentang Singa(pure)a –saya lebih suka menyebutnya demikian- .…Ini hanya sekelumit cerita saya tentang bagaimana saya mengapresiasi. Tidak saya ceritakan mungkin sisi negative, karena saya hanya ingin bercerita tentang apa yang saya apresiasi…(tentu yang bagus2 aja dong). Dan setidaknya, ada beberapa hal yang membuat saya merasa kagum atas apa yang terjadi dan apa yang masyarakat negara ini lakukan.
Pertama, adalah tentang lalu lintasnya. Jika Marsekal Chappy Hakim berkata bahwa cerminan sikap dan kepribadian suatu bangsa bisa dilihat melalui lalu lintasnya, mungkin bisa saja pernyataan itu benar. Hal yang saya kagumi dari Singapura adalah ketertiban pengemudi akan rambu lalu lintas di jalan raya. Apalagi di setiap traffic  light di semua jalan raya, dilengkapi dengan lampu khusus pejalan kaki. Semua orang berbaris rapi, berhenti, menunggu giliran menyeberang, ketika lampu penanda itu berwarna merah, yang  berarti larangan bagi pejalan kaki untuk menyeberang. Dan ketika lampu telah berubah hijau, maka para pejalan kaki boleh menyeberang. Yah, walau tidak terlalu lama waktunya, namun semua mobil dan motor berhenti dengan rapinya,berhenti di belakang garis pembatas antara kendaraan dan pejalan kaki. Sungguh suatu pemandangan lalu lintas yang rapi. Dan yang saya sangat suka dari pengemudi kendaraan di jalan raya adalah tidak `ngoyo` alias memilih berhenti ketika lampu hijau telah berubah ke kuning. Hampir semua kendaraan berlaku demikian, saya juga mengamatinya di tempat yang berbeda. Hampir semua mobil mewah yang menghiasi jalanan, sangat tertib menaati rambu lalu lintas. Bahkan mereka tak segan untuk memberikan kesempatan dan juga senyuman kepada para pejalan kaki yang berharap diberi kesempatan untuk menyeberang walau tidak di tempat penyeberangan. Kendaraan pengguna jalan raya yang hamper 90% terdiri dari roda empat itu, menganggap pemakai jalan memiliki hak yang sama dalam menggunakan jalan raya.
Ini tentu bisa dikatakan sebagai suatu cerminan sikap atas kesadaran yang bagus yang dimiliki oleh masyarakat Singa(pure)a. Mereka senantiasa berlaku rapi dan juga menghormati orang lain dalam hal yang bahkan terkesan sederhana sekalipun.Sungguh suatu ironi bila kita menilik dengan yang terjadi di negara (*baca: yang tercinta) ini.
Hal yang kedua yang menarik perhatian saya adalah keikhlasan dalam membantu orang lain, misalnya saja membantu menunjukkan arah turis yang ada di sana. Bahkan saya sempat juga ditolong oleh seorang wanita yang menunjukkan arah yang harus saya ambil ketika ingin ke Mackenzie Road. Awalnya,saya merasa ragu menerima pertolongan wanita itu. Sebab, dia dengan nyerocosnya menjelaskan peta Singapura dan bersedia mengantarkan kami ke tempat pemberhentian taksi yang jaraknya cukup jauh dari tempat kami beridri saat itu. Saya ragu karena saya pikir dia itu semacam calo atau apalah namanya, yang kemudian minta upah atas jasa yang telah dia berikan. Dan…..olala, ternyata bukan, dia menolong kami dengan ikhlas, bahkan juga turut membantu memilihkan taksi yang baik bagi kami. What an amazing.
Lainnya, yang saya rasa juga membuat saya heran adalah ketika saya hendak pergi keliling kota dengan Mass Rapid Transit (MRT). Entah kenapa, kebanyakan orang di negeri ini mempercepat langkahnya dengan berlari-lari kecil. Mereka seperti tak ingin ketinggalan akan suatu pertandingan penting tim sepakbola kesayangan mereka. Padahal saat itu bukanlah jam – jam sibuk seperti pagi hari atau sore hari jam pulang kerja. Mungkin mereka tak ingin menyia-nyiakan waktu atau apalah saya juga tidak tahu. Namun yang jelas, ini fenomena yang cukup menarik bagi saya, entah anda.
Dan yang paling saya suka adalah banyak sekali brosur dan pamphlet yang berisi informasi tentang event atau tempat yang menarik untuk dikunjungi di seantero negeri yang berlambang kepala Singa berbadan ikan ini. Brosur itu sangat lengkap, mencantumkan tanggal event, akses transportasi yang bisa digunakan, harga tiket masuk, sejarah singkat, serta peta. Juga ditambah lagi dengan nama stasiun dan infromasi tertentu yang relevan. Semua dikemas dalam kertas yang apik dan full color. Dan…gratis tersebar dimana-mana di berbagai tempat yang memungkinkan untuk dilihat. Oh ya, satu lagi, saya juga suka system tiket transportasi yang bisa digunakan langsungan.
Bila kita membeli tiket terusan yang merupakan terbitan dari Ez-Link seharga 26 SGD, kita sudah bisa berkeliling Singa(pure)a selama sepuluh hari, tanpa membayar biaya tambahan lagi. Tiket ini bisa digunakan untuk tiga jenis kendaraan sekaligus, yaitu MRT, LRT, dan Bus. Kita hanya tinggal naik dan turun semau kita, pindah jurusan, pindah tujuan, naik-turun, tanpa harus ada charge tambahan, asalkan tidak lebih dari 10 hari. Saya jamin, anda tidak akan nyasar kalau bepergian ke negara yang tidak lebih besar dari Daerah Istimewa Yogyakarta  ini. :)
Yah, walau hanya beberapa saja, tapi ini sudah bisa menjadi sedikit bukti. Bahwa sumber daya manusia dan juga kebiasaan suatu negara, mampu menjadi suatu magnet wisata yang hebat. Ini juga semacam bukti bahwa dimana bumi berpijak, disitulah langit dijunjung. Bumi dimana manusianya tetap mampu mengendalikan diri,menghargai orang lain, ditengah gempuran kepentingan hidup yang semakin banyak dan juga kapitalisme yang semakin merajalela. Ini mungkin tentang pelajaran, dan mungkin juga saya harus masih belajar, bukan hanya dari Singa(pure)a saja, tapi dari siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Agar kelak menjadi sumber daya manusia yang dapat diandalkan.

Uahh,, jadi ngelantur yaa….yah, itung-itung ini obat rindu. Sekaligus juga obat penat, rehat sejenak dari perumusan tugas akhir saya yang belum juga di ACC ………

Yogyakarta di pertengahan tahun. Di bawah langit Sleman.
Juni,19th,2011. 23;55 pm


Just..a small part of Changi

Clap,clap, clap, this is Thailand. Thank you very much...land of smile

Yeah, negeri ini memang sebuah negeri yang menarik, terutama bagi saya ketika pertama kali berkunjung, mungkin anda, atau bahkan sebagian orang. Keeksotisan dan keanekaragaman candi yang menghiasi sudut kota membuat negeri ini makin menarik. Terlebih lagi dengan bagaimana cara rakyat Thailand memperlakukan raja mereka. Mereka menghormati dan sangat bangga dengan raja mereka. Terbukti dengan adanya wajah raja mereka yang menghiasi hampir di setiap sudut. Bahkan nangkring di atas tiang listrik sekalipun. Dan yang cukup menarik bagi saya adalah konsep pemutaran film di gedung bioskop. Sebelum film dimulai, setiap penonton diwajibkan untuk beridri, menyanyikan lagu Nasional Thailand, yang memang selalu diperdengarkan setiap kali sebelum film dimulai. Dan, saya ga tahu kenapa, saat lagu tersebut diperdengarkan dan dinyanyikan, wajah sang raja muncul di screen tempat film akan diputar. Hal ini berlaku di semua bioskop di seantero Thailand. Oh, damn, its true!
Dan  Bangkok, adalah pusat pemerintahan sekaligus ibukota negara seribu pagoda ini. Aura kerajaan yang masih sangat kental tentu bisa langsung terasa. Bangkok memang menyimpan segala keunikan, mulai dari tuk-tuk, china town, BTS skytrain, Songkran festival yang terkenal itu, hingga Mah Boon Kroong,dan juga Chatuchak Weekend Market yang  menjadi pusat cenderamata.
Ah, saya ingin kembali ke kota ini lagi. Bangkok bagi saya selalu magis. Misteri. Dan tentu menyimpan berbagai cerita yang mengesankan. Dari berbagai objek wisatanya, Bangkok-lah yang sering menjadi tujuan wisata bagi para wisatawan, baik luar maupun dalam negeri. Untuk transportasi yang tersedia di kota ini cukup banyak. Mulai dari bis kota, BTS Skytrain, Mass Rapid Transit (MRT), hingga Pier (Perahu layar khas Bangkok). Oh ya, di Bangkok, Pier masih digunakan sebagai sarana transportasi utama di tengah kota. Menyusuri sungai Chao Phraya yang terbentang luas. Hell yeah! J Namun, yang mengherankan, kebersihan sungai tetap terjaga, air juga tampak tak sekeruh seperti di Indonesia.
 Nah, yang menggelitik saya adalah bagaimana warga Bangkok dan juga wisatawan menjaga kebersihan di dalam sarana transportasi. Perlu diketahui, bahwa Bangkok tidak secara khusus memiliki peraturan yang langsung mengarah tentang kebersihan di tempat umum. Hanya ada denda tertentu yang diperuntukkan bagi seseorang yang diketahui telah membuang sampah sembarangan atau melakukan perusakan fasilitas umum.  Dan,  menurut pandangan saya, kebersihan yang ada di transportasi umum adalah kesadaran pribadi bagi warga Bangkok dan juga wisatawan yang singgah.
Hal unik lain yang saya temukan ketika di Bangkok adalah tersedianya sepeda hijau yang diperuntukkan untuk umum, namun tentu dengan syarat dan perjanjian dengan penyedia sepeda. Sepeda ini tersedia di berbagai taman kota yang banyak terdapat di sudut kota, terutama di dekat daerah wisata. Taman kota itu menjadi sarana untuk bersantai, istirahat, sembari menikmati pemandangan kota Bangkok yang ada di depan mata. Sepeda tersebut di cat hijau, sebagi simbol kepedulian pemerintah kota Bangkok terhadap pelestarian lingkungan, terhadap keanekaragaman hayati yang ada. Untuk penyewaan sepeda ini juga cukup mudah, tergantung berapa lama anda akan menggunakannya. J ditambah dengan meninggalkan identitas, yang digunakan sebagai jaminan agar sepeda dapat kembali dengan utuh.
Corak sepeda pun ada yang dilukis dengan gambar pepohonan di sisi ban, sebelah kiri dan kanan.  Ini mungkin adalah semacam sarana mengkampanyekan program mencintai lingkungan sekitar. Mengajak untuk mengurangi emisi dan polusi udara, dengan menggunakan sepeda, sebab Bangkok terkenal dengan predikat macetnya. Atau mengajak masyarakat atau wisatawan yang menyewa sepeda ini  untuk peduli dengan Bangkok, terutama mengenai lingkungan. Kampanye tidak tersurat tersebut ditunjang oleh slogan sederhana yang ada di tembok – tembok sekeliling taman. Slogan tersebut berbun yi `We Build A Better Bangkok`. Sudah tentu, slogan ini merupakan salah satu media yang berfungsi persuasif, mengajak semua orang yang ada di Bangkok, untuk membangun, memikirkan, dan bertindak untuk menciptakan Bangkok ke arah yang lebih baik.
Dan ternyata, di sepanjang jalan yang saya amati, sepeda hijau ini menarik perhatian beberapa wisatawan, sehingga mereka menggunakan sepeda tersebut sebagai sarana transportasi berkeliling kota Bangkok. Tentu lebih efisien dan sangat menyenangkan, dibanding dengan naik bis yang cukup sering terkena traffic jam .
Dan, mungkin yang harus ditiru oleh pemerintah di Indonesia, misalnya kota besar yang padat penduduk yang mentok dengan masalah polusi udara, adalah menggunakan konsep ini. Tentu juga dengan birokrasi peminjaman sepeda  yang tidak sulit dan perawatan sepeda yang tepat, sehingga para pengguna akan merasa nyaman.
Dan, kini saya termangu mengamati kota kelahiran saya. Lalu kemudian saya terpikir, apakah mungkin konsep ini dapat diterapkan oleh pemerintah disini? Yah, mungkin iya mungkin tidak. Tapi, yang jelas, entah konsep itu terealisasi ataupun tidak saya tetap ingin kembali ke Negeri Gajah Putih. Sangat excited  untuk bisa lagi menikmati indahnya sungai Chao Praya, menikmati enaknya Pad Thai dan senggal-senggol ketika naik tuk-tuk. Dan tentunya  menjadi seorang wisatawan yang turut mengucapkan slogan `We Build A Better Bangkok`. J

dan Songkran, dan BTS Skytrain, dan Prha Artit serta Rambuttri Road,
juga Khaosan,Siam Center, MBK, Bis 53, 82, Pier, Sukhumvit, Nana Station, Grand Palace, Dugem jalanan, transgender yang legal, sampai bule Iran yang iseng menggoda, juga semuanya,  segalanya yang tak pernah berhenti , di kota ini, dari pagi,hingga pagi lagi.
Ahh, kapan kita jumpa lagi??