Friday, April 18, 2014

Satu Tahun Lalu, Aku Sama Seperti Mereka. (PPAN JOGJA )




Haha, tidak terasa sudah satu tahun berselang untuk PPAN, yang artinya, PCMI Jogja akan kedatangan orang-orang baru. Dari sekian banyak pelamar yang masuk, cukup membuat bingung kami, para panitia seleksi.

Mata kami harus dipaksa melek dari pagi hingga pagi lagi (hehe), sebelum akhirnya memutuskan 24 finalis terbaik yang berhak melaju ke final #PPANJogja2014.

As time goes by, saya jadi penasaran juga dengan laaran dan motivation letter yang saya buat ketika mendaftar di tahun 2013 dulu. Walhasil, iseng saya membuka laptop dan mengulik folder lama saya. Hingga akhirnya saya menemukan suatu tulisan yang saya buat untuk melengkapi tugas saya sebelum berangkat sebagai delegasi program. Aniwei, nggak ada salahnya juga buat mengabadikannya di dalam blog.

Nah, ini dia tulisan saya. Tulisan yang saya buat untuk teman-teman di seluruh nusantara. Well friend, kita memang Indonesia.


YOGYAKARTA : Indonesia Mini yang Tak Cukup Dikelilingi Dalam Sehari
Sebuah Opini


Pemandangan di hampir di setiap sudut – sudut kota ini dipenuhi oleh bangunan – bangunan bersejarah yang sangat kental nuansa heritage. Kanan dan kiri jalan banyak pejalan kaki dan turis-turis yang sibuk memoto keadaan sekitar atau menawar harga andong dan becak untuk diantar keliling kota.
Sejauh mata memandang, banyak musisi jalanan, pedagang kaki lima, atau sekawanan kelompok musik angklng berderet di sepanjang Jalan Ahmad Yani, jalan yang biasa dikenal sebagai kawasan Malioboro. Sebuah kawasan yang sangat identik dengan kota yang memiliki banyak sebutan, kota kelahiran saya, Yogyakarta.

Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan nama resmi, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki 4 kabupaten, Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Gunung Kidul serta satu kotamadya yaitu Kota Yogyakarta. Biasa dikenal juga dengan sebutan Jogja, Jogya, Yojo, atau Yogya, dan memiliki banyak
julukan akademis lain serta mendapatkan penghargaan sebagai kota Adipura dari pemerintah sejak 2006 hingga saat ini dimana penghargaan diberikan pada 12 Juni 2013 lalu.

Dari Malioboro, lurus terus ke selatan akan ada sebuah thethenger Jogja yang juga merupkakan bangunan simbol kota ini, Keraton Yogyakarta yang sekaligus merupakan kediaman raja Yogyakarta yang juga merangkum sebagai Gubernur, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang memiliki gelar yang sangat panjang. Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senapati Ing Alogo Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa, begitulah gelar lengkapnya.


Untuk memasuki Keraton Kesultanan Yogyakarta, wisatawan domestik hanya perlu membayar sebesar Rp5.000, sedangkan wisatawan lokal seharga Rp10.000,00. Di sebelah barat Keraton, ada sebuah museum Kereta Kencana yang biasa digunakan pada acara yang sangat spesial. Tiket masuknya juga sangat terjangkau. Hanya dengan Rp 3.000,00 pengunjung sudah dapat meliat koleksi-koleksi kereta milik Keraton.

Keraton dan Malioboro sebenarnya berada dalam sebuah garis imajiner lurus dengan beberapa simbol patokan Jogja yang lainnya. Kota Yogyakarta sendiri, sebenarnya memiliki 5 patokan yang berada segaris lurus secara imajiner. Patokan tersebut dimulai dari paling ujung utara Yogyakarta, yaitu Gunung Merapi. Kemudian di sebelah selatannya adalah Monumen Jogja Kembali, yang berisi diorama dan benda-benda bersejarah seputar serangan umum dan perjuangan masyarakat Yogyakarta ketika dulu ketika mempertahankan wilayah. Beranjak ke selatan, terdapat Tugu Yogyakarta yang berbentuk Golong Gilig, yang melambangkan perjuangan rakyat Yogyakarta yang bersatu padu melawan penjajah. Pada keempat sisi tugu –sesuai arah mata angin– terdapat tulisanyang menceritakan Yogyakarta tempo dulu.

Lanjut ke arah yang sama menuju Malioboro dan Keraton Yogyakarta, lalu disusul Kandang Menjangan di Jalan Pandjaitan dan sebagai patokan terakhir adalah Pantai Parangtritis yang berada di paling ujung selatan Yogyakarta. Kandang Menjangan pada jaman dahulu digunakan sebagai tempat raja Yogyakarta ketika menyaksikan pertunjukan tari. Pantai Parangtritis adalah pantai yangsangat terkenal dan terdapat Watu Gupit disebelah timur yang biasa digunakan sebagai starting point olahraga paralayang. Dari sini, Anda bisa melihat indahnya Jogja dari angkasa.

Bisa dikatakan, Yogyakarta adalah ‘Indonesia Mini’, sebab beragam jenis kebudayaan ada di sini. Banyaknya universitas menyebabkan Jogja disebut sebagai Kota Pendidikan dan banyak warga luar Jogja yang kemudian datang menuntut ilmu. Inilah yang menyebabkan Jogja disebut sebagaiIndonesia Mini. Belum lagi, jumlah kamar hotel yang tersebar di seantero kota, cottage, villa, guest house, atau rumah – rumah penduduk yang bisa disewakan per hari sangatlah banyak. Tidak heran apabila Yogyakarta juga mnedapat julukan sebagai The City of Tolerance. Disamping itu, dengan banyaknya fasilitas akomodasi dan kemudahan transportasi, Jogja sangatlah potensial untuk digunakan sebagai tujuan MICE (Meeting, Incentive , Convention, and Exhibition).


Hampir setiap minggu, Dinas Pariwisata dan lembaga pemerintahan menggelar berbagai event menarik untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
Berbagai objek wisata baik wisata alam, budaya, sejarah, adventure, kuliner, religi, dan hampir semua ada di Yogyakarta. Para wisatawan domestik mapun mancanegara dimanjakan deNgan beragam jenis wisata tersebut yang ditawarkan dengan harga yang terjangkau. Apabila Anda juga berniat untuk berwisata ke Jogja, jangan khawatir. Sebab segala kemudahan akan Anda temui selama di Jogja.



Wisata Alternatif

Berbagai jenis objek wisata dapat Anda temui di kota yang berjuluk The City of Tolerance ini. Saya tidak akan menjabarkan tempat – tempat wisata yang sudah biasa diketahui banyak orang seperti Candi Prambanan, Kaliurang, Gembira Loka, Malioboro, Keraton, Vredeburg, Taman Sari, dan lain sebagainya. Sebab tentunya buku dan sumber – sumber internet sudah banyak menjelaskan dan tentunya lebih pintar serta lebih lengkap dari saya.

Saya akan mencoba menjelaskan wisata-wisata potensial dan alternatif yang dapat dikembangkan di Yogyakarta. Misalnya wisata historis di lorong-lorong Malioboro.

Anda pernah dengar Umbu Landu Paranggi? Dia dikenal sebagai penyair jalanan yang dapat dengan mudah dijumpai di sudut-sudut Malioboro. Dia dikenal dengan sebutan Presiden Malioboro yang biasanya hidup di lorong – lorong yang ada di Malioboro. Atau mungkin pernah mendengar tentang cerita mengenai sejarah serangan umum 1 Maret? Atau sejarah lapangan udara Maguwo? Cerita-cerita ini dapat dijual sebagai suatu pengembangan obyek wisata alternatif di Yogyakarta. Dapat dilakukan wisata yang mengunjungi kembali/napak tilas ke tempat-tempat yang ada dalam sebuah cerita yang bersejarah. Belum lagi, banyak sekali bangunan bersejarah atau bangunan heritage yang menyimpan filosofis dan cerita tersendiri.

Historis lain dapat juga dilihat adalah melalui wisata militer. Wisata ini dapat dilakukan dengan mengunjungi beagam museum dan objek wisata yang ada di Yogyakarta. Misalnya museum perjuangan, museum Yogya Kembali (Monjali), Museum Dirgantara Mandala, Museum Dharma Wiratama, dan Museum Bahari. Setiap museum tersebut memiliki beragam diorama dan cerita yang dikemas apik seputar perjuangan masyarakat Yogyakarta di waktu dulu.

Misalnya adalah Museum Dirgantara Mandala, dimana kita bisa melihat perjuangan TNI AU –yang pada saat itu bernama ABRI– mempertahankan bandar udara Maguwo seperti yang sudah disinggung di awal. Dalam museum tersebut terdapat diorama dan beberapa foto yang bercerita seputar Agresi Militer Belanda. Bahkan di dalam museum tersebut, juga terdapat sebagian bangkai pesawat Dakota VT-CLA yang dulu ditumpangi Adisutjipto dan terkena bom di atas lapangan udara Maguwo. Dalam museum ini, pengunjung diperbolehkan berfoto dengan menggunakan pakaian penerbang (overall).Hanya dengan membayar Rp 20.000,00 saja, Anda sudah dapat memiliki foto layaknya penerbang tempur handal.


Bila Anda beruntung, selama Anda di Jogja, Anda bisa melihat sekawanan pasukan akrobatik udara Indonesia, Jupiter Aerobatic Team (JAT) milik TNI-AU melintas di langit Yogyakarta. Anggota pasukan ini adalah pilot-pilot kebanggaan TNI-AU yang sangat mahir melakukan berbagai macam manuver
akrobatik.

Indonesia patut berbangga memiliki mereka dan Yogyakarta jelas berbangga karena dijadikan sebagai homebase.Untuk wisata historis, Jogja bisa dikembangkan dalam sebuah program yang terarah dimana wisatawan akan diajak berwisata dengan menggunakan bus tour yang dilengkapi dengan guide
dimana akan berkunjung ke tempat – tempat wisata historis yang sebelumnya sudah dijelaskan di awal.

Atau istilahnya, melakukan sedikit wisata blusukan yang tentu akan lebih menarik . Hendaknya pemerintah kota juga memperbanyak semacam thethenger yang menandaka bahwa di tempat tersebut dulunya merupakan suatu tempat yang bersejarah atau memiliki historis. Dengan penanda
ini, wisatawan akan tahu bahwasanya tempat tersebut memiliki filosofi tersendiri.

Lain halnya, bila nda berwisata ke daerah Kotagede, Anda akan dibuat terkesima dengan bentuk dan kemegahan bangunan-bangunan kuno yang dapat dijumpai di sana. Bangunan Raden Pesik, Rumah Kalang, Masjid Besar Mataram, adalah sedikit heritage yang bisa Anda jumpai di Kotagede.
Kesemuanya menawarkan keindahan bangunan jadoel dan nilai historis yang terkandung di dalamnya.

Setiap potensi wilayah memiliki keunikan masing-masing. Gunung Kidul terkenal dengan batik kayunya melalui Desa Wisata Bobung. Atau wisata alamnya di Gua Pindul, Nglanggeran, Gua Jomblang, air terjun Sri Gethuk, atau obyek pantainya yang menawarkan keindahan alam yang dapat ditelusuri dengan jeep, misalnya di pantai Ngrenehan. Sedangkan Sleman terkenal dengan
desa wisata yang menawarkan pengetahuan mengenai kehidupan desa seperti Pentingsari, Brayut, Tanjung, Srowol, dan sebagainya.

Kulon Progo dengan kekayaan alam yang menawarkan wisata puncak bukit Suroloyo, Hutan Pinus,atau pantai Glagah yang rencananya akan digunakan sebagai tempat berlabuh kapal TNI-AL yang akan masuk ke wilayah Yogyakarta. Sedangkan wilayah Bantul, snagatlah terkenal dengan wisata enterpreneur dimana pemerintah daerahnya sangatlah mengedepankan usaha-usaha lokal dan
bersifat mikro. Pemerintah setempat memberikan kebijakan kepada pasar modern seperti supermarket berjaringan untuk tidak membuka lahan di kabupaten Bantul. Ini adalah salah satu cara untuk tetap mempertahankan sektor-sektor industri rumahan dan mikro agar tidak mati.

Untuk kuliner, jangan ditanya lagi. Jogja adalah gudangnya makanan, baik dari yang eksklusif,makanan rumahan, makanan camilan, atau yang unik dan aneh. Anda bisa menemukan berbagai jenis makanan dari mulai gudeg,ayung-ayung,grontol, gatot, tiwul, gaplek, geplak, manuk nom, cenil, dan lain sebagainya. Tidak akan cukup kalau hanya dijelaskan secara gamblang. Ragam kuliner di Jogja sangatlah banyak, namun harganya sesuai kantong. Di kota ini, bahkan dengan Rp2.000,00 Anda sudah dapat membuat perut ayem dengan ‘nasi kucing’ dan es teh satu gelas yang baisa dijual di angkringan-angkringan.

Sangat banyak hal yang dapat dikulik dari Yogyakarta dan Anda tidak akan mungkin bisa menjelajah dan menyelami Yogyakarta dengan waktu yang singkat. Pun melalui serangkaian kata melalui tulisan ini. Yogyakarta dapat diselami secara riil dengan mengunjungi. Sebab satu hal lain yang istimewa
yang dimiliki Jogja adalah nuansa. Selami kota Jogja dengan nuansanya. Nuansa yang memiliki atmosfer yang istimewa yang bagi sebagian orang akan membuat mereka kembali.

Kelap-kelip lampu dan nyanyian penyair jalanan akan terus ada, di setiap sudut dengan temaram lampu kota. Angkringan,nyanyian penyair jalanan, atau asap dari pengepul kopi joss di sebelah utara stasiun Tugu juga tetap akan menjadi panorama yang bercerita. Keberagaman budaya, banyaknya adat istiadat yang bercampur dengan indahnya toleransi, serta antusias wisatawan yang
mengabadikan gambar akan selalu menjadi anjangsana setiap orang yang melihat. Ini Indonesia Mini. Tapi Anda tak akan cukup mengunjunginya seh

Dan Anda tak akan cukup kalau hanya sehari mengunjungi Jogja.

JANGAN KE JOGJA KALAU TAKUT KEMBALI LAGI...



Saat membacanya kembali, aku terbawa kembali pada suasana emosional saat aku menuliskannya. Saat itu, tahu tahun yang lalu, aku masih disibukkan sana-sini dengan berbagai thethek bengek yang harus saya persiapkan sebelum berangkat program. Kini, tahun pun sudah berganti. Musim gugur telah melewati masanya sekali lagi.

Dan, satu tahun lalu, aku masih jadi finalis. Aku duduk bersama dalam lingkaran bundar di Youth Centre dan menyimak tugas dan instruksi dari panitia. Aku sama seperti mereka.  Mereka yang kini masih berjuang untuk bisa berhasl berangkat program.

Bahkan tiga tahun lalu, aku baru mencoba untuk mendaftar program pertama kali. Hingga akhirnya, 2013 aku memutuskan untuk mendaftar lagi...mungkin untuk yang terakhir kali apabila aku gagal lagi.

But, yeah, victory loves preparation. Aku merasa, di tahun 2013 aku lebih siap. Dan aku percaya, kesiapan juga akan menentukan hasil di akhir. FInally i made it. Aku bersama 4 delegasi Jogja lainnya, berhasil menjadi wakil Jogja dan Indonesia. Itulah mengapa cover untuk tulisan ini adalah gambar Tugu, karena itu Tugu Jogja, yang menjadi lambang kota Yogya.. hahaha

And, i always believe, some things nowadays, are impossible things in the past. Just trust it, go to your future and then make it true.


Proud to be a member of PCMI Jogja.

Wednesday, April 16, 2014

PASPORT!!







Saya selalu percaya, kata-kata Dalai Lama: Once a Year, go someplace you`ve never been before. Well, pergi ke luar negeri bukan lagi mimpi, mungkin itu juga yang sekarang menjadi trend di kalangan anak muda. Atau bisa juga, menjadi trend bagi seseorang yang ingin pergi melihat dunia, yang lain dari biasanya. Yang belum pernah ia jangkau sebelumnya, serta mendapatkan sokongan pengetahuan dan pengalaman baru soal...yaa...apalagi kalau bukan kehidupan, terutama cara melihat hidup. 

Dan tak dapat dipungkiri, bila kita ingin melakukan perjalanan ke luar negeri, tentu saja ada satu benda sakral yang harus dimiliki, yakni paspor. Yap. Benda kecil dari kertas sebanyak 48 lembar itu merupakan kunci awal bagi seseorang untuk masuk ke dunia luar, dalam hal ini adalah luar negeri. 


Iseng saya menemukan fakta tentang paspor dalam situs pencarian. Dan akhirnya malah menemukan tulisan menarik dari seorang Rhenald Khasali (guru besar UI yang belum berhasil saya wawancara), hahaha... 


 Nah, begini kira-kira tulisan beliau soal Passport.




Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.


Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punyapasport. Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”

Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke PulauJawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.



Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memilikipasport .Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. 

Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anakIndonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punyapasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punyapasport dari uang negara.

Rhenald Kasali

Guru Besar Universitas Indonesia

:iloveindonesia



Tiga tahun lalu, saya diperkenalkan konsep 'luar negeri' pertama kali oleh dosen mata kuliah saya. Mungkin saat itu, pergi ke luar negeri belum se-mainstream seperti saat ini.

Ah, betapa beruntungnya saya yang ketika itu memilih mata kuliah beliau. Dari situlah kemudian saya tahu, bahwasanya aku tidak bisa berdiam diri di tempat yang sama. Terus-menerus. Monoton dan yang tampak itu-itu saja.

Sudahlah. Itu juga sudah tiga tahun lalu. Namun begitu, akhirnya saya juga setuju, kalau pergi ke luar negeri itu membuat ketagihan, entah jauh atau dekat negara yang akan kita kunjungi.


Dan yang penting, sebaik-baiknya saya menjelajah, maka nantinya akan jatuh ke pengalaman juga. Begitu aja sih prinsip sederhananya. HAHAHA. Rada meleset dari pepatah tupai dan kubangan. But, yeah. This is it. Hidup bukan hanya sekadar sistematis. Karena terkadang kita perlu ke luar jalur. Kita perlu itu. Sebagai penyeimbang sistem yang sebelumnya sudah ada. :))

Berkelana memang sudah menjadi santapan yang renyah bagi jiwa yang memang haus akan aktualisasi diri untuk melihat dunia dari sudut yang berbeda.
Dan aku ingin menjadi seperti Garuda, yang membentang sayapnya, mengarungi khatulistiwa, hingga nanti akan sampai di sudut garis bujur. Mungkin juga aku akan menerka dan merasakan bahwa ada suatu tempat, yang tidak mendapatkan sinar surya sepanjang tahun.

Bukannya aku tidak cinta negeri ini. Percayalah, sekali engkau ke luar negeri, kamu akan tahu, dan semakin cinta dengan negerimu sendiri. Ini menurut versiku lhoh ya. Semakin banyak aku menjejakkan kaki, nantinya kita akan tahu, takaran yang pantas untuk mencintai dan berbuat untuk negeri kelahiranmu.

Aku lahir di atas bumi Indonesia, telah menginjakkan kaki di tanahnya dan menghirup airnya. Aku berterima kasih. Tapi aku juga ingin merasakan tanah dan bumi yang lain yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Bukan untuk membandingkan, bukan untuk sebuah pengakuan strata sosial.

Tapi aku hanya ingin menemukan sebuah pembelajaran seumur hidup, dari sebanyak-banyaknya tempat dan seseorang, dari tempat yang berbeda. Melihat sebanyak-banyaknya lukisan alam, dan memompa nafas keingintahuan.


Kalau boleh mengutip perkataan dari seorang Anais Nain,

We travel, some of us forever, to seek other states, other lives, other souls..
Happy traveling, all! 



credit picture: http://assets.kompasiana.com/statics/files/2014/04/1396370686439656808.jpg