Tuesday, July 22, 2014

'Simbah' Jogja yang Melegenda : A Lil' Tribute to Sujud Kendang

Mendengar kata 'simbah' yang ada di benak Anda adalah sosok orang yang telah tua, dengan segela keterbatasannya yang timbul karena usia. Tapi simbahku yang satu ini lain lagi. Walau semakin hari usia dan tenaganya semakin termakan waktu, semangat yang ada di dalam dirinya tak pernah pudar.

Bukannya simbah yang lainnya tidaklah hebat. Bukan. Saya cuma mau mengutarakan sekelumit ba-bi-bu saya, tentang seorang simbah yang telah memberikan pelajaran bagi saya. Well, sebenarnya, sudah berbulan-bulan lamanya saya ingin menuliskannya, hanya saja lagi-lagi saya terpaksa mengalah dengan sendi otot saya yang merengek untuk melepas penat. Haha.

Maaf ya mbah. Aku minta maaf karena aku merasa aku perlu menuliskan jejak dan sejarahmu. Agar tulisan dariku menambah beberapa kepingan sejarah yang pernah ada, secarik cerita tentang seorang seniman yang dimiliki Yogyakarta.

Dia adalah Sujud Sutrino, atau lebih dikenal dengan nama Sujud Kendang. Mbah Sujud, seorang seniman yang lebih suka menyebut dirinya sebagai penarik pajak rumah tangga (pprt) daripada pengamen.

Pertama kali aku tahu tentang beliau adalah saat membaca profil yang bersangkutan di salah satu koran lokal Jogja, Harjo. Saat itu aku tertarik dengan fotomu yang dipajang dengan ukuran besar dan membawa kendang. Dalam kalimat pertama di tulisan tersebut dituliskan bait lagu yang digubahnya, seperti Susanna, Kolam Susu, Atau Kopi Dangdut, lagu dengan bait yang diplesetkan.

Sosoknya kemudian semakin kukenal saat aku mengikuti kompetisi video dokumenter yang  diadakan oleh sebuah stasiun televisi nasional. Aku pun mengangkat mbah Sujud sebagai main topic dan membuat profil yang bersangkutan dalam format video ficer.


Sejak saat itu, aku dan timku mulai mengikuti kegiatan mbah Sujud, dari mulai sarapan hingga kemudian keliling untuk menjalankan tugas sebagau pprt, hingga akhirnya kembali pulang ke rumah.

Mbah Sujud ternyata sudah menekuni pekerjaan sebagai pprt sejak lama, bahkan ketika ayah saya masih berstatus sebagai pelajar SMA. Ayah saya menuturkan kalau dirinya seringkali memberikan upah kepada mbah Sujud saat mbah Sujud menyambangi rumah ayahku di daerah Langensari.

Dari situ, aku mulai tahu bahwa mbah Sujud selalu berjalan kaki saat melaksanakan tugasnya sebagai pprt. Bahkan kala itu, rute yang ditempuhnya juga cukup jauh yakni berkisar sekitar 10-15 km setiap harinya. Ia berjalan mulai pukul 07.00 WIB, hanya dengan ditopang alas kaki seadanya, kaus oblong, dan juga topi rotan lempeng sederhana yang memang jadi ciri khasnya. Namun demikian, ia selalu menghibur secara total. Bahkan tak jarang, untuk menunjang penampilannya saat mengisi acara tertentu, ia menggunakan kostum jenaka yang didukung dengan kumis palsu, dan riasan yang juga tak kalah lucu.

Saat aku bertanya kepadanya tentang apa yang telah diceritakan ayah saya itu, ia pun mengiyakan. Bahkan ia menambahkan, bahwa dirinya mulai bekerja sebagai pprt bukan sejak ayah saya kuliah saja, melainkan sudah sejak tahun 1970, waktu dimana ayah saya masih berusia 10 tahun!

Kini, tahun 2014, tahun dimana usia mbah Sujud yang telah mencapai lebih kurang 62 tahun, beliau masih setia dengan kendangnya dan masih menjadi PPRT dari rumah ke rumah, meskipun rute yang ia tempuh sudah tak sejauh saat dahulu. Maklum, semenjak kesehatan matanya menurun karena katarak beberapa waktu lalu, mbah Sujud harus mulai menyadari bahwa usianya tak lagi muda. Namun ia sadar bahwa ia harus tetap mencari nafkah walau dengan tenaga seadanya.

Sebenarnya, sudah banyak seniman lain dan juga pemerintah daerah yang memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan mbah Sujud dengan memberikan dukungan finansial. Tapi simbah merasa ia harus tetap bekerja, untuk memuaskan hasratnya mengendang dan menghibur banyak orang. Hanya sekadar membuat pelanggannya yang berada di gang-gang yang rata-rata adalah kaum ibu dan anak-anak merasa senang.

Aku bisa melihat bahwa simbah bukanlah orang yang mudah menyerah. Berbagai gempuran dan asam garam hidup sepertinya pernah ia alami. Pun juga soal kesepian yang terkadang menyelimuti setelah istri pertamanya meninggal dunia. Mbah Sujud pun harus menjalani hari-hari sendiri, menjalani segala hiruk pikuk tanpa adanya seseorang perempuan yang mendukung di belakangnya. 

Belum usai dirundung duka, ia kembali dihadapkan dengan masalah pencatutan lagu. Ia pernah diajak rekaman oleh salah satu studio, namun tak pernah sedikit pun menikmati royaltinya. Namun bukan mbah Sujud namanya kalau dia putus asa. Mbah Sujud tetap berkarya, dengan alasan sederhana, menghibur dan menunaikan kewajiban.

Bagiku ia memang seniman jenaka. Tak mengherankan kalau sampai saat ini masih banyak pihak yang memintanya untuk menjadi prbagai kesempatan. Bahkan pernah suatu kali ia bercerita kepadaku, saat ia diminta mengisi acara di Balikpapan, dan menceritakan rasanya naik pesawat untuk pertama kali. Simbah kala itu tampak bangga, karena seumur-umur, baru pertama kali naik pesawat. “Baru ini mbak, naik montor mabur,” ujarnya padaku sambil tertawa terkekeh.


Banyak hal sebenarnya yang bisa aku pelajari dari simbah. Itulah alasanku menyambangi kediamannya beberapa bulan lalu. Aku pun kemudian memberi kabar padanya melalui SMS, bahwa aku akan bertandang ke rumahnya bersama seorang kerabat. Seperti dugaanku, beliau langsung menelponku. Maklum, simbah hanya bisa membaca isi SMS, namun tidak tahu bagaimana cara membalasnya, ia hanya bisa menelpon.

Dan oh, sesampai di rumahnya, aku cukup kaget dengan keadaan rumahnya, Memang sudah satu tahun aku tak berkunjung kesana dan aku melihat adanya perubahan di bangunan seluas 4x5 meter persegi itu. Lantai yang dulu semen, kini telah licin berlapis ubin. Aku juga melihat adanya televisi baru dan dinding yang tak lagi kumal seperti biasanya. Piagam penghargaan dari gubernur DIY dan juga belasan penghargaan lainnya pun ditata lebih rapi dengan memberikan bingkai sebagai pemanis.


 beberapa piagam yang diperoleh mbah Sujud



 beberapa dokumentasi saat mbah Sujud pentas

Tapi ada satu yang tak berubah. Kendang! Ya. Kendang yang puluhan tahun telah menemaninya mengabdi dan menghibur kepada masyarakat, masih menggantung dengan rapi di tempat biasanya.


 Kendang yang sudah jadi kekasihnya selama puluhan tahun


Simbah memang sangat sayang dengan kendangnya itu. Ia bahkan lebih memilih kendangnya yang sudah tampak agak rusak itu daripada kendang baru yang dibelikan oleh seorang penggemarnya.

Ah, simbah.

Terkadang aku melihat pamflet selebaran di beberapa pusat keramaian dan tercantum namamu. Kadang aku sudah mencatat jadwal kapan dirimu akan mengisi acara itu. Tapi apa mau dikata, terkadang keinginan tak didukung oleh situasi. Kadang waktu pun tampak merasa enggan untuk memberi ijin padaku untuk melihatmu berdendang di atas panggung. Sudahlah, mungkin lagi-lagi youtube yang akan menjadi panggungmu dalam dunia mayaku.

Kita tinggal di satu kota tapi seperti ribuan kilo ya, mbah....hehe

Semoga semesta selalu memberimu kebahagiaan sampai akhir hayat. Tetaplah bersemangat dalam mendendangkan bait dan menabuh kendang. Teruskan gema kendangmu hingga sayup-sayup ayam berkokok telah berganti dengan kicauan elang yang kembali ke sarang. Semoga rambutmu yang mulai memutih terbayar sudah dengan jutaan guratan senyum dari semua pelanggan setiamu. 

Satu hal lagi, salam dan doa darimu yang selalu kau lontarkan untuk keluarga kami yang mengunjungimu, selalu kami sampaikan baik-baik. Terima kasih karena turut mendoakan keluarga kami. Sampai saat ini, mereka baik-baik saja....


Aku, simbah, dan istrinya

Aku dan mbah Sujud


A tribute to Sujud Kendang Sutrisno....
21 Juli 2014


Cheers,

    V