Thursday, January 30, 2014

I Always Learn from Memories

Hari ini ke kantor lebih pagi. And you know, belum ada seorang pun yang datang kecuali office boy dan satpam. Iseng aku meneruskan blog dan membuat desain scrap book dan buku agenda seputaran program IMYEP. Sebagai referensi, aku melakukan pengamatan ke beberapa laman blog dan foto milik temanku.

Hingga aku menemukan tulisan sederhana Fahri, teman program asal Kepulauan Riau. Well, tulisannya memang sederhana, namun menurut saya sederhana yang menggugah. Dan aku sengaja mengutipnya di blog ini karena aku merasa tersentuh ketika membacanya. Here it comes.

Jakarta, Jawa Timur, Kuala Lumpur, Johor.... terangkum tawa tersemat disana, senyum bahkan tangisan, ternyata sejuk Bromo masih terasa, air hujan pertama di Johor masih lembab dihati. Kisah kita belum berakhir, bahkan baru saja memulai tangga cita-cita, demi jaya Nusantara. 

Walau Jakarta dan Kuala Lumpur tak sanggup kurenang, namun tekad dan keinginan membakar lautan, rasa kehilangan, rindu, rindu yang tak terbendung, kalian pemuda Belia yang kuingat. Seuntai kisah hidupku yang takkan terlupa, akan menjadi abadi selamanya. Kita bisa datang ketempat yang sama, namun kita takkan pernah bisa kembali ke waktu yang sama.

Mungkin air mataku tak menetes, mungkin senyumku dapat dihitung, namun apa yang berdiam direlung hati tak terlihat, apa yang menusik dijiwa terkemat, sahabat ialah salah satu dari sekian segalanya. Membuatku sadar akan arti Nusantara kita, akar budaya, suatu keyakinan membakar menggelora, kan kugenggam cita-cita mulia leluhur kita, Nusantara menyelimuti dunia.....

Kenapa ada aroma Mawar di Malaysia? mengapa ada bunga raya di Indonesia? Mengapa ada batik di Malaysia? Mengapa ada baju Kurung di Indonesia? bukan masalah siapa menjadi apa, bukan tentang apa membuat siapa... hanya saja kita ini sudah terlanjur sama...


Memandang satu arah saat air mata mengalir dipelupuk mata, persahabatan yang terlahir dari mimpi, wujud mensuci, bening membasai mimpi, ada segumpal rasa haru, dalam cita, niat beriring do'a, waktu takkan berputar kembali, kenangan tetap dikalbu, kenangan bersama "Laskar hebat" dari sejagad Nusantara, kita semua bersaudara.

(M Zulfahri Afiat/Kepulauan Riau)



and you know? May i can't promise whether we can meet again or not someday. Even i can't say see you later. I just can say that you`ll guys had give me good memories.... 

 

Thursday, January 16, 2014

Bekerja untuk Memberi Makna

Lagi-lagi, saya mendengar pertanyaan yang sama dari beberapa orang. Selalu saja. Pertanyaannya selalu sama.Pertanyaan yang sebenarnya sangat retorikal, tentang sebuah mimpi,cita-cita, dan bekerja. Ituuuu-itu saja.



Memang, bagi sebagian orang, gaji mentereng adalah segalanya. Gaji mentereng bisa diyakini mendatangkan kebahagiaan yang hebat untuk kejayaan masa depan kelak. Tapi bagiku tidak selalu demikian. Dalam pandangan saya, bekerja itu berjalan,dan perjalanan di dalamnya adalah sebuah hasil. Juga tentang bagaimana kita memulai sebuah tugas mulia namun tetap juga berpikir untuk memberdayakan insan manusia lainnya.

Aku tidak menanyakan dan tidak menyalahkan apapun pekerjaan yang akan, tengah, atau selesai Anda jalani. Namun yang perlu diketahui adalah bahwa saya sekolah tinggi-tinggi, pun sampai mendapatkan gelar master atau doktor, hanya demi sebuah gaji tinggi dan pengakuann status sosial di dalam masyarakat.

Bagi saya, tujuan akhir dari kuliah itu bukanlah untuk bekerja. Mengembangkan nilai akademik dan juga berlomba untuk meraih jenjang yang lebih tinggi lagi itu bukan semata-mata hanya untuk mencari pekerjaan. Well, terserah mau setuju atau tidak.

Peningkatan jenjang akademik adalahuntuk pengembangan karakter, penjernihan pemikiran, dan mampu mengembangkan sudut pandang. Setidaknya itu bagi saya. Termasuk juga ketika dulu, pada mulanya, saya memutuskan untuk bekerja di kota kelahiran saya, Yogyakarta setelah saya lulus kuliah.

Beberapa pihak menanyakan bahkan seolah menyayangkan keputusan saya. Dalam pandangan mereka, kita bukanlah termasuk 'anak gaul' yang mampu bertahan di tengah gempuran dan tekanan kota-kota besar yang 'lebih dianggap' menawarkan kebahagiaan lebih besar. Mereka berkata, bila belum mencicipi jalanan kota besar, itu tidaklah keren namanya. Oh, wow. Biar saya ulas satu-satu.

Mungkin, istilah keren, bagi mereka yang berkomen itu, adalah bertemu jalanan macet setiap hari. Sementara saya di sini berangkat setiap pagi dengan kemacetan yang hampir nihil. Saya bisa mampir membeli nasi jagung kesukaan saya di tengah perjalanan saya ke kantor.

Mungkin lagi, istilah keren bagi mereka adalah berangkat pagi pulang malam, hingga tak bertemu lagi dengan anggota keluarga mereka. Sementara saya masih bisa pulang dan mampir ke toko membelikan oleh-oleh untuk anggota keluarga yang menunggu di rumah.

Mungkin, (lagi-lagi) keren bagi mereka adalah selalu terprogram. Menjadi tunduk dan patuh akan deadline danakhirnya sampai menyita waktu., hingga sampai mengorbankan hari Minggu. Sementara saya tetap masih bisa patuh deadline, namun saya masih punya hari Minggu dan hari libur lainnya.

Satu lagi, terakhir, keren bagi mereka adalah memiliki penghasilan menggila, tapi tak punya waktu untuk menikmatinya. Sementara saya, masih bisa menikmati waktu saya, beserta anekdot-anekdot saya yang lainnya. Jadi, apa salahnya bagi saya, atau mungkin Anda, bekerja di daerah? Bagi saya, kota besar tidak selalu bisa menyampaikan pesan kenyamanannya.

Ah, sudahlah. Itu hanya opini saya saja.

Bekerja adalah mengolah rasa dan mampu menyampaikan maksud dengan apa yang tengah dikerjakan untuk sebuah tujuan. Ini soal kreatifitas dan bagaimana mengolah setiap tahun dalam sebuah usia. Ruh pengalaman lah yang akan menjadikan usia lebih bernafas. Bagaimana kita mampu mengisinya dengan sebuah identitasdan kegiatan penuh makna.

Seperti notes saya sebelumnya, akan selalu ada alasan untuk sebuah keputusan. Saya masih mengabdi untuk daerah saya, untuk sebuah kepentingan dan alasan. Saya masih mau disini, menabung untuk mimpi dan berusaha menikmati setiap detik bersama keluarga saya yang mungkin saja akan hilang ketika waktu sudah menjawab saya dalam sebuah ikatan pernikahan.

Setiap manusia memang punya mimpi pribadi, begitupun saya. Saya pasti akan meninggalkan kota ini,tapi tidak sekarang. Koreksi, tidak untuk saat ini. Bukannya saya takut dengan mimpi-mimpi saya.Bukannya saya belum siap dengan kenyataan pahit yang mungkin saja terjadi. Saya hanya melakukan apa yang saya yakini saya lebih pantas melakukannya, setidaknya untuk saat ini.

Saya percaya. Akan ada suatu keajaiban dibalik semua keputusan yang telah diambil secara sadar. Dari sini, saya tetap bisa memupuk mimpi-mimpi saya dan menjaganya agar tetaphidup. Memang pada awalnya saya harus menahannya untuk beberapa waktu. Namun, pada akhirnya saya sadar, sebenarnya saat ini saya juga tengah menjalankan tugas saya yang lain, yang akan menjadi prolog dalam pencapaian mimpi-mimpi saya yang lainnya.

Maaf kalau notes ini akan mengubah pandangan, mengubah persepsi dan menimbulkan ketidaksetujuan. Apapun pilihan yang sudah Anda pilih, saya percaya Anda telah mempertimbangkannya secara matang. Ini hanyalah sebuah pandangan saya pribadi, bahwa bekerja di manapun, baik di daerah ataupun di kota besar, bukanlah soal keren atau tidak. Yang penting adalah bisa menikmatinya dan merasa tak terbebani. Bisa terus berkreasi dan memberikan makna untuk pekerjaan tersebut, juga mampu memberikan manfaat terhadap berbagai aspek di dalamkehidupan.


Yakini saja bahwa semesta akan selalu baik untuk sebuah alasan yang dibuat dengan penuh tanggung jawab. Yakini saja, bahwa mimpi tak akan pernah aus dimakan usia. Dan terpenting, kita tak akan pernah terlalu tua untuk menciptakan sebuahmimpi baru.

Selamat bekerja! Bekerjalah dengan harapan mampu memberikan manfaat bagi orang banyak. Bekerjalah untuk memakmurkan. Bekerjalah untuk memberi makna.

Semoga mimpi-mimpi akan tetap hidup.....hingga pada akhirnya nanti akan berbuah manis, tepat pada waktu yang direncanakan.

Mestakung. Semesta akan mendukung.

the picture taken form : denikurniawan.wordpress.com

Friday, January 3, 2014

Beyonce, NASA, dan Sebuah Harapan Baru!

Saya sengaja mengisi malam yang sunyi ini dengan membuat jus tomat kesukaan saya. Dalam lamunan saya, saya kembali teringat sebuah berita yang saya baca beberapa minggu lalu. Berita itu menyebutkan bahwa lagu Beyonce yang berjudul XO diduga membuat marah para anggota keluarga astronot yang wafat saat musibah Challenger 1986, pun demikian dengan NASA.

Apa hubungannya? Pasalnya, di awal lagu tersebut, diperdengarkan rekaman suara Steve Nessbitt (humas NASA yang menjadi controller di bumi) sesaat setelah Challenger meledak. Bagi keluarga dan juga NASA, audio tersebut mengingatkan kembali memori yang bagi mereka sangat mengandung unsur emosional.

Yeay, sebenarnya saya nggak mau cerita tentang Beyoonce, hanya saja, gara-gara berita tentang lagu Beyonce itu, saya malah jadi asyik masyuk dan kembali flash back, peristiwa meledaknya Challenger, 28 Januari 1986.  Saya jadi ingat bahwa saya punya sebuah buku di atas rak, yang di dalamnya terdapat sebuah kisah nyata seseorang di balik Challenger Explosion.

Well yeah, sebenarnya seseorang ini bukanlah orang terkenal. Dia adalah masyarakat sipil biasa seperti saya, ia mengabdi, mencurahkan hidupnya menjadi seorang guru di negeri Paman Sam sana  sejak tahun 1985. Sehari-hari, dia mengajar mata pelajaran IPA di sekolah menengah dari pagi hingga sore. Ia tinggal di sebuah kota kecil yang hanya berpenduduk sekitar 2.000 jiwa. Dalam tulisannya pun, ia mengakui bahwa ia menganggap dirinya sebagai seorang yang biasa-biasa saja. Frank Slazak namanya, 25 tahun.

Namun, ada satu value dalam dirinya yang membuatnya selalu lebih hidup. Ia selalu percaya akan kekuatan mimpi-mimpinya. Ia selalu meyakini bahwa mimpi tersebut akan tercapai pada suatu waktu. Slazak memimpikan bahwa suatu ketika ia akan menjadi salah seorang yang dapat pergi ke luar angkasa, sama seperti astronot idolanya yang dikenalnya melalui surat kabar, kala itu. Ia selalu membayangkan, bagaimana jika seandainya suatu saat dialah yang berada di dalam sebuah kapsul dan akan menjalani misi penjelajahan ke luar angkasa.

Sampai suatu waktu, AS akan mengadakan misi peluncuran roket ke angkasa yang pertama, yaitu Challenger. Presiden AS kala itu (yang juga artis), Ronald Reagan, memberi mandat kepada NASA untuk membuka rekrutmen kepada seorang warga sipil yang ingin merasakan perjalanan ke luar angkasa. Syaratnya hanya dua, warga biasa dan berprofesi sebagai seorang guru.

Tanpa ba-bi-bu, tentu saja Slazak segera mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi itu, karena ia memenuhi persyaratan tersebut. Ia bahkan bersedia mengorbankan jam tidurnya hanya untuk mengisi 25 halaman formulir yang disodorkan oleh NASA. Pun demikian juga menuliskan surat motivation letter yang harus menggambarkan seberapa besar keinginannya pergi ke luar angkasa.

Ia berharap cemas, apakah dia berhasil mengejar apa yang dicita-citakannya selama ini? Apakah guru lain di luar sana juga memiliki minat yang sama seperti dirinya? Bagaimana peluangnya terhadap kesempatan tersebut? Ia hanya bisa pasrah, dan yakin kalau dirinya telah melakukan hal yang benar dengan tak melewatkan kesempatan.

Dan ternyata, ada sekitar 43.000 lamaran yang masuk kantor NASA. Perlu waktu beberapa minggu bagi NASA untuk menyeleksinya menjadi 11.000 saja. Slazak pun tak bisa tidur dengan nyenyak hingga hari pengumuman tiba. Lalu apa hasilnya? Doanya dikabulkan!! Ia termasuk ke dalam 11.000 berkas terpilih yang lolos ke seleksi selanjutnya.

Lalu, dari 11.000 berkas tersebut, terpilihlah sebuah grup elite yang hanya terdiri dari 100 orang lelaki dan perempuan, termasuk dirinya. 100 orang terpilih ini kemudian menjalani pelatihan di Kennedy Space Center, tempat pelatihan untuk menjadi seorang astronot. Dari 100 orang tersebut, nantinya hanya akan dipilih satu orang saja yang dapat merasakan pengalaman terbang menjelajah angkasa luar bersama Scobee cs, para astronot terpilih NASA.

Keberhasilan Slazak menjadi 100 orang terpilih ini membuatnya lebih percaya diri dan yakin bahwa ialah satu-satunya yang akan terpilih. Berbagai dukungan dari teman, keluarga, bahkan juga muridnya, tak henti-hentinya ia terima. Ia sadar bahwa ia tak hanya memperjuangkan mimpinya, namun juga memperjuangkan harapan orang-orang terdekat yang telah mendukungnya. Ia tak mau mengecewakan mereka. Ia juga tak sabar untuk menantikan kapan hari pengumuman itu tiba.

Hingga akhirnya, tiba juga hari yang ia tunggu, yang ternyata hasilnya sangat mengecewakan baginya. Ia bukanlah guru yang dipilih NASA! Guru terpilih itu adalah Christa McAuliffe dari New Hampshire.

Slazak pun mengalami depresi, marah, kecewa, beragam pertanyaan menghantui pikirannya. Ia merasa bahwa hidup sangatlah kejam. Ia tak tahu bagaimana ia harus menaruh muka di hadapan keluarga dan temannya. Kenapa mimpinya harus pupus ketika ia hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapainya?

Namun demikian, ia pun tetap datang pada acara dimana ia akan menguburkan impiannya. Ya, di siang yang cerah, 28 Januari 1986, dimana pesawat ulang-alik Challenger akan diluncurkan ke luar angkasa. Keenam astronot NASA dan juga Christa McAuliffe, sang guru terpilih telah bersiap. Ia pun tengah berusaha ikhlas dengan memandang impiannya berlalu begitu saja, di depan matanya sendiri. Dalam hatinya, ia masih meyakini bahwa seharusnya dialah yang berada di dalam pesawat itu saat ini. Tapi keyakinan itu tak lama, hanya beberapa detik saja setelah pukul 11.31 am waktu setempat.

Ia pun tersadar, ia pun baru merasa sangat beruntung, sangat beruntung karena ia tidak terpilih. Kejadian itu menghapus semua keraguannya dan menghapus semua pertanyaan dan penyebab mengapa ia tidak terpilih. Challenger meledak 73 detik setelah diluncurkan, ketika semua penonton dan televisi masih mengelu-elukan. Juga ketika riuhnya tepuk tangan masih bisa terdengar. Meledaknya Challenger menewaskan semua penumpang, termasuk sang guru dari New Hampshire.

Peristiwa itu membuatnya yakin bahwa pasti ada sebuah alasan dibalik sebuah peristiwa atau keputusan. Akan selalu ada alasan lain tentang kehadiran seseorang di atas muka bumi ini. Seseorang memiliki misi pribadi di dalam hidup. Slazak percaya bahwa sebenarnya ia menang karena dia telah kalah. Kini ia menjadi seorang motivator, berkelana ke berbagai benua, untuk membantu orang-orang yang mengalami depresi karena pernah gagal.

Ah, dan saya juga mencoba begitu. Seperti Slazak. Berusaha untuk tetap menemukan kekuatan di tengah berbagai tantangan hidup. Hidup itu seperti labirin. Kadang susah, senang, gagal, atau apapun, semua pasti terjadi karena sebuah alasan. Dan saya juga tidak pernah percaya yang namanya kebetulan. Tidak percaya dan tidak akan pernah percaya.

Semoga, saya, kita, Anda, akan mampu menjalani hidup dengan melanjutkan kebaikan yang mendatangkan ilham. Dimana ilham tersebut dihasilkan dari sesuatu yang semula tampak seperti kegagalan.


Bahwa suatu saat, mungkin ada kalanya, kita perlu bersyukur bahwa doa kita tidak dikabulkan. Akan selalu ada harapan baru yang menunggu di depan. Semoga ke depannya, kita bisa menjadi manusia yang senantiasa lebih sabar dan menganggap bahwa kegagalan adalah teman, namun hanya perlu dijinakkan!


Selamat berkarya.


Baut yang Menopang Pesawatmu

Waktu kecil dulu, seringkali aku dan teman-teman bermain tebak-tebakan berbagai hal dari mulai yang bermutu sampai yang tidak. Aku tahu, mungkin waktu itu, kami semua menganggapnya hanya sebagai sebuah lelucon sambil lalu. Pertanyaan demi pertanyaan adalah bahan bakar dan bumbu tertawa yang lebih keras. Pertanyaan yang kami anggap jayus seperti,”Apa yang paling kuat dari sebuah pesawat?” yang ternyata jawabannya adalah Mur/Baut, hampir selalu menjadi bahan lelucon ‘nerd’ kami ketika itu.

And you know, seiring waktu berjalan, itu adalah pertanyaan yang cukup menggelitik bagiku kini. Tentu saja,  Habibie pun tahu bahwa pesawat akan berbentuk dengan sempurna apabila ada mur dan baut yang kuat menopang dan merekatkannya. Tujuannya? Simpel saja, tujuannya adalah agar antar bagian pesawat dapat saling terhubung, berkesinambungan, merekat. Menjadi satu. Intinya, bagian-bagian itu dapat menciptakan sebuah pengalaman baru: TERBANG!

Baut-baut itu pun yang nantinya mungkin akan mengeras, berkarat, dan akhirnya aus, rusak. Tapi baut akan rusak  setelah ia berhasil membawa banyak manfaat, mempersatukan, dan membawa terbang ribuan jiwa yang mungkin juga memiliki tujuan yang mulia.

Filosofi baut dan pesawat mungkin sangat-sangat sederhana, sesederhana bagaimana rel-rel kereta yang menyatu satu dengan lainnya untuk memudahkan aksesibilitas kereta api yang lewat di atasnya. Tapi ini lain, i mean, aku berbicara tentang terbang –ke tempat yang lebih tinggi- , bergerak mendekati sebuah manfaat dan tujuan., yang menggantung tinggi di atas sana.

Tidak ada yang pernah salah untuk sebuah tujuan dan visi baru. Sekalipun sebuah pesawat harus berbelok arah dan akhirnya memilih jalur baru demi terciptanya tujuan baru itu, itu sah-sah saja. Bahkan mungkin, sang pilot harus menginstruksikan untuk mengganti beberapa baut dengan baut lain, yang dianggap bisa membawa terbang dengan lebih tinggi. Baut-baut yang lama juga tidak lantas dibuangnya, melainkan akan digunakannya lagi di penerbangannya yang lain, dengan pesawat berbeda yang lebih pas menggunakan baut tersebut.

Tapi percayalah, penggantian baut-baut itu bukanlah untuk mengeliminasi atau menyisihkan salah satu atau beberapa baut. Tujuannya tetap sama : Terbang! Bahkan Mungkin lebih tinggi!

Jadilah seperti baut. Ia akan menguatkan, mempersatukan, hingga akhirnya berkarat, kemudian ia mungkin akan tergantikan. Tapi ketahuilah, dalam kepercayaanku, kita akan terus hidup asal terus memupuk mimpi-mimpi baru.

Jika memang pesawat lamamu telah mengijinkanmu berkelana ke tempat yang baru, maka berkelanalah. Ijinlah raga dan pikiran mengeksplorasi panorama dan semangat baru yang mungkin saja timbul dari hal yang sangat sederhana di tempat barumu. Yakini saja, bahwa sebenarnya, sebuah baut adalah penguat. Ia mampu merekatkan, setia pada tempatnya, dan berusaha untuk menjaga stabilisasi selama masa terbang. Ia mampu menyatukan, menjadi sebuah benda kecil yang sukses mengantarkan ribuan bahkan jutaan jiwa, terbang ke tempat lebih tinggi.

Kita sudah sejauh ini, kawan. Kita sudah cukup berhasil.

Karena kini kita sudah bisa terbang. Hanya harus terbang lebih tinggi lagi.

On my rooftop. Yogyakarta, Dec 19th, 2013. 10.22 pm

*Aku tahu bahwa nanti, saatnya akan datang, entah cepat atau lambat. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Pada akhirnya akan ada yang benar-benar pergi mencari pesawat-pesawat lain di luar sana. Seperti kukatakan sebelumnya, tetaplah berkelana, temukan bandaramu, hinggaplah, berilah manfaat, lalu kemudian pergi lagi. Berkelanalah lagi, cari bandara barumu. Engkau akan menjelajahi puluhan bahkan ratusan runaway pun taxiway. Ini hanya sementara, even bullshities-nya, hanya soal waktu. Suatu saat nanti, pasti beberapa akan benar-benar pergi, mungkin dalam urusan yang lainnya.
Tapi catatlah, bahwa ketika aku mengatakan bahwa aku ingin pergi, pahamilah bahwa sebenarnya aku tidak benar-benar pergi.... aku akan tetap jadi salah satu baut....yang akan tetap menopang pesawatmu.

Masih Ada Negeri yang Lain

“Maaf belum sempat gabung nih, akhir-akhir ini masih banyak urusan,” isi message darinya kala itu. Well, kala itu, aku dan dia berada di dalam sebuah kelompok yang sama sesuai dengan cluster kepulauan dan ditugaskan untuk membuat suatu presentasi kelompok. Kami dipertemukan dalam sebuah kesempatan program pertukaran pemuda ke negeri Jiran.
 
 Ah, aku tahu. Pertemuan kami sudah digariskan, pertemuan kami sudah ada di buku kehidupan. Entah apa yang saat itu ada di benak saya ketika pertama kami bertemu dengannya, 19 Agustus 2013.  Dan aku tidak pernah tahu, ada rencana apa universe mempertemukan kami.

Dengan senyum dan mimik mukanya yang khas, dia menyapa dan menggeret kursi lalu duduk satu meja dengan saya. Sembari makan, kami pun bercerita tentang Jakarta. Tentang bagaimana dia menghabiskan waktu bermainnya di ibukota, tentang petualangan dan cerita-ceritanya sewaktu mengembara. Juga tentang bagaimana pemerintah kota Jakarta membangun kawasan Menteng, kawasan dimana dia tinggal dan kawasan dimana aku sering berkunjung ke handai taulan.

Masih teringat jelas, bagaimana dia dengan ketelatenannya selalu menjaga suvenir-suvenir kenegaraan yang menjadi tugasku. Dia juga lah yang selalu bongkar-muat suvenir dan setia membawanya dari satu pesawat ke pesawat lain. Dia selalu memastikan agar semuanya terbawa, tidak boleh ada yang tertinggal. Memang, sebagai divisi logistik, dia memiliki job desc untuk memastikan semua barang tidak tertinggal.

Kini aku tidak tahu, cerita apa saja yang pernah kita lewati bersama. Hingga akhirnya berpisah di bandara Soetta pada 5 September 2013. Aku termasuk salah satu yang mendapat jadwal penerbangan terakhir. Hanya tersisa aku dan beberapa orang, termasuk dirinya. Dia pun berpesan sesaat sebelum pesawatku berangkat, agar terus memberi kabar, dia pun mengatakan bahwa dia ingin mampir ke tanah kelahiranku, Yogyakarta, dan mengatakan bahwa dia sangat menginginkannya. Aku pun mengiyakan dan mengatakan akan menunggunya.

Sebulan telah berjalan, hingga akhirnya dua bulan pun berlalu. Kota kelahiranku sudah menunggu, lama, mungkin terlalu lama. Namun sosoknya juga tak segera kujumpai di kotaku. Dan ternyata aku memang tak punya kesempatan lagi.......untuk menjumpainya. Dia sudah memilih kotanya yang lain. Kota yang lebih bagus dan lebih damai dari Yogyakarta.

Dengannya, aku pernah menyanyikan bersama-sama, lagu konyol  yang kami ciptakan bersama teman lainnya untuk cluster kami selama program. Pun pernah dengan bangga, mempersembahkan lagu nasional di negeri orang. Kami juga pernah, memakai baju kebesaran yang sama, dengan logo burung Garuda di kepala. Bersama-sama membawa nama negeri ini di pundak dan mengibarkan keharumannya di dalam sanubari.

Terima kasih, Hamsy Ishak.....

Untuk semua cerita-cerita membanggakan dalam sebuah perkenalan singkat. Untuk semua kerepotan dan tanggung jawabmu selama program. Untuk semua kerja sama dan semangatmu yang telah kau tularkan. Miniatur Tugu Monas dan bolpen bertuliskan ‘Jakarta’ darimu akan selalu aku simpan. Cerita-ceritamu akan selalu aku ukir, sampai kemudian nanti waktu beranjak pergi.

Aku tak pernah mengerti rencana Tuhan. Tapi yakini saja, bahwa rencanaNya selalu baik. Kenangan bersamamu akan terpatri. Dan lalu aku kan ceritakan pada anak cucuku nanti. Tentang seorang sepertimu yang pernah kukenal walau sekejap.

Bendera Merah Putih masih jadi milikmu, kawan. Percayalah! Kamu telah pergi membawa nama bangsa. Kami kirimkan doa dari planet ini bersama dengan sayup-sayup dendang lagu Indonesia Raya yang pernah kita nyanyikan bersama di satu panggung. Kamu telah pergi diiringi dengan kicauan burung di Bromo, sepoi angin di bandara KL yang menyambut kedatangan kita waktu itu. Juga iringan dari sendunya embun basah dan tawa anak-anak di Sri Ledang. Semua akan merindukanmu. Semesta akan mengingatmu dalam semua musimnya. Indonesia akan bangga, karena kamu adalah salah satu sirine perjuangan baru.

Selamat jalan bang. I dont want to say goodbye. Good bye may seem forever. Farewell is like the end, but in my heart is the memory and there you will always be. I believe that's good bye one of the bullshitiest words ever invented. It's not like you're given the choice to say bad-bye, or awful-bye, or couldn't-care-less-about-you-bye. Everytime you leave, it's supposed to be a good one.

Our souls are connected. Maybe they always have been and will be. Maybe we've lived a thousand lives before this one and in each of them we've found each other. And maybe each time, we've been forced apart for the same reasons. That means that this goodbye is both a goodbye for the past ten thousand years and a prelude to what will come.



Hamsy Ishak.
Sampai jumpa di negeri yang lain.