![]() |
| via Behance.net/angelstanich |
Kepada seorang lelaki yang seringkali mengkhawatirkanku di setiap lewat jam 22.00 wib. Dialah lelaki yang selalu duduk di sofa sudut ruang tamu karena cemas aku belum berada di rumah. Kepada lelaki yang seringkali membuatkan sarapan kecil untuk kubawa pergi keluar rumah. Mencoba memastikan aku tak akan sakit maag hanya karena tak bisa mengatur pola makan.
Dialah jugalah yang selalu menyemir sepatuku waktu aku masih menjadi seorang perempuan kecil yang tak bisa lepas dari bantal usang berwarna biru dan merah jingga. Saat menjadi seorang perempuan kecil, ceriwis, yang menyebalkan dan manja.
Ah. Ternyata dia jugalah yang selalu menjanjikanku beragam macam hadiah jikalau aku bisa meraih juara pertama saat di bangku SD hingga SMP. Pun mengajariku bagaimana caranya memasukkan kopling dan tancap gas dengan benar dengan mobil kesayangannya. Dia yang selalu bercerita, tentang masa kecilnya yang bandel dan tak takut kepada siapapun.
Bapak.
Sayup nyanyian sederhana yang pernah kau lantunkan saat aku masih berusia muda, tampaknya masih membekas di telinga. Senyum ceria dengan tawa terbahakmu di pantai Kuta saat kau masih di pertengahan 30-an, masih selalu kuingat hingga sekarang. Dan dalam sebuah diam, kau selalu bicara. Seolah kau tak mau melewatkan semua prosesku menuju dewasa.
Mungkin tak hanya pagi yang menawarkan ceritanya. Kau pun bergitu, pak. Kau selalu berkata, bahwa setiap hari adalah sebuah semangat baru. Cerita lama boleh hilang, tapi sebuah keyakinan akan harapan, tak boleh kulupakan.
Hingga mungkin kini pagimu itu telah berganti petang, percayalah... semangat pagimu akan terbawa lagi sampai hari berganti. Putihnya rambutmu seolah akan mengungkapkan, semua kesederhanaan atas sebuah perjalanan panjang yang telah kau lalui.
Bapak.
Mungkin aku selalu beradu argumen denganmu dalam beberapa hal. Keras kepala dan perfeksionis yang ada di diri ini tampaknya pernah menggoresmu dalam sebuah suasana. Juga soal keyakinanku tak ingin menikah muda sempat melenyapkan impianmu untuk menimang cucu dan memamerkannya pada kolega bisnismu sesegera mungkin.
Tapi percayalah, pak. Waktunya akan tiba. Aku tak ingin menjanjikannya pun meramalkannya. Tapi serahkan padaku soal kehidupan. Juga soal bagaimana aku memutuskan akan membina sebuah keluarga.
Suatu saat akan ada seorang lelaki, seperti yang kau idealkan, dan seperti yang aku butuhkan. Aku tahu persis dia seperti apa yang aku butuhkan. Seorang lelaki yang tentunya harus kuat dan pekerja keras sepertimu. Karena kau kan tahu, aku sangat tidak suka mereka yang lembek dan seolah tak mau berjuang bahkan untuk dirinya sendiri.
Dia yang akan menggantikanmu menjaga dan meyakinkanku bahwa harapan akan kebaikan akan selalu ada. Dia akan bersedia, membantuku untuk melompat lebih tinggi, dari apa yang aku bisa sekarang. Yakinlah bahwa pilihanku itu tidak akan pernah mengecewakanmu. Karena kau tahu kan, aku selalu memegang janji?
Bapak.
Sepuluh tahun lalu mungkin aku belum mengenal high heels, stiletto, atau gincu bermerek Lancome. Make up-ku pun hanya sebuah senyum lebar atas candamu dalam hangatnya sebuah acara keluarga. Kini, aku perempuan kecilmu yang dulu sangat suka balap sepeda itu, telah sedikit demi sedikit berubah menjadi seorang gadis yang akrab dengan benda-benda tersebut. Namun percayalah. Bahwa itu hanyalah tampilan luarku saja.
Dalam hati ini, aku masih selalu kecil. Aku hanyalah seorang perempuan yang masih saja senang, saat membuka album foto dan melihat senyummu yang lebar di pantai Kuta. Aku yang selalu mengendap saat pulang malam, selalu tersenyum senang ketika aku tahu kau ketiduran di sofa karena menungguku.
Kau juga masih bercerita tentang apapun denganku. Namun bukan lagi tentang kenakalanmu saat kecil dulu. Kini kau kadang berkata padaku soal teman kantormu, klien atau orang kantormu yang menyebalkan. Yang terkadang menyebabkanmu harus bekerja dua kali lipat lebih keras untuk mem-back-up semuanya. Temanmu yang lempar tanggung jawab, dan kaulah yang kemudian harus menyelesaikannya. Sudahlah, pak.
Bukankah kau pernah bilang, jangan pernah mengukur sesuatu dari keringat yang telah kamu jatuhkan. Tapi pandanglah sebagai sebuah dedikasi atas profesimu. Kamu akan lebih pintar dan menguasai hal itu daripada yang lain. Kamu akan jadi bintang, yang walau sinarnya redup di mata orang lain, tapi kamu telah menghidupkan sinar untuk dirimu sendiri. Dedikasimu akan berujung pada sebuah kebaikan yang jauh lebih baik. Kau tahu itu.
Ingat saja dulu, saat keluarga kita terpuruk. Tak pernah sedikitpun kau mengeluh. Kau hanya yakin, bahwa semuanya baik-baik saja. Kau sangat yakin bahwa keterpurukan itu terjadi karena kurangnya kerja keras dan memang jatah kita untuk mencoba hidup dalam sisi yang lain.
Ingat tidak saat ibu berkata dan meminta maaf padaku karena uang jajanku harus dipotong? Ingat tidak saat beliau dengan iba memberikanku dua ribu rupiah untuk uang jajan dan transportasiku selama satu hari?
Kita hebat ya, pak? Kita berhasil melewati masa-masa itu. Dan aku tak pernah menyesal sama sekali,pak! Terima kasih karena aku berkesempatan melaluinya. Percaya atau tidak, kekuatan dan kemahiranku soal hidup meningkat drastis karena kita pernah terpuruk.
Aku jadi semakin tahu, untuk menjadi lebih hebat itu harus ada sebuah proses jatuh bangun. Untuk menjadi luar biasa, harus ada deras air mata dan ratusan malam yang berganti pagi dengan dibungkus kecemasan karena tak tahu besok harus membeli makan dengan apa. Tapi, aku bangga!
Bapak.
Seringkali ibu berkata dan menceritakan kepadaku soal harapan-harapanmu. Beliau memberi tahuku soal bagaimana kau selalu mencemaskan umurku yang semakin bertambah dan juga pekerjaanku. Ibu terkadang memberitahuku bahwa kadang kau selalu menebak apakah gajiku sekarang sudah bisa mengkover semua kebutuhan dan keinginanku.
Lalu kau pun menyarankan pada ibu, agar aku berkarir dengan lebih baik. Sebelum masa tuaku datang dan produktivitasku menurun. Sebelum aku tak kuat lagi menaiki tangga-tangga mimpi yang baru dan lebih berat.
Bapak.
Jangan pernah khawatir soal gaji dan pemenuhan kebutuhanku. Aku bisa membagi dan memprediksi semuanya. Tenang saja. Seperti yang kau bilang, akan selalu ada harapan di semua suasana. Jika suatu ketika, aku akan pergi dari sini. yakinlah bahwa sebenarnya aku tak akab benar-benar pergi.
Tentang perkataanku soal mimpi, aku akan tetap mengejarnya. Mungkin meninggalkanmu sesaat di sini bersama ibu. Tapi bukan selamanya. Aku tetap akan mengejarnya karena aku menghormatinya. Satu-satunya alasan kenapa kita perlu memperjuangkan mimpi adalah karena kita harus menghormatinya. Ia seperti janji, yang seyogyianya memang harus ditepati.
Bapak.
Pada sebuah kenyataan yang mengharuskan kita tunduk oleh sebuah siklus kehidupan, maka mungkin saja kita tak bisa mengelak. Hidup akan berjalan seperti biasa. Setiap jengkal prosesnya adalah sebuah sejarah. Dua puluh lima tahun sudah, nafas ini meninggalkan jejak dan cerita bersamamu. Dari pagi hingga pagi lagi.
Jangan pernah lagi menanyaiku kenapa aku tak seperti temanku lainnya yang menikah muda. Setiap orang memiliki keputusan dan pilihan di dalam hidup. Pun aku. Yakinlah, seperti yang telah aku bilang sebelumnya, aku akan menemukannya, sosok menantu yang juga akan bisa membantuku menjagaku di masa tuamu.
Jangan pernah meragukan kesetiaanku akan keluarga. Meskipun aku tak akan pernah menjadi anak yang benar-benar baik dan patuh, aku tetap akan menjadikan kau dan keluarga sebagai bagian terbaik dalam hidupku. Sebagai sebuah bagian yang selalu mendorongku untuk bisa lebih jauh mengalahkan limit.
Oh ya, pak. Suatu saat nanti, pasti kau juga akan menimang buah hatiku. Bapak, mau enggak berhenti merokok? Aku hanya tidak ingin, saat anakku lahir nanti, kau tak bisa turut berbahagia dan menggendongnya karena kau mulai sakit-sakitan karena efek rokok. Bapak enggak mau hal itu terjadi, kan?
Aku mau bapak menggendong anakku dengan suka cita. Dengan seulas senyum dan kondisi kesehatan yang sangat baik.
Aku ingin nanti, ketika di pelaminan, bapak masih tampak segar dan bugar. Tak seperti seorang yang tampak redup karena telah teracuni efek rokok. Aku cuma mau itu, pak. Cuma itu saja. Semoga doaku di sepertiga malam dikabulkan. Bapak akan berhenti merokok. Selamanya.
Mau kan, pak?
Karena sesungguhnya aku lebih cemas akan kesehatanmu daripada dengan kesendirianku di malam minggu.
Yogyakarta, 8 November 2014
