Tuesday, October 30, 2012

Bagian Yang Hilang....


Sudah malam lagi. Dan saya masih terjaga saja disini. Ya disini. Duduk di peraduan tempat saya mencari sunyi, yang terkadang sunyi itu terlambat datang bersama gema adzan subuh. Tapi saya punya sunyi sendiri, seperti sayup – sayup suara burung kenari yang terbang rendah tanpa membangunkan petani. Waaah.. seandainya saya bisa belajar sunyi dari bapak itu, dari bapak blengur yang sedang gundah dan sunyi. 

Ooops. . tunggu dulu,ini sebenarnya kelanjutan cerita saya sebelumnya tentang Blengur dan bapaknya.  Yaaaah, kini jiwa rapuh sang bapakmasih dipaksa berjuang menatap dan merasakan getir aspal dan hembusan angin kering kerontang.  Sorot matanya berbeda dan menyimpan sebuah pertanyaan yang kelak tak akan mungkin terjawab. Matanya terus menerawang, menyiratkan rasa pasrah dan harapan yang sirna. Sunyi. Seperti sunyi yang saya cari. 

Tak ada gunanya lagi menjalani hari. Jiwanya seolah tak sekuat dulu, yang berani menghadang sombongnya tatapan dunia. Juga raganya yang tak seampuh dulu menerpa panasnya jalanan ketika matahari terik, sampai puluhan kilo tanpa alas kaki. Atau sorot mata tuanya yang lebih hebat dari kecepatan cahaya. Ototnya tak lagi seperti martil yang dibakar api panas menyeruak. Ia loyo. Hanya otot yang berupa gumpalan serat – serat yang terlalu banyak menyimpan panjangnya memori kehidupan berharga. Pikirnya lumpuh, tak ada lagi angan – angan dan bayangan akan cita – citanya.

Kini ia hanya seorang manusia yang sedang mencari ketenangan. Mungkin juga....mencari suatu cinta dan sosok baru. Si bapak terus saja berjalan. Sesekali ia menoleh ke kanan kiri dan lalu tertawa. Kemudian sepi lagi atau bahkan tanpa henti. Seperti sore ini, ketika saya bertemu di suatu sudut jalan berkelok.  Dan yang jelas, ia akan terus berjalan. Entah kemana dan takkan berhenti. Mungkin sampai ia menemukan bagian yang hilang dari dirinya. Namun sayangnya, bagian itu tak akan pernah kembali. Sebab anak semata wayang yang selalu berada disisinya baru saja mati. Mati. Bukan hanya meninggal. Tapi benar – benar mati. Tak bernyawa, rusak, aus, tak ada lagi hartanya yang berharga. 

Dalam pikirnya, ia menyalahkan hidup. Mungkin. Atau bisa saja menyalahkan takdir yang bergerak terlalu cepat dibanding perkiraannya. Tak akan ada lagi gelak tawa, yang ada hanya ia harus menghadapi hidup ini sendiri. Sang bapak lalu hanya bisa sendiri dalam sunyinya.  Karena anaknya, si Blengur, sudah mati.

Masih dibawah langitku, October 29th, 2012. 23.53 pm.
_ Dengan sisa2 hari senin menjelang selasa_
Tulisan ini hanya tera, bagi jiwa yang dibawa pergi dari bumi.
Untuk blengur, yang telah lenyap bersama tegukan terakhir jus wortel saya.

Tuesday, January 31, 2012

Helping is Happiness

Sudah malam. Ikan juga sudah bobok. Hanya saya saja yang masih menteleng mata, yah..alergi tidur seperti biasa. Kealergian tidur saya terkadang justru membuat saya menjadi lebih waras. Lebih waras untuk bisa menyadari bahwa kebahagiaan hidup di dunia ini kadang justru terjadi dari hal – hal yang tak terduga. Itu bagi saya sih. Seperti judul note ini, happy is happiness. Bahwa menolong bisamenjadikan kita bahagia. Yah, ini sedikit share saja tentang menolong.

Mungkin saya sendiri masih buta atau baru saja kenalan dengan apa itu kehebatan menolong. Bukan melebih-lebihkan. Sebab, menolong itu sendiri kata yang luar biasa manfaatnya bagi saya.  Menolong itu investasi yang tidak terkira.
Bisa memberi manfaat dan pertolongan bagi orang lain yang belum dikenal sekalipun adalah kebahagiaan.  Saya tidak mau menggurui, karena menolong itu kan dari hati.

Tapi, kan alangkah baiknya, bila ada seseorang yang meminta tolong pada kita, kita bisa mengusahakan secara maksimal apa yang kita bisa, apa yang bisa diusahakan, atau apa yang sekiranya bisa membuat seseorang itu teringankan bebannya. Membuatnya bisa tersenyum dan mengucapkan kata maha dahsyat itu ; Terima Kasih. Walau sebenarnya menolong bukan berharap mendapatkan kata dahsyat tersebut, melainkan lebih untuk kepuasan hati dan juga merasa senang bila dapat membantu seseorang keluar dari permasalahannya.

Apa susahnya sih, bila ada yang meminta tolong pada kita, kita coba membantu sebisa kita, atau bahkan membantu di luar yang kita bisa bila kita mau. Misalnya saja, ada seseorang meminta tolong untuk melakukan sesuatu, namun kita tidak bisa. Bagi saya, jangan hanya berkata bahwa kita tidak bisa, tapi membantu mencarikan alternatif pertolongan lain, misalnya mencarikan orang lain, cara lain, atau sebagainya yang sifatnya bisa membantu menyelesaikan masalah orang itu. Pokoknya menyenangkan.

Percayalah, menolong adalah investasi luar biasa unuk kehidupan. Penjamin kebahagiaan. Dan perekat persaudaraan. Lebih luar biasanya lagi kita bisa menolong di tengah keterbatasan yang kita miliki. Jika kita ikhlas memberikan pertolongan dengan mengorbankan apa yang sebenarnya sangat kita butuhkan, saat itulah mungkin kita merasa menjadi orang yang paling beruntung dan bahagia di dunia. Helping is Happiness.

Menolonglah selagi bisa. Menolonglah selagi ada yang membutuhkan bantuan. Because, you don’t have to be perfect to share and helping other people. Dan jangan harap jasa kita dikembalikan. Karena, pasti kembali. Entah bagaimana caranya. Karena Tuhan selalu tahu, namun Dia menunggu. Dan kita tidak akan mungkin pernah rugi bila kita menolong.


Tidak akan pernah.

Yogyakarta, 12 Januari 2011
Di atas atap rumah dengan hamparan langit yang gelap. Seorang perempuan yang mungkin sangat sok tahu tentang pertolongan.

See you agaiiiinn,, sooonn.. :)

Phra Artit yang masih mempesona. Barusan saya melihatnyadi salah satu stasiun tv lokal tanah air. Ternyata jalanan itu tidak berubah, masih sama seperti delapan bulan lalu. Masih dihias dengan bendera negara gajah putih yang dikaitkan di kawat – kawat yang berjejer merambat. Menghiasi hampir sepanjang  jalan yang kanan kirinya dipenuhi warung makanan khas Thai dengan bumbunya yang merupakan perpaduan antara asam dan manis. Diberitakan juga bahwa jalanan itu tampak lengang, tidak terlalu banyak wisatawan yang berlalu lalang. Banyak warga yang melakukan aktifitas harian biasa, menjaga toko, atau sekadar bercakap – cakap. Namun, yah, setidaknya, yang cukup bisa membuat saya tersenyum, adalah jalanan itu tidak terkena banjir. Maklum saja, bencana banjir Thailand baru – baru ini termasuk yang cukup parah semenjak 50 tahun terakhir.

Entah kenapa kok pikiran saya melanglang jauh kesana. Bisa – bisanya ditengah kejenuhan membaca 120 lembar yang akan saya pertanggungjawabkan besok Selasa (baca : naskah hitam putih), saya justru berangan – angan untuk kembali kesana. Ah, anggap saja ini sebagai motivasi, untuk cepat lulus dan merancang perjalanan gila, kembali kesana. J
Masih ingat saja di benak saya, jalanan tersebut memiliki salah satu sudut yang menawan, yaitu berupa benteng simbol militer kenegaraan, atau kalau disini seperti Pojok Beteng, dengan pancaran cahaya lampu kuningnya yang eksotik ketika malam. Dibelakangnya, terhampar Rama 8 Bridge yang merupakan cirri khas kota Bangkok. Ditambah dengan hamparan sungai Chao Phraya yang luas, dimana hampir setiap setengah jam sekali, ada pier/perahu yang melintasisungai, melewati bagian bawah jembatan yang menawan. Perahu ini adalah salah satu alat transportasi umum alternatif kota ini. Maklum saja, kemacetan banyak terjadi dimana saja, terutama pada jam – jam sibuk.

Huaah, padahal saya waktu itu belum puas menikmati indahnya pemandangan itu dari sudut taman, Sanchtinaphrakarn. Taman yang juga terdapat kuil berwarna kuning kecoklatan, berdiri menjulang dengan latar belakang sungai dan bunga Bougenville berwarna ungu. Sungguh suatu siang yang seksi, apalagi sambil ditemani kicauan burung dan hembusan semilir angin. Juga ketika berjalan sedikit ke utara, tercium aroma khas Pad Thai, makanan khas berupa mie goreng dengan bumbu kacang ala Thailand.

Atau bisa juga menikmati sudut kota dengan sepeda gratis, menyusuri Phra Artit sambil melihat beberapa biksu berjalan tanpa alas kaki memasuki Chanasongkram Wat di sisi sebelah selatan jalan. Juga boleh untuk sekadar  iseng memperhatikan muda – mudi  yang sedang memadu kasih sambil makan es krim di halte bis kota. Dan atau menunggu kawasan Phra Artit sampai sekitar pukul 23.00, dimana warung pinggir jalan telah disulap menjadi bar super meriah, dengan irama musik yang distel keras – keras. Begitu juga dengan klub-klub malam yang ketika siang lebih mirip seperti kios kecil tak berpenghuni, yang  siapa sangka, ketika sudah waktunya tiba, justru bisa menjelma menjadi tempat gaul  (semacam jedug – jedug in the hoy) yang ramai pengunjung.
Angan – anagn yang ngelantur ini sebaiknya mungkin saya realisasikan saja. Entah kapan. Tapi yang jelas, saya punya tekad untuk kembali lagi kesana. Bukan hanya Phra Artit. Tapi ingin sepuasnya memutari Khaosan. Siam Square, menyantap Pad Thai, mengikuti Songkhran, observasi mata mencari semacam Wong Bin, di berbagai kampus Thailand (mari semua : hahaha), mandi matahari dan pasir di Phuket dan Pattaya. Mengunjungi Wat Arun lagi, antre tiket BTS, dan ah..ah..ah……semuanya.

Tapi, sekarang saya harus menampar diri sendiri tampaknya, karena hanya 48 jam yang tersisa. Untuk menuju kebebasan. Dan tentunya, semakin dekat dengan Bangkok.
Tidak akan lebih lama lagi.


Dari Yogyakarta saja, dengan jus markisa dan leceknya naskah hitam putih di sisi kiri saya
Dec 25th, 2011