Monday, September 8, 2014

Ibukota yang Baik

Ada yang bilang kalau ibukota selalu menawarkan pesona yang menakjubkan. Ada yang bilang juga bahwa itu tak sepenuhnya benar. Kemudian menyangkal bahwa ibukota hanya ramah pada beberapa tenggok lajur kehidupan saja. Lajur kehidupan dimana banyak yang berada di dalamnya menguasai apa itu arti sebuah modernitas.

Mungkin berbeda lagi denganku. Aku dulu pernah berkata, bahwa ibukota tak pernah menawarkan ketenangan, pun juga tak akan mungkin memunculkan rasa rindu untuk kembali.

Tapi belakangan, setidaknya ibukota sudah tak terlalu jahat. Dia ternyata mampu mempersatukan. Pun juga mampu menjadi sponsor terjadinya sebuah kebersamaan dalam gelak dan rasa ingin memiliki.

Demikian sebaliknya, aku juga selalu menemukan sebuah canda. Dengan beberapa raga dari pulau dan provinsi yang berbeda. Bertemu dan bertabik akrab di ibukota, hingga telah berjalan satu tahun lamanya.

Dalam hebohnya teriakan dan rona pesta, aku mampu menemukan bayangan yang tak lagi samar. Di balik tingginya bangunan dan jalanan yang padat, dalam sebuah hari aku menemukannya. Tampak seperti menawarkan sebuah cerita yang hanya bisa dipahami oleh kita berdua. Ada sebuah cerita baru yang sebenarnya telah ada namun bersembunyi sejak setahun lalu. Ternyata rasanya masih sama. Namun, masih tetap kurang manis layaknya kopi susu tanpa gula. Masih sama dan biasa saja. Karena aku bahkan belum mengenalinya utuh. Ya. Utuh.

Ah. Sudahlah.

Penat dan panasnya ibukora sudah mampu menjelaskannya, tanpa aku perlu berkata-kata dan berdecak menjelaskan lebih banyak. Aku sudah cukup senang karena di sini aku masih bisa bercengkrama dengan teman-temanku yang hebat.

Tapiii.....di satu sisi yang lainnya, susah juga kalau tak membahas. Ehm, kalau boleh tahu, apa kamu juga merasakannya? Rasa yang sama?



Aku masih sekadar ingin tahu.



Jakarta, 5 September 2014