![]() |
| cr:vemale.com |
Sayup-sayup lagu ini menghantuiku beberapa hari ini,
'Bebek adus kali, nututi sabun wangi. Ibu mundut roti, kowe ora diparingi'
Dari lagu itu, kemudian tokoh si bebek menjadi ikon. Mulai banyak miniatur bebek lucu yang bisa dimiliki dengan harga yang murah. Bebek yang dielukan di akhir tahun 80-an oleh sebagian besar bocah. Pun aku.
Maka tak mengherankan, bebek mungil karet berwarna kuning selalu bertengger di depan kaca kamar mandi aku. Selalu menjadi teman bicara setia dan turut menemani aku berendam dalam banyaknya buih buatan.
Dalam kesehariannya, bebek kecil itu tak jarang untuk aku ajak keluar dari singgasananya dan menikmati udara segar di luar. Aku ajak dia bermain walau sejenak, berkenalan dengan mainan baby block aku yang lainnya di kamar tengah. Kala itu, bapak pun tak jarang juga turut mengajaknya berbicara. Ia seolah turut laut dalam keceriaan kami, dengan menggoyangkan tangannya memainkan si bebek, walau tentu saja si bebek diam saja.
Dalam sebuah suasana, kamu kemudian pun harus kupinjamkan kepada adik ponakanku yang datang dari seberang. Sungguh sebenarnya aku enggak rela, bek. Karena ritualku tak akan sempurna tanpa adanya kamu. Dan aku juga tak rela, kalau kemudian kamu bertugas lagi, untuk menghiburku. Aku takut kamu kelelahan dan cepat rusak, karena kamu harus menjalani peran ganda.
Oh, Bebek.
Dulu kamu menemani hari-hariku. Dari mulai pagi hingga pagi lagi. Kamu juga yang seolah menjadi alarm pengingatku bahwa aku harus segera mandi sebelum fajar bergegas pergi. Lalu.... Ah, kamu.
Sayangnya, semakin hari, kamu pun semakin tampak lapuk, dan kemudian berubah warna.
Bebek.
Hingga pada suatu hari, kamu pun harus benar-benar tak bisa bertugas lagi. Bertugas untuk menemaniku di kamar mandi. Kamu sudah mulai tak bisa kuandalkan. Senyumku sudah tak seceria dahulu saat bertemu denganmu. Kamu berbeda, bek. Kamu bebek yang sudah mulai lapuk dan tua, dimakan memori dan suasana.
Tapi tahukah kamu, bek?
Perubahanmu itu pun tentunya seiring dengan membesarnya tulang-tulangku. Meningkatnya kadar hormonku, dan berkembangnya perspektif serta pandanganku. Terutama soal hidup, bek. Soal hidup.
Dimana dunia remaja sudah mulai kujejaki. Dan kamu pun seolah tak lagi penting dan hanya sebagai sebuah benda sambi lalu.
Aku tak akan mengutuk keadaan. Pun juga berusaha untuk tetap bisa bermain riang denganmu, dalam sebuah ruang kotak tak seberapa bernama kamar mandi. Kamu pun begitu. Tampaknya kamu sadar, bahwa aku tak lagi terlalu peduli denganmu. Kamu pun semakin cuek, dan membiarkan dirimu semakin tampak usang. Kemudian kamu pun memutuskan untuk menjauh, dengan membuat dirimu tampak tak berarti dan tak lagi berfungsi dengan baik. Kamu memperjelek tampilanmu, tak lagi tampil sempurna sekalipun aku membersihkanmu dengan sabar setiap hari.
Bebekku.
Bukannya aku jahat. Tapi mungkin keadaan yang tak memungkinkanku, untuk sejenak bersama dan bermain denganmu lagi. Bapakku pun terpaksa membuatmu benar-benar menjauh dariku, teman masa kecilmu. Aku pun juga tak bisa menolaknya, bek. Dan....emmm..aku seolah tak mau mencegahnya.
Maaf. Bukannya aku lupa tentang jasamu. Bukannya aku cuek tentang semua kebaikanmu dan semua waktumu yang telah kamu berikan kepadaku. Bukan pula aku punya teman baru yang lebih baik dan lebih bersahabat dari kamu. Tidak!
Tapi....aku sadar, bahwa semuanya pasti akan berubah, bek. Masa remajaku saat itu akan terus bertransformasi, hingga pada akhirnya akan menuai raga yang lebih tua. Akan berubah menjadi seorang aku yang lebih baru, yang berusaha keluar dari template jiwa yang mulai bosan. Dan menjelma menjadi aku yang kekinian, aku yang sekarang.
Aku yakin. Bahwa memang pada saatnya aku harus bisa terlepas dari hasrat kanak-kanakku. Namun tidak untuk melupakan memorinya. Ingat. Tidak untuk melupakannya! Kamu selalu ada di memoriku. Kamu menjadi garis merah bahwa masa kecilku benar-benar bahagia. Kamulah saksinya, bek. Kamu!
Dan pagi itu aku menyaksikan pandanganmu yang terakhir dari atas bak truk menuju ke tempatmu yang terakhir. Sekali lagi, maaf ya bek. Mungkin aku bisa untuk menggantimu dengan bebek yang lain, yang persis, dan sama baiknya dengan kamu. Tapi........ sepertinya aku akan memilih untuk menjadi lebih dewasa. Aku tetap bisa menyayangimu, walau tak lagi menjamahmu dan mengajakmu bermain bersama dengan air sisa sari mandiku.
Bebek.
Di detik ini, aku kembali mengingatmu. Bukan lagi di dimensi kanak-kanakku. Tapi dimensi lain pada sebuah masa dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan berbekal pengalaman yang telahkupunya, lalu ditambah dengan sedikit bumbu keyakinan, aku yakin bahwa kamu –yang kini entah dimana— akan tetap berbahagia untuk hidupku. Tersenyum atas semua pencapaianmu, atau mungkin menebak apakah aku selalu tetap bernyanyi, walau tanpamu.
Ya bek, kamu benar. Aku tetap selalu bernyanyi walau tanpa kamu.
Makasih ya bek. Kamu adalah teman di masa kecil yang indah. Dan seperti yang sudah aku bilang, sebenarnya aku bisa untuk tetap melakukan kebiasaan yang sama bersama bebek-bebek baru yang lainnya. Tapi, aku memilih untuk menjadi lebih dewasa. Meski mungkin ada juga orang dewasa, yang tetap menjadikanmu sahabat dalam ritual mandi mereka.
Tapi maaf aku memilih tidak. Karena harus ada sebuah revolusi dalam hidup ini, bek. Kita harus memilih untuk tetap stagnan, atau berubah. Dan tidak ada yang bisa mengukur apakah keputusan yang kita lakukan sudah tepat. Silakan saja untuk merencanakan jalur mana yang akan kamu lalui. Karena hidup ini berlangsung setiap hari. Tapi matinya yang sekali.
Kamu mengerti kan, sahabatku? Baik-baik di sana ya, di tempat yang bahkan aku nggak tahu itu dimana. Satu lagi yang perlu kamu tahu bek, bahwa aku tak pernah menyesal dengan keputusanku, karena aku selalu bisa mendapatkan pelajaran berharga di baliknya. Bahwa setiap keputusan bisa mengantarkanmu pada pintu-pintu ajaib yang tidak akan pernah kamu duga. Semua itu karena bukan karena kebetulan. Karena aku tak pernah percaya akan adanya kebetulan. Nggak pernah percaya.
Selamat memilih. Selamat menemukan caramu sendiri untuk mengambil keputusan.
Selamat tahun baru. Jangan latah ya.
