Saturday, May 31, 2014

Its Time to Celebrate Life!




Iseng aku bertanya dengan mengirimkan SMS singkatku ke beberapa temanku. Aku menanyakan pertanyaan sederhana aku, 'Enaknya mimpiin apa ya?' Dan beragam jawaban muncul dari teman-temanku seperti berikut.

Witri
: “Jadi ibuk, punya modiste, dan eksiiiis XD Jujur banget ya aku 

Rendi
: “Keliling dunia mbak vin. Hehe ”

Rita
: “Mimpi terjun dr tebing 100m k laut tapi pake tali”

Adit 
: “Mimpi basah” 

Eri Karunia
:”Mimpi liburan keliling dunia”

Wahyu
: “Opo iki karepe? (Apa ini maksudnya?”) Mimpiq sederhana, cita-citaku terwujud..”

Endi
: “Kowe aku ngopo e Vin? (“Kamu kenapa Vin?”)

Galuh
: “Mimpi nikah sama mas-mas ganteeeenng”

Beberapa detik setelah membaca semua balasan dari teman-temanku, aku pun terdiam, namun kemudian tertawa.

Teman-teman tersebut cukup dekat denganku. Beberapa diantaranya tak lagi mudah untuk ditemui karena disibukkan dengan urusannya sembari berusaha meraih mimpi, salah satunya, mungkin mimpi-mimpi yang ada di atas ini. Haha. Terima kasih teman-teman. Aku jadi teringat lagi bahwa aku masih harus berjuang untuk mimpi-mimpiku juga.

Well. Kemudian aku berpikir untuk kembali menelusuri pertanyaan di hidupku dan bertanya: Mimpi apa yang belum berhasil aku wujudkan?” Aku kembali flash back pikiranku ke pertanyaan masa silam,Nak, besok kalau sudah besar, ingin bermimpi menjadi apa?'

Kini bagiku, pertanyaan itu tampak retorika. Pertanyaan yang selalu saja sama kudengarkan setiap kali aku duduk di bangku merah kecilku di dalam ruang kelas waktu taman kanak-kanak dulu. Pun demikian halnya dalam lagu yang dibawakan oleh Ria Enes bersama boneka kesayangannya, Susan. Hampir selalu begitu. Seperti itu.

Saat itu, jawabanku sederhana saja. Aku bermimpi ingin menjadi astronot dan nggak ngompol lagi. Iya benar, saat TK aku adalah tukang ngompol. Aku juga ingin menjadi astronot karena sering melihat doraemon yang sering pergi ke luar angkasa hanya dengan pintu kemana saja. Sepertinya itu semua menyenangkan. Itu saja.Simpel 'kan?


Dan mungkin sejak saat itulah, aku mulai belajar tentang impian dan harapan, walau dalam bentuk yang paling sederhana. Hingga pada akhirnya, aku berani bermimpi lebih tinggi. Sebuah mimpi yang timbul karena saat itu ayahku selalu membelikanku kue semprong satu bulan sekali. Dimana ada gambar tentara Inggris di kaleng kemasan kue tersebut. And yeah, it was happen. Aku menyebut tempat yang aku impikan itu sebagai theabsofuckinglutely things, Inggris.


Hingga setelahnya, semakin banyak hal tentang Inggris yang ingin kuketahui. Aku sampai tak mau ketinggalan menonton Mr.Bean. Saat itu, ayahku senang sekali meminjam kaset video film Mr.Bean—dimana saat itu VCD/DVD masih belum terkenal seperti sekarang— untuk mengisi akhir pekan keluarga kami. Pun juga dengan serial James Bond jaman Timothy Dalton sudah kutonton di usiaku yang bisa dikatakan belum cukup umur pada saat itu. Haha.

Aku sudah bisa menyetel video sendiri, sehingga aku dengan mudahnya memencet tombol rewind sesuka hati untuk mengulang adegan tertentu di film Mr.Bean, misalnya scene pedesaan atau tentang prajurit Inggris. Saat itu di pikiran masa kecilku, aku merasa terhibur dengan suguhan pemandangan di pedesaan Inggris dan berbagai hal lain yang identik dengan Inggris. Seiring berjalannya waktu, aku melihat ada sebuah pembelajaran dalam film Mr.Bean. 



Dari film tersebut, aku dapat melihat banyak hal tentang Inggris, dari mulai objek wisata, kebiasaan-kebiasaan, festival, kebudayaan, adat istiadat, dan kekayaan alam. Misalnya Sungai Thames, jam Big Ben, afternoon tea, dan bearskin, atau topi berbentuk rambut yang biasa dikenakan di prajurit Inggris. Aku juga jadi tahu, betapa rakyat Inggris tampaknya sangat menghormati Ratu mereka. Dan semua itu semakin membuatku semakin tertarik dengan negara ini.

Motivasiku ingin pergi ke Inggris semakin kuat setelah aku melihat ada bus tingkat di kota Surakarta. Saat usiaku 14 tahun, ayahku terkadang mengajakku untuk berkunjung ke sanak saudara yang tinggal di Solo. Saat melihat bis tersebut, aku jadi teringat bahwa desain bus tesebut mirip dengan yang ada di Inggris juga identik dengan bus tingkatnya yang berwarna merah atau disebut dengan Double Decker/Red Bus. Tak ketinggalan, black cab juga menjadi ikon terkemuka yang identik dengan Inggris. Well, saat itu tampaknya aku sudah memiliki jawaban jika guru di taman kanak-kanakku dulu menanyaiku hal yang sama.

Waktu yang berjalan semakin jauh membuatku sadar, bahwa keinginanku ke Inggris bukan hanya sekadar keinginan, melainkan telah berafiliasi sebagai sebuah mimpi. Aku mulai senang mendengarkan band asal Inggris seperti OASIS dan Coldplay. Oh ya, aku dulu juga sangat suka dengan A1 karena mereka sering menggunakan lokasi di sekitaran Inggris untuk syuting video klip. Video klip yang menjadi favoritku adalah Same Old Brand New You, dimana mengambil lokasi syuting di tenggara Inggris, Kent, daerah yang sangat dingin menurut penuturan sebagian orang. 




Ketika itu aku hanya mendengarkan lagu-lagu mereka melalui MP3 milikku yang merupakan kado ultah dari ayahku. Sepanjang perjalanan dari SMA menuju rumah, hampir selalu aku mendengar semua lagu dari band favoritku.

Bagiku, band-band asal Inggris memiliki kekuatan lewat lirik dan bagaimana cara mereka mengirimkan pesan lagu kepada pendengar. Atau bisa juga melalui berpesan tentang kehidupan dan cinta lewat sajak dan nada yang dimainkan oleh The Beatles dalam albumnya yang sangat kondang, Abbey Road. Aku suka. Iya, aku sangat suka bagaimana mereka mampu menghadirkan energi melalui lagu yang dibawakan. 




Seiring waktu berjalan hingga akhirnya aku mencapai titik lain di kehidupanku, aku pun mulai menyukai sepakbola asal Inggris, Chelsea Football Club. Semboyan Keep the Blues Flight Flying High (KTBFFH) selalu aku ucapkan setiap kali melihat pertandingan Chelsea, entah hasilnya menang ataupun kalah. Bagiku, Chelsea adalah klub para bintang dan hanya cocok dikomando oleh seorang yang tahan banting, seorang Jose Mourinho, The Special One.

Ah, aku selalu bermimpi, kapan ya aku bisa berfoto dengan latar Stamford Bridge? Hingga pernah semua password akun sosial mediaku adalah doa untuk ke Stamford Bridge. 




Hingga aku berburu buku biografi para pesohor sepakbola Inggris seperti Lampard dan Gerrard yang berjudul Totally Frank dan My Story. Namun demikian, aku tak pernah berhasil mendapatkannya. Sementara ini, obatku untuk lebih dekat dengan mereka adalah dengan memandangi poster, sarung bantal, dan tas ransel saja. Nah, ini dia teman-teman setiaku. :)




Tak hanya itu saja. Aku sangat suka street fashion style masyarakat Inggris. Kita seolah dapat menemukan ragam fashion yang apik hanya di setiap jalan yang kita lewati. Atau jika berbicara fashion dengan mungkin lebih tinggi lagi, aku menyukai semua desain topi bangsawan Inggris dan juga desainer Alexander McQueen! Yeah.

Aku selalu yakin bahwa mimpi itu adalah sebuah bunga liar. Ia selalu indah, namun perlu sebuah usaha berupa tekad, keringat, dan niat sepenuh hati untuk mendapatkannya. Kalau kata ahli: Jika belum ada seseorang yang menertawakan mimpimu, itu berarti mimpimu belum terlalu liar! Benar tidak? :)

Aku setuju. Aku percaya mimpi adalah poros dan berfungsi sebagai motivasi agar manusia merasa lebih hidup. Dari kecil orang tuaku mengajarkanku untuk menjadi seseorang yang bermimpi banyak dan besar. Aku masih ingat bagaimana ayahku berkata bahwa beliau ingin aku melebihiya. Dalam segala hal. Iya, segala hal. Ia menginginkanku untuk memperoleh pengalaman sebanyak-banyaknya, dan pergi berkelana sejauh-jauhnya.


Pergi ke Inggris adalah sebuah perjalanan untuk mlihat banyak hal. Selain aku akan berkunjung ke tempat favorit disana, aku juga bisa belajar mengenai sejarah, adat istiadat, dan semua kebiasaan yang akan kutemui, walau hanya dalam waktu yang singkat. Aku tentu akan bisa melihat lebih banyak warna, bahkan mungkin perbedaan.

Bisa pergi ke negara yang identik dengan David Beckham ini juga seolah adalah realisasi atas kepingan-kepingan mimpi yang telah kubangun melalui puing memori masa kecilku hingga saat ini. Aku akan dapat melihat secara langsung, bagaimana lekuk air Sungai Thames dengan lebih jelas. Bagaimana suara sirine kapal yang menandakan bahwa Tower Bridge di tengah Sungai Thames harus dibuka agar kapal tersebut bisa lewat. Aku akan lebih bisa mengagumi keelokan Westminster Abbey dari dekat. Mendadak aku teringat tentang celotehanku akan salah satu mimpiku ini. 



Dan tentu saja, nanti aku akan bisa bilang ke ayahku, bahwa aku harus berterima kasih atas yang dilakukannya dengan meminjam serial Mr.Bean setiap minggu.

Aku harus berterima kasih, lagi, untuk ayahku, bahwa bermimpi itu enggak boleh cetek!

Dan mungkin juga, aku seolah akan melihat kembali masa kecilku. Memaknai setiap tempat yang akan kukunjungi. Belajar melihat dengan lebih bijaksana. Mendapatkan mimpi yang tersenyum karena ia telah diperbolehkan untuk unjuk gigi pada dunia. Juga akan mendapati bagaimana indahnya proses untuk melihat semuanya dengan lebih dekat. Sangat dekat.

Ah Inggris.
Aku hanya ingin merayakan salah satu scene hidupku bersamamu. Mari rayakan hidup ini bersama-sama.

Semoga.

and when she was just a girlShe expected the worldBut it flew away from her reachSo she ran away in her sleep 
Dreamed of para- para- paradise..... (coldplay)




Dear, Smax! Wanna celebrate life with me? 

Credit picture : 







Wednesday, May 21, 2014

Mimpi di Titik 0 Kilometer




Menggelitik namun menawan. Setidaknya itu yang ada di pikiran saya pagi ini tentang mimpi.
Di perjalanan sebelum berangkat ke kantor, saya tiba-tiba terlintas sesuatu tentang mimpi.


Yarp! Oh yeah! Ah! Or whatever bentuk ekspresi yang keluar ketika kita kembali membicarakan soal mimpi.


Tapi bagaimanapun, menurut saya, mimpi adalah bunga liar yang tumbuh di setiap pekarangan angan dan cita-cita kita. Well said, bunga liar. Sebab ia selalu tampak cantik, namun perlu energi, waktu, dan keyakinan untuk menaklukkannya.


Anda yang membaca tulisan ini mungkin juga memiliki dan sedang berusaha menikmati bunga liar itu. Bahkan mungkin Anda yang mungkin telah jauh melanglang buana menempuh ratusan selat, mungkin masih memiliki ratusan mimpi lainnya yang belum terwujud.


Mungkin bagi Anda, mimpi-mimpi hanya soal waktu. Tapi pertanyaannya, sampai kapan? Sampai kapan kita bisa bertoleransi atas mimpi-mimpi?


Mungkin suatu waktu, akan ada masanya salah satu diantara kita berbelok beberapa derajat menyimpang dari apa yang sebelumnya telah kita rencanakan. Kita begitu saja mengiyakan, apa yang tampaknya menggiurkan dan lebih menjanjikan dari sebuah mimpi sederhana yang sebelumnya sudah kita bangun.


Haruskah kita realistis? Tergantung.


Saya pribadi lebih memilih untuk mencoba merealisasikannya dulu. Sebuah mimpi akan sangat sayang apabila hanya dibayangkan...dari waktu ke waktu. Tanpa pernah ada hasrat sedikit pun untuk menggapainya, atau setidaknya....mencoba untuk menggapainya. Mungkin ini yang dinamakan sebagai 'penghormatan atas sebuah khayalan'.


Penghormatan tersebut tampaknya akan mencapai titik jenuh apabila pada akhirnya apa yang kita impikan tak kunjung dicapai. Satu. Dua. Tiga kali kita mencoba, tetap saja gagal, tetap saja apa yang kita impikan tidak terwujud. Semua usaha yang telah kita lakukan tak berbuah menjadi sesuatu yang manis. Titik ini mungkin adalah pertanda bagi kita, untuk menyudahi usaha pencapaian mimpi kita.


Di saat yang sama pula, hendaknya kita lebih peka terhadap hal lain yang sekiranya mampu membuat kita lebih bermanfaat bagi sekitar, diri sendiri, dan juga makhluk secara lebih banyak. Lebih dirasa memperkaya pengetahuan dan meningkatkan kualitas yang ada di dalam diri kita.


Lalu apakah saya akan realistis sebelum saya berusaha untuk mencapai mimpi utama saya? Nggak! Saya masih akan tetap lurus dan beridealis untuk mencoba menggapai apa yang saya inginkan.


HA-HA. 


You can say HA-HA or make some laugh for me. Tapi bukankah bila belum ada orang yang menertawakan mimpi-mimpimu, itu berarti mimpimu belum terlalu liar? Setidaknya saya masih akan mencoba untuk tetap menggapainya.


Namun dalam suatu kondisi, kita akan dihadapkan pada sebuah situasi yang menyebabkan kita harus menunda mimpi tersebut. Solusinya? Jalani saja. Namun, jangan pernah menghapuskannya dari angan di benak kita.

Dan bila pada akhirnya memang kita harus benar-benar realistis dan merelakan mimpi tersebut, yakini saja bahwa mimpi itu tidaklah pernah benar-benar hilang. Ia mungkin hanya mencapai titik terendahnya, di 0 km.


Tapi, sebenarnya kita tidak akan pernah kehilangan mimpi. Kita hanya gagal dalam mencapainya. Mimpi-mimpi yang sebenarnya itu akan berinkubasi menjadi sebuah hobi. Selalu ada dan menghiasi hari jika kita bisa menyikapinya dengan kreatif.


Dan kita akan tahu itu. Benar-benar akan tahu bahwa:


You never lose a dream. It just incubates as a hobby. Kalau menurutmu?



Cheers,

   V


Yogyakarta, May 2014
Sedang sangat sok tahu soal mimpi
pict.credit: instagram.com/airlinepilot
















Friday, May 16, 2014

A Candid Story After Poipet-Aranyaphrathet


Anak-anak itu tampak sangat kumal.Mereka mendekat ke rombongan kami yang baru saja turun dari bus. Akudan temanku tampak cuek. Merasa tak perlu melayani seseorang yangtampaknya tidak cukup bersahabat.


Pun pada saat itu kami sedang berada di sebuah destination nowhere, sebuah tempat yang tampaknya tak juga bersahabat.Aku nggak tahu aku dan rombongan sedang dimana. Kompas tidak bekerja maksimal. Sinyal handphone tidak juga bagus. Sepanjang perjalanan, yangtampak di sisi kanan dan krii hanya hamparan pasir kecoklatan seperti lapangan luas tanpatumbuhan. Hanya diselingi beberapa rumah kayu bertingkat tanpapagar. Aku pun tidak tahu bagaimana perjalanan ini akan berujung.

Ini awalnya hanya karena perdebatan rombongankudengan kepala imigrasi. Kami diminta menghadap terkait pengurusanvisa on arrival kami. Karena memakan waktu yang cukup lama, terpaksa rombongan kami dimintapindah ke bus umum, bukan bus pariwisata yang sesuai dengan tiket kami. Mau tak mau, aku dan rombongan pun harus keluar dariitinerary yang sebelumnya sudah kami buat.

Jadilah aku mulai meraba perjalanan ini,sesaat setelah meninggalkan perbatasan Poipet-Aranyaphratet menujuSiem Reap. Aku dongkol. Hingga akhirnya kini bertemu dengananak-anak kumal itu. Aku bergumam saat itu keberadaanku tak masuk kedalam kolom back azzimute yang ada di peta!!

Si anak-anak kumal semakin mendekat.Memberikan aksesoris berupa gelang yang cukup cantik dan memasangkannya di pergelangan tangan kami. Aku merasaseperti menemukan oase, bahwa di tempat antah berantah ini aku masihbisa merasakan sebuah sentuhan manis, sebuah pemberian aksesoriscantik. Begitu pikirku. Aku kembali bersemangat, walau aku danteman-temanku juga sadar, saat itu pun aku tak punya cukup uang untukmembeli makanan walau hanya sekadar roti.

Tak berapa lama, si kumal tampaksumringah, karena bus kami akan segera kembali berangkat. Ia kembalimendekati kami dan dari bahasa tubuhnya, aku tahu dia sedang memintaloyalti. Ya, loyalti atas aksesoris pemberiannya.


Aku mencengkeram lengan temanku setelah aku tahu ternyata mereka diasuh oleh orang dewasa yangmenurutku cukup bertampang garang. Mereka lantas membuntuti kamihingga di pintu bus. Si sopir bus meminta kami untuk menyerahkanbeberapa lembar uang riel* dan yeah... akhirnya aku berikan uangsimpananku yang sebenarnya akan aku gunakan membayar penginapan di HoChi Minh nanti.

Bus pun melaju. Aku masih dongkol,karena aku tak jadi makan, namun uangku telah habis. Hingga akhirnyaseorang Cambodian, Ke Sophkorn, menawariku dan rombongan, 2 buah Sticky Rice (nasi ketan khas Kamboja) yanghanya 6 kali lahap sudah habis. Hingga akhirnya, aku kembali merasakan sensasi ketika aku tahu bahwa supir bus yangkutumpangi sadar kalau ia salah jalan! Well, dan sejauh ini kami sudahbuang waktu 10 jam.

Di luar, langit juga sudah mulai gelap. Busku memutar balik dan kemudian berhenti jauh dari Villa tempat ujuanku menginap. Kami turun dan tanpa tahu arah. Lalu seorang pengemudi tuk-tukmendekatiku dan berkata bahwa dia kenal dengan pemilik villa tujuankami.

Ternyata mereka tidakberbohong. Kami akhirnya benar-benar sampai di villa tujuan kami.Villa yang tidak menyediakan air panas saat malam, sinyal susah, bau rada apeg, juga tak ada rumahmakan di sekitar. Namun aspek yang kedua sebenarnya tidaklah terlalu masalah, sebab, uang kami sudah menipis. 
Kami hanya makan indomie bungkus. Diremas. Dan kemudian dimakan seperti tikus! Kami merasakan sepi. Hanya ada sepasang mata yang daritadi melihat kami di teras hotel. Dan ternyata. Oh! Dia adalahsi pengasuh bertampang garang, pengasuh di anak-anak kumal tadi. Kami puntidur dalam hening dan rasa bimbang. Tak tahu apa yang akan terjadibesok. Rupanya kejutan selalu ada di belahan bumi manapun. Rupanya  aspek perjalanan yang berupa 'a soul' yang mungkin selalu aku bangga-banggakan itu akan mengalami salah satu ujiannya di sini.

Tapi kami masih punya 3 bekal yang jugautama; otak, mental, dan kecerdikan menghadapi situasi. Dan bekalitulah yang terus kami pakai, hingga waktu beranjak pergi, dan beberapa hari setelahnya, aku dan rombonganku berhasil melewatiperbatasan Vietnam, dimana sang petugas ternyata tak juga berhasilscanning pasporku!

Voila! :))



*riel: mata uang Kamboja



_When these life shocking me in anotherway_
_Ho Chi Minh, 01.50 am_