Wednesday, December 31, 2014

Terima Kasih Bebek Adus Kali!

cr:vemale.com

Sayup-sayup lagu ini menghantuiku beberapa hari ini,
'Bebek adus kali, nututi sabun wangi. Ibu mundut roti, kowe ora diparingi'


Dari lagu itu, kemudian tokoh si bebek menjadi ikon. Mulai banyak miniatur bebek lucu yang bisa dimiliki dengan harga yang murah. Bebek yang dielukan di akhir tahun 80-an oleh sebagian besar bocah. Pun aku.

Maka tak mengherankan, bebek mungil karet berwarna kuning selalu bertengger di depan kaca kamar mandi aku. Selalu menjadi teman bicara setia dan turut menemani aku berendam dalam banyaknya buih buatan.

Dalam kesehariannya, bebek kecil itu tak jarang untuk aku ajak keluar dari singgasananya dan menikmati udara segar di luar. Aku ajak dia bermain walau sejenak, berkenalan dengan mainan baby block aku yang lainnya di kamar tengah. Kala itu, bapak pun tak jarang juga turut mengajaknya berbicara. Ia seolah turut laut dalam keceriaan kami, dengan menggoyangkan tangannya memainkan si bebek, walau tentu saja si bebek diam saja.

Dalam sebuah suasana, kamu kemudian pun harus kupinjamkan kepada adik ponakanku yang datang dari seberang. Sungguh sebenarnya aku enggak rela, bek. Karena ritualku tak akan sempurna tanpa adanya kamu. Dan aku juga tak rela, kalau kemudian kamu bertugas lagi, untuk menghiburku. Aku takut kamu kelelahan dan cepat rusak, karena kamu harus menjalani peran ganda.

Oh, Bebek.

Dulu kamu menemani hari-hariku. Dari mulai pagi hingga pagi lagi. Kamu juga yang seolah menjadi alarm pengingatku bahwa aku harus segera mandi sebelum fajar bergegas pergi. Lalu.... Ah, kamu.
Sayangnya, semakin hari, kamu pun semakin tampak lapuk, dan kemudian berubah warna.

Bebek.

Hingga pada suatu hari, kamu pun harus benar-benar tak bisa bertugas lagi. Bertugas untuk menemaniku di kamar mandi. Kamu sudah mulai tak bisa kuandalkan. Senyumku sudah tak seceria dahulu saat bertemu denganmu. Kamu berbeda, bek. Kamu bebek yang sudah mulai lapuk dan tua, dimakan memori dan suasana.

Tapi tahukah kamu, bek?
Perubahanmu itu pun tentunya seiring dengan membesarnya tulang-tulangku. Meningkatnya kadar hormonku, dan berkembangnya perspektif serta pandanganku. Terutama soal hidup, bek. Soal hidup.
Dimana dunia remaja sudah mulai kujejaki. Dan kamu pun seolah tak lagi penting dan hanya sebagai sebuah benda sambi lalu.

Aku tak akan mengutuk keadaan. Pun juga berusaha untuk tetap bisa bermain riang denganmu, dalam sebuah ruang kotak tak seberapa bernama kamar mandi. Kamu pun begitu. Tampaknya kamu sadar, bahwa aku tak lagi terlalu peduli denganmu. Kamu pun semakin cuek, dan membiarkan dirimu semakin tampak usang. Kemudian kamu pun memutuskan untuk menjauh, dengan membuat dirimu tampak tak berarti dan tak lagi berfungsi dengan baik. Kamu memperjelek tampilanmu, tak lagi tampil sempurna sekalipun aku membersihkanmu dengan sabar setiap hari.

Bebekku.

Bukannya aku jahat. Tapi mungkin keadaan yang tak memungkinkanku, untuk sejenak bersama dan bermain denganmu lagi. Bapakku pun terpaksa membuatmu benar-benar menjauh dariku, teman masa kecilmu. Aku pun juga tak bisa menolaknya, bek. Dan....emmm..aku seolah tak mau mencegahnya.

Maaf. Bukannya aku lupa tentang jasamu. Bukannya aku cuek tentang semua kebaikanmu dan semua waktumu yang telah kamu berikan kepadaku. Bukan pula aku punya teman baru yang lebih baik dan lebih bersahabat dari kamu. Tidak!

Tapi....aku sadar, bahwa semuanya pasti akan berubah, bek. Masa remajaku saat itu akan terus bertransformasi, hingga pada akhirnya akan menuai raga yang lebih tua. Akan berubah menjadi seorang aku yang lebih baru, yang berusaha keluar dari template jiwa yang mulai bosan. Dan menjelma menjadi aku yang kekinian, aku yang sekarang.

Aku yakin. Bahwa memang pada saatnya aku harus bisa terlepas dari hasrat kanak-kanakku. Namun tidak untuk melupakan memorinya. Ingat. Tidak untuk melupakannya! Kamu selalu ada di memoriku. Kamu menjadi garis merah bahwa masa kecilku benar-benar bahagia. Kamulah saksinya, bek. Kamu!

Dan pagi itu aku menyaksikan pandanganmu yang terakhir dari atas bak truk menuju ke tempatmu yang terakhir. Sekali lagi, maaf ya bek. Mungkin aku bisa untuk menggantimu dengan bebek yang lain, yang persis, dan sama baiknya dengan kamu. Tapi........ sepertinya aku akan memilih untuk menjadi lebih dewasa. Aku tetap bisa menyayangimu, walau tak lagi menjamahmu dan mengajakmu bermain bersama dengan air sisa sari mandiku.

Bebek.

Di detik ini, aku kembali mengingatmu. Bukan lagi di dimensi kanak-kanakku. Tapi dimensi lain pada sebuah masa dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan berbekal pengalaman yang telahkupunya, lalu ditambah dengan sedikit bumbu keyakinan, aku yakin bahwa kamu –yang kini entah dimana— akan tetap berbahagia untuk hidupku. Tersenyum atas semua pencapaianmu, atau mungkin menebak apakah aku selalu tetap bernyanyi, walau tanpamu.

Ya bek, kamu benar. Aku tetap selalu bernyanyi walau tanpa kamu.

Makasih ya bek. Kamu adalah teman di masa kecil yang indah. Dan seperti yang sudah aku bilang, sebenarnya aku bisa untuk tetap melakukan kebiasaan yang sama bersama bebek-bebek baru yang lainnya. Tapi, aku memilih untuk menjadi lebih dewasa. Meski mungkin ada juga orang dewasa, yang tetap menjadikanmu sahabat dalam ritual mandi mereka.

Tapi maaf aku memilih tidak. Karena harus ada sebuah revolusi dalam hidup ini, bek. Kita harus memilih untuk tetap stagnan, atau berubah. Dan tidak ada yang bisa mengukur apakah keputusan yang kita lakukan sudah tepat. Silakan saja untuk merencanakan jalur mana yang akan kamu lalui. Karena hidup ini berlangsung setiap hari. Tapi matinya yang sekali.

Kamu mengerti kan, sahabatku? Baik-baik di sana ya, di tempat yang bahkan aku nggak tahu itu dimana. Satu lagi yang perlu kamu tahu bek, bahwa aku tak pernah menyesal dengan keputusanku, karena aku selalu bisa mendapatkan pelajaran berharga di baliknya. Bahwa setiap keputusan bisa mengantarkanmu pada pintu-pintu ajaib yang tidak akan pernah kamu duga. Semua itu karena bukan karena kebetulan. Karena aku tak pernah percaya akan adanya kebetulan. Nggak pernah percaya.

Selamat memilih. Selamat menemukan caramu sendiri untuk mengambil keputusan.

Selamat tahun baru. Jangan latah ya.



Monday, November 10, 2014

Untuk Lelaki di Sepertiga Malam



via Behance.net/angelstanich

Kepada seorang lelaki yang seringkali mengkhawatirkanku di setiap lewat jam 22.00 wib. Dialah lelaki yang selalu duduk di sofa sudut ruang tamu karena cemas aku belum berada di rumah. Kepada lelaki yang seringkali membuatkan sarapan kecil untuk kubawa pergi keluar rumah. Mencoba memastikan aku tak akan sakit maag hanya karena tak bisa mengatur pola makan.

Dialah jugalah yang selalu menyemir sepatuku waktu aku masih menjadi seorang perempuan kecil yang tak bisa lepas dari bantal usang berwarna biru dan merah jingga. Saat menjadi seorang perempuan kecil, ceriwis, yang menyebalkan dan manja.

Ah. Ternyata dia jugalah yang selalu menjanjikanku beragam macam hadiah jikalau aku bisa meraih juara pertama saat di bangku SD hingga SMP. Pun mengajariku bagaimana caranya memasukkan kopling dan tancap gas dengan benar dengan mobil kesayangannya. Dia yang selalu bercerita, tentang masa kecilnya yang bandel dan tak takut kepada siapapun.

Bapak.

Sayup nyanyian sederhana yang pernah kau lantunkan saat aku masih berusia muda, tampaknya masih membekas di telinga. Senyum ceria dengan tawa terbahakmu di pantai Kuta saat kau masih di pertengahan 30-an, masih selalu kuingat hingga sekarang. Dan dalam sebuah diam, kau selalu bicara. Seolah kau tak mau melewatkan semua prosesku menuju dewasa.

Mungkin tak hanya pagi yang menawarkan ceritanya. Kau pun bergitu, pak. Kau selalu berkata, bahwa setiap hari adalah sebuah semangat baru. Cerita lama boleh hilang, tapi sebuah keyakinan akan harapan, tak boleh kulupakan.

Hingga mungkin kini pagimu itu telah berganti petang, percayalah... semangat pagimu akan terbawa lagi sampai hari berganti. Putihnya rambutmu seolah akan mengungkapkan, semua kesederhanaan atas sebuah perjalanan panjang yang telah kau lalui.

Bapak.

Mungkin aku selalu beradu argumen denganmu dalam beberapa hal. Keras kepala dan perfeksionis yang ada di diri ini tampaknya pernah menggoresmu dalam sebuah suasana. Juga soal keyakinanku tak ingin menikah muda sempat melenyapkan impianmu untuk menimang cucu dan memamerkannya pada kolega bisnismu sesegera mungkin.

Tapi percayalah, pak. Waktunya akan tiba. Aku tak ingin menjanjikannya pun meramalkannya. Tapi serahkan padaku soal kehidupan. Juga soal bagaimana aku memutuskan akan membina sebuah keluarga.

Suatu saat akan ada seorang lelaki, seperti yang kau idealkan, dan seperti yang aku butuhkan. Aku tahu persis dia seperti apa yang aku butuhkan. Seorang lelaki yang tentunya harus kuat dan pekerja keras sepertimu. Karena kau kan tahu, aku sangat tidak suka mereka yang lembek dan seolah tak mau berjuang bahkan untuk dirinya sendiri.

Dia yang akan menggantikanmu menjaga dan meyakinkanku bahwa harapan akan kebaikan akan selalu ada. Dia akan bersedia, membantuku untuk melompat lebih tinggi, dari apa yang aku bisa sekarang.  Yakinlah bahwa pilihanku itu tidak akan pernah mengecewakanmu. Karena kau tahu kan, aku selalu memegang janji?


Bapak.

Sepuluh tahun lalu mungkin aku belum mengenal high heels, stiletto, atau gincu bermerek Lancome. Make up-ku pun hanya sebuah senyum lebar atas candamu dalam hangatnya sebuah acara keluarga. Kini, aku perempuan kecilmu yang dulu sangat suka balap sepeda itu, telah sedikit demi sedikit berubah menjadi seorang gadis yang akrab dengan benda-benda tersebut. Namun percayalah. Bahwa itu hanyalah tampilan luarku saja.

Dalam hati ini, aku masih selalu kecil. Aku hanyalah seorang perempuan yang masih saja senang, saat membuka album foto dan melihat senyummu yang lebar di pantai Kuta. Aku yang selalu mengendap saat pulang malam, selalu tersenyum senang ketika aku tahu kau ketiduran di sofa karena menungguku.

Kau juga masih bercerita tentang apapun denganku. Namun bukan lagi tentang kenakalanmu saat kecil dulu. Kini kau kadang berkata padaku soal teman kantormu, klien atau orang kantormu yang menyebalkan. Yang terkadang menyebabkanmu harus bekerja dua kali lipat lebih keras untuk mem-back-up semuanya. Temanmu yang lempar tanggung jawab, dan kaulah yang kemudian harus menyelesaikannya. Sudahlah, pak.

Bukankah kau pernah bilang, jangan pernah mengukur sesuatu dari keringat yang telah kamu jatuhkan. Tapi pandanglah sebagai sebuah dedikasi atas profesimu. Kamu akan lebih pintar dan menguasai hal itu daripada yang lain. Kamu akan jadi bintang, yang walau sinarnya redup di mata orang lain, tapi kamu telah menghidupkan sinar untuk dirimu sendiri. Dedikasimu akan berujung pada sebuah kebaikan yang jauh lebih baik. Kau tahu itu.

Ingat saja dulu, saat keluarga kita terpuruk. Tak pernah sedikitpun kau mengeluh. Kau hanya yakin, bahwa semuanya baik-baik saja. Kau sangat yakin bahwa keterpurukan itu terjadi karena kurangnya kerja keras dan memang jatah kita untuk mencoba hidup dalam sisi yang lain.

Ingat tidak saat ibu berkata dan meminta maaf padaku karena uang jajanku harus dipotong? Ingat tidak saat beliau dengan iba memberikanku dua ribu rupiah untuk uang jajan dan transportasiku selama satu hari?

Kita hebat ya, pak? Kita berhasil melewati masa-masa itu. Dan aku tak pernah menyesal sama sekali,pak! Terima kasih karena aku berkesempatan melaluinya. Percaya atau tidak, kekuatan dan kemahiranku soal hidup meningkat drastis karena kita pernah terpuruk.

Aku jadi semakin tahu, untuk menjadi lebih hebat itu harus ada sebuah proses jatuh bangun. Untuk menjadi luar biasa, harus ada deras air mata dan ratusan malam yang berganti pagi dengan dibungkus kecemasan karena tak tahu besok harus membeli makan dengan apa. Tapi, aku bangga!

Bapak.

Seringkali ibu berkata dan menceritakan kepadaku soal harapan-harapanmu. Beliau memberi tahuku soal bagaimana kau selalu mencemaskan umurku yang semakin bertambah dan juga pekerjaanku. Ibu terkadang memberitahuku bahwa kadang kau selalu menebak apakah gajiku sekarang sudah bisa mengkover semua kebutuhan dan keinginanku.

Lalu kau pun menyarankan pada ibu, agar aku berkarir dengan lebih baik. Sebelum masa tuaku datang dan produktivitasku menurun. Sebelum aku tak kuat lagi menaiki tangga-tangga mimpi yang baru dan lebih berat.

Bapak.

Jangan pernah khawatir soal gaji dan pemenuhan kebutuhanku. Aku bisa membagi dan memprediksi semuanya. Tenang saja. Seperti yang kau bilang, akan selalu ada harapan di semua suasana. Jika suatu ketika, aku akan pergi dari sini. yakinlah bahwa sebenarnya aku tak akab benar-benar pergi.

Tentang perkataanku soal mimpi, aku akan tetap mengejarnya. Mungkin meninggalkanmu sesaat di sini bersama ibu. Tapi bukan selamanya. Aku tetap akan mengejarnya karena aku menghormatinya. Satu-satunya alasan kenapa kita perlu memperjuangkan mimpi adalah karena kita harus menghormatinya. Ia seperti janji, yang seyogyianya memang harus ditepati.

Bapak.

Pada sebuah kenyataan yang mengharuskan kita tunduk oleh sebuah siklus kehidupan, maka mungkin saja kita tak bisa mengelak. Hidup akan berjalan seperti biasa. Setiap jengkal prosesnya adalah sebuah sejarah. Dua puluh lima tahun sudah, nafas ini meninggalkan jejak dan cerita bersamamu. Dari pagi hingga pagi lagi.

Jangan pernah lagi menanyaiku kenapa aku tak seperti temanku lainnya yang menikah muda. Setiap orang memiliki keputusan dan pilihan di dalam hidup. Pun aku. Yakinlah, seperti yang telah aku bilang sebelumnya, aku akan menemukannya, sosok menantu yang juga akan bisa membantuku menjagaku di masa tuamu.

Jangan pernah meragukan kesetiaanku akan keluarga. Meskipun aku tak akan pernah menjadi anak yang benar-benar baik dan patuh, aku tetap akan menjadikan kau dan keluarga sebagai bagian terbaik dalam hidupku. Sebagai sebuah bagian yang selalu mendorongku untuk bisa lebih jauh mengalahkan limit.

Oh ya, pak. Suatu saat nanti, pasti kau juga akan menimang buah hatiku. Bapak, mau enggak berhenti merokok? Aku hanya tidak ingin, saat anakku lahir nanti, kau tak bisa turut berbahagia dan menggendongnya karena kau mulai sakit-sakitan karena efek rokok. Bapak enggak mau hal itu terjadi, kan?
Aku mau bapak menggendong anakku dengan suka cita. Dengan seulas senyum dan kondisi kesehatan yang sangat baik.

Aku ingin nanti, ketika di pelaminan, bapak masih tampak segar dan bugar. Tak seperti seorang yang tampak redup karena telah teracuni efek rokok. Aku cuma mau itu, pak. Cuma itu saja. Semoga doaku di sepertiga malam dikabulkan. Bapak akan berhenti merokok. Selamanya.


Mau kan, pak?

Karena sesungguhnya aku lebih cemas akan kesehatanmu daripada dengan kesendirianku di malam minggu.



Yogyakarta, 8 November 2014



Saturday, October 4, 2014

Menemukan Jiwa yang Lain di Abhayagiri Restaurant, Sumber Watu Heritage, Sleman, Yogyakarta

Beberapa orang mungkin membayangkan ingin melepas penat sejenak di sebuah tempat yang sunyi dan tenang. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota dan kebodohan klakson mobil dan motor yang dimainkan semena-mena (baca: biadab). Tempat dengan nuansa alam yang hangat, banyak dekorasi bebatuan seperti halnya yang ada di sebuah candi.

Mungkin Anda bisa mencoba berkunjung ke Abhayagiri Restaurant di Sumber Watu Heritage, Sleman, Yogyakarta. Abhayagiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti biara agung di bukit yang penuh kedamaian. Biara ini digunakan untuk relaksasi dan mendalami spiritual dengan tenang karena suasana di sekitarnya penuh kedamaian. Dan ternyata, memang benar begitu adanya.

Lokasinya tak jauh dari kompleks Keraton Ratu Boko, dan hanya berjarak sekitar 15 km dari pusat kota Yogyakarta. Mudah saja menemukannya bila Anda berkendara dari Jogja, silakan belok kanan di pertigaan sebelum pasar Prambanan (bila belok kiri menuju panggung Ramayana). Lurus saja ke selatan sekitar 1-2 km dan kemudian belok kiri pada papan penunjuk arah Abhayagiri. Jalan terus saja ikuti jalan dan papan penunjuk arah selanjutnya.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, aku merasakan aura yang sama seperti ketika aku mengunjungi Hotel Amanjiwo yang ada di Kabupaten Magelang, Sleman. Konsep yang ditawarkan sederhana, namun pemandangan dan nuansa yang diberikan itulah yang membuatnya menjadi luar biasa.

Luas Abhayagiri adalah sekitar 2,5 hektare, dan terdiri dari tiga ruangan utama, yakni indoor dining room, semi outdoor dining room, dan full outdoor dining room. Dekorasi interiornya cenderung menggunakan bahan alam seperti kayu eboni dan sengon. Pun juga dengan lantai yang digunakan, menggunakan keramik model keraton jaman dulu (yang tentunya sangat mahal), dan biasanya bermerek 'kuntji'. (Bila Anda ingin memesan keramik yang sama, Anda bisa menghubungi salah satu toko yang ada di bilangan gang di belakang Bakpia Pathuk 25, daerah Pathuk, Yogyakarta.)

Untuk perabot di outdoor dining room, didominasi oleh kursi rotan dan juga karpet rumput berwarna hijau. Ada beberapa arca Buddha yang diletakkan di sudut-sudut tangga, juga sebuah stupa berukuran cukup besar di sisi halaman sebelah tengah. Oh ya, satu hal yang menarik dari tempat ini adalah banyaknya lampu gantung berbentuk lampion di berbagai tempat. Plus juga jalan setapak semacam altar untuk menuju ke pinggiran tebing, dimana di bawahnya Anda bisa melihat keindahan kota Yogya dari atas.

Selain itu, Abhayagiri juga menyediakan fasilitas berupa hotel (soon), villa, dan juga villa yang memiliki rate sekitar Rp 600.000 per malam, dan saat ini masih dalam tahap pembangunan berkelanjutan. Pun juga sebuah aula dan juga kolam renang. Cukup membayar Rp 150.000, Anda sudah bisa berenang dan menikmati suasana kota Yogya dari salah satu tempat tinggi yang ada di sebelah timur kabupaten Sleman ini. Dan fix, aku seperti menemukan jiwaku yang lain, yang berbalut dengan semangat baru untuk terus menjalani hidup.

This is a very recommended place to visit in.


Tempat ini cocok untuk siapapun yang ingin mendapatkan sebuah pengalaman tak terlupakan dari sebuah kota bernama Yogyakarta.


Notes: Im not a paid-person or an influencer, either :D






Waiting for sunset


Look like a beautiful chandelier


Parang rusak untuk motif taplak
 

Aula berkonsep joglo yang telah berusia puluhan tahun



Tegel mahal, cap 'kuntji'


Pintu masuk dari parkiran


 Lets make a footprint here!


Nah, ini peta menuju lokasinya:

GPS Coordinate: S7°46'5.96" E110°29'49.88"

Monday, September 8, 2014

Ibukota yang Baik

Ada yang bilang kalau ibukota selalu menawarkan pesona yang menakjubkan. Ada yang bilang juga bahwa itu tak sepenuhnya benar. Kemudian menyangkal bahwa ibukota hanya ramah pada beberapa tenggok lajur kehidupan saja. Lajur kehidupan dimana banyak yang berada di dalamnya menguasai apa itu arti sebuah modernitas.

Mungkin berbeda lagi denganku. Aku dulu pernah berkata, bahwa ibukota tak pernah menawarkan ketenangan, pun juga tak akan mungkin memunculkan rasa rindu untuk kembali.

Tapi belakangan, setidaknya ibukota sudah tak terlalu jahat. Dia ternyata mampu mempersatukan. Pun juga mampu menjadi sponsor terjadinya sebuah kebersamaan dalam gelak dan rasa ingin memiliki.

Demikian sebaliknya, aku juga selalu menemukan sebuah canda. Dengan beberapa raga dari pulau dan provinsi yang berbeda. Bertemu dan bertabik akrab di ibukota, hingga telah berjalan satu tahun lamanya.

Dalam hebohnya teriakan dan rona pesta, aku mampu menemukan bayangan yang tak lagi samar. Di balik tingginya bangunan dan jalanan yang padat, dalam sebuah hari aku menemukannya. Tampak seperti menawarkan sebuah cerita yang hanya bisa dipahami oleh kita berdua. Ada sebuah cerita baru yang sebenarnya telah ada namun bersembunyi sejak setahun lalu. Ternyata rasanya masih sama. Namun, masih tetap kurang manis layaknya kopi susu tanpa gula. Masih sama dan biasa saja. Karena aku bahkan belum mengenalinya utuh. Ya. Utuh.

Ah. Sudahlah.

Penat dan panasnya ibukora sudah mampu menjelaskannya, tanpa aku perlu berkata-kata dan berdecak menjelaskan lebih banyak. Aku sudah cukup senang karena di sini aku masih bisa bercengkrama dengan teman-temanku yang hebat.

Tapiii.....di satu sisi yang lainnya, susah juga kalau tak membahas. Ehm, kalau boleh tahu, apa kamu juga merasakannya? Rasa yang sama?



Aku masih sekadar ingin tahu.



Jakarta, 5 September 2014

Tuesday, July 22, 2014

'Simbah' Jogja yang Melegenda : A Lil' Tribute to Sujud Kendang

Mendengar kata 'simbah' yang ada di benak Anda adalah sosok orang yang telah tua, dengan segela keterbatasannya yang timbul karena usia. Tapi simbahku yang satu ini lain lagi. Walau semakin hari usia dan tenaganya semakin termakan waktu, semangat yang ada di dalam dirinya tak pernah pudar.

Bukannya simbah yang lainnya tidaklah hebat. Bukan. Saya cuma mau mengutarakan sekelumit ba-bi-bu saya, tentang seorang simbah yang telah memberikan pelajaran bagi saya. Well, sebenarnya, sudah berbulan-bulan lamanya saya ingin menuliskannya, hanya saja lagi-lagi saya terpaksa mengalah dengan sendi otot saya yang merengek untuk melepas penat. Haha.

Maaf ya mbah. Aku minta maaf karena aku merasa aku perlu menuliskan jejak dan sejarahmu. Agar tulisan dariku menambah beberapa kepingan sejarah yang pernah ada, secarik cerita tentang seorang seniman yang dimiliki Yogyakarta.

Dia adalah Sujud Sutrino, atau lebih dikenal dengan nama Sujud Kendang. Mbah Sujud, seorang seniman yang lebih suka menyebut dirinya sebagai penarik pajak rumah tangga (pprt) daripada pengamen.

Pertama kali aku tahu tentang beliau adalah saat membaca profil yang bersangkutan di salah satu koran lokal Jogja, Harjo. Saat itu aku tertarik dengan fotomu yang dipajang dengan ukuran besar dan membawa kendang. Dalam kalimat pertama di tulisan tersebut dituliskan bait lagu yang digubahnya, seperti Susanna, Kolam Susu, Atau Kopi Dangdut, lagu dengan bait yang diplesetkan.

Sosoknya kemudian semakin kukenal saat aku mengikuti kompetisi video dokumenter yang  diadakan oleh sebuah stasiun televisi nasional. Aku pun mengangkat mbah Sujud sebagai main topic dan membuat profil yang bersangkutan dalam format video ficer.


Sejak saat itu, aku dan timku mulai mengikuti kegiatan mbah Sujud, dari mulai sarapan hingga kemudian keliling untuk menjalankan tugas sebagau pprt, hingga akhirnya kembali pulang ke rumah.

Mbah Sujud ternyata sudah menekuni pekerjaan sebagai pprt sejak lama, bahkan ketika ayah saya masih berstatus sebagai pelajar SMA. Ayah saya menuturkan kalau dirinya seringkali memberikan upah kepada mbah Sujud saat mbah Sujud menyambangi rumah ayahku di daerah Langensari.

Dari situ, aku mulai tahu bahwa mbah Sujud selalu berjalan kaki saat melaksanakan tugasnya sebagai pprt. Bahkan kala itu, rute yang ditempuhnya juga cukup jauh yakni berkisar sekitar 10-15 km setiap harinya. Ia berjalan mulai pukul 07.00 WIB, hanya dengan ditopang alas kaki seadanya, kaus oblong, dan juga topi rotan lempeng sederhana yang memang jadi ciri khasnya. Namun demikian, ia selalu menghibur secara total. Bahkan tak jarang, untuk menunjang penampilannya saat mengisi acara tertentu, ia menggunakan kostum jenaka yang didukung dengan kumis palsu, dan riasan yang juga tak kalah lucu.

Saat aku bertanya kepadanya tentang apa yang telah diceritakan ayah saya itu, ia pun mengiyakan. Bahkan ia menambahkan, bahwa dirinya mulai bekerja sebagai pprt bukan sejak ayah saya kuliah saja, melainkan sudah sejak tahun 1970, waktu dimana ayah saya masih berusia 10 tahun!

Kini, tahun 2014, tahun dimana usia mbah Sujud yang telah mencapai lebih kurang 62 tahun, beliau masih setia dengan kendangnya dan masih menjadi PPRT dari rumah ke rumah, meskipun rute yang ia tempuh sudah tak sejauh saat dahulu. Maklum, semenjak kesehatan matanya menurun karena katarak beberapa waktu lalu, mbah Sujud harus mulai menyadari bahwa usianya tak lagi muda. Namun ia sadar bahwa ia harus tetap mencari nafkah walau dengan tenaga seadanya.

Sebenarnya, sudah banyak seniman lain dan juga pemerintah daerah yang memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan mbah Sujud dengan memberikan dukungan finansial. Tapi simbah merasa ia harus tetap bekerja, untuk memuaskan hasratnya mengendang dan menghibur banyak orang. Hanya sekadar membuat pelanggannya yang berada di gang-gang yang rata-rata adalah kaum ibu dan anak-anak merasa senang.

Aku bisa melihat bahwa simbah bukanlah orang yang mudah menyerah. Berbagai gempuran dan asam garam hidup sepertinya pernah ia alami. Pun juga soal kesepian yang terkadang menyelimuti setelah istri pertamanya meninggal dunia. Mbah Sujud pun harus menjalani hari-hari sendiri, menjalani segala hiruk pikuk tanpa adanya seseorang perempuan yang mendukung di belakangnya. 

Belum usai dirundung duka, ia kembali dihadapkan dengan masalah pencatutan lagu. Ia pernah diajak rekaman oleh salah satu studio, namun tak pernah sedikit pun menikmati royaltinya. Namun bukan mbah Sujud namanya kalau dia putus asa. Mbah Sujud tetap berkarya, dengan alasan sederhana, menghibur dan menunaikan kewajiban.

Bagiku ia memang seniman jenaka. Tak mengherankan kalau sampai saat ini masih banyak pihak yang memintanya untuk menjadi prbagai kesempatan. Bahkan pernah suatu kali ia bercerita kepadaku, saat ia diminta mengisi acara di Balikpapan, dan menceritakan rasanya naik pesawat untuk pertama kali. Simbah kala itu tampak bangga, karena seumur-umur, baru pertama kali naik pesawat. “Baru ini mbak, naik montor mabur,” ujarnya padaku sambil tertawa terkekeh.


Banyak hal sebenarnya yang bisa aku pelajari dari simbah. Itulah alasanku menyambangi kediamannya beberapa bulan lalu. Aku pun kemudian memberi kabar padanya melalui SMS, bahwa aku akan bertandang ke rumahnya bersama seorang kerabat. Seperti dugaanku, beliau langsung menelponku. Maklum, simbah hanya bisa membaca isi SMS, namun tidak tahu bagaimana cara membalasnya, ia hanya bisa menelpon.

Dan oh, sesampai di rumahnya, aku cukup kaget dengan keadaan rumahnya, Memang sudah satu tahun aku tak berkunjung kesana dan aku melihat adanya perubahan di bangunan seluas 4x5 meter persegi itu. Lantai yang dulu semen, kini telah licin berlapis ubin. Aku juga melihat adanya televisi baru dan dinding yang tak lagi kumal seperti biasanya. Piagam penghargaan dari gubernur DIY dan juga belasan penghargaan lainnya pun ditata lebih rapi dengan memberikan bingkai sebagai pemanis.


 beberapa piagam yang diperoleh mbah Sujud



 beberapa dokumentasi saat mbah Sujud pentas

Tapi ada satu yang tak berubah. Kendang! Ya. Kendang yang puluhan tahun telah menemaninya mengabdi dan menghibur kepada masyarakat, masih menggantung dengan rapi di tempat biasanya.


 Kendang yang sudah jadi kekasihnya selama puluhan tahun


Simbah memang sangat sayang dengan kendangnya itu. Ia bahkan lebih memilih kendangnya yang sudah tampak agak rusak itu daripada kendang baru yang dibelikan oleh seorang penggemarnya.

Ah, simbah.

Terkadang aku melihat pamflet selebaran di beberapa pusat keramaian dan tercantum namamu. Kadang aku sudah mencatat jadwal kapan dirimu akan mengisi acara itu. Tapi apa mau dikata, terkadang keinginan tak didukung oleh situasi. Kadang waktu pun tampak merasa enggan untuk memberi ijin padaku untuk melihatmu berdendang di atas panggung. Sudahlah, mungkin lagi-lagi youtube yang akan menjadi panggungmu dalam dunia mayaku.

Kita tinggal di satu kota tapi seperti ribuan kilo ya, mbah....hehe

Semoga semesta selalu memberimu kebahagiaan sampai akhir hayat. Tetaplah bersemangat dalam mendendangkan bait dan menabuh kendang. Teruskan gema kendangmu hingga sayup-sayup ayam berkokok telah berganti dengan kicauan elang yang kembali ke sarang. Semoga rambutmu yang mulai memutih terbayar sudah dengan jutaan guratan senyum dari semua pelanggan setiamu. 

Satu hal lagi, salam dan doa darimu yang selalu kau lontarkan untuk keluarga kami yang mengunjungimu, selalu kami sampaikan baik-baik. Terima kasih karena turut mendoakan keluarga kami. Sampai saat ini, mereka baik-baik saja....


Aku, simbah, dan istrinya

Aku dan mbah Sujud


A tribute to Sujud Kendang Sutrisno....
21 Juli 2014


Cheers,

    V



Monday, June 16, 2014

Adopsi Semangat Phunsukh di Film 3 Idiot




Mungkin ada dari Anda yang bisa menebak bagaimana jalan ceritanya. Tapi  saya tidak menceritakan tentang jalan ceritanya, tapi saya tertarik dengan salah satu karaktek dalam film ini.

Phunsukh Wangdu. Yah, inilah karakter yang menurut saya paling menarik menurut saya. Phunsukh Wangdu yang diperankan oleh Amir Kahn, adalah seorang mahasiswa biasa dan dipanggil dengan Rancho, namun memiliki pemikiran luar biasa.

Rancho adalah mahasiswa yang seolah bersikap non-mainstream, dan memiliki dua orang sahabat bernama Raju dan Farhan. Dalam pemikirannya, sekolah formal hanyalah sebuah formalitas. Tempat pembelajaran sesungguhnya adalah pengalaman dan praktik langsung dalam kehidupan sehari – hari. Tidak perlu kuliah tinggi –tinggi kalau pada akhirnya akan berkecimpung dalam dunia yang 180 derajat berbeda jauh dengan jurusan kuliah.

Diajuga merupakan seorang yang sangat mencintai kebebasan berpikir dan bertindak sesuai dengan hatinya. Baginya, semua harus dihadapi dengan berani dan bisa mengambil keputusan dengan bijak, sesuai dengan nurani. Hal itu juga yang ditularkannya kepada Raju dan Farhan. Ia juga telah berhasil mengatakan kepada kita, bahwa kita harus berani bertindak dan memperjuangkan mimpi kita. Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain terhadap kita, bahkan termasuk orang tua yang mencoba mengarahkan hidup kita. Jadilah apa saja yang kamu sukai,menurut hatimu.

Rancho juga berhasil menggambarkan bahwa sukses bisa kita genggam asalkan kita berani menentukan langkah yang terbaik untuk hidup kita. Hingga akhirnya dia berhasil menjadi seorang pengusaha dan peneliti suksesyang memiliki 400 hak paten, dicari banyak orang di seluruh penjuru negeri.

Ia bahkan juga mendermakan diri sebagai seorang guru dan mengajar di pesisir pantai, membangun sebuah sekolah alam. Ini semua dia dapatkan tanpa mempergunakan ijazah sarjananya yang memang diatak punya. Ternyata selama kuliah, dia hanya menggantikan anak bosnya, Rancho, untuk berkuliah dengan meminjam namanya sebab nama aslinya adalah Chotte. Ternyata ia seorang yang haus ilmu, hanyabutuh belajar. Iatak butuh gelar.

Look. Sekarang kembali ke dalam kehidupan kita masing – masing. Sudahkah kita melakukan keberanian dalam hidup? Misalnya membuat sebuah keputusan yang sederhana namun pada akhirnya akan berdampak positif pada hidup kita? Apakah kita harus berlaku seekstrim Rancho?Jawabannya kembali ke dalam diri kita masing – masing.

Dalammenjalani kehidupan sehari – hari, kita terkadang dikungkung dengan sistem pendidikan formal sekolah. Sistem tersebut terkadang membatasi pemikiran kita untuk melakukan sesuatu yang lain, sesuai dengan yang kita sukai. Tidak banyak yang berpikiran untuk membuka usaha atau berlatih menjadi wirausaha karena telah terprogram oleh sistem. Saya menyebutnya tahap hidup yang konvensional. Taman kanak – kanak –SD– SMP-SMA-Kuliah-Kerja-Menikah-Berkeluarga-Punya Anak-Gotho another world :P. Si anak nantinya juga bakal `mewarisi` pola hidup yang sama dengan ayah ibunya. Begituuuuu terus sampai entah ke berapa generasi.

Negeriini (baca :Indonesia) adalah negeri yang dibangun atas semangat dan perjuangan para pemuda. Pemuda – pemudi setidaknya harus memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa ini. Apa? Mungkin bukan lagi ikut berperang dengan bambu runcing. Bukan lagi menyusup ke daerah musuh secara sembunyi – sembunyi. Bukan lagi seperti itu. Pemuda seharusnya mampu menjadi agen bangsa ini. Paling tidak, berjuang untuk kebahagiaan diri sendiri, tidak nglokro(bermalas-malasan),dan mampu menjadi sosok yang inspiratif. Misalnya dengan membuka usaha atau menjadi seorang enterpreneur. Terdengar sederhana memang,tapi tentu butuh nyali dan konsistensi untuk menjadi seorang wirausaha.

Saya pernah berlatih menjadi wirausaha dengan menjadi agen reseller salah satu coklat yang cukup terkenal di negeri ini. Pendapatannya tidak seberapa tapi pengalaman jatuh bangunnya itu yang luar biasa. Sudah capek keliling kota seharian karena order coklat cukup banyak, namun keuntungan yang didapatkan 10.000 rupiah saja. Hingga pada akhirnya,kami tidak pernah mengalami balik modal dan beralih menekuni bisnis lain, yaitu tas anyaman dari kulit sintetis. Hingga kini,perkembangannya masih jauh dari kondisi baik, kami belum balik modal, walau sudah berjalan selama lima bulan. Namun kami yakin, kami tidak pernah gagal, hanya kami belum bisa menang pada waktunya.

Yes,begitulah hidup. Mungkin di luar sana, masih banyak cerita – ceritalain yang lebih jatuh – bangun, yang lebih hebat, dan mengundang air mata. Dan menurut saya, setiap orang akan hidup dari pengalaman dan cerita – ceritanya. Bedanya adalah bagaimana seseorang dalam memperlakukan pengalamannya. Pelajaran yang didapatkan sebelumnya,tentu menjadi bekal yang sangat berguna untuk kemudian hari.

Kebanyakan,lulusan sarjana sudah berangan – angan mendapatkan gaji yang besar,langsung bisa bekerja di perusahaan impian mereka. Harus berjuang keras untuk menyingkirkan puluhan bahkan ratusan saingan lainnya.Pada akhirnya malah apes, tidak segera mendapatkan pekerjaan sama sekali, lalu drop, dan akhirnya psikisnya sakit. Berkali – kaligagal lagi, dan tidak satu kali pun terpikir untuk menjadi wirausaha.Entah karena malas, sudah negatif thinking duluan, atau bahkan takut memulai.

Semua orang, termasuk saya, tentu mengiginkan kehidupan yang sukses dansehat secara finansial. Tentu kita mendambakan tabungan yang banyak di hari tua, mendambakan sudah memiliki rumah sendiri setelah menikah nanti, atau memiliki mimpi lain untuk travelling ke seluruh negeri. Dan itu bukan mimpi, kawan. Itu bisa kita wujudkan. Menjadi seorang wirausaha itu tidak dosa, dan gagal itu juga bukan takdir. Gagal itu hanya masalah nasib.

Mungkinkita pernah jatuh. Kita pernah berlari. Kita tertawa dan menangis.Kita terdiam. Kita pupus. Kita berbicara. Kita tumbang. Kita miskin.Kita marah. Kita iba. Kita berdiri. Kita rugi. Kita bangkrut. Kitapergi. Kita kembali. Kita belajar, kita berusaha. Kita hidup, lalu akan mati. Kita tidur. Kita bangun. Kita bermimpi. Kita maju. Kita sukses. Semua itu proses hidup. Dan berwirausaha seharusnya juga mampu disisipkan dalam rangkainan tersebut.

Berwirausaha bagi saya, itu berarti kita berusaha untuk mandiri. Sekaligus mengurangi jumlah pencari kerja yang jumlahnya semakin bertambah banyak setiap hari. Lalu apa kaitannya antara film 3 idiot dengan wirausaha?Tentu saja semangat Rancho-lah yang harus kita tiru. Sebagai seorang muda yang ingin berwirausaha, kita harus konsisten dan berani mengatakan pada orang – orang di sekeliling kita bahwa kita ingin menjadi pengusaha. Hiduplah keluar dari sarangmu dan berpikir out of the box. Lakukan apabila hatimu menyuruhmu untuk melakukannya. Jika ada anak –anak muda yang seperti Rancho, yang mampu berinisiatif,dan tidak takut menghadapi resiko, tentu kita bisa sukses bersama.

Jangan lupa tentukan mana jalan mana yang akan kita pilih. Jalan mana yangkita sukai dan akan mengantarkan kita pada suatu kesuksesan.Yakinilah, apa yang seharusnya diyakini. Kita masih muda, masih punya otot dan pikiran yang kuat. Masih punya banyak kesempatan untuk memulai hal – hal yang baru, salah satunya berwirausaha!! Usia mudaberkarya dan berencana, juga berwirausaha. Tentu kelak di usia tua bakal mapan dan sejahtera.


Sometimes,you dont have to think to much. Just go...when your heart takes you....



_Yogyakarta, June 2014 dan saya baru menyadari kalau saya benar2 sok tahu

Saturday, May 31, 2014

Its Time to Celebrate Life!




Iseng aku bertanya dengan mengirimkan SMS singkatku ke beberapa temanku. Aku menanyakan pertanyaan sederhana aku, 'Enaknya mimpiin apa ya?' Dan beragam jawaban muncul dari teman-temanku seperti berikut.

Witri
: “Jadi ibuk, punya modiste, dan eksiiiis XD Jujur banget ya aku 

Rendi
: “Keliling dunia mbak vin. Hehe ”

Rita
: “Mimpi terjun dr tebing 100m k laut tapi pake tali”

Adit 
: “Mimpi basah” 

Eri Karunia
:”Mimpi liburan keliling dunia”

Wahyu
: “Opo iki karepe? (Apa ini maksudnya?”) Mimpiq sederhana, cita-citaku terwujud..”

Endi
: “Kowe aku ngopo e Vin? (“Kamu kenapa Vin?”)

Galuh
: “Mimpi nikah sama mas-mas ganteeeenng”

Beberapa detik setelah membaca semua balasan dari teman-temanku, aku pun terdiam, namun kemudian tertawa.

Teman-teman tersebut cukup dekat denganku. Beberapa diantaranya tak lagi mudah untuk ditemui karena disibukkan dengan urusannya sembari berusaha meraih mimpi, salah satunya, mungkin mimpi-mimpi yang ada di atas ini. Haha. Terima kasih teman-teman. Aku jadi teringat lagi bahwa aku masih harus berjuang untuk mimpi-mimpiku juga.

Well. Kemudian aku berpikir untuk kembali menelusuri pertanyaan di hidupku dan bertanya: Mimpi apa yang belum berhasil aku wujudkan?” Aku kembali flash back pikiranku ke pertanyaan masa silam,Nak, besok kalau sudah besar, ingin bermimpi menjadi apa?'

Kini bagiku, pertanyaan itu tampak retorika. Pertanyaan yang selalu saja sama kudengarkan setiap kali aku duduk di bangku merah kecilku di dalam ruang kelas waktu taman kanak-kanak dulu. Pun demikian halnya dalam lagu yang dibawakan oleh Ria Enes bersama boneka kesayangannya, Susan. Hampir selalu begitu. Seperti itu.

Saat itu, jawabanku sederhana saja. Aku bermimpi ingin menjadi astronot dan nggak ngompol lagi. Iya benar, saat TK aku adalah tukang ngompol. Aku juga ingin menjadi astronot karena sering melihat doraemon yang sering pergi ke luar angkasa hanya dengan pintu kemana saja. Sepertinya itu semua menyenangkan. Itu saja.Simpel 'kan?


Dan mungkin sejak saat itulah, aku mulai belajar tentang impian dan harapan, walau dalam bentuk yang paling sederhana. Hingga pada akhirnya, aku berani bermimpi lebih tinggi. Sebuah mimpi yang timbul karena saat itu ayahku selalu membelikanku kue semprong satu bulan sekali. Dimana ada gambar tentara Inggris di kaleng kemasan kue tersebut. And yeah, it was happen. Aku menyebut tempat yang aku impikan itu sebagai theabsofuckinglutely things, Inggris.


Hingga setelahnya, semakin banyak hal tentang Inggris yang ingin kuketahui. Aku sampai tak mau ketinggalan menonton Mr.Bean. Saat itu, ayahku senang sekali meminjam kaset video film Mr.Bean—dimana saat itu VCD/DVD masih belum terkenal seperti sekarang— untuk mengisi akhir pekan keluarga kami. Pun juga dengan serial James Bond jaman Timothy Dalton sudah kutonton di usiaku yang bisa dikatakan belum cukup umur pada saat itu. Haha.

Aku sudah bisa menyetel video sendiri, sehingga aku dengan mudahnya memencet tombol rewind sesuka hati untuk mengulang adegan tertentu di film Mr.Bean, misalnya scene pedesaan atau tentang prajurit Inggris. Saat itu di pikiran masa kecilku, aku merasa terhibur dengan suguhan pemandangan di pedesaan Inggris dan berbagai hal lain yang identik dengan Inggris. Seiring berjalannya waktu, aku melihat ada sebuah pembelajaran dalam film Mr.Bean. 



Dari film tersebut, aku dapat melihat banyak hal tentang Inggris, dari mulai objek wisata, kebiasaan-kebiasaan, festival, kebudayaan, adat istiadat, dan kekayaan alam. Misalnya Sungai Thames, jam Big Ben, afternoon tea, dan bearskin, atau topi berbentuk rambut yang biasa dikenakan di prajurit Inggris. Aku juga jadi tahu, betapa rakyat Inggris tampaknya sangat menghormati Ratu mereka. Dan semua itu semakin membuatku semakin tertarik dengan negara ini.

Motivasiku ingin pergi ke Inggris semakin kuat setelah aku melihat ada bus tingkat di kota Surakarta. Saat usiaku 14 tahun, ayahku terkadang mengajakku untuk berkunjung ke sanak saudara yang tinggal di Solo. Saat melihat bis tersebut, aku jadi teringat bahwa desain bus tesebut mirip dengan yang ada di Inggris juga identik dengan bus tingkatnya yang berwarna merah atau disebut dengan Double Decker/Red Bus. Tak ketinggalan, black cab juga menjadi ikon terkemuka yang identik dengan Inggris. Well, saat itu tampaknya aku sudah memiliki jawaban jika guru di taman kanak-kanakku dulu menanyaiku hal yang sama.

Waktu yang berjalan semakin jauh membuatku sadar, bahwa keinginanku ke Inggris bukan hanya sekadar keinginan, melainkan telah berafiliasi sebagai sebuah mimpi. Aku mulai senang mendengarkan band asal Inggris seperti OASIS dan Coldplay. Oh ya, aku dulu juga sangat suka dengan A1 karena mereka sering menggunakan lokasi di sekitaran Inggris untuk syuting video klip. Video klip yang menjadi favoritku adalah Same Old Brand New You, dimana mengambil lokasi syuting di tenggara Inggris, Kent, daerah yang sangat dingin menurut penuturan sebagian orang. 




Ketika itu aku hanya mendengarkan lagu-lagu mereka melalui MP3 milikku yang merupakan kado ultah dari ayahku. Sepanjang perjalanan dari SMA menuju rumah, hampir selalu aku mendengar semua lagu dari band favoritku.

Bagiku, band-band asal Inggris memiliki kekuatan lewat lirik dan bagaimana cara mereka mengirimkan pesan lagu kepada pendengar. Atau bisa juga melalui berpesan tentang kehidupan dan cinta lewat sajak dan nada yang dimainkan oleh The Beatles dalam albumnya yang sangat kondang, Abbey Road. Aku suka. Iya, aku sangat suka bagaimana mereka mampu menghadirkan energi melalui lagu yang dibawakan. 




Seiring waktu berjalan hingga akhirnya aku mencapai titik lain di kehidupanku, aku pun mulai menyukai sepakbola asal Inggris, Chelsea Football Club. Semboyan Keep the Blues Flight Flying High (KTBFFH) selalu aku ucapkan setiap kali melihat pertandingan Chelsea, entah hasilnya menang ataupun kalah. Bagiku, Chelsea adalah klub para bintang dan hanya cocok dikomando oleh seorang yang tahan banting, seorang Jose Mourinho, The Special One.

Ah, aku selalu bermimpi, kapan ya aku bisa berfoto dengan latar Stamford Bridge? Hingga pernah semua password akun sosial mediaku adalah doa untuk ke Stamford Bridge. 




Hingga aku berburu buku biografi para pesohor sepakbola Inggris seperti Lampard dan Gerrard yang berjudul Totally Frank dan My Story. Namun demikian, aku tak pernah berhasil mendapatkannya. Sementara ini, obatku untuk lebih dekat dengan mereka adalah dengan memandangi poster, sarung bantal, dan tas ransel saja. Nah, ini dia teman-teman setiaku. :)




Tak hanya itu saja. Aku sangat suka street fashion style masyarakat Inggris. Kita seolah dapat menemukan ragam fashion yang apik hanya di setiap jalan yang kita lewati. Atau jika berbicara fashion dengan mungkin lebih tinggi lagi, aku menyukai semua desain topi bangsawan Inggris dan juga desainer Alexander McQueen! Yeah.

Aku selalu yakin bahwa mimpi itu adalah sebuah bunga liar. Ia selalu indah, namun perlu sebuah usaha berupa tekad, keringat, dan niat sepenuh hati untuk mendapatkannya. Kalau kata ahli: Jika belum ada seseorang yang menertawakan mimpimu, itu berarti mimpimu belum terlalu liar! Benar tidak? :)

Aku setuju. Aku percaya mimpi adalah poros dan berfungsi sebagai motivasi agar manusia merasa lebih hidup. Dari kecil orang tuaku mengajarkanku untuk menjadi seseorang yang bermimpi banyak dan besar. Aku masih ingat bagaimana ayahku berkata bahwa beliau ingin aku melebihiya. Dalam segala hal. Iya, segala hal. Ia menginginkanku untuk memperoleh pengalaman sebanyak-banyaknya, dan pergi berkelana sejauh-jauhnya.


Pergi ke Inggris adalah sebuah perjalanan untuk mlihat banyak hal. Selain aku akan berkunjung ke tempat favorit disana, aku juga bisa belajar mengenai sejarah, adat istiadat, dan semua kebiasaan yang akan kutemui, walau hanya dalam waktu yang singkat. Aku tentu akan bisa melihat lebih banyak warna, bahkan mungkin perbedaan.

Bisa pergi ke negara yang identik dengan David Beckham ini juga seolah adalah realisasi atas kepingan-kepingan mimpi yang telah kubangun melalui puing memori masa kecilku hingga saat ini. Aku akan dapat melihat secara langsung, bagaimana lekuk air Sungai Thames dengan lebih jelas. Bagaimana suara sirine kapal yang menandakan bahwa Tower Bridge di tengah Sungai Thames harus dibuka agar kapal tersebut bisa lewat. Aku akan lebih bisa mengagumi keelokan Westminster Abbey dari dekat. Mendadak aku teringat tentang celotehanku akan salah satu mimpiku ini. 



Dan tentu saja, nanti aku akan bisa bilang ke ayahku, bahwa aku harus berterima kasih atas yang dilakukannya dengan meminjam serial Mr.Bean setiap minggu.

Aku harus berterima kasih, lagi, untuk ayahku, bahwa bermimpi itu enggak boleh cetek!

Dan mungkin juga, aku seolah akan melihat kembali masa kecilku. Memaknai setiap tempat yang akan kukunjungi. Belajar melihat dengan lebih bijaksana. Mendapatkan mimpi yang tersenyum karena ia telah diperbolehkan untuk unjuk gigi pada dunia. Juga akan mendapati bagaimana indahnya proses untuk melihat semuanya dengan lebih dekat. Sangat dekat.

Ah Inggris.
Aku hanya ingin merayakan salah satu scene hidupku bersamamu. Mari rayakan hidup ini bersama-sama.

Semoga.

and when she was just a girlShe expected the worldBut it flew away from her reachSo she ran away in her sleep 
Dreamed of para- para- paradise..... (coldplay)




Dear, Smax! Wanna celebrate life with me? 

Credit picture : 







Wednesday, May 21, 2014

Mimpi di Titik 0 Kilometer




Menggelitik namun menawan. Setidaknya itu yang ada di pikiran saya pagi ini tentang mimpi.
Di perjalanan sebelum berangkat ke kantor, saya tiba-tiba terlintas sesuatu tentang mimpi.


Yarp! Oh yeah! Ah! Or whatever bentuk ekspresi yang keluar ketika kita kembali membicarakan soal mimpi.


Tapi bagaimanapun, menurut saya, mimpi adalah bunga liar yang tumbuh di setiap pekarangan angan dan cita-cita kita. Well said, bunga liar. Sebab ia selalu tampak cantik, namun perlu energi, waktu, dan keyakinan untuk menaklukkannya.


Anda yang membaca tulisan ini mungkin juga memiliki dan sedang berusaha menikmati bunga liar itu. Bahkan mungkin Anda yang mungkin telah jauh melanglang buana menempuh ratusan selat, mungkin masih memiliki ratusan mimpi lainnya yang belum terwujud.


Mungkin bagi Anda, mimpi-mimpi hanya soal waktu. Tapi pertanyaannya, sampai kapan? Sampai kapan kita bisa bertoleransi atas mimpi-mimpi?


Mungkin suatu waktu, akan ada masanya salah satu diantara kita berbelok beberapa derajat menyimpang dari apa yang sebelumnya telah kita rencanakan. Kita begitu saja mengiyakan, apa yang tampaknya menggiurkan dan lebih menjanjikan dari sebuah mimpi sederhana yang sebelumnya sudah kita bangun.


Haruskah kita realistis? Tergantung.


Saya pribadi lebih memilih untuk mencoba merealisasikannya dulu. Sebuah mimpi akan sangat sayang apabila hanya dibayangkan...dari waktu ke waktu. Tanpa pernah ada hasrat sedikit pun untuk menggapainya, atau setidaknya....mencoba untuk menggapainya. Mungkin ini yang dinamakan sebagai 'penghormatan atas sebuah khayalan'.


Penghormatan tersebut tampaknya akan mencapai titik jenuh apabila pada akhirnya apa yang kita impikan tak kunjung dicapai. Satu. Dua. Tiga kali kita mencoba, tetap saja gagal, tetap saja apa yang kita impikan tidak terwujud. Semua usaha yang telah kita lakukan tak berbuah menjadi sesuatu yang manis. Titik ini mungkin adalah pertanda bagi kita, untuk menyudahi usaha pencapaian mimpi kita.


Di saat yang sama pula, hendaknya kita lebih peka terhadap hal lain yang sekiranya mampu membuat kita lebih bermanfaat bagi sekitar, diri sendiri, dan juga makhluk secara lebih banyak. Lebih dirasa memperkaya pengetahuan dan meningkatkan kualitas yang ada di dalam diri kita.


Lalu apakah saya akan realistis sebelum saya berusaha untuk mencapai mimpi utama saya? Nggak! Saya masih akan tetap lurus dan beridealis untuk mencoba menggapai apa yang saya inginkan.


HA-HA. 


You can say HA-HA or make some laugh for me. Tapi bukankah bila belum ada orang yang menertawakan mimpi-mimpimu, itu berarti mimpimu belum terlalu liar? Setidaknya saya masih akan mencoba untuk tetap menggapainya.


Namun dalam suatu kondisi, kita akan dihadapkan pada sebuah situasi yang menyebabkan kita harus menunda mimpi tersebut. Solusinya? Jalani saja. Namun, jangan pernah menghapuskannya dari angan di benak kita.

Dan bila pada akhirnya memang kita harus benar-benar realistis dan merelakan mimpi tersebut, yakini saja bahwa mimpi itu tidaklah pernah benar-benar hilang. Ia mungkin hanya mencapai titik terendahnya, di 0 km.


Tapi, sebenarnya kita tidak akan pernah kehilangan mimpi. Kita hanya gagal dalam mencapainya. Mimpi-mimpi yang sebenarnya itu akan berinkubasi menjadi sebuah hobi. Selalu ada dan menghiasi hari jika kita bisa menyikapinya dengan kreatif.


Dan kita akan tahu itu. Benar-benar akan tahu bahwa:


You never lose a dream. It just incubates as a hobby. Kalau menurutmu?



Cheers,

   V


Yogyakarta, May 2014
Sedang sangat sok tahu soal mimpi
pict.credit: instagram.com/airlinepilot
















Friday, May 16, 2014

A Candid Story After Poipet-Aranyaphrathet


Anak-anak itu tampak sangat kumal.Mereka mendekat ke rombongan kami yang baru saja turun dari bus. Akudan temanku tampak cuek. Merasa tak perlu melayani seseorang yangtampaknya tidak cukup bersahabat.


Pun pada saat itu kami sedang berada di sebuah destination nowhere, sebuah tempat yang tampaknya tak juga bersahabat.Aku nggak tahu aku dan rombongan sedang dimana. Kompas tidak bekerja maksimal. Sinyal handphone tidak juga bagus. Sepanjang perjalanan, yangtampak di sisi kanan dan krii hanya hamparan pasir kecoklatan seperti lapangan luas tanpatumbuhan. Hanya diselingi beberapa rumah kayu bertingkat tanpapagar. Aku pun tidak tahu bagaimana perjalanan ini akan berujung.

Ini awalnya hanya karena perdebatan rombongankudengan kepala imigrasi. Kami diminta menghadap terkait pengurusanvisa on arrival kami. Karena memakan waktu yang cukup lama, terpaksa rombongan kami dimintapindah ke bus umum, bukan bus pariwisata yang sesuai dengan tiket kami. Mau tak mau, aku dan rombongan pun harus keluar dariitinerary yang sebelumnya sudah kami buat.

Jadilah aku mulai meraba perjalanan ini,sesaat setelah meninggalkan perbatasan Poipet-Aranyaphratet menujuSiem Reap. Aku dongkol. Hingga akhirnya kini bertemu dengananak-anak kumal itu. Aku bergumam saat itu keberadaanku tak masuk kedalam kolom back azzimute yang ada di peta!!

Si anak-anak kumal semakin mendekat.Memberikan aksesoris berupa gelang yang cukup cantik dan memasangkannya di pergelangan tangan kami. Aku merasaseperti menemukan oase, bahwa di tempat antah berantah ini aku masihbisa merasakan sebuah sentuhan manis, sebuah pemberian aksesoriscantik. Begitu pikirku. Aku kembali bersemangat, walau aku danteman-temanku juga sadar, saat itu pun aku tak punya cukup uang untukmembeli makanan walau hanya sekadar roti.

Tak berapa lama, si kumal tampaksumringah, karena bus kami akan segera kembali berangkat. Ia kembalimendekati kami dan dari bahasa tubuhnya, aku tahu dia sedang memintaloyalti. Ya, loyalti atas aksesoris pemberiannya.


Aku mencengkeram lengan temanku setelah aku tahu ternyata mereka diasuh oleh orang dewasa yangmenurutku cukup bertampang garang. Mereka lantas membuntuti kamihingga di pintu bus. Si sopir bus meminta kami untuk menyerahkanbeberapa lembar uang riel* dan yeah... akhirnya aku berikan uangsimpananku yang sebenarnya akan aku gunakan membayar penginapan di HoChi Minh nanti.

Bus pun melaju. Aku masih dongkol,karena aku tak jadi makan, namun uangku telah habis. Hingga akhirnyaseorang Cambodian, Ke Sophkorn, menawariku dan rombongan, 2 buah Sticky Rice (nasi ketan khas Kamboja) yanghanya 6 kali lahap sudah habis. Hingga akhirnya, aku kembali merasakan sensasi ketika aku tahu bahwa supir bus yangkutumpangi sadar kalau ia salah jalan! Well, dan sejauh ini kami sudahbuang waktu 10 jam.

Di luar, langit juga sudah mulai gelap. Busku memutar balik dan kemudian berhenti jauh dari Villa tempat ujuanku menginap. Kami turun dan tanpa tahu arah. Lalu seorang pengemudi tuk-tukmendekatiku dan berkata bahwa dia kenal dengan pemilik villa tujuankami.

Ternyata mereka tidakberbohong. Kami akhirnya benar-benar sampai di villa tujuan kami.Villa yang tidak menyediakan air panas saat malam, sinyal susah, bau rada apeg, juga tak ada rumahmakan di sekitar. Namun aspek yang kedua sebenarnya tidaklah terlalu masalah, sebab, uang kami sudah menipis. 
Kami hanya makan indomie bungkus. Diremas. Dan kemudian dimakan seperti tikus! Kami merasakan sepi. Hanya ada sepasang mata yang daritadi melihat kami di teras hotel. Dan ternyata. Oh! Dia adalahsi pengasuh bertampang garang, pengasuh di anak-anak kumal tadi. Kami puntidur dalam hening dan rasa bimbang. Tak tahu apa yang akan terjadibesok. Rupanya kejutan selalu ada di belahan bumi manapun. Rupanya  aspek perjalanan yang berupa 'a soul' yang mungkin selalu aku bangga-banggakan itu akan mengalami salah satu ujiannya di sini.

Tapi kami masih punya 3 bekal yang jugautama; otak, mental, dan kecerdikan menghadapi situasi. Dan bekalitulah yang terus kami pakai, hingga waktu beranjak pergi, dan beberapa hari setelahnya, aku dan rombonganku berhasil melewatiperbatasan Vietnam, dimana sang petugas ternyata tak juga berhasilscanning pasporku!

Voila! :))



*riel: mata uang Kamboja



_When these life shocking me in anotherway_
_Ho Chi Minh, 01.50 am_

Friday, April 18, 2014

Satu Tahun Lalu, Aku Sama Seperti Mereka. (PPAN JOGJA )




Haha, tidak terasa sudah satu tahun berselang untuk PPAN, yang artinya, PCMI Jogja akan kedatangan orang-orang baru. Dari sekian banyak pelamar yang masuk, cukup membuat bingung kami, para panitia seleksi.

Mata kami harus dipaksa melek dari pagi hingga pagi lagi (hehe), sebelum akhirnya memutuskan 24 finalis terbaik yang berhak melaju ke final #PPANJogja2014.

As time goes by, saya jadi penasaran juga dengan laaran dan motivation letter yang saya buat ketika mendaftar di tahun 2013 dulu. Walhasil, iseng saya membuka laptop dan mengulik folder lama saya. Hingga akhirnya saya menemukan suatu tulisan yang saya buat untuk melengkapi tugas saya sebelum berangkat sebagai delegasi program. Aniwei, nggak ada salahnya juga buat mengabadikannya di dalam blog.

Nah, ini dia tulisan saya. Tulisan yang saya buat untuk teman-teman di seluruh nusantara. Well friend, kita memang Indonesia.


YOGYAKARTA : Indonesia Mini yang Tak Cukup Dikelilingi Dalam Sehari
Sebuah Opini


Pemandangan di hampir di setiap sudut – sudut kota ini dipenuhi oleh bangunan – bangunan bersejarah yang sangat kental nuansa heritage. Kanan dan kiri jalan banyak pejalan kaki dan turis-turis yang sibuk memoto keadaan sekitar atau menawar harga andong dan becak untuk diantar keliling kota.
Sejauh mata memandang, banyak musisi jalanan, pedagang kaki lima, atau sekawanan kelompok musik angklng berderet di sepanjang Jalan Ahmad Yani, jalan yang biasa dikenal sebagai kawasan Malioboro. Sebuah kawasan yang sangat identik dengan kota yang memiliki banyak sebutan, kota kelahiran saya, Yogyakarta.

Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan nama resmi, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki 4 kabupaten, Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Gunung Kidul serta satu kotamadya yaitu Kota Yogyakarta. Biasa dikenal juga dengan sebutan Jogja, Jogya, Yojo, atau Yogya, dan memiliki banyak
julukan akademis lain serta mendapatkan penghargaan sebagai kota Adipura dari pemerintah sejak 2006 hingga saat ini dimana penghargaan diberikan pada 12 Juni 2013 lalu.

Dari Malioboro, lurus terus ke selatan akan ada sebuah thethenger Jogja yang juga merupkakan bangunan simbol kota ini, Keraton Yogyakarta yang sekaligus merupakan kediaman raja Yogyakarta yang juga merangkum sebagai Gubernur, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang memiliki gelar yang sangat panjang. Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senapati Ing Alogo Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa, begitulah gelar lengkapnya.


Untuk memasuki Keraton Kesultanan Yogyakarta, wisatawan domestik hanya perlu membayar sebesar Rp5.000, sedangkan wisatawan lokal seharga Rp10.000,00. Di sebelah barat Keraton, ada sebuah museum Kereta Kencana yang biasa digunakan pada acara yang sangat spesial. Tiket masuknya juga sangat terjangkau. Hanya dengan Rp 3.000,00 pengunjung sudah dapat meliat koleksi-koleksi kereta milik Keraton.

Keraton dan Malioboro sebenarnya berada dalam sebuah garis imajiner lurus dengan beberapa simbol patokan Jogja yang lainnya. Kota Yogyakarta sendiri, sebenarnya memiliki 5 patokan yang berada segaris lurus secara imajiner. Patokan tersebut dimulai dari paling ujung utara Yogyakarta, yaitu Gunung Merapi. Kemudian di sebelah selatannya adalah Monumen Jogja Kembali, yang berisi diorama dan benda-benda bersejarah seputar serangan umum dan perjuangan masyarakat Yogyakarta ketika dulu ketika mempertahankan wilayah. Beranjak ke selatan, terdapat Tugu Yogyakarta yang berbentuk Golong Gilig, yang melambangkan perjuangan rakyat Yogyakarta yang bersatu padu melawan penjajah. Pada keempat sisi tugu –sesuai arah mata angin– terdapat tulisanyang menceritakan Yogyakarta tempo dulu.

Lanjut ke arah yang sama menuju Malioboro dan Keraton Yogyakarta, lalu disusul Kandang Menjangan di Jalan Pandjaitan dan sebagai patokan terakhir adalah Pantai Parangtritis yang berada di paling ujung selatan Yogyakarta. Kandang Menjangan pada jaman dahulu digunakan sebagai tempat raja Yogyakarta ketika menyaksikan pertunjukan tari. Pantai Parangtritis adalah pantai yangsangat terkenal dan terdapat Watu Gupit disebelah timur yang biasa digunakan sebagai starting point olahraga paralayang. Dari sini, Anda bisa melihat indahnya Jogja dari angkasa.

Bisa dikatakan, Yogyakarta adalah ‘Indonesia Mini’, sebab beragam jenis kebudayaan ada di sini. Banyaknya universitas menyebabkan Jogja disebut sebagai Kota Pendidikan dan banyak warga luar Jogja yang kemudian datang menuntut ilmu. Inilah yang menyebabkan Jogja disebut sebagaiIndonesia Mini. Belum lagi, jumlah kamar hotel yang tersebar di seantero kota, cottage, villa, guest house, atau rumah – rumah penduduk yang bisa disewakan per hari sangatlah banyak. Tidak heran apabila Yogyakarta juga mnedapat julukan sebagai The City of Tolerance. Disamping itu, dengan banyaknya fasilitas akomodasi dan kemudahan transportasi, Jogja sangatlah potensial untuk digunakan sebagai tujuan MICE (Meeting, Incentive , Convention, and Exhibition).


Hampir setiap minggu, Dinas Pariwisata dan lembaga pemerintahan menggelar berbagai event menarik untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
Berbagai objek wisata baik wisata alam, budaya, sejarah, adventure, kuliner, religi, dan hampir semua ada di Yogyakarta. Para wisatawan domestik mapun mancanegara dimanjakan deNgan beragam jenis wisata tersebut yang ditawarkan dengan harga yang terjangkau. Apabila Anda juga berniat untuk berwisata ke Jogja, jangan khawatir. Sebab segala kemudahan akan Anda temui selama di Jogja.



Wisata Alternatif

Berbagai jenis objek wisata dapat Anda temui di kota yang berjuluk The City of Tolerance ini. Saya tidak akan menjabarkan tempat – tempat wisata yang sudah biasa diketahui banyak orang seperti Candi Prambanan, Kaliurang, Gembira Loka, Malioboro, Keraton, Vredeburg, Taman Sari, dan lain sebagainya. Sebab tentunya buku dan sumber – sumber internet sudah banyak menjelaskan dan tentunya lebih pintar serta lebih lengkap dari saya.

Saya akan mencoba menjelaskan wisata-wisata potensial dan alternatif yang dapat dikembangkan di Yogyakarta. Misalnya wisata historis di lorong-lorong Malioboro.

Anda pernah dengar Umbu Landu Paranggi? Dia dikenal sebagai penyair jalanan yang dapat dengan mudah dijumpai di sudut-sudut Malioboro. Dia dikenal dengan sebutan Presiden Malioboro yang biasanya hidup di lorong – lorong yang ada di Malioboro. Atau mungkin pernah mendengar tentang cerita mengenai sejarah serangan umum 1 Maret? Atau sejarah lapangan udara Maguwo? Cerita-cerita ini dapat dijual sebagai suatu pengembangan obyek wisata alternatif di Yogyakarta. Dapat dilakukan wisata yang mengunjungi kembali/napak tilas ke tempat-tempat yang ada dalam sebuah cerita yang bersejarah. Belum lagi, banyak sekali bangunan bersejarah atau bangunan heritage yang menyimpan filosofis dan cerita tersendiri.

Historis lain dapat juga dilihat adalah melalui wisata militer. Wisata ini dapat dilakukan dengan mengunjungi beagam museum dan objek wisata yang ada di Yogyakarta. Misalnya museum perjuangan, museum Yogya Kembali (Monjali), Museum Dirgantara Mandala, Museum Dharma Wiratama, dan Museum Bahari. Setiap museum tersebut memiliki beragam diorama dan cerita yang dikemas apik seputar perjuangan masyarakat Yogyakarta di waktu dulu.

Misalnya adalah Museum Dirgantara Mandala, dimana kita bisa melihat perjuangan TNI AU –yang pada saat itu bernama ABRI– mempertahankan bandar udara Maguwo seperti yang sudah disinggung di awal. Dalam museum tersebut terdapat diorama dan beberapa foto yang bercerita seputar Agresi Militer Belanda. Bahkan di dalam museum tersebut, juga terdapat sebagian bangkai pesawat Dakota VT-CLA yang dulu ditumpangi Adisutjipto dan terkena bom di atas lapangan udara Maguwo. Dalam museum ini, pengunjung diperbolehkan berfoto dengan menggunakan pakaian penerbang (overall).Hanya dengan membayar Rp 20.000,00 saja, Anda sudah dapat memiliki foto layaknya penerbang tempur handal.


Bila Anda beruntung, selama Anda di Jogja, Anda bisa melihat sekawanan pasukan akrobatik udara Indonesia, Jupiter Aerobatic Team (JAT) milik TNI-AU melintas di langit Yogyakarta. Anggota pasukan ini adalah pilot-pilot kebanggaan TNI-AU yang sangat mahir melakukan berbagai macam manuver
akrobatik.

Indonesia patut berbangga memiliki mereka dan Yogyakarta jelas berbangga karena dijadikan sebagai homebase.Untuk wisata historis, Jogja bisa dikembangkan dalam sebuah program yang terarah dimana wisatawan akan diajak berwisata dengan menggunakan bus tour yang dilengkapi dengan guide
dimana akan berkunjung ke tempat – tempat wisata historis yang sebelumnya sudah dijelaskan di awal.

Atau istilahnya, melakukan sedikit wisata blusukan yang tentu akan lebih menarik . Hendaknya pemerintah kota juga memperbanyak semacam thethenger yang menandaka bahwa di tempat tersebut dulunya merupakan suatu tempat yang bersejarah atau memiliki historis. Dengan penanda
ini, wisatawan akan tahu bahwasanya tempat tersebut memiliki filosofi tersendiri.

Lain halnya, bila nda berwisata ke daerah Kotagede, Anda akan dibuat terkesima dengan bentuk dan kemegahan bangunan-bangunan kuno yang dapat dijumpai di sana. Bangunan Raden Pesik, Rumah Kalang, Masjid Besar Mataram, adalah sedikit heritage yang bisa Anda jumpai di Kotagede.
Kesemuanya menawarkan keindahan bangunan jadoel dan nilai historis yang terkandung di dalamnya.

Setiap potensi wilayah memiliki keunikan masing-masing. Gunung Kidul terkenal dengan batik kayunya melalui Desa Wisata Bobung. Atau wisata alamnya di Gua Pindul, Nglanggeran, Gua Jomblang, air terjun Sri Gethuk, atau obyek pantainya yang menawarkan keindahan alam yang dapat ditelusuri dengan jeep, misalnya di pantai Ngrenehan. Sedangkan Sleman terkenal dengan
desa wisata yang menawarkan pengetahuan mengenai kehidupan desa seperti Pentingsari, Brayut, Tanjung, Srowol, dan sebagainya.

Kulon Progo dengan kekayaan alam yang menawarkan wisata puncak bukit Suroloyo, Hutan Pinus,atau pantai Glagah yang rencananya akan digunakan sebagai tempat berlabuh kapal TNI-AL yang akan masuk ke wilayah Yogyakarta. Sedangkan wilayah Bantul, snagatlah terkenal dengan wisata enterpreneur dimana pemerintah daerahnya sangatlah mengedepankan usaha-usaha lokal dan
bersifat mikro. Pemerintah setempat memberikan kebijakan kepada pasar modern seperti supermarket berjaringan untuk tidak membuka lahan di kabupaten Bantul. Ini adalah salah satu cara untuk tetap mempertahankan sektor-sektor industri rumahan dan mikro agar tidak mati.

Untuk kuliner, jangan ditanya lagi. Jogja adalah gudangnya makanan, baik dari yang eksklusif,makanan rumahan, makanan camilan, atau yang unik dan aneh. Anda bisa menemukan berbagai jenis makanan dari mulai gudeg,ayung-ayung,grontol, gatot, tiwul, gaplek, geplak, manuk nom, cenil, dan lain sebagainya. Tidak akan cukup kalau hanya dijelaskan secara gamblang. Ragam kuliner di Jogja sangatlah banyak, namun harganya sesuai kantong. Di kota ini, bahkan dengan Rp2.000,00 Anda sudah dapat membuat perut ayem dengan ‘nasi kucing’ dan es teh satu gelas yang baisa dijual di angkringan-angkringan.

Sangat banyak hal yang dapat dikulik dari Yogyakarta dan Anda tidak akan mungkin bisa menjelajah dan menyelami Yogyakarta dengan waktu yang singkat. Pun melalui serangkaian kata melalui tulisan ini. Yogyakarta dapat diselami secara riil dengan mengunjungi. Sebab satu hal lain yang istimewa
yang dimiliki Jogja adalah nuansa. Selami kota Jogja dengan nuansanya. Nuansa yang memiliki atmosfer yang istimewa yang bagi sebagian orang akan membuat mereka kembali.

Kelap-kelip lampu dan nyanyian penyair jalanan akan terus ada, di setiap sudut dengan temaram lampu kota. Angkringan,nyanyian penyair jalanan, atau asap dari pengepul kopi joss di sebelah utara stasiun Tugu juga tetap akan menjadi panorama yang bercerita. Keberagaman budaya, banyaknya adat istiadat yang bercampur dengan indahnya toleransi, serta antusias wisatawan yang
mengabadikan gambar akan selalu menjadi anjangsana setiap orang yang melihat. Ini Indonesia Mini. Tapi Anda tak akan cukup mengunjunginya seh

Dan Anda tak akan cukup kalau hanya sehari mengunjungi Jogja.

JANGAN KE JOGJA KALAU TAKUT KEMBALI LAGI...



Saat membacanya kembali, aku terbawa kembali pada suasana emosional saat aku menuliskannya. Saat itu, tahu tahun yang lalu, aku masih disibukkan sana-sini dengan berbagai thethek bengek yang harus saya persiapkan sebelum berangkat program. Kini, tahun pun sudah berganti. Musim gugur telah melewati masanya sekali lagi.

Dan, satu tahun lalu, aku masih jadi finalis. Aku duduk bersama dalam lingkaran bundar di Youth Centre dan menyimak tugas dan instruksi dari panitia. Aku sama seperti mereka.  Mereka yang kini masih berjuang untuk bisa berhasl berangkat program.

Bahkan tiga tahun lalu, aku baru mencoba untuk mendaftar program pertama kali. Hingga akhirnya, 2013 aku memutuskan untuk mendaftar lagi...mungkin untuk yang terakhir kali apabila aku gagal lagi.

But, yeah, victory loves preparation. Aku merasa, di tahun 2013 aku lebih siap. Dan aku percaya, kesiapan juga akan menentukan hasil di akhir. FInally i made it. Aku bersama 4 delegasi Jogja lainnya, berhasil menjadi wakil Jogja dan Indonesia. Itulah mengapa cover untuk tulisan ini adalah gambar Tugu, karena itu Tugu Jogja, yang menjadi lambang kota Yogya.. hahaha

And, i always believe, some things nowadays, are impossible things in the past. Just trust it, go to your future and then make it true.


Proud to be a member of PCMI Jogja.