Friday, April 18, 2014

Satu Tahun Lalu, Aku Sama Seperti Mereka. (PPAN JOGJA )




Haha, tidak terasa sudah satu tahun berselang untuk PPAN, yang artinya, PCMI Jogja akan kedatangan orang-orang baru. Dari sekian banyak pelamar yang masuk, cukup membuat bingung kami, para panitia seleksi.

Mata kami harus dipaksa melek dari pagi hingga pagi lagi (hehe), sebelum akhirnya memutuskan 24 finalis terbaik yang berhak melaju ke final #PPANJogja2014.

As time goes by, saya jadi penasaran juga dengan laaran dan motivation letter yang saya buat ketika mendaftar di tahun 2013 dulu. Walhasil, iseng saya membuka laptop dan mengulik folder lama saya. Hingga akhirnya saya menemukan suatu tulisan yang saya buat untuk melengkapi tugas saya sebelum berangkat sebagai delegasi program. Aniwei, nggak ada salahnya juga buat mengabadikannya di dalam blog.

Nah, ini dia tulisan saya. Tulisan yang saya buat untuk teman-teman di seluruh nusantara. Well friend, kita memang Indonesia.


YOGYAKARTA : Indonesia Mini yang Tak Cukup Dikelilingi Dalam Sehari
Sebuah Opini


Pemandangan di hampir di setiap sudut – sudut kota ini dipenuhi oleh bangunan – bangunan bersejarah yang sangat kental nuansa heritage. Kanan dan kiri jalan banyak pejalan kaki dan turis-turis yang sibuk memoto keadaan sekitar atau menawar harga andong dan becak untuk diantar keliling kota.
Sejauh mata memandang, banyak musisi jalanan, pedagang kaki lima, atau sekawanan kelompok musik angklng berderet di sepanjang Jalan Ahmad Yani, jalan yang biasa dikenal sebagai kawasan Malioboro. Sebuah kawasan yang sangat identik dengan kota yang memiliki banyak sebutan, kota kelahiran saya, Yogyakarta.

Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan nama resmi, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki 4 kabupaten, Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Gunung Kidul serta satu kotamadya yaitu Kota Yogyakarta. Biasa dikenal juga dengan sebutan Jogja, Jogya, Yojo, atau Yogya, dan memiliki banyak
julukan akademis lain serta mendapatkan penghargaan sebagai kota Adipura dari pemerintah sejak 2006 hingga saat ini dimana penghargaan diberikan pada 12 Juni 2013 lalu.

Dari Malioboro, lurus terus ke selatan akan ada sebuah thethenger Jogja yang juga merupkakan bangunan simbol kota ini, Keraton Yogyakarta yang sekaligus merupakan kediaman raja Yogyakarta yang juga merangkum sebagai Gubernur, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang memiliki gelar yang sangat panjang. Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senapati Ing Alogo Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa, begitulah gelar lengkapnya.


Untuk memasuki Keraton Kesultanan Yogyakarta, wisatawan domestik hanya perlu membayar sebesar Rp5.000, sedangkan wisatawan lokal seharga Rp10.000,00. Di sebelah barat Keraton, ada sebuah museum Kereta Kencana yang biasa digunakan pada acara yang sangat spesial. Tiket masuknya juga sangat terjangkau. Hanya dengan Rp 3.000,00 pengunjung sudah dapat meliat koleksi-koleksi kereta milik Keraton.

Keraton dan Malioboro sebenarnya berada dalam sebuah garis imajiner lurus dengan beberapa simbol patokan Jogja yang lainnya. Kota Yogyakarta sendiri, sebenarnya memiliki 5 patokan yang berada segaris lurus secara imajiner. Patokan tersebut dimulai dari paling ujung utara Yogyakarta, yaitu Gunung Merapi. Kemudian di sebelah selatannya adalah Monumen Jogja Kembali, yang berisi diorama dan benda-benda bersejarah seputar serangan umum dan perjuangan masyarakat Yogyakarta ketika dulu ketika mempertahankan wilayah. Beranjak ke selatan, terdapat Tugu Yogyakarta yang berbentuk Golong Gilig, yang melambangkan perjuangan rakyat Yogyakarta yang bersatu padu melawan penjajah. Pada keempat sisi tugu –sesuai arah mata angin– terdapat tulisanyang menceritakan Yogyakarta tempo dulu.

Lanjut ke arah yang sama menuju Malioboro dan Keraton Yogyakarta, lalu disusul Kandang Menjangan di Jalan Pandjaitan dan sebagai patokan terakhir adalah Pantai Parangtritis yang berada di paling ujung selatan Yogyakarta. Kandang Menjangan pada jaman dahulu digunakan sebagai tempat raja Yogyakarta ketika menyaksikan pertunjukan tari. Pantai Parangtritis adalah pantai yangsangat terkenal dan terdapat Watu Gupit disebelah timur yang biasa digunakan sebagai starting point olahraga paralayang. Dari sini, Anda bisa melihat indahnya Jogja dari angkasa.

Bisa dikatakan, Yogyakarta adalah ‘Indonesia Mini’, sebab beragam jenis kebudayaan ada di sini. Banyaknya universitas menyebabkan Jogja disebut sebagai Kota Pendidikan dan banyak warga luar Jogja yang kemudian datang menuntut ilmu. Inilah yang menyebabkan Jogja disebut sebagaiIndonesia Mini. Belum lagi, jumlah kamar hotel yang tersebar di seantero kota, cottage, villa, guest house, atau rumah – rumah penduduk yang bisa disewakan per hari sangatlah banyak. Tidak heran apabila Yogyakarta juga mnedapat julukan sebagai The City of Tolerance. Disamping itu, dengan banyaknya fasilitas akomodasi dan kemudahan transportasi, Jogja sangatlah potensial untuk digunakan sebagai tujuan MICE (Meeting, Incentive , Convention, and Exhibition).


Hampir setiap minggu, Dinas Pariwisata dan lembaga pemerintahan menggelar berbagai event menarik untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
Berbagai objek wisata baik wisata alam, budaya, sejarah, adventure, kuliner, religi, dan hampir semua ada di Yogyakarta. Para wisatawan domestik mapun mancanegara dimanjakan deNgan beragam jenis wisata tersebut yang ditawarkan dengan harga yang terjangkau. Apabila Anda juga berniat untuk berwisata ke Jogja, jangan khawatir. Sebab segala kemudahan akan Anda temui selama di Jogja.



Wisata Alternatif

Berbagai jenis objek wisata dapat Anda temui di kota yang berjuluk The City of Tolerance ini. Saya tidak akan menjabarkan tempat – tempat wisata yang sudah biasa diketahui banyak orang seperti Candi Prambanan, Kaliurang, Gembira Loka, Malioboro, Keraton, Vredeburg, Taman Sari, dan lain sebagainya. Sebab tentunya buku dan sumber – sumber internet sudah banyak menjelaskan dan tentunya lebih pintar serta lebih lengkap dari saya.

Saya akan mencoba menjelaskan wisata-wisata potensial dan alternatif yang dapat dikembangkan di Yogyakarta. Misalnya wisata historis di lorong-lorong Malioboro.

Anda pernah dengar Umbu Landu Paranggi? Dia dikenal sebagai penyair jalanan yang dapat dengan mudah dijumpai di sudut-sudut Malioboro. Dia dikenal dengan sebutan Presiden Malioboro yang biasanya hidup di lorong – lorong yang ada di Malioboro. Atau mungkin pernah mendengar tentang cerita mengenai sejarah serangan umum 1 Maret? Atau sejarah lapangan udara Maguwo? Cerita-cerita ini dapat dijual sebagai suatu pengembangan obyek wisata alternatif di Yogyakarta. Dapat dilakukan wisata yang mengunjungi kembali/napak tilas ke tempat-tempat yang ada dalam sebuah cerita yang bersejarah. Belum lagi, banyak sekali bangunan bersejarah atau bangunan heritage yang menyimpan filosofis dan cerita tersendiri.

Historis lain dapat juga dilihat adalah melalui wisata militer. Wisata ini dapat dilakukan dengan mengunjungi beagam museum dan objek wisata yang ada di Yogyakarta. Misalnya museum perjuangan, museum Yogya Kembali (Monjali), Museum Dirgantara Mandala, Museum Dharma Wiratama, dan Museum Bahari. Setiap museum tersebut memiliki beragam diorama dan cerita yang dikemas apik seputar perjuangan masyarakat Yogyakarta di waktu dulu.

Misalnya adalah Museum Dirgantara Mandala, dimana kita bisa melihat perjuangan TNI AU –yang pada saat itu bernama ABRI– mempertahankan bandar udara Maguwo seperti yang sudah disinggung di awal. Dalam museum tersebut terdapat diorama dan beberapa foto yang bercerita seputar Agresi Militer Belanda. Bahkan di dalam museum tersebut, juga terdapat sebagian bangkai pesawat Dakota VT-CLA yang dulu ditumpangi Adisutjipto dan terkena bom di atas lapangan udara Maguwo. Dalam museum ini, pengunjung diperbolehkan berfoto dengan menggunakan pakaian penerbang (overall).Hanya dengan membayar Rp 20.000,00 saja, Anda sudah dapat memiliki foto layaknya penerbang tempur handal.


Bila Anda beruntung, selama Anda di Jogja, Anda bisa melihat sekawanan pasukan akrobatik udara Indonesia, Jupiter Aerobatic Team (JAT) milik TNI-AU melintas di langit Yogyakarta. Anggota pasukan ini adalah pilot-pilot kebanggaan TNI-AU yang sangat mahir melakukan berbagai macam manuver
akrobatik.

Indonesia patut berbangga memiliki mereka dan Yogyakarta jelas berbangga karena dijadikan sebagai homebase.Untuk wisata historis, Jogja bisa dikembangkan dalam sebuah program yang terarah dimana wisatawan akan diajak berwisata dengan menggunakan bus tour yang dilengkapi dengan guide
dimana akan berkunjung ke tempat – tempat wisata historis yang sebelumnya sudah dijelaskan di awal.

Atau istilahnya, melakukan sedikit wisata blusukan yang tentu akan lebih menarik . Hendaknya pemerintah kota juga memperbanyak semacam thethenger yang menandaka bahwa di tempat tersebut dulunya merupakan suatu tempat yang bersejarah atau memiliki historis. Dengan penanda
ini, wisatawan akan tahu bahwasanya tempat tersebut memiliki filosofi tersendiri.

Lain halnya, bila nda berwisata ke daerah Kotagede, Anda akan dibuat terkesima dengan bentuk dan kemegahan bangunan-bangunan kuno yang dapat dijumpai di sana. Bangunan Raden Pesik, Rumah Kalang, Masjid Besar Mataram, adalah sedikit heritage yang bisa Anda jumpai di Kotagede.
Kesemuanya menawarkan keindahan bangunan jadoel dan nilai historis yang terkandung di dalamnya.

Setiap potensi wilayah memiliki keunikan masing-masing. Gunung Kidul terkenal dengan batik kayunya melalui Desa Wisata Bobung. Atau wisata alamnya di Gua Pindul, Nglanggeran, Gua Jomblang, air terjun Sri Gethuk, atau obyek pantainya yang menawarkan keindahan alam yang dapat ditelusuri dengan jeep, misalnya di pantai Ngrenehan. Sedangkan Sleman terkenal dengan
desa wisata yang menawarkan pengetahuan mengenai kehidupan desa seperti Pentingsari, Brayut, Tanjung, Srowol, dan sebagainya.

Kulon Progo dengan kekayaan alam yang menawarkan wisata puncak bukit Suroloyo, Hutan Pinus,atau pantai Glagah yang rencananya akan digunakan sebagai tempat berlabuh kapal TNI-AL yang akan masuk ke wilayah Yogyakarta. Sedangkan wilayah Bantul, snagatlah terkenal dengan wisata enterpreneur dimana pemerintah daerahnya sangatlah mengedepankan usaha-usaha lokal dan
bersifat mikro. Pemerintah setempat memberikan kebijakan kepada pasar modern seperti supermarket berjaringan untuk tidak membuka lahan di kabupaten Bantul. Ini adalah salah satu cara untuk tetap mempertahankan sektor-sektor industri rumahan dan mikro agar tidak mati.

Untuk kuliner, jangan ditanya lagi. Jogja adalah gudangnya makanan, baik dari yang eksklusif,makanan rumahan, makanan camilan, atau yang unik dan aneh. Anda bisa menemukan berbagai jenis makanan dari mulai gudeg,ayung-ayung,grontol, gatot, tiwul, gaplek, geplak, manuk nom, cenil, dan lain sebagainya. Tidak akan cukup kalau hanya dijelaskan secara gamblang. Ragam kuliner di Jogja sangatlah banyak, namun harganya sesuai kantong. Di kota ini, bahkan dengan Rp2.000,00 Anda sudah dapat membuat perut ayem dengan ‘nasi kucing’ dan es teh satu gelas yang baisa dijual di angkringan-angkringan.

Sangat banyak hal yang dapat dikulik dari Yogyakarta dan Anda tidak akan mungkin bisa menjelajah dan menyelami Yogyakarta dengan waktu yang singkat. Pun melalui serangkaian kata melalui tulisan ini. Yogyakarta dapat diselami secara riil dengan mengunjungi. Sebab satu hal lain yang istimewa
yang dimiliki Jogja adalah nuansa. Selami kota Jogja dengan nuansanya. Nuansa yang memiliki atmosfer yang istimewa yang bagi sebagian orang akan membuat mereka kembali.

Kelap-kelip lampu dan nyanyian penyair jalanan akan terus ada, di setiap sudut dengan temaram lampu kota. Angkringan,nyanyian penyair jalanan, atau asap dari pengepul kopi joss di sebelah utara stasiun Tugu juga tetap akan menjadi panorama yang bercerita. Keberagaman budaya, banyaknya adat istiadat yang bercampur dengan indahnya toleransi, serta antusias wisatawan yang
mengabadikan gambar akan selalu menjadi anjangsana setiap orang yang melihat. Ini Indonesia Mini. Tapi Anda tak akan cukup mengunjunginya seh

Dan Anda tak akan cukup kalau hanya sehari mengunjungi Jogja.

JANGAN KE JOGJA KALAU TAKUT KEMBALI LAGI...



Saat membacanya kembali, aku terbawa kembali pada suasana emosional saat aku menuliskannya. Saat itu, tahu tahun yang lalu, aku masih disibukkan sana-sini dengan berbagai thethek bengek yang harus saya persiapkan sebelum berangkat program. Kini, tahun pun sudah berganti. Musim gugur telah melewati masanya sekali lagi.

Dan, satu tahun lalu, aku masih jadi finalis. Aku duduk bersama dalam lingkaran bundar di Youth Centre dan menyimak tugas dan instruksi dari panitia. Aku sama seperti mereka.  Mereka yang kini masih berjuang untuk bisa berhasl berangkat program.

Bahkan tiga tahun lalu, aku baru mencoba untuk mendaftar program pertama kali. Hingga akhirnya, 2013 aku memutuskan untuk mendaftar lagi...mungkin untuk yang terakhir kali apabila aku gagal lagi.

But, yeah, victory loves preparation. Aku merasa, di tahun 2013 aku lebih siap. Dan aku percaya, kesiapan juga akan menentukan hasil di akhir. FInally i made it. Aku bersama 4 delegasi Jogja lainnya, berhasil menjadi wakil Jogja dan Indonesia. Itulah mengapa cover untuk tulisan ini adalah gambar Tugu, karena itu Tugu Jogja, yang menjadi lambang kota Yogya.. hahaha

And, i always believe, some things nowadays, are impossible things in the past. Just trust it, go to your future and then make it true.


Proud to be a member of PCMI Jogja.

No comments:

Post a Comment