Waktu kecil dulu, seringkali aku dan teman-teman bermain
tebak-tebakan berbagai hal dari mulai yang bermutu sampai yang tidak.
Aku tahu, mungkin waktu itu, kami semua menganggapnya hanya sebagai
sebuah lelucon sambil lalu. Pertanyaan demi pertanyaan adalah bahan
bakar dan bumbu tertawa yang lebih keras. Pertanyaan yang kami anggap
jayus seperti,”Apa yang paling kuat dari sebuah pesawat?” yang ternyata
jawabannya adalah Mur/Baut, hampir selalu menjadi bahan lelucon ‘nerd’
kami ketika itu.
And you know, seiring waktu
berjalan, itu adalah pertanyaan yang cukup menggelitik bagiku kini.
Tentu saja, Habibie pun tahu bahwa pesawat akan berbentuk dengan
sempurna apabila ada mur dan baut yang kuat menopang dan merekatkannya.
Tujuannya? Simpel saja, tujuannya adalah agar antar bagian pesawat dapat
saling terhubung, berkesinambungan, merekat. Menjadi satu. Intinya,
bagian-bagian itu dapat menciptakan sebuah pengalaman baru: TERBANG!
Baut-baut
itu pun yang nantinya mungkin akan mengeras, berkarat, dan akhirnya
aus, rusak. Tapi baut akan rusak setelah ia berhasil membawa banyak
manfaat, mempersatukan, dan membawa terbang ribuan jiwa yang mungkin
juga memiliki tujuan yang mulia.
Filosofi baut dan pesawat
mungkin sangat-sangat sederhana, sesederhana bagaimana rel-rel kereta
yang menyatu satu dengan lainnya untuk memudahkan aksesibilitas kereta
api yang lewat di atasnya. Tapi ini lain, i mean, aku berbicara
tentang terbang –ke tempat yang lebih tinggi- , bergerak mendekati
sebuah manfaat dan tujuan., yang menggantung tinggi di atas sana.
Tidak
ada yang pernah salah untuk sebuah tujuan dan visi baru. Sekalipun
sebuah pesawat harus berbelok arah dan akhirnya memilih jalur baru demi
terciptanya tujuan baru itu, itu sah-sah saja. Bahkan mungkin, sang
pilot harus menginstruksikan untuk mengganti beberapa baut dengan baut
lain, yang dianggap bisa membawa terbang dengan lebih tinggi. Baut-baut
yang lama juga tidak lantas dibuangnya, melainkan akan digunakannya lagi
di penerbangannya yang lain, dengan pesawat berbeda yang lebih pas
menggunakan baut tersebut.
Tapi percayalah, penggantian
baut-baut itu bukanlah untuk mengeliminasi atau menyisihkan salah satu
atau beberapa baut. Tujuannya tetap sama : Terbang! Bahkan Mungkin lebih
tinggi!
Jadilah seperti baut. Ia akan menguatkan,
mempersatukan, hingga akhirnya berkarat, kemudian ia mungkin akan
tergantikan. Tapi ketahuilah, dalam kepercayaanku, kita akan terus hidup
asal terus memupuk mimpi-mimpi baru.
Jika memang pesawat
lamamu telah mengijinkanmu berkelana ke tempat yang baru, maka
berkelanalah. Ijinlah raga dan pikiran mengeksplorasi panorama dan
semangat baru yang mungkin saja timbul dari hal yang sangat sederhana di
tempat barumu. Yakini saja, bahwa sebenarnya, sebuah baut adalah
penguat. Ia mampu merekatkan, setia pada tempatnya, dan berusaha untuk
menjaga stabilisasi selama masa terbang. Ia mampu menyatukan, menjadi
sebuah benda kecil yang sukses mengantarkan ribuan bahkan jutaan jiwa,
terbang ke tempat lebih tinggi.
Kita sudah sejauh ini, kawan. Kita sudah cukup berhasil.
Karena kini kita sudah bisa terbang. Hanya harus terbang lebih tinggi lagi.
On my rooftop. Yogyakarta, Dec 19th, 2013. 10.22 pm
*Aku
tahu bahwa nanti, saatnya akan datang, entah cepat atau lambat. Tidak
ada yang perlu dirisaukan. Pada akhirnya akan ada yang benar-benar pergi
mencari pesawat-pesawat lain di luar sana. Seperti kukatakan
sebelumnya, tetaplah berkelana, temukan bandaramu, hinggaplah, berilah
manfaat, lalu kemudian pergi lagi. Berkelanalah lagi, cari bandara
barumu. Engkau akan menjelajahi puluhan bahkan ratusan runaway pun
taxiway. Ini hanya sementara, even bullshities-nya, hanya soal waktu.
Suatu saat nanti, pasti beberapa akan benar-benar pergi, mungkin dalam
urusan yang lainnya.
Tapi catatlah, bahwa ketika aku
mengatakan bahwa aku ingin pergi, pahamilah bahwa sebenarnya aku tidak
benar-benar pergi.... aku akan tetap jadi salah satu baut....yang akan
tetap menopang pesawatmu.

No comments:
Post a Comment