Friday, January 3, 2014

Masih Ada Negeri yang Lain

“Maaf belum sempat gabung nih, akhir-akhir ini masih banyak urusan,” isi message darinya kala itu. Well, kala itu, aku dan dia berada di dalam sebuah kelompok yang sama sesuai dengan cluster kepulauan dan ditugaskan untuk membuat suatu presentasi kelompok. Kami dipertemukan dalam sebuah kesempatan program pertukaran pemuda ke negeri Jiran.
 
 Ah, aku tahu. Pertemuan kami sudah digariskan, pertemuan kami sudah ada di buku kehidupan. Entah apa yang saat itu ada di benak saya ketika pertama kami bertemu dengannya, 19 Agustus 2013.  Dan aku tidak pernah tahu, ada rencana apa universe mempertemukan kami.

Dengan senyum dan mimik mukanya yang khas, dia menyapa dan menggeret kursi lalu duduk satu meja dengan saya. Sembari makan, kami pun bercerita tentang Jakarta. Tentang bagaimana dia menghabiskan waktu bermainnya di ibukota, tentang petualangan dan cerita-ceritanya sewaktu mengembara. Juga tentang bagaimana pemerintah kota Jakarta membangun kawasan Menteng, kawasan dimana dia tinggal dan kawasan dimana aku sering berkunjung ke handai taulan.

Masih teringat jelas, bagaimana dia dengan ketelatenannya selalu menjaga suvenir-suvenir kenegaraan yang menjadi tugasku. Dia juga lah yang selalu bongkar-muat suvenir dan setia membawanya dari satu pesawat ke pesawat lain. Dia selalu memastikan agar semuanya terbawa, tidak boleh ada yang tertinggal. Memang, sebagai divisi logistik, dia memiliki job desc untuk memastikan semua barang tidak tertinggal.

Kini aku tidak tahu, cerita apa saja yang pernah kita lewati bersama. Hingga akhirnya berpisah di bandara Soetta pada 5 September 2013. Aku termasuk salah satu yang mendapat jadwal penerbangan terakhir. Hanya tersisa aku dan beberapa orang, termasuk dirinya. Dia pun berpesan sesaat sebelum pesawatku berangkat, agar terus memberi kabar, dia pun mengatakan bahwa dia ingin mampir ke tanah kelahiranku, Yogyakarta, dan mengatakan bahwa dia sangat menginginkannya. Aku pun mengiyakan dan mengatakan akan menunggunya.

Sebulan telah berjalan, hingga akhirnya dua bulan pun berlalu. Kota kelahiranku sudah menunggu, lama, mungkin terlalu lama. Namun sosoknya juga tak segera kujumpai di kotaku. Dan ternyata aku memang tak punya kesempatan lagi.......untuk menjumpainya. Dia sudah memilih kotanya yang lain. Kota yang lebih bagus dan lebih damai dari Yogyakarta.

Dengannya, aku pernah menyanyikan bersama-sama, lagu konyol  yang kami ciptakan bersama teman lainnya untuk cluster kami selama program. Pun pernah dengan bangga, mempersembahkan lagu nasional di negeri orang. Kami juga pernah, memakai baju kebesaran yang sama, dengan logo burung Garuda di kepala. Bersama-sama membawa nama negeri ini di pundak dan mengibarkan keharumannya di dalam sanubari.

Terima kasih, Hamsy Ishak.....

Untuk semua cerita-cerita membanggakan dalam sebuah perkenalan singkat. Untuk semua kerepotan dan tanggung jawabmu selama program. Untuk semua kerja sama dan semangatmu yang telah kau tularkan. Miniatur Tugu Monas dan bolpen bertuliskan ‘Jakarta’ darimu akan selalu aku simpan. Cerita-ceritamu akan selalu aku ukir, sampai kemudian nanti waktu beranjak pergi.

Aku tak pernah mengerti rencana Tuhan. Tapi yakini saja, bahwa rencanaNya selalu baik. Kenangan bersamamu akan terpatri. Dan lalu aku kan ceritakan pada anak cucuku nanti. Tentang seorang sepertimu yang pernah kukenal walau sekejap.

Bendera Merah Putih masih jadi milikmu, kawan. Percayalah! Kamu telah pergi membawa nama bangsa. Kami kirimkan doa dari planet ini bersama dengan sayup-sayup dendang lagu Indonesia Raya yang pernah kita nyanyikan bersama di satu panggung. Kamu telah pergi diiringi dengan kicauan burung di Bromo, sepoi angin di bandara KL yang menyambut kedatangan kita waktu itu. Juga iringan dari sendunya embun basah dan tawa anak-anak di Sri Ledang. Semua akan merindukanmu. Semesta akan mengingatmu dalam semua musimnya. Indonesia akan bangga, karena kamu adalah salah satu sirine perjuangan baru.

Selamat jalan bang. I dont want to say goodbye. Good bye may seem forever. Farewell is like the end, but in my heart is the memory and there you will always be. I believe that's good bye one of the bullshitiest words ever invented. It's not like you're given the choice to say bad-bye, or awful-bye, or couldn't-care-less-about-you-bye. Everytime you leave, it's supposed to be a good one.

Our souls are connected. Maybe they always have been and will be. Maybe we've lived a thousand lives before this one and in each of them we've found each other. And maybe each time, we've been forced apart for the same reasons. That means that this goodbye is both a goodbye for the past ten thousand years and a prelude to what will come.



Hamsy Ishak.
Sampai jumpa di negeri yang lain.

1 comment:

  1. ya ALLAH, inget bg hamsy mbak, waktu di soeta kita nangis2 bersama

    ReplyDelete