Lambat laun kamu pun percaya, bahwa penilaianmu melenceng jauh dari perkiraan. Kau pun sudah mengakuinya,kan? Setahun demi setahun usia kita pun bertambah, hingga akhirnya toga pun tersemat di kepala. Kemudian kita sama-sama menyadari, bahwa ada satu titik dimana kita memang harus beranjak ke fase hidup yang selanjutnya. Sebuah fase—yang kata orang— adalah sebuah fase transisi untuk kemantapan hidup yang lebih baik. Di titik itu, aku pun tersadar, bahwa tua bukanlah usia, tapi dari seberapa banyak momen dan pengalaman yang kita lewati bersama.
Menjadi jurnalis bersama dan meliput sebuah konser klasik, kita pernah. Kamu yang saat itu menginap di rumahku karena kemalaman, merasa takjub akan ringtone ponselku yang saat itu bernada lagu milik Letto. Hingga akhirnya tingkat kekagumanmu pada Letto menjadi turun karenanya. :p
Memori kita juga menyimpan cerita-cerita sederhana, di balik anak tangga di sebuah kantor koran lokal di kota ini. Cerita tentang hasil beberapa liputan kita selama sehari, yang pada akhirnya hanya satu tulisan saja yang dimuat di koran bernuansa hijau itu. Pun cerita soal editorku yang galak, namun ternyata memiliki hati seperti hati hello kitty. Ataupun kisah luar biasa di balik dingin dan pengapnya studio salah satu televisi swasta. Hingga suguhan tiap sore dari mereka yang menjadi pelanggan setia di sebuah barbershop bernama Dorlen.
Hei. Kita pun adalah saksi, bahwa toilet persma kita mungkin memang keterlaluan. (haha). Bersama kita tak memedulikan lagi karena terlalu sibuk memikirkan deadline tulisan yang tinggal menghitung jam, dan akhirnya baru usai saat subuh mulai bergema. Selalu begitu. Hampir selalu kita berkesempatan menjadi penulis di rubrik yang sama.
Dan tampaknya celotehan dan bumbu di balik sebuah tulisan kita lebih menarik dari tulisan itu sendiri. Hingga kini kita tahu bahwa masa itu memang emas, sebuah endapan memori dan pembelajaran berarti bagi kita yang kini sedang berjuang melangkah lebih jauh ke depan....
Kamu pun pernah bercerita, soal bagaimana kamu menjadi dewasa. Melewati beberapa masa dimana kamu harus terbiasa dengan keadaan. Kamu yang saat itu masih menjadi pelanggan Total Ada, selalu memancarkan raut binar tentang perjuanganmu dengan menjalani semua proses hidup dengan baik.
Aku selalu yakin kegigihanmu untuk bisa bangkit dan memperbaiki situasi dan kondisi di sekitarmu. Tentang laptop kesayangamu yang kamu beli susah payah dengan beasiswamu. Tentang oleh-oleh sederhana untuk orang tuamu dari hasil perasan keringatmu from 8am to 4pm. Tiga kali kamu gigih mencoba masuk ke sebuah universitas yang katanya terbaik di negeri ini. Aku rasa itu sudah bisa menjadi cukup bukti, bahwa kegigihanmu tak pernah main-main...
Oh ya, masih ingat juga soal curhatanmu yang 'gagal' ke negeri seberang, mewakili kota ini. Jangan khawatir, kamu akan temukan apa yang bahkan tidak pernah kamu duga sebelumnya. Aku ingat betul, saat itu kamu akan merasa ikhlas bila aku yang berangkat.
Terima kasih banyak. Ternyata memang aku....
Kamu akan tahu, bahwa mungkin kamu perlu berjuang lebih hebat untuk kesana. Tetap bercita-citalah untuk menemukan rezekimu yang tertunda. Sesungguhnya dia tak pernah lari. Namun masih bersembunyi dalam buliran kerja keras sampai tiba masanya kelak.
Aku rasa delapan tahun bukanlah waktu yang bisa dibilang sebentar. Mungkin benar kata pepatah. Saat kita memutarbalik pikiran dan memori, kita akan tersadar bahwa cukup banyak kesempatan di dalam hidup ini yang terlewat begitu saja. Termasuk kesempatan untuk sebuah kebersamaan antar insan pasti tak akan pernah cukup. Seperti halnya kebersamaan kita? Mungkin.
Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja kita harus siap menerima sebuah konsekuensi atas pilihan yang kita ambil. Bisa saja soal memilih itu mudah. Namun bagaimana seorang manusia bertahan dalam pilihannya sampai tercapainya sebuah tujuan yang dikehendaki, itu yang akan menjadi tugas yang cukup berat, sepertinya.....
Dan aku tahu, kamu telah memilih dengan mantap. Memilih dia yang dua hari lagi mungkin akan berkeringat dingin saat mengucapkan kalimat dalam satu nafas panjangnya... Lalu setelah ia berhasil menunaikan tugasnya, kamu pun akan kembali menjadi seorang wartawan. Seperti kita dulu...
Kamu akan menjadi seorang wartawan yang selalu bertanya pada dia yang kau pilih untuk setiap keputusan yang akan kalian ambil bersama. Seorang wartawan yang akan rajin bertanya dan berdiskusi soal operasional bulanan.. Wartawan yang akan menuliskan cerita di setiap halaman surat kabar yang akan kalian jalankan bersama. Sebuah surat kabar yang semoga akan terbit selamanya...
Akan ada sebuah masa, bahwa kebebasan dan ego kita harus dibagi, dengan ikhlas dan lapang dada. Tampaknya kamu lebih dulu memilih berangkat menuju ke sana. Tapi aku yakin, kamu masih akan tetap sama. Menjadi seorang yang selalu ceria. Menjadi sukarelawanku berbagi cerita, dan 'mendukung' keisenganku di atas level konyol... :D
Semoga kamu tak lupa. Bahwa walau status teman tak ada peresmian, kejayaannya akan tetap abadi, hingga waktu yang berhak menentukannya nanti. Semoga kamu juga tak lupa. Mencuci kaos kaki dan tak lagi meletakkannya di rak bawah mushola.
Semoga kamu tak lupa. Skripsi kita nangkring bersama-sama di perpus kampus (nggaya). Semoga kamu tak lupa, bahagianya kita menikmati udara segar di kawah Bromo dan kicauan burung di sekitarnya yang menambah cerianya kita saat bersama, dua bulan lalu. Semoga kamu tak lupa. Tentang bagaimana cara menemuiku dan teman-teman lainnya, di tengah kesibukan di duniamu yang baru..
Tapi mungkin kamu boleh lupa. Boleh lupa akan kenanganmu bersama dia yang sebelum-sebelumnya. Kamu boleh lupa, tentang masa sedihmu dalam pembebasan dirimu menuju sebuah pendewasaan dalam memilih.
Mungkin setelah ini, persentase prioritas hidupmu juga akan berubah. Tapi percayalah, bahwa kami, teman-temanmu akan selalu ada. Walaupun mungkin di masa mendatang, kita tak akan sering bersua karena jarak, yakin saja bahwa semesta akan selalu mengikat kita dalam rasa.
Aku yakin pilihanmu adalah sebaik-baiknya yang kamu pilih. Kamu sudah berpikir masak-masak. Kamu sudah siap untuk melangkah, lebih maju ke depan. Membangun kembali semuanya dari nol. Merayakan sebuah kemenanganmu akan sebuah ketulusan dan sikap memiliki antar insan manusia.
Terima kasih untuk delapan tahun ini.
Selamat menempuh duniamu yang baru. Salam hangat untuk fase hidupmu yang selanjutnya. Semesta akan mendukung atas semua pilihanmu.
Sampaikan salamku, kepada semua yang berbahagia....saat 14 Maret tiba, karena saat itu, pagimu akan menjadi baru...
Love,
V

No comments:
Post a Comment