Memang, bagi sebagian orang, gaji mentereng adalah segalanya. Gaji mentereng bisa diyakini mendatangkan kebahagiaan yang hebat untuk kejayaan masa depan kelak. Tapi bagiku tidak selalu demikian. Dalam pandangan saya, bekerja itu berjalan,dan perjalanan di dalamnya adalah sebuah hasil. Juga tentang bagaimana kita memulai sebuah tugas mulia namun tetap juga berpikir untuk memberdayakan insan manusia lainnya.
Aku tidak menanyakan dan tidak menyalahkan apapun pekerjaan yang akan, tengah, atau selesai Anda jalani. Namun yang perlu diketahui adalah bahwa saya sekolah tinggi-tinggi, pun sampai mendapatkan gelar master atau doktor, hanya demi sebuah gaji tinggi dan pengakuann status sosial di dalam masyarakat.
Bagi saya, tujuan akhir dari kuliah itu bukanlah untuk bekerja. Mengembangkan nilai akademik dan juga berlomba untuk meraih jenjang yang lebih tinggi lagi itu bukan semata-mata hanya untuk mencari pekerjaan. Well, terserah mau setuju atau tidak.
Peningkatan jenjang akademik adalahuntuk pengembangan karakter, penjernihan pemikiran, dan mampu mengembangkan sudut pandang. Setidaknya itu bagi saya. Termasuk juga ketika dulu, pada mulanya, saya memutuskan untuk bekerja di kota kelahiran saya, Yogyakarta setelah saya lulus kuliah.
Beberapa pihak menanyakan bahkan seolah menyayangkan keputusan saya. Dalam pandangan mereka, kita bukanlah termasuk 'anak gaul' yang mampu bertahan di tengah gempuran dan tekanan kota-kota besar yang 'lebih dianggap' menawarkan kebahagiaan lebih besar. Mereka berkata, bila belum mencicipi jalanan kota besar, itu tidaklah keren namanya. Oh, wow. Biar saya ulas satu-satu.
Mungkin, istilah keren, bagi mereka yang berkomen itu, adalah bertemu jalanan macet setiap hari. Sementara saya di sini berangkat setiap pagi dengan kemacetan yang hampir nihil. Saya bisa mampir membeli nasi jagung kesukaan saya di tengah perjalanan saya ke kantor.
Mungkin lagi, istilah keren bagi mereka adalah berangkat pagi pulang malam, hingga tak bertemu lagi dengan anggota keluarga mereka. Sementara saya masih bisa pulang dan mampir ke toko membelikan oleh-oleh untuk anggota keluarga yang menunggu di rumah.
Mungkin, (lagi-lagi) keren bagi mereka adalah selalu terprogram. Menjadi tunduk dan patuh akan deadline danakhirnya sampai menyita waktu., hingga sampai mengorbankan hari Minggu. Sementara saya tetap masih bisa patuh deadline, namun saya masih punya hari Minggu dan hari libur lainnya.
Satu lagi, terakhir, keren bagi mereka adalah memiliki penghasilan menggila, tapi tak punya waktu untuk menikmatinya. Sementara saya, masih bisa menikmati waktu saya, beserta anekdot-anekdot saya yang lainnya. Jadi, apa salahnya bagi saya, atau mungkin Anda, bekerja di daerah? Bagi saya, kota besar tidak selalu bisa menyampaikan pesan kenyamanannya.
Ah, sudahlah. Itu hanya opini saya saja.
Bekerja adalah mengolah rasa dan mampu menyampaikan maksud dengan apa yang tengah dikerjakan untuk sebuah tujuan. Ini soal kreatifitas dan bagaimana mengolah setiap tahun dalam sebuah usia. Ruh pengalaman lah yang akan menjadikan usia lebih bernafas. Bagaimana kita mampu mengisinya dengan sebuah identitasdan kegiatan penuh makna.
Seperti notes saya sebelumnya, akan selalu ada alasan untuk sebuah keputusan. Saya masih mengabdi untuk daerah saya, untuk sebuah kepentingan dan alasan. Saya masih mau disini, menabung untuk mimpi dan berusaha menikmati setiap detik bersama keluarga saya yang mungkin saja akan hilang ketika waktu sudah menjawab saya dalam sebuah ikatan pernikahan.
Setiap manusia memang punya mimpi pribadi, begitupun saya. Saya pasti akan meninggalkan kota ini,tapi tidak sekarang. Koreksi, tidak untuk saat ini. Bukannya saya takut dengan mimpi-mimpi saya.Bukannya saya belum siap dengan kenyataan pahit yang mungkin saja terjadi. Saya hanya melakukan apa yang saya yakini saya lebih pantas melakukannya, setidaknya untuk saat ini.
Saya percaya. Akan ada suatu keajaiban dibalik semua keputusan yang telah diambil secara sadar. Dari sini, saya tetap bisa memupuk mimpi-mimpi saya dan menjaganya agar tetaphidup. Memang pada awalnya saya harus menahannya untuk beberapa waktu. Namun, pada akhirnya saya sadar, sebenarnya saat ini saya juga tengah menjalankan tugas saya yang lain, yang akan menjadi prolog dalam pencapaian mimpi-mimpi saya yang lainnya.
Maaf kalau notes ini akan mengubah pandangan, mengubah persepsi dan menimbulkan ketidaksetujuan. Apapun pilihan yang sudah Anda pilih, saya percaya Anda telah mempertimbangkannya secara matang. Ini hanyalah sebuah pandangan saya pribadi, bahwa bekerja di manapun, baik di daerah ataupun di kota besar, bukanlah soal keren atau tidak. Yang penting adalah bisa menikmatinya dan merasa tak terbebani. Bisa terus berkreasi dan memberikan makna untuk pekerjaan tersebut, juga mampu memberikan manfaat terhadap berbagai aspek di dalamkehidupan.
Yakini saja bahwa semesta akan selalu baik untuk sebuah alasan yang dibuat dengan penuh tanggung jawab. Yakini saja, bahwa mimpi tak akan pernah aus dimakan usia. Dan terpenting, kita tak akan pernah terlalu tua untuk menciptakan sebuahmimpi baru.
Selamat bekerja! Bekerjalah dengan harapan mampu memberikan manfaat bagi orang banyak. Bekerjalah untuk memakmurkan. Bekerjalah untuk memberi makna.
Semoga mimpi-mimpi akan tetap hidup.....hingga pada akhirnya nanti akan berbuah manis, tepat pada waktu yang direncanakan.
Mestakung. Semesta akan mendukung.
the picture taken form : denikurniawan.wordpress.com

No comments:
Post a Comment