Saturday, October 4, 2014

Menemukan Jiwa yang Lain di Abhayagiri Restaurant, Sumber Watu Heritage, Sleman, Yogyakarta

Beberapa orang mungkin membayangkan ingin melepas penat sejenak di sebuah tempat yang sunyi dan tenang. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota dan kebodohan klakson mobil dan motor yang dimainkan semena-mena (baca: biadab). Tempat dengan nuansa alam yang hangat, banyak dekorasi bebatuan seperti halnya yang ada di sebuah candi.

Mungkin Anda bisa mencoba berkunjung ke Abhayagiri Restaurant di Sumber Watu Heritage, Sleman, Yogyakarta. Abhayagiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti biara agung di bukit yang penuh kedamaian. Biara ini digunakan untuk relaksasi dan mendalami spiritual dengan tenang karena suasana di sekitarnya penuh kedamaian. Dan ternyata, memang benar begitu adanya.

Lokasinya tak jauh dari kompleks Keraton Ratu Boko, dan hanya berjarak sekitar 15 km dari pusat kota Yogyakarta. Mudah saja menemukannya bila Anda berkendara dari Jogja, silakan belok kanan di pertigaan sebelum pasar Prambanan (bila belok kiri menuju panggung Ramayana). Lurus saja ke selatan sekitar 1-2 km dan kemudian belok kiri pada papan penunjuk arah Abhayagiri. Jalan terus saja ikuti jalan dan papan penunjuk arah selanjutnya.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, aku merasakan aura yang sama seperti ketika aku mengunjungi Hotel Amanjiwo yang ada di Kabupaten Magelang, Sleman. Konsep yang ditawarkan sederhana, namun pemandangan dan nuansa yang diberikan itulah yang membuatnya menjadi luar biasa.

Luas Abhayagiri adalah sekitar 2,5 hektare, dan terdiri dari tiga ruangan utama, yakni indoor dining room, semi outdoor dining room, dan full outdoor dining room. Dekorasi interiornya cenderung menggunakan bahan alam seperti kayu eboni dan sengon. Pun juga dengan lantai yang digunakan, menggunakan keramik model keraton jaman dulu (yang tentunya sangat mahal), dan biasanya bermerek 'kuntji'. (Bila Anda ingin memesan keramik yang sama, Anda bisa menghubungi salah satu toko yang ada di bilangan gang di belakang Bakpia Pathuk 25, daerah Pathuk, Yogyakarta.)

Untuk perabot di outdoor dining room, didominasi oleh kursi rotan dan juga karpet rumput berwarna hijau. Ada beberapa arca Buddha yang diletakkan di sudut-sudut tangga, juga sebuah stupa berukuran cukup besar di sisi halaman sebelah tengah. Oh ya, satu hal yang menarik dari tempat ini adalah banyaknya lampu gantung berbentuk lampion di berbagai tempat. Plus juga jalan setapak semacam altar untuk menuju ke pinggiran tebing, dimana di bawahnya Anda bisa melihat keindahan kota Yogya dari atas.

Selain itu, Abhayagiri juga menyediakan fasilitas berupa hotel (soon), villa, dan juga villa yang memiliki rate sekitar Rp 600.000 per malam, dan saat ini masih dalam tahap pembangunan berkelanjutan. Pun juga sebuah aula dan juga kolam renang. Cukup membayar Rp 150.000, Anda sudah bisa berenang dan menikmati suasana kota Yogya dari salah satu tempat tinggi yang ada di sebelah timur kabupaten Sleman ini. Dan fix, aku seperti menemukan jiwaku yang lain, yang berbalut dengan semangat baru untuk terus menjalani hidup.

This is a very recommended place to visit in.


Tempat ini cocok untuk siapapun yang ingin mendapatkan sebuah pengalaman tak terlupakan dari sebuah kota bernama Yogyakarta.


Notes: Im not a paid-person or an influencer, either :D






Waiting for sunset


Look like a beautiful chandelier


Parang rusak untuk motif taplak
 

Aula berkonsep joglo yang telah berusia puluhan tahun



Tegel mahal, cap 'kuntji'


Pintu masuk dari parkiran


 Lets make a footprint here!


Nah, ini peta menuju lokasinya:

GPS Coordinate: S7°46'5.96" E110°29'49.88"

No comments:

Post a Comment