Angsa, yup, mungkin banyak cerita dongeng yang menggambarkan keelokan angsa. Dengan bulu putihnya yang bersih, dan pesona paruh yang berkilauan di bawah sinar bulan, tentu mengundang decak kagum bagi siapa saja yang melihatnya. Angsa yang cantik mandi sinar di bawah pekatnya malam. Dia berlarian layaknya seseorang yang terlalu senang disamping kekasihnya. Namun angsa ini berbeda, dia tampak sangat istimewa diantara yang lainnya. Dia adalah angsa berkepala dua, kepala yang satu di atas, satu di bawah. Angsa yang hanya memiliki satu perut yang sama.
Si kepala atas adalah sosok yang kuat, mampu menjangkau segala benda dengan mudah. Ia juga senang unjuk kebolehan, suka makan enak, dan agak egois, hanya mementingkan kepentingannya saja. Di satu sisi, si kepala bawah lebih lemah lembut, cenderung agak pemalu, penurut, sabar, dan rendah hati. Bahkan bisa dibilang gampang ditindas. Nah, suatu kali mereka berdua berjalan di tengah teriknya matahari. Panasnya matahari membuat mereka loyo dan kelaparan. Alhasil, disepakati bahwa mereka akan mencari bahan makanan dan danau untuk menghilangkan dahaga. Mereka pun menuju ke suatu daerah yang agak jauh tempatnya, berada di perbukitan. Setelah beberapa menit lamanya berjalan, mereka sampai juga di bukit itu. Tanpa aba – aba, langsung saja keduanya bergegas mencari makanan. Si kepala atas termasuk sosok yang agak rakus. Dengan mengandalkan lehernya yang panjang dan kepiawaian tubuh atas yangs emampai, dengan mudah dia bisa mengambil buah – buahan dan makanan enak yang letaknya jauh dari tanah. Sementara si kepala bawah, dengan keterbatasan dan kondisi tubuhnya, dia hanya bisa memakan buah – buahan yang busuk dan telah jatuh ke tanah. Makanan yang dimakan pun hanya mengais dari sisa makana basi dari tempat sampah. Lalu pintanya kepada si kepala atas, agar diambilkan buah – buahan yang masih segar dan makanan yang enak dan bergizi. Berkali – kali ia meminta tolong, namun si kepala atas tidak bersedia membantunya. Sang kepala atas malah sibuk dengan terus menjejali perutnya dengan berbagai macam buah yang menggoda. Dia tidak mempedulikan permintaan si kepala bawah yang kelaparan, tidak menaruh iba sedikitpun.
Setelah selesai, kemudian si angsa bergegas pulng. Namun sayang, di tengah jalan, tiba – tiba si kepala bawah mengerang kesakitan pada tenggorokan. Ternyata makanan basi dan buah busuk yang dimakannya berpengaruh terhadap kerongkongannya. Dan kemudian perut si angsa melilit hebat dan perih yang amat sangat. Karena perut antara si kepala atas dan bawah sama, alias hanya satu, maka si kepala atas juga merasakan kesakitan yang sama seperti si kepala bawah. Ternyata racun karena makanan basi telah menjalar ke seluruh tubuh angsa. Dan tak berapa lama kemudian, sang angsa mati. Itu karena sang kepala atas tak mau peduli dengan kepala bawah. Sang kepala atas tidak memikirkan apa dampak yang paling buruk atas keserakahannya.
So, tempat yang kita tinggali hendaknya harus dijaga dengan baik. Entah kita hidup di suatu kota, suatu negara, suatu wilayah harus tetap menjaga dengan baik. Seorang pemimpin kenegaraan/wilayah tentu hidup di lingkup negara/wilayah yang sama dengan rakyatnya. Satu perut untuk banyak kepala. Tentunya harus terus berupaya memberikan kesejahteraan yang baik bagi rakyat di bawahnya.
Dan 18.10.2011 telah menjadi bukti atas cinta rakyat yang begitu tulus dan besar kepada rajanya. Tulisan ini mungkin sedikit tidak nyambung endingnya, clear, Yogyakarta is just one place where hundreds of thousands of heads are in it, not just two like a swan. Surely it would be a lot of interest and requires awareness and hard work to hold it together.Pemimpin harus pro rakyat dan rakyat harus menghargai pemimpin, Tut Wuri Handayani. Serta mengingatkan pemimpin yang kebablasan.
Dan terakhir, saya cuma mau ngucapin, (intinya sebenarnya ini) :
Selamat menempuh hidup baru GKR Bendara dan KPH Yudhanegara. Yogyakarta kota seribu pesona, dan saya bangga menjadi orang Yogyakarta.

No comments:
Post a Comment