Sudah malam lagi. Dan saya masih terjaga saja disini. Ya
disini. Duduk di peraduan tempat saya mencari sunyi, yang terkadang sunyi itu
terlambat datang bersama gema adzan subuh. Tapi saya punya sunyi sendiri,
seperti sayup – sayup suara burung kenari yang terbang rendah tanpa
membangunkan petani. Waaah.. seandainya saya bisa belajar sunyi dari bapak itu,
dari bapak blengur yang sedang gundah dan sunyi.
Ooops. . tunggu dulu,ini sebenarnya kelanjutan cerita saya sebelumnya
tentang Blengur dan bapaknya. Yaaaah,
kini jiwa rapuh sang bapakmasih dipaksa berjuang menatap dan merasakan getir
aspal dan hembusan angin kering kerontang.
Sorot matanya berbeda dan menyimpan sebuah pertanyaan yang kelak tak
akan mungkin terjawab. Matanya terus menerawang, menyiratkan rasa pasrah dan
harapan yang sirna. Sunyi. Seperti sunyi yang saya cari.
Tak ada gunanya lagi menjalani hari. Jiwanya seolah tak sekuat
dulu, yang berani menghadang sombongnya tatapan dunia. Juga raganya yang tak
seampuh dulu menerpa panasnya jalanan ketika matahari terik, sampai puluhan
kilo tanpa alas kaki. Atau sorot mata tuanya yang lebih hebat dari kecepatan
cahaya. Ototnya tak lagi seperti martil yang dibakar api panas menyeruak. Ia
loyo. Hanya otot yang berupa gumpalan serat – serat yang terlalu banyak
menyimpan panjangnya memori kehidupan berharga. Pikirnya lumpuh, tak ada lagi
angan – angan dan bayangan akan cita – citanya.
Kini ia hanya seorang manusia yang sedang mencari
ketenangan. Mungkin juga....mencari suatu cinta dan sosok baru. Si bapak terus
saja berjalan. Sesekali ia menoleh ke kanan kiri dan lalu tertawa. Kemudian
sepi lagi atau bahkan tanpa henti. Seperti sore ini, ketika saya bertemu di
suatu sudut jalan berkelok. Dan yang
jelas, ia akan terus berjalan. Entah kemana dan takkan berhenti. Mungkin sampai
ia menemukan bagian yang hilang dari dirinya. Namun sayangnya, bagian itu tak
akan pernah kembali. Sebab anak semata wayang yang selalu berada disisinya baru
saja mati. Mati. Bukan hanya meninggal. Tapi benar – benar mati. Tak bernyawa,
rusak, aus, tak ada lagi hartanya yang berharga.
Dalam pikirnya, ia menyalahkan hidup. Mungkin. Atau bisa
saja menyalahkan takdir yang bergerak terlalu cepat dibanding perkiraannya. Tak
akan ada lagi gelak tawa, yang ada hanya ia harus menghadapi hidup ini sendiri.
Sang bapak lalu hanya bisa sendiri dalam sunyinya. Karena anaknya, si Blengur, sudah mati.
Masih
dibawah langitku, October 29th, 2012. 23.53 pm.
_ Dengan sisa2 hari senin
menjelang selasa_
Tulisan ini hanya tera, bagi jiwa
yang dibawa pergi dari bumi.
Untuk blengur, yang telah lenyap
bersama tegukan terakhir jus wortel saya.
No comments:
Post a Comment