Wednesday, January 23, 2013

Pragmatis Demi Idealis





“Gua bingung, bakal ngikutin kemauan ortu gua atau perjuangin keinginan gua sendiri’”

Saya masih ingat, kira-kira begitulah yang diucapkan teman saya beberapa saat setelah kami merayakan kelulusan dari universitas. Kami seolah kaget ketika berhadapan dengan kenyataan, bahwa kami bukan lagi mahasiswa, kami sudah diketok palu, menjadi seorang sarjana. Penambahan huruf di belakang nama kami itu, bukan saja membanggakan, namun juga suatu beban.

Kami hanya dua orang sahabat yang seolah sedang belajar mencari jati diri. Dua orang yang bingung bagaimana menentukan nasib di tangan sendiri. Diluar sana,mungkin tidak hanya kita berdua.Mungkin bisa tiga, sepuluh, seratus, atau bahkan jutaan orang yang sudah lulus dari universitas yang dihadapkan pada dilema untuk menentukan langkah selanjutnya. Kami punya mimpi pribadi, punya angan – angan dan kriteria hidup yang telah kami susun. Berkali – kali kami melamar berbagai lowongan, dari berbagai job fair di berbagai lembaga karir, termasuk melalui ECC UGM.

Saya tidak akan ber-ba-bi-bu membahas bagaimana kehidupan mahasiswa dalam kaitannya memperjuangkan idealisme yang berbanding terbalik dengan pragmatisme.  Saya hanya ingin sedikit berkelakar tentang bagaimana perdebatan pragmatis dan idealis pada kehidupan mahasiswa setelah lulus. Banyak mahasiswa yang  tetap bertahan dengan keyakinan dan keinginannya untuk bisa bekerja di perusahaan atau berada dalam posisi tertentu. Atau mungkin juga tidak akan bekerja, namun berwirausaha.

Dalam kondisi tersebut, kebingungan mulai merasuk. Apalagi ketika dihadapkan pada kebutuhan yang semakin banyak, namun pekerjaan atau posisi idaman belum berhasil didapatkan. Saat itulah pertentangan antara idealisme dan pragmatisme mulai berdengung.  Saat itu juga, kita harus segera memutuskan pijakan hidup kita selanjutnya. 

Idealisme, bagi saya, tidak melulu berakar pada sebuah gerakan yang memperjuangkan kepentingan suatu kelompok tertentu. Idealisme, dalam hemat saya, adalah sebuah standar yang kita ciptakan sendiri dalam hal apapun. Atau bisa jadi merupakan sebuah celah, dimana kita ingin menjadikan diri kita memilliki posisi di mata orang lain. Yaaah, semacam bargaining position yang baik.

Idealisme juga memiliki banyak arti untuk bisa diejawantahkan. Ada yang menganggapnya sebagai sebuah patokan dalam hidup, atau menganggapnya sebagai sebuah standar dalam pencapaian sesuatu. Mimpi, bagi saya, adalah salah satu contoh idealisme. Saya, sebagai manusia, punya mimpi. Mimpi yang setinggi langit, atau kata Iwan Fals dalam salah satu lagunya, mimpi-mimpi yang tak terbeli. Sebab mungkin terlalu tinggi, dan bahkan mungkin saya tak bisa menjangkaunya.  Tapi saya cuek, saya percaya kok pada diri saya sendiri. Saya yakin saya mampu meraih semua mimpi – mimpi saya. Mungkin itulah gambaran sangat sederhana mengenai idealisme. 

Hari demi hari berlalu, hingga mungkin warna toga sudah mulai luntur menjadi kelabu, tapi satu pun mimpi belum terwujud.  Sementara itu, kebutuhan semakin banyak, gengsi semakin ditekan, dan rasa geregetan untuk bekerja sudah menggerayangi. Akibatnya, otak mulai berpikir panjang, nafas mulai tertahan, dan logika dipermainkan. Pada akhirnya tergoda untuk meng-ho`oh-kan tawaran atau segala jenis pekerjaan yang datang menghampiri. Even, itu bukanlah tujuan utama kita, bukan mimpi kita, dan berbanding terbalik dengan passion  yang kita yakini. Ah, mungkin itulah pragmatis, dalam hemat saya.

Pragmatis Demi Idealis
Memperjuangkan mimpi itu boleh lho, tidak ada yang melarang. Bagi saya, mimpi itu kan suara hati. Bahkan ibu Eleanor Rooseevelt  mengatakan bahwa yang perlu dilakukan seseorang terhadap mimpinya adalah memperjuangkan dan mempercayainya.  Kalau sudah kepentok, pasti akan selalu ada tembok yang bisa dihancurkan sehingga akan menjadi jalan baru yang bisa kita lalui. 

Memperjuangkan idealisme itu juga sah – sah saja kok, tidak ada yang melarang.  Toh, yang penting tidak ada orang lain yang  dirugikan. Hanya, sekarang permasalahannya adalah mampukah seorang mahasiswa mempertahankan idealisme yang telah ditetapkannya sendiri? Simpelnya, apakah idelaisme mampu memberikan penghidupan bagi manusia kelak? 

Saya mungkin mempunyai pandangan yang rada senewen dalam melihat hidup. Ada kalanya, menurut saya, kita boleh pragmatis untuk memperjuangkan idealisme kita. Artinya begini, kita berada dalam suatu keadaan dimana kita terhimpit oleh posisi yang tidak kita harapkan tapi mengharuskan kita untuk bertahan.
Saya tidak akan munafik untuk mengatakan tidak begitu saja terhadap  produk – produk pragmatis yang datang kepada saya. Namun demikian, saya juga tidak melupakan idealis yang telah lama saya bangun dengan begitu saja. Idealis tetap harus diperjuangkan, walau dengan sedikit pengorbanan. Tidak ada salahnya juga,kok. Itu adalah pilihan kita pribadi. Bukankah setiap orang diberi kebebasan untuk memilih? Dan bukankah setiap orang diberi kebebasan untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakininya? Itu harga mati.

Saya tidak akan berhenti, untuk kemudian memperjuangkan idealisme saya. Tidak ada yang mustahil dan tidak ada yang pernah terlambat untuk memulai sesuatu. Terkadang, manusia perlu berhenti sejenak di sudut- sudut hidupnya. Mungkin agar sejenak bisa menghela nafas, untuk bisa memandang hidup dalam perspektif yang lebih luas. Yah, mungkin istilahnya idealis realistis. Kita boleh tetap memperjuangkan idealis kita, namun kita juga harus realistis melihat keadaan yang ada di sekeliling kita. Namun, tetap dengan memperjuangkan mimpi – mimpi kita yang (memang) harus diwujudkan.  


_dalam pencarian pseudo diri, masih dibawah langit Yogyakarta_
Jan 22nd, 2013 


No comments:

Post a Comment