Saya sengaja mengisi malam yang sunyi ini dengan membuat jus tomat kesukaan saya. Dalam lamunan saya, saya kembali teringat sebuah berita yang saya baca beberapa minggu lalu. Berita itu menyebutkan bahwa lagu Beyonce yang berjudul XO diduga membuat marah para anggota keluarga astronot yang wafat saat musibah Challenger 1986, pun demikian dengan NASA.
Apa hubungannya? Pasalnya, di awal lagu
tersebut, diperdengarkan rekaman suara Steve Nessbitt (humas NASA yang
menjadi controller di bumi) sesaat setelah Challenger meledak.
Bagi keluarga dan juga NASA, audio tersebut mengingatkan kembali memori
yang bagi mereka sangat mengandung unsur emosional.
Yeay, sebenarnya saya nggak mau cerita tentang Beyoonce, hanya saja, gara-gara berita tentang lagu Beyonce itu, saya malah jadi asyik masyuk dan kembali flash back, peristiwa
meledaknya Challenger, 28 Januari 1986. Saya jadi ingat bahwa saya
punya sebuah buku di atas rak, yang di dalamnya terdapat sebuah kisah
nyata seseorang di balik Challenger Explosion.
Well
yeah, sebenarnya seseorang ini bukanlah orang terkenal. Dia adalah
masyarakat sipil biasa seperti saya, ia mengabdi, mencurahkan hidupnya
menjadi seorang guru di negeri Paman Sam sana sejak tahun 1985.
Sehari-hari, dia mengajar mata pelajaran IPA di sekolah menengah dari
pagi hingga sore. Ia tinggal di sebuah kota kecil yang hanya berpenduduk
sekitar 2.000 jiwa. Dalam tulisannya pun, ia mengakui bahwa ia
menganggap dirinya sebagai seorang yang biasa-biasa saja. Frank Slazak
namanya, 25 tahun.
Namun, ada satu value dalam
dirinya yang membuatnya selalu lebih hidup. Ia selalu percaya akan
kekuatan mimpi-mimpinya. Ia selalu meyakini bahwa mimpi tersebut akan
tercapai pada suatu waktu. Slazak memimpikan bahwa suatu ketika ia akan
menjadi salah seorang yang dapat pergi ke luar angkasa, sama seperti
astronot idolanya yang dikenalnya melalui surat kabar, kala itu. Ia
selalu membayangkan, bagaimana jika seandainya suatu saat dialah yang
berada di dalam sebuah kapsul dan akan menjalani misi penjelajahan ke
luar angkasa.
Sampai suatu waktu, AS akan mengadakan misi
peluncuran roket ke angkasa yang pertama, yaitu Challenger. Presiden AS
kala itu (yang juga artis), Ronald Reagan, memberi mandat kepada NASA
untuk membuka rekrutmen kepada seorang warga sipil yang ingin merasakan
perjalanan ke luar angkasa. Syaratnya hanya dua, warga biasa dan
berprofesi sebagai seorang guru.
Tanpa ba-bi-bu,
tentu saja Slazak segera mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi
itu, karena ia memenuhi persyaratan tersebut. Ia bahkan bersedia
mengorbankan jam tidurnya hanya untuk mengisi 25 halaman formulir yang
disodorkan oleh NASA. Pun demikian juga menuliskan surat motivation letter yang harus menggambarkan seberapa besar keinginannya pergi ke luar angkasa.
Ia
berharap cemas, apakah dia berhasil mengejar apa yang dicita-citakannya
selama ini? Apakah guru lain di luar sana juga memiliki minat yang sama
seperti dirinya? Bagaimana peluangnya terhadap kesempatan tersebut? Ia
hanya bisa pasrah, dan yakin kalau dirinya telah melakukan hal yang
benar dengan tak melewatkan kesempatan.
Dan ternyata, ada
sekitar 43.000 lamaran yang masuk kantor NASA. Perlu waktu beberapa
minggu bagi NASA untuk menyeleksinya menjadi 11.000 saja. Slazak pun tak
bisa tidur dengan nyenyak hingga hari pengumuman tiba. Lalu apa
hasilnya? Doanya dikabulkan!! Ia termasuk ke dalam 11.000 berkas
terpilih yang lolos ke seleksi selanjutnya.
Lalu, dari 11.000 berkas tersebut, terpilihlah sebuah grup elite yang
hanya terdiri dari 100 orang lelaki dan perempuan, termasuk dirinya.
100 orang terpilih ini kemudian menjalani pelatihan di Kennedy Space
Center, tempat pelatihan untuk menjadi seorang astronot. Dari 100 orang
tersebut, nantinya hanya akan dipilih satu orang saja yang dapat
merasakan pengalaman terbang menjelajah angkasa luar bersama Scobee cs,
para astronot terpilih NASA.
Keberhasilan Slazak menjadi
100 orang terpilih ini membuatnya lebih percaya diri dan yakin bahwa
ialah satu-satunya yang akan terpilih. Berbagai dukungan dari teman,
keluarga, bahkan juga muridnya, tak henti-hentinya ia terima. Ia sadar
bahwa ia tak hanya memperjuangkan mimpinya, namun juga memperjuangkan
harapan orang-orang terdekat yang telah mendukungnya. Ia tak mau
mengecewakan mereka. Ia juga tak sabar untuk menantikan kapan hari
pengumuman itu tiba.
Hingga akhirnya, tiba juga hari yang
ia tunggu, yang ternyata hasilnya sangat mengecewakan baginya. Ia
bukanlah guru yang dipilih NASA! Guru terpilih itu adalah Christa
McAuliffe dari New Hampshire.
Slazak pun mengalami
depresi, marah, kecewa, beragam pertanyaan menghantui pikirannya. Ia
merasa bahwa hidup sangatlah kejam. Ia tak tahu bagaimana ia harus
menaruh muka di hadapan keluarga dan temannya. Kenapa mimpinya harus
pupus ketika ia hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapainya?
Namun
demikian, ia pun tetap datang pada acara dimana ia akan menguburkan
impiannya. Ya, di siang yang cerah, 28 Januari 1986, dimana pesawat
ulang-alik Challenger akan diluncurkan ke luar angkasa. Keenam astronot
NASA dan juga Christa McAuliffe, sang guru terpilih telah bersiap. Ia
pun tengah berusaha ikhlas dengan memandang impiannya berlalu begitu
saja, di depan matanya sendiri. Dalam hatinya, ia masih meyakini bahwa
seharusnya dialah yang berada di dalam pesawat itu saat ini. Tapi
keyakinan itu tak lama, hanya beberapa detik saja setelah pukul 11.31 am
waktu setempat.
Ia pun tersadar, ia pun baru merasa
sangat beruntung, sangat beruntung karena ia tidak terpilih. Kejadian
itu menghapus semua keraguannya dan menghapus semua pertanyaan dan
penyebab mengapa ia tidak terpilih. Challenger meledak 73 detik setelah
diluncurkan, ketika semua penonton dan televisi masih mengelu-elukan.
Juga ketika riuhnya tepuk tangan masih bisa terdengar. Meledaknya
Challenger menewaskan semua penumpang, termasuk sang guru dari New
Hampshire.
Peristiwa itu membuatnya yakin bahwa pasti ada
sebuah alasan dibalik sebuah peristiwa atau keputusan. Akan selalu ada
alasan lain tentang kehadiran seseorang di atas muka bumi ini. Seseorang
memiliki misi pribadi di dalam hidup. Slazak percaya bahwa sebenarnya
ia menang karena dia telah kalah. Kini ia menjadi seorang motivator,
berkelana ke berbagai benua, untuk membantu orang-orang yang mengalami
depresi karena pernah gagal.
Ah, dan saya juga mencoba
begitu. Seperti Slazak. Berusaha untuk tetap menemukan kekuatan di
tengah berbagai tantangan hidup. Hidup itu seperti labirin. Kadang
susah, senang, gagal, atau apapun, semua pasti terjadi karena sebuah
alasan. Dan saya juga tidak pernah percaya yang namanya kebetulan. Tidak
percaya dan tidak akan pernah percaya.
Semoga, saya,
kita, Anda, akan mampu menjalani hidup dengan melanjutkan kebaikan yang
mendatangkan ilham. Dimana ilham tersebut dihasilkan dari sesuatu yang
semula tampak seperti kegagalan.
Bahwa suatu saat, mungkin ada kalanya, kita perlu bersyukur bahwa
doa kita tidak dikabulkan. Akan selalu ada harapan baru yang menunggu
di depan. Semoga ke depannya, kita bisa menjadi manusia yang
senantiasa lebih sabar dan menganggap bahwa kegagalan adalah teman,
namun hanya perlu dijinakkan!
Selamat berkarya.
No comments:
Post a Comment