Friday, January 3, 2014

Beyonce, NASA, dan Sebuah Harapan Baru!

Saya sengaja mengisi malam yang sunyi ini dengan membuat jus tomat kesukaan saya. Dalam lamunan saya, saya kembali teringat sebuah berita yang saya baca beberapa minggu lalu. Berita itu menyebutkan bahwa lagu Beyonce yang berjudul XO diduga membuat marah para anggota keluarga astronot yang wafat saat musibah Challenger 1986, pun demikian dengan NASA.

Apa hubungannya? Pasalnya, di awal lagu tersebut, diperdengarkan rekaman suara Steve Nessbitt (humas NASA yang menjadi controller di bumi) sesaat setelah Challenger meledak. Bagi keluarga dan juga NASA, audio tersebut mengingatkan kembali memori yang bagi mereka sangat mengandung unsur emosional.

Yeay, sebenarnya saya nggak mau cerita tentang Beyoonce, hanya saja, gara-gara berita tentang lagu Beyonce itu, saya malah jadi asyik masyuk dan kembali flash back, peristiwa meledaknya Challenger, 28 Januari 1986.  Saya jadi ingat bahwa saya punya sebuah buku di atas rak, yang di dalamnya terdapat sebuah kisah nyata seseorang di balik Challenger Explosion.

Well yeah, sebenarnya seseorang ini bukanlah orang terkenal. Dia adalah masyarakat sipil biasa seperti saya, ia mengabdi, mencurahkan hidupnya menjadi seorang guru di negeri Paman Sam sana  sejak tahun 1985. Sehari-hari, dia mengajar mata pelajaran IPA di sekolah menengah dari pagi hingga sore. Ia tinggal di sebuah kota kecil yang hanya berpenduduk sekitar 2.000 jiwa. Dalam tulisannya pun, ia mengakui bahwa ia menganggap dirinya sebagai seorang yang biasa-biasa saja. Frank Slazak namanya, 25 tahun.

Namun, ada satu value dalam dirinya yang membuatnya selalu lebih hidup. Ia selalu percaya akan kekuatan mimpi-mimpinya. Ia selalu meyakini bahwa mimpi tersebut akan tercapai pada suatu waktu. Slazak memimpikan bahwa suatu ketika ia akan menjadi salah seorang yang dapat pergi ke luar angkasa, sama seperti astronot idolanya yang dikenalnya melalui surat kabar, kala itu. Ia selalu membayangkan, bagaimana jika seandainya suatu saat dialah yang berada di dalam sebuah kapsul dan akan menjalani misi penjelajahan ke luar angkasa.

Sampai suatu waktu, AS akan mengadakan misi peluncuran roket ke angkasa yang pertama, yaitu Challenger. Presiden AS kala itu (yang juga artis), Ronald Reagan, memberi mandat kepada NASA untuk membuka rekrutmen kepada seorang warga sipil yang ingin merasakan perjalanan ke luar angkasa. Syaratnya hanya dua, warga biasa dan berprofesi sebagai seorang guru.

Tanpa ba-bi-bu, tentu saja Slazak segera mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi itu, karena ia memenuhi persyaratan tersebut. Ia bahkan bersedia mengorbankan jam tidurnya hanya untuk mengisi 25 halaman formulir yang disodorkan oleh NASA. Pun demikian juga menuliskan surat motivation letter yang harus menggambarkan seberapa besar keinginannya pergi ke luar angkasa.

Ia berharap cemas, apakah dia berhasil mengejar apa yang dicita-citakannya selama ini? Apakah guru lain di luar sana juga memiliki minat yang sama seperti dirinya? Bagaimana peluangnya terhadap kesempatan tersebut? Ia hanya bisa pasrah, dan yakin kalau dirinya telah melakukan hal yang benar dengan tak melewatkan kesempatan.

Dan ternyata, ada sekitar 43.000 lamaran yang masuk kantor NASA. Perlu waktu beberapa minggu bagi NASA untuk menyeleksinya menjadi 11.000 saja. Slazak pun tak bisa tidur dengan nyenyak hingga hari pengumuman tiba. Lalu apa hasilnya? Doanya dikabulkan!! Ia termasuk ke dalam 11.000 berkas terpilih yang lolos ke seleksi selanjutnya.

Lalu, dari 11.000 berkas tersebut, terpilihlah sebuah grup elite yang hanya terdiri dari 100 orang lelaki dan perempuan, termasuk dirinya. 100 orang terpilih ini kemudian menjalani pelatihan di Kennedy Space Center, tempat pelatihan untuk menjadi seorang astronot. Dari 100 orang tersebut, nantinya hanya akan dipilih satu orang saja yang dapat merasakan pengalaman terbang menjelajah angkasa luar bersama Scobee cs, para astronot terpilih NASA.

Keberhasilan Slazak menjadi 100 orang terpilih ini membuatnya lebih percaya diri dan yakin bahwa ialah satu-satunya yang akan terpilih. Berbagai dukungan dari teman, keluarga, bahkan juga muridnya, tak henti-hentinya ia terima. Ia sadar bahwa ia tak hanya memperjuangkan mimpinya, namun juga memperjuangkan harapan orang-orang terdekat yang telah mendukungnya. Ia tak mau mengecewakan mereka. Ia juga tak sabar untuk menantikan kapan hari pengumuman itu tiba.

Hingga akhirnya, tiba juga hari yang ia tunggu, yang ternyata hasilnya sangat mengecewakan baginya. Ia bukanlah guru yang dipilih NASA! Guru terpilih itu adalah Christa McAuliffe dari New Hampshire.

Slazak pun mengalami depresi, marah, kecewa, beragam pertanyaan menghantui pikirannya. Ia merasa bahwa hidup sangatlah kejam. Ia tak tahu bagaimana ia harus menaruh muka di hadapan keluarga dan temannya. Kenapa mimpinya harus pupus ketika ia hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapainya?

Namun demikian, ia pun tetap datang pada acara dimana ia akan menguburkan impiannya. Ya, di siang yang cerah, 28 Januari 1986, dimana pesawat ulang-alik Challenger akan diluncurkan ke luar angkasa. Keenam astronot NASA dan juga Christa McAuliffe, sang guru terpilih telah bersiap. Ia pun tengah berusaha ikhlas dengan memandang impiannya berlalu begitu saja, di depan matanya sendiri. Dalam hatinya, ia masih meyakini bahwa seharusnya dialah yang berada di dalam pesawat itu saat ini. Tapi keyakinan itu tak lama, hanya beberapa detik saja setelah pukul 11.31 am waktu setempat.

Ia pun tersadar, ia pun baru merasa sangat beruntung, sangat beruntung karena ia tidak terpilih. Kejadian itu menghapus semua keraguannya dan menghapus semua pertanyaan dan penyebab mengapa ia tidak terpilih. Challenger meledak 73 detik setelah diluncurkan, ketika semua penonton dan televisi masih mengelu-elukan. Juga ketika riuhnya tepuk tangan masih bisa terdengar. Meledaknya Challenger menewaskan semua penumpang, termasuk sang guru dari New Hampshire.

Peristiwa itu membuatnya yakin bahwa pasti ada sebuah alasan dibalik sebuah peristiwa atau keputusan. Akan selalu ada alasan lain tentang kehadiran seseorang di atas muka bumi ini. Seseorang memiliki misi pribadi di dalam hidup. Slazak percaya bahwa sebenarnya ia menang karena dia telah kalah. Kini ia menjadi seorang motivator, berkelana ke berbagai benua, untuk membantu orang-orang yang mengalami depresi karena pernah gagal.

Ah, dan saya juga mencoba begitu. Seperti Slazak. Berusaha untuk tetap menemukan kekuatan di tengah berbagai tantangan hidup. Hidup itu seperti labirin. Kadang susah, senang, gagal, atau apapun, semua pasti terjadi karena sebuah alasan. Dan saya juga tidak pernah percaya yang namanya kebetulan. Tidak percaya dan tidak akan pernah percaya.

Semoga, saya, kita, Anda, akan mampu menjalani hidup dengan melanjutkan kebaikan yang mendatangkan ilham. Dimana ilham tersebut dihasilkan dari sesuatu yang semula tampak seperti kegagalan.


Bahwa suatu saat, mungkin ada kalanya, kita perlu bersyukur bahwa doa kita tidak dikabulkan. Akan selalu ada harapan baru yang menunggu di depan. Semoga ke depannya, kita bisa menjadi manusia yang senantiasa lebih sabar dan menganggap bahwa kegagalan adalah teman, namun hanya perlu dijinakkan!


Selamat berkarya.


No comments:

Post a Comment