Friday, May 16, 2014

A Candid Story After Poipet-Aranyaphrathet


Anak-anak itu tampak sangat kumal.Mereka mendekat ke rombongan kami yang baru saja turun dari bus. Akudan temanku tampak cuek. Merasa tak perlu melayani seseorang yangtampaknya tidak cukup bersahabat.


Pun pada saat itu kami sedang berada di sebuah destination nowhere, sebuah tempat yang tampaknya tak juga bersahabat.Aku nggak tahu aku dan rombongan sedang dimana. Kompas tidak bekerja maksimal. Sinyal handphone tidak juga bagus. Sepanjang perjalanan, yangtampak di sisi kanan dan krii hanya hamparan pasir kecoklatan seperti lapangan luas tanpatumbuhan. Hanya diselingi beberapa rumah kayu bertingkat tanpapagar. Aku pun tidak tahu bagaimana perjalanan ini akan berujung.

Ini awalnya hanya karena perdebatan rombongankudengan kepala imigrasi. Kami diminta menghadap terkait pengurusanvisa on arrival kami. Karena memakan waktu yang cukup lama, terpaksa rombongan kami dimintapindah ke bus umum, bukan bus pariwisata yang sesuai dengan tiket kami. Mau tak mau, aku dan rombongan pun harus keluar dariitinerary yang sebelumnya sudah kami buat.

Jadilah aku mulai meraba perjalanan ini,sesaat setelah meninggalkan perbatasan Poipet-Aranyaphratet menujuSiem Reap. Aku dongkol. Hingga akhirnya kini bertemu dengananak-anak kumal itu. Aku bergumam saat itu keberadaanku tak masuk kedalam kolom back azzimute yang ada di peta!!

Si anak-anak kumal semakin mendekat.Memberikan aksesoris berupa gelang yang cukup cantik dan memasangkannya di pergelangan tangan kami. Aku merasaseperti menemukan oase, bahwa di tempat antah berantah ini aku masihbisa merasakan sebuah sentuhan manis, sebuah pemberian aksesoriscantik. Begitu pikirku. Aku kembali bersemangat, walau aku danteman-temanku juga sadar, saat itu pun aku tak punya cukup uang untukmembeli makanan walau hanya sekadar roti.

Tak berapa lama, si kumal tampaksumringah, karena bus kami akan segera kembali berangkat. Ia kembalimendekati kami dan dari bahasa tubuhnya, aku tahu dia sedang memintaloyalti. Ya, loyalti atas aksesoris pemberiannya.


Aku mencengkeram lengan temanku setelah aku tahu ternyata mereka diasuh oleh orang dewasa yangmenurutku cukup bertampang garang. Mereka lantas membuntuti kamihingga di pintu bus. Si sopir bus meminta kami untuk menyerahkanbeberapa lembar uang riel* dan yeah... akhirnya aku berikan uangsimpananku yang sebenarnya akan aku gunakan membayar penginapan di HoChi Minh nanti.

Bus pun melaju. Aku masih dongkol,karena aku tak jadi makan, namun uangku telah habis. Hingga akhirnyaseorang Cambodian, Ke Sophkorn, menawariku dan rombongan, 2 buah Sticky Rice (nasi ketan khas Kamboja) yanghanya 6 kali lahap sudah habis. Hingga akhirnya, aku kembali merasakan sensasi ketika aku tahu bahwa supir bus yangkutumpangi sadar kalau ia salah jalan! Well, dan sejauh ini kami sudahbuang waktu 10 jam.

Di luar, langit juga sudah mulai gelap. Busku memutar balik dan kemudian berhenti jauh dari Villa tempat ujuanku menginap. Kami turun dan tanpa tahu arah. Lalu seorang pengemudi tuk-tukmendekatiku dan berkata bahwa dia kenal dengan pemilik villa tujuankami.

Ternyata mereka tidakberbohong. Kami akhirnya benar-benar sampai di villa tujuan kami.Villa yang tidak menyediakan air panas saat malam, sinyal susah, bau rada apeg, juga tak ada rumahmakan di sekitar. Namun aspek yang kedua sebenarnya tidaklah terlalu masalah, sebab, uang kami sudah menipis. 
Kami hanya makan indomie bungkus. Diremas. Dan kemudian dimakan seperti tikus! Kami merasakan sepi. Hanya ada sepasang mata yang daritadi melihat kami di teras hotel. Dan ternyata. Oh! Dia adalahsi pengasuh bertampang garang, pengasuh di anak-anak kumal tadi. Kami puntidur dalam hening dan rasa bimbang. Tak tahu apa yang akan terjadibesok. Rupanya kejutan selalu ada di belahan bumi manapun. Rupanya  aspek perjalanan yang berupa 'a soul' yang mungkin selalu aku bangga-banggakan itu akan mengalami salah satu ujiannya di sini.

Tapi kami masih punya 3 bekal yang jugautama; otak, mental, dan kecerdikan menghadapi situasi. Dan bekalitulah yang terus kami pakai, hingga waktu beranjak pergi, dan beberapa hari setelahnya, aku dan rombonganku berhasil melewatiperbatasan Vietnam, dimana sang petugas ternyata tak juga berhasilscanning pasporku!

Voila! :))



*riel: mata uang Kamboja



_When these life shocking me in anotherway_
_Ho Chi Minh, 01.50 am_

No comments:

Post a Comment