Akhirnya dengan setetes air murni dari selokan sebelah, saya berhasil lagi mengumpulkan niat untuk mandi --kalau kata orang, niat menikah lebih mudah daripada mandi, mungkin itu (ada) benar (nya)--, lalu saya beranjak menulis. Yaaah,
awalnya saya hanya mau bayar utang untuk menyelesaikan tulisan saya
yang lama, yang sudah banyak ditagih oleh penggemar blog saya (nggaya
tenan!!). Tapi...kok tampaknya tidak terwujud malam ini. Saya lebih asyik masyuk ke pengembaraan pikiran yang ini saja.
Bukan namanya kalo Karl Marx tidak terkenal dengan Marxisme.nya,bukan saya kalau tidak berpikiran aneh. Bahkan untuk sebutir nasi yang tersisa di piring makan. Nasi yang telah menjelma dari sebuah pengembaraan benih padi selama beberapa musim, yang pada akhirnya jatuh ke tangan Bu Tani untuk dikonsumsi manusia. Sebutir nasi, dalam kisahnya, mencengkeram erat perjuangan – perjuangan para petani. Didalamnya terkandung jutaan butir keringat dan 100% harapan untuk anak mereka yang tengah merantau ingin jadi orang pandai. Satu butirnya berisi harapan akan modal usaha dan hasil panen yang diharapkan mampu menaikkan kesejahteraan mereka yang nyaris nihil terkadang. Satu butirnya berisi kantuk dan kelelahan dalam suatu pengorbanan di siang yang terik atau subuh yang dingin. Walaupun rasanya akan selalu sama, tapi tidak akan ada artinya sepiring tanpa sebutir.
Jikalau mulut dan hati ada pada sebutir nasi, tentu ia akan bercerita, bagaimana perjalanan panjang yang dilaluinya. Bagaimana bila secara sengaja maupun tak disengaja, mereka kemudian berpindah tempat tinggal, bukan lagi di dandang keren atau mejikjer atau dandang molek warna hitam di dapur nenek. Mereka akan tinggal di sekitar kumpulan lalat – lalat hijau. Bercampur dengan teman – teman baru yang juga menunggu untuk diangkut bersama. Dan hanya tinggal menunggu saja, kapan matahari mungkin akan lebih ganas, yang akhirnya membuat mereka mengering lalu berkerak.
Ah, nasi.
Ada adik saya yang baru saja makan dengan menyisakan beberapa butir nasi di piringnya. Piringnya masih disamping saya, berikut beberapa butir yang masih rada menggumpal itu. Dalam fatamorgana dan personifikasi saya, si nasi sedang berbincang dengan saya. Sebegitunyakah manusia bila perut sudah terpuaskan? Apakah tidak ada tanggung jawab moril untuk sekalian mengajaknya berpesta bersama kawan – kawannya di dalam perut adik saya? Tidak pulakah membayangkan, ada berapa manusia yang menyisakan nasi di piringnya?Apakah pasti hanya sebutir?Lalu bagaimana rumus perkalian untuk menghitung berapa bangsanya yang sebenarnya bisa dipersatukan untuk memakmurkan perut anak-anak yang lainnya? Atau mungkin akan dipuja – puja dalam suatu parodi pembagian BLT.. (wekekek)?Begitu mungkin yaa...yang ingin mereka katakan pada saya.
Dan oh, tentu saja. Dalam sebutir nasi, ada jutaan cerita dan tangis anak – anak busung lapar. Sebutir nasi, menyiratkan wajah – wajah lelah istri – istri petani dikala petang. Dan lagi – lagi, sebutir nasi bersama koloninya, akan memberikan cerita bagi anak – anak TK dalam program 4 sehat 5 sempurna. Dalam satu butirnya, ada pundi-pundi rejeki dan secercah harapan baru sang petani membangun keluarganya.
Ibu, Bapak, Adik, Mbak, Tante, Pacarmu, atau mungkin Pacarku tentunya butuh nasi. Perlakukanlah nasimu secara bertanggung jawab dengan menghabiskannya. Tukang sapu di perumahan saya bilang, dia bahkan pernah merasa tersayat, bila melihat nasi dibuang-buang percuma. Just because you are capable to buy everything, it doesn`t mean that you can do whatever you want,Dude!
Satu butir nasi yang dibuang....,di dunia luar sana bakal ada jutaan tangan yang berlomba memungutinya.
NB : Saya sudah siap ambil cambuk dan menyuruh adik saya tidak menyia-nyiakan petani. Dek, entekke! (habiskan – red) :)
Bukan namanya kalo Karl Marx tidak terkenal dengan Marxisme.nya,bukan saya kalau tidak berpikiran aneh. Bahkan untuk sebutir nasi yang tersisa di piring makan. Nasi yang telah menjelma dari sebuah pengembaraan benih padi selama beberapa musim, yang pada akhirnya jatuh ke tangan Bu Tani untuk dikonsumsi manusia. Sebutir nasi, dalam kisahnya, mencengkeram erat perjuangan – perjuangan para petani. Didalamnya terkandung jutaan butir keringat dan 100% harapan untuk anak mereka yang tengah merantau ingin jadi orang pandai. Satu butirnya berisi harapan akan modal usaha dan hasil panen yang diharapkan mampu menaikkan kesejahteraan mereka yang nyaris nihil terkadang. Satu butirnya berisi kantuk dan kelelahan dalam suatu pengorbanan di siang yang terik atau subuh yang dingin. Walaupun rasanya akan selalu sama, tapi tidak akan ada artinya sepiring tanpa sebutir.
Jikalau mulut dan hati ada pada sebutir nasi, tentu ia akan bercerita, bagaimana perjalanan panjang yang dilaluinya. Bagaimana bila secara sengaja maupun tak disengaja, mereka kemudian berpindah tempat tinggal, bukan lagi di dandang keren atau mejikjer atau dandang molek warna hitam di dapur nenek. Mereka akan tinggal di sekitar kumpulan lalat – lalat hijau. Bercampur dengan teman – teman baru yang juga menunggu untuk diangkut bersama. Dan hanya tinggal menunggu saja, kapan matahari mungkin akan lebih ganas, yang akhirnya membuat mereka mengering lalu berkerak.
Ah, nasi.
Ada adik saya yang baru saja makan dengan menyisakan beberapa butir nasi di piringnya. Piringnya masih disamping saya, berikut beberapa butir yang masih rada menggumpal itu. Dalam fatamorgana dan personifikasi saya, si nasi sedang berbincang dengan saya. Sebegitunyakah manusia bila perut sudah terpuaskan? Apakah tidak ada tanggung jawab moril untuk sekalian mengajaknya berpesta bersama kawan – kawannya di dalam perut adik saya? Tidak pulakah membayangkan, ada berapa manusia yang menyisakan nasi di piringnya?Apakah pasti hanya sebutir?Lalu bagaimana rumus perkalian untuk menghitung berapa bangsanya yang sebenarnya bisa dipersatukan untuk memakmurkan perut anak-anak yang lainnya? Atau mungkin akan dipuja – puja dalam suatu parodi pembagian BLT.. (wekekek)?Begitu mungkin yaa...yang ingin mereka katakan pada saya.
Dan oh, tentu saja. Dalam sebutir nasi, ada jutaan cerita dan tangis anak – anak busung lapar. Sebutir nasi, menyiratkan wajah – wajah lelah istri – istri petani dikala petang. Dan lagi – lagi, sebutir nasi bersama koloninya, akan memberikan cerita bagi anak – anak TK dalam program 4 sehat 5 sempurna. Dalam satu butirnya, ada pundi-pundi rejeki dan secercah harapan baru sang petani membangun keluarganya.
Ibu, Bapak, Adik, Mbak, Tante, Pacarmu, atau mungkin Pacarku tentunya butuh nasi. Perlakukanlah nasimu secara bertanggung jawab dengan menghabiskannya. Tukang sapu di perumahan saya bilang, dia bahkan pernah merasa tersayat, bila melihat nasi dibuang-buang percuma. Just because you are capable to buy everything, it doesn`t mean that you can do whatever you want,Dude!
Satu butir nasi yang dibuang....,di dunia luar sana bakal ada jutaan tangan yang berlomba memungutinya.
NB : Saya sudah siap ambil cambuk dan menyuruh adik saya tidak menyia-nyiakan petani. Dek, entekke! (habiskan – red) :)
No comments:
Post a Comment