Wednesday, May 21, 2014

Mimpi di Titik 0 Kilometer




Menggelitik namun menawan. Setidaknya itu yang ada di pikiran saya pagi ini tentang mimpi.
Di perjalanan sebelum berangkat ke kantor, saya tiba-tiba terlintas sesuatu tentang mimpi.


Yarp! Oh yeah! Ah! Or whatever bentuk ekspresi yang keluar ketika kita kembali membicarakan soal mimpi.


Tapi bagaimanapun, menurut saya, mimpi adalah bunga liar yang tumbuh di setiap pekarangan angan dan cita-cita kita. Well said, bunga liar. Sebab ia selalu tampak cantik, namun perlu energi, waktu, dan keyakinan untuk menaklukkannya.


Anda yang membaca tulisan ini mungkin juga memiliki dan sedang berusaha menikmati bunga liar itu. Bahkan mungkin Anda yang mungkin telah jauh melanglang buana menempuh ratusan selat, mungkin masih memiliki ratusan mimpi lainnya yang belum terwujud.


Mungkin bagi Anda, mimpi-mimpi hanya soal waktu. Tapi pertanyaannya, sampai kapan? Sampai kapan kita bisa bertoleransi atas mimpi-mimpi?


Mungkin suatu waktu, akan ada masanya salah satu diantara kita berbelok beberapa derajat menyimpang dari apa yang sebelumnya telah kita rencanakan. Kita begitu saja mengiyakan, apa yang tampaknya menggiurkan dan lebih menjanjikan dari sebuah mimpi sederhana yang sebelumnya sudah kita bangun.


Haruskah kita realistis? Tergantung.


Saya pribadi lebih memilih untuk mencoba merealisasikannya dulu. Sebuah mimpi akan sangat sayang apabila hanya dibayangkan...dari waktu ke waktu. Tanpa pernah ada hasrat sedikit pun untuk menggapainya, atau setidaknya....mencoba untuk menggapainya. Mungkin ini yang dinamakan sebagai 'penghormatan atas sebuah khayalan'.


Penghormatan tersebut tampaknya akan mencapai titik jenuh apabila pada akhirnya apa yang kita impikan tak kunjung dicapai. Satu. Dua. Tiga kali kita mencoba, tetap saja gagal, tetap saja apa yang kita impikan tidak terwujud. Semua usaha yang telah kita lakukan tak berbuah menjadi sesuatu yang manis. Titik ini mungkin adalah pertanda bagi kita, untuk menyudahi usaha pencapaian mimpi kita.


Di saat yang sama pula, hendaknya kita lebih peka terhadap hal lain yang sekiranya mampu membuat kita lebih bermanfaat bagi sekitar, diri sendiri, dan juga makhluk secara lebih banyak. Lebih dirasa memperkaya pengetahuan dan meningkatkan kualitas yang ada di dalam diri kita.


Lalu apakah saya akan realistis sebelum saya berusaha untuk mencapai mimpi utama saya? Nggak! Saya masih akan tetap lurus dan beridealis untuk mencoba menggapai apa yang saya inginkan.


HA-HA. 


You can say HA-HA or make some laugh for me. Tapi bukankah bila belum ada orang yang menertawakan mimpi-mimpimu, itu berarti mimpimu belum terlalu liar? Setidaknya saya masih akan mencoba untuk tetap menggapainya.


Namun dalam suatu kondisi, kita akan dihadapkan pada sebuah situasi yang menyebabkan kita harus menunda mimpi tersebut. Solusinya? Jalani saja. Namun, jangan pernah menghapuskannya dari angan di benak kita.

Dan bila pada akhirnya memang kita harus benar-benar realistis dan merelakan mimpi tersebut, yakini saja bahwa mimpi itu tidaklah pernah benar-benar hilang. Ia mungkin hanya mencapai titik terendahnya, di 0 km.


Tapi, sebenarnya kita tidak akan pernah kehilangan mimpi. Kita hanya gagal dalam mencapainya. Mimpi-mimpi yang sebenarnya itu akan berinkubasi menjadi sebuah hobi. Selalu ada dan menghiasi hari jika kita bisa menyikapinya dengan kreatif.


Dan kita akan tahu itu. Benar-benar akan tahu bahwa:


You never lose a dream. It just incubates as a hobby. Kalau menurutmu?



Cheers,

   V


Yogyakarta, May 2014
Sedang sangat sok tahu soal mimpi
pict.credit: instagram.com/airlinepilot
















No comments:

Post a Comment