Witri
: “Jadi ibuk, punya modiste, dan
eksiiiis XD Jujur banget ya aku
Rendi
: “Keliling dunia mbak vin. Hehe ”
Rita
: “Mimpi terjun dr tebing 100m k laut
tapi pake tali”
Adit
: “Mimpi basah”
Eri Karunia
:”Mimpi liburan keliling dunia”
Wahyu
: “Opo iki karepe? (Apa ini
maksudnya?”) Mimpiq sederhana, cita-citaku terwujud..”
Endi
: “Kowe aku ngopo e Vin? (“Kamu
kenapa Vin?”)
Galuh
: “Mimpi nikah
sama mas-mas ganteeeenng”
Beberapa detik
setelah membaca semua balasan dari teman-temanku, aku pun terdiam,
namun kemudian tertawa.
Teman-teman
tersebut cukup dekat denganku. Beberapa diantaranya tak lagi mudah
untuk ditemui karena disibukkan dengan urusannya sembari berusaha
meraih mimpi, salah satunya, mungkin mimpi-mimpi yang ada di atas
ini. Haha. Terima kasih teman-teman. Aku jadi teringat lagi bahwa aku
masih harus berjuang untuk mimpi-mimpiku juga.
Well.
Kemudian aku berpikir untuk kembali menelusuri
pertanyaan di hidupku dan bertanya: Mimpi apa yang belum berhasil aku
wujudkan?” Aku kembali flash
back pikiranku ke pertanyaan masa silam,
“Nak, besok kalau sudah besar, ingin bermimpi menjadi apa?'
Kini bagiku, pertanyaan itu tampak
retorika. Pertanyaan yang selalu saja sama kudengarkan setiap kali aku duduk di bangku merah kecilku
di dalam ruang kelas waktu taman kanak-kanak dulu. Pun demikian
halnya dalam lagu yang dibawakan oleh Ria Enes bersama boneka
kesayangannya, Susan. Hampir selalu begitu. Seperti itu.
Saat itu, jawabanku sederhana saja. Aku
bermimpi ingin menjadi astronot dan nggak ngompol lagi.
Iya benar, saat TK aku adalah tukang ngompol. Aku
juga ingin menjadi astronot karena sering melihat doraemon
yang sering pergi ke luar angkasa hanya dengan pintu kemana saja.
Sepertinya itu semua menyenangkan.
Itu saja.Simpel 'kan?
Dan mungkin sejak saat itulah, aku
mulai belajar tentang impian dan harapan, walau dalam bentuk yang paling sederhana. Hingga
pada akhirnya, aku berani bermimpi lebih tinggi. Sebuah mimpi yang
timbul karena saat itu ayahku selalu membelikanku kue semprong satu
bulan sekali. Dimana ada gambar tentara Inggris di kaleng kemasan kue
tersebut. And yeah, it was happen. Aku menyebut tempat yang aku
impikan itu sebagai theabsofuckinglutely things, Inggris.
Hingga setelahnya, semakin banyak hal
tentang Inggris yang ingin kuketahui. Aku sampai tak mau ketinggalan
menonton Mr.Bean. Saat itu, ayahku senang sekali meminjam kaset video
film Mr.Bean—dimana saat itu VCD/DVD masih belum terkenal seperti
sekarang— untuk mengisi akhir pekan keluarga kami. Pun juga dengan
serial James Bond jaman Timothy Dalton sudah kutonton di usiaku yang
bisa dikatakan belum cukup umur pada saat itu. Haha.
Aku sudah bisa menyetel video sendiri,
sehingga aku dengan mudahnya memencet tombol rewind sesuka hati untuk
mengulang adegan tertentu di film Mr.Bean, misalnya scene pedesaan
atau tentang prajurit Inggris. Saat itu di pikiran masa kecilku, aku
merasa terhibur dengan suguhan pemandangan di pedesaan Inggris dan
berbagai hal lain yang identik dengan Inggris. Seiring berjalannya
waktu, aku melihat ada sebuah pembelajaran dalam film Mr.Bean.
Dari film tersebut, aku dapat melihat
banyak hal tentang Inggris, dari mulai objek wisata,
kebiasaan-kebiasaan, festival, kebudayaan, adat istiadat, dan
kekayaan alam. Misalnya Sungai Thames, jam Big Ben, afternoon tea,
dan bearskin, atau topi berbentuk rambut yang biasa dikenakan di
prajurit Inggris. Aku juga jadi tahu, betapa rakyat Inggris tampaknya
sangat menghormati Ratu mereka. Dan semua itu semakin membuatku
semakin tertarik dengan negara ini.
Motivasiku ingin pergi ke Inggris
semakin kuat setelah aku melihat ada bus tingkat di kota Surakarta.
Saat usiaku 14 tahun, ayahku terkadang mengajakku untuk berkunjung ke
sanak saudara yang tinggal di Solo. Saat melihat bis tersebut, aku
jadi teringat bahwa desain bus tesebut mirip dengan yang ada di
Inggris juga identik dengan bus tingkatnya yang berwarna merah atau
disebut dengan Double Decker/Red Bus. Tak ketinggalan, black cab juga
menjadi ikon terkemuka yang identik dengan Inggris. Well, saat itu
tampaknya aku sudah memiliki jawaban jika guru di taman kanak-kanakku
dulu menanyaiku hal yang sama.
Waktu yang berjalan semakin jauh
membuatku sadar, bahwa keinginanku ke Inggris bukan hanya sekadar
keinginan, melainkan telah berafiliasi sebagai sebuah mimpi. Aku
mulai senang mendengarkan band asal Inggris seperti OASIS dan
Coldplay. Oh ya, aku dulu juga sangat suka dengan A1 karena mereka
sering menggunakan lokasi di sekitaran Inggris untuk syuting video
klip. Video klip yang menjadi favoritku adalah Same Old Brand New
You, dimana mengambil lokasi syuting di tenggara Inggris, Kent,
daerah yang sangat dingin menurut penuturan sebagian orang.
Ketika itu aku hanya mendengarkan
lagu-lagu mereka melalui MP3 milikku yang merupakan kado ultah dari
ayahku. Sepanjang perjalanan dari SMA menuju rumah, hampir selalu aku
mendengar semua lagu dari band favoritku.
Bagiku, band-band asal Inggris memiliki
kekuatan lewat lirik dan bagaimana cara mereka mengirimkan pesan lagu
kepada pendengar. Atau bisa juga melalui berpesan tentang kehidupan
dan cinta lewat sajak dan nada yang dimainkan oleh The Beatles dalam
albumnya yang sangat kondang, Abbey Road. Aku suka. Iya, aku sangat
suka bagaimana mereka mampu menghadirkan energi melalui lagu yang
dibawakan.
Seiring waktu berjalan hingga akhirnya
aku mencapai titik lain di kehidupanku, aku pun mulai menyukai
sepakbola asal Inggris, Chelsea Football Club. Semboyan Keep the
Blues Flight Flying High (KTBFFH)
selalu aku ucapkan setiap kali
melihat pertandingan Chelsea, entah hasilnya menang ataupun kalah.
Bagiku, Chelsea adalah klub para bintang dan hanya cocok dikomando
oleh seorang yang tahan banting, seorang Jose Mourinho, The Special
One.
Ah,
aku selalu bermimpi, kapan ya aku
bisa berfoto dengan latar Stamford Bridge? Hingga pernah semua
password akun sosial mediaku adalah doa untuk ke Stamford Bridge.
Hingga aku berburu buku biografi para pesohor sepakbola Inggris
seperti Lampard dan Gerrard yang berjudul Totally Frank dan My Story.
Namun demikian, aku tak pernah berhasil mendapatkannya. Sementara ini, obatku
untuk lebih dekat dengan mereka adalah dengan memandangi poster,
sarung bantal, dan tas ransel saja. Nah, ini dia teman-teman setiaku.
:)
Tak hanya itu saja. Aku sangat suka
street fashion style masyarakat Inggris. Kita seolah dapat menemukan
ragam fashion yang apik hanya di setiap jalan yang kita lewati. Atau
jika berbicara fashion dengan mungkin lebih tinggi lagi, aku menyukai
semua desain topi bangsawan Inggris dan juga desainer Alexander McQueen! Yeah.
Aku selalu yakin bahwa mimpi itu adalah
sebuah bunga liar. Ia selalu indah, namun perlu sebuah usaha berupa
tekad, keringat, dan niat sepenuh hati untuk mendapatkannya. Kalau kata ahli: Jika belum ada seseorang yang menertawakan mimpimu, itu berarti mimpimu belum terlalu liar! Benar tidak? :)
Aku setuju. Aku percaya mimpi adalah poros
dan berfungsi sebagai motivasi agar manusia merasa lebih hidup. Dari
kecil orang tuaku mengajarkanku untuk menjadi seseorang yang bermimpi
banyak dan besar. Aku masih ingat bagaimana ayahku berkata bahwa
beliau ingin aku melebihiya. Dalam segala hal. Iya, segala hal. Ia
menginginkanku untuk memperoleh pengalaman sebanyak-banyaknya, dan
pergi berkelana sejauh-jauhnya.
Pergi ke Inggris adalah sebuah
perjalanan untuk mlihat banyak hal. Selain aku akan berkunjung ke tempat favorit
disana, aku juga bisa belajar mengenai sejarah,
adat istiadat, dan semua kebiasaan yang akan kutemui, walau hanya dalam waktu yang singkat. Aku tentu akan bisa melihat lebih banyak warna, bahkan mungkin perbedaan.
Bisa pergi ke negara yang identik
dengan David Beckham ini juga seolah adalah realisasi atas
kepingan-kepingan mimpi yang telah kubangun melalui puing memori masa
kecilku hingga saat ini. Aku akan dapat melihat secara langsung,
bagaimana lekuk air Sungai Thames dengan lebih jelas. Bagaimana suara
sirine kapal yang menandakan bahwa Tower Bridge di tengah Sungai Thames harus
dibuka agar kapal tersebut bisa lewat. Aku akan lebih bisa mengagumi keelokan Westminster Abbey dari dekat. Mendadak aku teringat tentang celotehanku akan salah satu mimpiku ini.
Dan tentu saja, nanti aku akan bisa bilang ke
ayahku, bahwa aku harus berterima kasih atas yang dilakukannya dengan
meminjam serial Mr.Bean setiap minggu.
Aku harus berterima kasih, lagi, untuk
ayahku, bahwa bermimpi itu enggak boleh cetek!
Dan mungkin juga, aku seolah akan
melihat kembali masa kecilku. Memaknai setiap tempat yang akan
kukunjungi. Belajar melihat dengan lebih bijaksana. Mendapatkan mimpi
yang tersenyum karena ia telah diperbolehkan untuk unjuk gigi pada
dunia. Juga akan mendapati bagaimana indahnya proses untuk melihat
semuanya dengan lebih dekat. Sangat dekat.
Ah Inggris.
Aku hanya ingin merayakan salah satu
scene hidupku bersamamu. Mari rayakan hidup ini bersama-sama.
Semoga.
Semoga.
and when she was just a girlShe expected the worldBut it flew away from her reachSo she ran away in her sleep
Dreamed of para- para- paradise..... (coldplay)
Dreamed of para- para- paradise..... (coldplay)
Dear, Smax! Wanna celebrate life with me?
Credit picture :








No comments:
Post a Comment