Setengah sebelas malam, hmm…enaknya ya malam ini dibumbui dengan sedikit kopi jahe dan jus sari buah wortel yang wajib ada seminggu sekali. Dalam naungan sinar lampu taman di samping saya, saya semakin semangat untuk melewati malam yang semakin mempesona ini. Iseng juga saya menyalakan music player saya, dan mulai menyetel lagu yang sedang saya suka saat ini. Agak jadul sih, tapi sempat hits era 1980an, lagunya Eagle, Hotel California. Entah kenapa, iramanya yang country blues terdengar sangat easy listening.
Setelah kira – kira lima menit berlalu, lagu itu selesai, dan lanjut ke lagu berikutnya, saya merasa asing dengan lagu Rock berikut ini, entah kenapa kok dulu saya bisa memasukkan lagu Kid Rock ke playlist saya. Langsung saja lah, saya skip lagu itu ke lagu berikutnya, Sirens by Angel and Airwaves. Tapi kok rasa – rasanya, endingnya rada ngebeat ya, hmm.. maka terus saja langsung saya klik tombol next. Lagu berikutnya berirama jazzy dari Norah Jones, ah, terlalu kalem bagi saya untuk amlem ini, so, skip saja lah. Lanjut the next is come from Aerosmith, judulnya Crazy. Nah ini, lumayan, mungkin cocok dengan saya yang crzy mengejar deadline 1 bulan lagi. Saya dengarkan lagu itu sampai selesai. Disambi dengan menyeruput tetes terakhir jus buah saya.
Andai saja hidup ini sangat mudah dijalankan layaknya music player saya. Kita bisa dengan mudah menyusun lagu apa yang kita pilih untuk dimasukkan dalam playlist, kemudian klik Play. Lalu ketika di tengah jalan, kita berubah pikiran atau tak suka pada lagunya, kita tinggal klik next, next, net, melewati lagu yang tidak kita sukai. Atau mungkin mengganti daftar playlist dengan lagu yang lebih baru, dengan genre baru, dan irama yang baru. Lalu kita tinggal klik next, net teruuuss, sampai kita menemukan lagu yang cocok dengan telinga kita saat itu.
But, no man. Big no. Hidup itu serangkaian proses. Dikala kita berada dalam suatu situasi yang menyulitkan kita, berada dalam suatu masalah yang membuat kita stress, kita tak bisa begitu saja melewatinya hanya seperti meng-klik tombol next. Atau hal yang tak ingin kita dengar, kita tinggal next ke tahapan hidup selanjutnya. Lulus kuliah dan tak ingin susah mencari kerja, tapi langsung sukses, maka kita tinggal meng-klik tombol next pada pilihan mencari kerja, dan kemudian meng-klik Play ada tombol Hidup sukses.
Hidup tidak sesederhana dalam cerita dongeng. Semua rangkaian peristiwa, entah sedih, marah, susah, senang, terpuruk, itu adalah serangkaian system hidup layaknya butiran-butiran sapu lidi yang dipersatukan akan menjadi kuat. Rangkaian proses itu adalah suatu cerita dimana kita bisa belajar banyak untuk meraih apa yang kita inginkan.
Every life is beautiful in its own way.
Dan mata saya saya terus berpikir, otak saya terus melihat, ke atas sana, ke tempat yang nantinya akan ku jangkau lebih dekat. Serta membiarkan `playlist` saya berputar dengan normal. Setiap lagu saya persilakan unjuk kebolehan agar saya tahu bahwa lagu diciptakan untuk didengarkan.
di Taman Gila, October 21st, 2011
Friday, October 21, 2011
Wednesday, October 19, 2011
Angsa Berkepala Dua dan turut Mangayubagya...
Angsa, yup, mungkin banyak cerita dongeng yang menggambarkan keelokan angsa. Dengan bulu putihnya yang bersih, dan pesona paruh yang berkilauan di bawah sinar bulan, tentu mengundang decak kagum bagi siapa saja yang melihatnya. Angsa yang cantik mandi sinar di bawah pekatnya malam. Dia berlarian layaknya seseorang yang terlalu senang disamping kekasihnya. Namun angsa ini berbeda, dia tampak sangat istimewa diantara yang lainnya. Dia adalah angsa berkepala dua, kepala yang satu di atas, satu di bawah. Angsa yang hanya memiliki satu perut yang sama.
Si kepala atas adalah sosok yang kuat, mampu menjangkau segala benda dengan mudah. Ia juga senang unjuk kebolehan, suka makan enak, dan agak egois, hanya mementingkan kepentingannya saja. Di satu sisi, si kepala bawah lebih lemah lembut, cenderung agak pemalu, penurut, sabar, dan rendah hati. Bahkan bisa dibilang gampang ditindas. Nah, suatu kali mereka berdua berjalan di tengah teriknya matahari. Panasnya matahari membuat mereka loyo dan kelaparan. Alhasil, disepakati bahwa mereka akan mencari bahan makanan dan danau untuk menghilangkan dahaga. Mereka pun menuju ke suatu daerah yang agak jauh tempatnya, berada di perbukitan. Setelah beberapa menit lamanya berjalan, mereka sampai juga di bukit itu. Tanpa aba – aba, langsung saja keduanya bergegas mencari makanan. Si kepala atas termasuk sosok yang agak rakus. Dengan mengandalkan lehernya yang panjang dan kepiawaian tubuh atas yangs emampai, dengan mudah dia bisa mengambil buah – buahan dan makanan enak yang letaknya jauh dari tanah. Sementara si kepala bawah, dengan keterbatasan dan kondisi tubuhnya, dia hanya bisa memakan buah – buahan yang busuk dan telah jatuh ke tanah. Makanan yang dimakan pun hanya mengais dari sisa makana basi dari tempat sampah. Lalu pintanya kepada si kepala atas, agar diambilkan buah – buahan yang masih segar dan makanan yang enak dan bergizi. Berkali – kali ia meminta tolong, namun si kepala atas tidak bersedia membantunya. Sang kepala atas malah sibuk dengan terus menjejali perutnya dengan berbagai macam buah yang menggoda. Dia tidak mempedulikan permintaan si kepala bawah yang kelaparan, tidak menaruh iba sedikitpun.
Setelah selesai, kemudian si angsa bergegas pulng. Namun sayang, di tengah jalan, tiba – tiba si kepala bawah mengerang kesakitan pada tenggorokan. Ternyata makanan basi dan buah busuk yang dimakannya berpengaruh terhadap kerongkongannya. Dan kemudian perut si angsa melilit hebat dan perih yang amat sangat. Karena perut antara si kepala atas dan bawah sama, alias hanya satu, maka si kepala atas juga merasakan kesakitan yang sama seperti si kepala bawah. Ternyata racun karena makanan basi telah menjalar ke seluruh tubuh angsa. Dan tak berapa lama kemudian, sang angsa mati. Itu karena sang kepala atas tak mau peduli dengan kepala bawah. Sang kepala atas tidak memikirkan apa dampak yang paling buruk atas keserakahannya.
So, tempat yang kita tinggali hendaknya harus dijaga dengan baik. Entah kita hidup di suatu kota, suatu negara, suatu wilayah harus tetap menjaga dengan baik. Seorang pemimpin kenegaraan/wilayah tentu hidup di lingkup negara/wilayah yang sama dengan rakyatnya. Satu perut untuk banyak kepala. Tentunya harus terus berupaya memberikan kesejahteraan yang baik bagi rakyat di bawahnya.
Dan 18.10.2011 telah menjadi bukti atas cinta rakyat yang begitu tulus dan besar kepada rajanya. Tulisan ini mungkin sedikit tidak nyambung endingnya, clear, Yogyakarta is just one place where hundreds of thousands of heads are in it, not just two like a swan. Surely it would be a lot of interest and requires awareness and hard work to hold it together.Pemimpin harus pro rakyat dan rakyat harus menghargai pemimpin, Tut Wuri Handayani. Serta mengingatkan pemimpin yang kebablasan.
Dan terakhir, saya cuma mau ngucapin, (intinya sebenarnya ini) :
Selamat menempuh hidup baru GKR Bendara dan KPH Yudhanegara. Yogyakarta kota seribu pesona, dan saya bangga menjadi orang Yogyakarta.
Si kepala atas adalah sosok yang kuat, mampu menjangkau segala benda dengan mudah. Ia juga senang unjuk kebolehan, suka makan enak, dan agak egois, hanya mementingkan kepentingannya saja. Di satu sisi, si kepala bawah lebih lemah lembut, cenderung agak pemalu, penurut, sabar, dan rendah hati. Bahkan bisa dibilang gampang ditindas. Nah, suatu kali mereka berdua berjalan di tengah teriknya matahari. Panasnya matahari membuat mereka loyo dan kelaparan. Alhasil, disepakati bahwa mereka akan mencari bahan makanan dan danau untuk menghilangkan dahaga. Mereka pun menuju ke suatu daerah yang agak jauh tempatnya, berada di perbukitan. Setelah beberapa menit lamanya berjalan, mereka sampai juga di bukit itu. Tanpa aba – aba, langsung saja keduanya bergegas mencari makanan. Si kepala atas termasuk sosok yang agak rakus. Dengan mengandalkan lehernya yang panjang dan kepiawaian tubuh atas yangs emampai, dengan mudah dia bisa mengambil buah – buahan dan makanan enak yang letaknya jauh dari tanah. Sementara si kepala bawah, dengan keterbatasan dan kondisi tubuhnya, dia hanya bisa memakan buah – buahan yang busuk dan telah jatuh ke tanah. Makanan yang dimakan pun hanya mengais dari sisa makana basi dari tempat sampah. Lalu pintanya kepada si kepala atas, agar diambilkan buah – buahan yang masih segar dan makanan yang enak dan bergizi. Berkali – kali ia meminta tolong, namun si kepala atas tidak bersedia membantunya. Sang kepala atas malah sibuk dengan terus menjejali perutnya dengan berbagai macam buah yang menggoda. Dia tidak mempedulikan permintaan si kepala bawah yang kelaparan, tidak menaruh iba sedikitpun.
Setelah selesai, kemudian si angsa bergegas pulng. Namun sayang, di tengah jalan, tiba – tiba si kepala bawah mengerang kesakitan pada tenggorokan. Ternyata makanan basi dan buah busuk yang dimakannya berpengaruh terhadap kerongkongannya. Dan kemudian perut si angsa melilit hebat dan perih yang amat sangat. Karena perut antara si kepala atas dan bawah sama, alias hanya satu, maka si kepala atas juga merasakan kesakitan yang sama seperti si kepala bawah. Ternyata racun karena makanan basi telah menjalar ke seluruh tubuh angsa. Dan tak berapa lama kemudian, sang angsa mati. Itu karena sang kepala atas tak mau peduli dengan kepala bawah. Sang kepala atas tidak memikirkan apa dampak yang paling buruk atas keserakahannya.
So, tempat yang kita tinggali hendaknya harus dijaga dengan baik. Entah kita hidup di suatu kota, suatu negara, suatu wilayah harus tetap menjaga dengan baik. Seorang pemimpin kenegaraan/wilayah tentu hidup di lingkup negara/wilayah yang sama dengan rakyatnya. Satu perut untuk banyak kepala. Tentunya harus terus berupaya memberikan kesejahteraan yang baik bagi rakyat di bawahnya.
Dan 18.10.2011 telah menjadi bukti atas cinta rakyat yang begitu tulus dan besar kepada rajanya. Tulisan ini mungkin sedikit tidak nyambung endingnya, clear, Yogyakarta is just one place where hundreds of thousands of heads are in it, not just two like a swan. Surely it would be a lot of interest and requires awareness and hard work to hold it together.Pemimpin harus pro rakyat dan rakyat harus menghargai pemimpin, Tut Wuri Handayani. Serta mengingatkan pemimpin yang kebablasan.
Dan terakhir, saya cuma mau ngucapin, (intinya sebenarnya ini) :
Selamat menempuh hidup baru GKR Bendara dan KPH Yudhanegara. Yogyakarta kota seribu pesona, dan saya bangga menjadi orang Yogyakarta.
Thursday, September 29, 2011
MADIUN? Bakso granat, pecel, dan penthol…
Ah, Madiun. Kota kecil di jawa timur, berbentuk kabupaten dengan cuaca yang bisa dibilang cukup panas. Secara flash back,ini adalah kota pemberontakan Muso, saat masa pemberontakan PKI. Atau tempat pangkalan udara Iswahjudi. Dimana ketika kecil, saya sering sekali diajak melihat pesawat disini ketika saya berlibur kesana.Akan tetapi, dulu saya tidak senang dengan kota ini, merasa tidak ada hiburan, sepi, monoton. Mentog disitu saja. Tempat hiburan juga paling cuma Sri Ratu atau President Plaza, dan alun – alun.
Untuk bisa sampai disana saja harus menumpang bis atau menumpang kereta jurusan arah timur, belum seperti sekarang dimana sudah ada kereta yang memiliki tujuan Madiun. Saya kecil slelau menghapalkan urut-urutan arah dari jogja hingga madiun. Seperti Jogja-Klaten-Delanggu-Kartosuro-Surakarta(solo)-Sragen-Mantingan-Ngawi-Magetan-Maospati-Jiwan-Madiun. Kadang juga transit di beberapa tempat yang saya sebutkan itu. Madiun lambat laun mengalami kemajuan pesat, terutama semenjak saya menginjak bangku SMA. Saya pun sedikit banyak bisa membaur dengan kota yang dulu bagi saya adalah semacam daerah terisolasi. Jauh dari hiburan dan suasana kota. Ya, maklum saja, rumah eyang saya tidak berada di Madiun kota, namun ada di perbatasan antara karesidenan dan kota.
Kota yang dijuluki kota Gadis ini sekarang telah jauh berbeda. Banyak masuknya industri kapitalis dan juga semakin banyak kendaraan bermotor yang ada disana, menggambarkan seolah kota ini tak mau ketinggalan. Bahkan merchant2 terkenal juga telah membuka cabang di kota yang mempunyai makanan khas pecel dan brem ini. Uuaahh, padal saya teringat cerita ibu, Madiun dulu belum seperti sekarang. Masih sarat dengan pergerakan karate teratai putih, dimana salah satu paman saya adalah pendekar sabuk hitam Teratai. Atau sesekali ingin mengafdrukkan foto dari kamera yang masih menggunakan film, di studio Mirako. Dan hingga sekarang studio tersebut masih eksis dan tetap laris. Sebab, yaaa.. mau bagaimana lagi, itu satu-satunya studio yang ada disana. Kalau mendadak ketika disana keluarga besar kami ingin foto, yaa harus ke tempat ini. ;p
Madiun dulu juga masih heboh dengan adanya perayaan tahunan, yang berupa bazaar di sepanjang jalan pabrik gula Redjo Agung selama 3 km. Bazaar tersebut digelar untuk memperingati panen raya gula yang berlangsung setiap tahun. Dalam moment tersebut, seringkali bisa dilihat kereta – kereta yang sangat panjang, membawa banyak sekali tebu yang sudah matang, berjalan beriringan di pinggir jalan raya. Hal itu menjadi suatu tontonan khas, yang mana banyak anak – anak berlomba untuk memunguti tebu-tebu yang berjatuhan. Beruntung saya juga masih sempat menikmati moment itu walau hanya 2 kali saja. Dan bahkan sepanjang jalan raya Madiun-Surabaya dulu, masih banyak tanaman tebu yang sangat tinggi dan tumbuh subur. Dan jujur saja, saya kangen akan suatu moment kalau melihat tanggul belakang rumah eyang yang membendung sungai Madiun. Di masa kecil saya, saya sering sekali berjalan di atas tangkis (jalan raya dipinggir bendungan) hanya untuk melihat sungai yang airnya masih jernih. Dan kemudian menunggu sampan kayu tiba dan menyeberang ke seberang, lalu kembali ke tempat asal. Pulang pergi cukup 300 Rupiah saja.
Untuk soal kuliner, madiun juga tidak kalah. Sebut aja pecel, cenil, krai, lempeng beras, puli, madu mongso, ledre, kripik tempe, brem, tahu campur kikil, adalah sedikit dari daftar menu khas madiun. Dari dulu hingga sekarang, makanan ini tetap saja eksis, dan mash dijual di berbagai tempat oleh-oleh atau pasar tradisional disana. Saya pun juga tak pernah melewatkan beberapa diantaranya. Oh ya, saya juga punya menu wajib saat berada di Madiun, yaitu Penthol, Pecel, dan Bakso Granat. Bakso granat adalah bakso urat, dengan ukuran jumbo dan supeeer besar, mirip bakso tenis. Penthol itu semacam bakso mungil, dicampur bumbu kacang dan kecap, walau tampaknya biasa saja, namun rasanya tetap ngangenin, bentuknya juga imut bikin gemes..;) Kalau pecel tentu setiap orang sudah tahu. Dengan bayam, kecambah, krai, kembang tahu, dan lamtoro, rasanya menjadi lebih nikmat dan nendang. Namun, jangan mengaku makan pecel kalau belum pernah mencicipi sambel pecel khas Madiun, yang rasanya sangat khas. Apalagi yang Bharata (*sebut merk), yang saya rasa paling enak. Beda dengan pecel-pecel liar yang mengaku asli, tapi setelah dicoba mirip tekdo, alias lotek dan gado-gado. :) Tiga makanan ini pasti saya beli, seolah telah menjadi suatu trademark tersendiri.
Hmm..,akan tetapi…. bahkan sekarang sudah tidak ada lagi beberapa moment-moment indah itu. Namun begitu, masyarakat disana tetap hidup dengan kesederhanaan. Masih erat dengan kehidupan gotong royong, symbol dua anak cukup juga masih dijunjung cukup tinggi. Penduduknya masih sangat original, walaupun juga ada beberapa diantaranya yang telah mengusung prinsip hidup ala modern. Mereka juga masih menjunjung semboyan kota madiun, yaitu Madiun Aapik, yang banyak terpampang di hampir setiap pagar di rumah-rumah disana. Dan yang saya suka banyaknya rumah joglo berbentuk limasan khas jawa timur, sangat banyak bertebaran di berbagai ruas jalan raya.
Daaaan, semuanya pasti berubah. Termasuk kota ini dan saya. Kenangan indah itu sudah hilang, namun tidak di hati dan ingatan saya. Saya juga turut berubah, tidak lagi membenci kota perdagangan ini. Saya mulai bisa membaur dengan kehidupan disana. Entah karena apa, tapi yang jelas ini kota kecil yang membuat saya ingin kembali. Kembali melahap bakso granat, pecel, dan penthol, tiga makanan wajib yang harus masuk ke perut saya ketika berkunjung kesana. Dan semoga selera untuk ketiga makanan itu tidak ikut berubah. :)
Madiun, jangan bosan menerimaku kembali.
Yogyakarta under the blue sky, Sept 10, 2011 @11.00 pm
Untuk bisa sampai disana saja harus menumpang bis atau menumpang kereta jurusan arah timur, belum seperti sekarang dimana sudah ada kereta yang memiliki tujuan Madiun. Saya kecil slelau menghapalkan urut-urutan arah dari jogja hingga madiun. Seperti Jogja-Klaten-Delanggu-Kartosuro-Surakarta(solo)-Sragen-Mantingan-Ngawi-Magetan-Maospati-Jiwan-Madiun. Kadang juga transit di beberapa tempat yang saya sebutkan itu. Madiun lambat laun mengalami kemajuan pesat, terutama semenjak saya menginjak bangku SMA. Saya pun sedikit banyak bisa membaur dengan kota yang dulu bagi saya adalah semacam daerah terisolasi. Jauh dari hiburan dan suasana kota. Ya, maklum saja, rumah eyang saya tidak berada di Madiun kota, namun ada di perbatasan antara karesidenan dan kota.
Kota yang dijuluki kota Gadis ini sekarang telah jauh berbeda. Banyak masuknya industri kapitalis dan juga semakin banyak kendaraan bermotor yang ada disana, menggambarkan seolah kota ini tak mau ketinggalan. Bahkan merchant2 terkenal juga telah membuka cabang di kota yang mempunyai makanan khas pecel dan brem ini. Uuaahh, padal saya teringat cerita ibu, Madiun dulu belum seperti sekarang. Masih sarat dengan pergerakan karate teratai putih, dimana salah satu paman saya adalah pendekar sabuk hitam Teratai. Atau sesekali ingin mengafdrukkan foto dari kamera yang masih menggunakan film, di studio Mirako. Dan hingga sekarang studio tersebut masih eksis dan tetap laris. Sebab, yaaa.. mau bagaimana lagi, itu satu-satunya studio yang ada disana. Kalau mendadak ketika disana keluarga besar kami ingin foto, yaa harus ke tempat ini. ;p
Madiun dulu juga masih heboh dengan adanya perayaan tahunan, yang berupa bazaar di sepanjang jalan pabrik gula Redjo Agung selama 3 km. Bazaar tersebut digelar untuk memperingati panen raya gula yang berlangsung setiap tahun. Dalam moment tersebut, seringkali bisa dilihat kereta – kereta yang sangat panjang, membawa banyak sekali tebu yang sudah matang, berjalan beriringan di pinggir jalan raya. Hal itu menjadi suatu tontonan khas, yang mana banyak anak – anak berlomba untuk memunguti tebu-tebu yang berjatuhan. Beruntung saya juga masih sempat menikmati moment itu walau hanya 2 kali saja. Dan bahkan sepanjang jalan raya Madiun-Surabaya dulu, masih banyak tanaman tebu yang sangat tinggi dan tumbuh subur. Dan jujur saja, saya kangen akan suatu moment kalau melihat tanggul belakang rumah eyang yang membendung sungai Madiun. Di masa kecil saya, saya sering sekali berjalan di atas tangkis (jalan raya dipinggir bendungan) hanya untuk melihat sungai yang airnya masih jernih. Dan kemudian menunggu sampan kayu tiba dan menyeberang ke seberang, lalu kembali ke tempat asal. Pulang pergi cukup 300 Rupiah saja.
Untuk soal kuliner, madiun juga tidak kalah. Sebut aja pecel, cenil, krai, lempeng beras, puli, madu mongso, ledre, kripik tempe, brem, tahu campur kikil, adalah sedikit dari daftar menu khas madiun. Dari dulu hingga sekarang, makanan ini tetap saja eksis, dan mash dijual di berbagai tempat oleh-oleh atau pasar tradisional disana. Saya pun juga tak pernah melewatkan beberapa diantaranya. Oh ya, saya juga punya menu wajib saat berada di Madiun, yaitu Penthol, Pecel, dan Bakso Granat. Bakso granat adalah bakso urat, dengan ukuran jumbo dan supeeer besar, mirip bakso tenis. Penthol itu semacam bakso mungil, dicampur bumbu kacang dan kecap, walau tampaknya biasa saja, namun rasanya tetap ngangenin, bentuknya juga imut bikin gemes..;) Kalau pecel tentu setiap orang sudah tahu. Dengan bayam, kecambah, krai, kembang tahu, dan lamtoro, rasanya menjadi lebih nikmat dan nendang. Namun, jangan mengaku makan pecel kalau belum pernah mencicipi sambel pecel khas Madiun, yang rasanya sangat khas. Apalagi yang Bharata (*sebut merk), yang saya rasa paling enak. Beda dengan pecel-pecel liar yang mengaku asli, tapi setelah dicoba mirip tekdo, alias lotek dan gado-gado. :) Tiga makanan ini pasti saya beli, seolah telah menjadi suatu trademark tersendiri.
Hmm..,akan tetapi…. bahkan sekarang sudah tidak ada lagi beberapa moment-moment indah itu. Namun begitu, masyarakat disana tetap hidup dengan kesederhanaan. Masih erat dengan kehidupan gotong royong, symbol dua anak cukup juga masih dijunjung cukup tinggi. Penduduknya masih sangat original, walaupun juga ada beberapa diantaranya yang telah mengusung prinsip hidup ala modern. Mereka juga masih menjunjung semboyan kota madiun, yaitu Madiun Aapik, yang banyak terpampang di hampir setiap pagar di rumah-rumah disana. Dan yang saya suka banyaknya rumah joglo berbentuk limasan khas jawa timur, sangat banyak bertebaran di berbagai ruas jalan raya.
Daaaan, semuanya pasti berubah. Termasuk kota ini dan saya. Kenangan indah itu sudah hilang, namun tidak di hati dan ingatan saya. Saya juga turut berubah, tidak lagi membenci kota perdagangan ini. Saya mulai bisa membaur dengan kehidupan disana. Entah karena apa, tapi yang jelas ini kota kecil yang membuat saya ingin kembali. Kembali melahap bakso granat, pecel, dan penthol, tiga makanan wajib yang harus masuk ke perut saya ketika berkunjung kesana. Dan semoga selera untuk ketiga makanan itu tidak ikut berubah. :)
Madiun, jangan bosan menerimaku kembali.
Yogyakarta under the blue sky, Sept 10, 2011 @11.00 pm
![]() | |||
| Bakso granat |
![]() |
| pentol Madiun |
![]() |
| Krupuk beras (krupuk Puli) khas Madiun |
![]() |
| Sambel pecel yang sudah kondang, Bharata |
Kata-kata untukmu...
Aku cinta kamu. Ya, cinta kamu. Dengan segala keindahanmu dan keramahanmu yang mempesonaku. Dari segala bentuk dan lekuk mengggoda di setiap sudutmu. Dan dengan semangatmu yang tak pernah pudar, meski terkadang banyak aral melintang mengusikmu keistimewaanmu setiap saat.
Aku kangen ketika dimana, malam yang dingin menghangatkan tubuhku, bersembunyi di balik hangatnya rajutan senyum dan candamu serta sinaran di kejauhan. Menikmati indahmu dari sudut gelapnya keramaian. Terlalu laknat kalau aku berkata aku tak mencintaimu. Membencimu dan lalu kamu menganggapku tak tahu terima kasih.
Kamu telah menemaniku, sangat lama, bahkan sejak aku baru saja menikmati udara bebas, hingga pada akhirnya aku berhadapan dengan sesuatu yang akan mengantarkanku ke masa depan (semoga). Sebut saja semacam tugas paripurna sebagai mahasiswa. Lagi – lagi kamu membantuku untuk selalu bersemangat. Tak pernah lelah membiarkanku bergumul sendiri dalam kesendirian. Kamu selalu menawarkan bantuan, dan mengajarkan tentang bagaimana kerja keras, seperti yang kamu banggakan itu.
Kamu juga selalu memujaku dengan menghidangkan semua keahlianmu untuk membuatku merasa bahagia dan tentram. Menghiasi sudut hatiku, dengan rasa yang indah. Jauh di lubuk hati, kata – katamu riuh mengalir bagai gerimis. Ah, ingatkah kamu, ketika aku menghabiskan waktu, hanya untuk menikmati malam bersama enaknya bebek goreng dan sambal bercabai 20? Lalu kemudian ke selatan, bertemu dengan aura birunya laut yang berpadu dnegan garis horizon angkasa.
Belum lagi, aku selalu merasa terpukau, dari dalam keretaku yang berjalan. Setiap ketika aku pulang melancong dan melihatmu menyambut dengan ramah di luar sana. Atau ketika aku berjalan menyusuri setiap sudut kota, dengan ditemani segala eksotismemu yang luar biasa.
Aku ingin kamu menjadi bagian hidupku sampai akhir hayat. Ingin selalu menikmati rasamu yang tak pernah mengecewakan. Bagiku, kamu selalu menggairahkan. Aku ingin menyatu padamu, akhir hidup nanti. Semoga kamu selalu begitu, tak pernah berubah. Dan semoga kamu tak bosan untuk kuraba, di semua bagian yang membuatku terpana. Selalu membuatku ingin pulang dan tak sabar untuk mencicipimu sampai sudutmu yang terdalam. Semoga kamu tak pernah bosan menemaniku, tak pernah bosan untuk selalu memberikan keindahanmu padaku.
Dan kamu juga yang meminjamkan tanahmu untukku dilahirkan. Selamanya aku bangga, menjadi bagian darimu. Aku cinta kamu dengan segala thethek bengekmu...
Wahai Jogjaku sayang, terima kasih!!
*note ini untuk Jogja dan untuk orang2 yang sayang Jogja..dan siapapun walikotanya, semoga membawa Jogja lebih baik... and im ready to welcome the Jogja Java Carnival :)
Aku kangen ketika dimana, malam yang dingin menghangatkan tubuhku, bersembunyi di balik hangatnya rajutan senyum dan candamu serta sinaran di kejauhan. Menikmati indahmu dari sudut gelapnya keramaian. Terlalu laknat kalau aku berkata aku tak mencintaimu. Membencimu dan lalu kamu menganggapku tak tahu terima kasih.
Kamu telah menemaniku, sangat lama, bahkan sejak aku baru saja menikmati udara bebas, hingga pada akhirnya aku berhadapan dengan sesuatu yang akan mengantarkanku ke masa depan (semoga). Sebut saja semacam tugas paripurna sebagai mahasiswa. Lagi – lagi kamu membantuku untuk selalu bersemangat. Tak pernah lelah membiarkanku bergumul sendiri dalam kesendirian. Kamu selalu menawarkan bantuan, dan mengajarkan tentang bagaimana kerja keras, seperti yang kamu banggakan itu.
Kamu juga selalu memujaku dengan menghidangkan semua keahlianmu untuk membuatku merasa bahagia dan tentram. Menghiasi sudut hatiku, dengan rasa yang indah. Jauh di lubuk hati, kata – katamu riuh mengalir bagai gerimis. Ah, ingatkah kamu, ketika aku menghabiskan waktu, hanya untuk menikmati malam bersama enaknya bebek goreng dan sambal bercabai 20? Lalu kemudian ke selatan, bertemu dengan aura birunya laut yang berpadu dnegan garis horizon angkasa.
Belum lagi, aku selalu merasa terpukau, dari dalam keretaku yang berjalan. Setiap ketika aku pulang melancong dan melihatmu menyambut dengan ramah di luar sana. Atau ketika aku berjalan menyusuri setiap sudut kota, dengan ditemani segala eksotismemu yang luar biasa.
Aku ingin kamu menjadi bagian hidupku sampai akhir hayat. Ingin selalu menikmati rasamu yang tak pernah mengecewakan. Bagiku, kamu selalu menggairahkan. Aku ingin menyatu padamu, akhir hidup nanti. Semoga kamu selalu begitu, tak pernah berubah. Dan semoga kamu tak bosan untuk kuraba, di semua bagian yang membuatku terpana. Selalu membuatku ingin pulang dan tak sabar untuk mencicipimu sampai sudutmu yang terdalam. Semoga kamu tak pernah bosan menemaniku, tak pernah bosan untuk selalu memberikan keindahanmu padaku.
Dan kamu juga yang meminjamkan tanahmu untukku dilahirkan. Selamanya aku bangga, menjadi bagian darimu. Aku cinta kamu dengan segala thethek bengekmu...
Wahai Jogjaku sayang, terima kasih!!
*note ini untuk Jogja dan untuk orang2 yang sayang Jogja..dan siapapun walikotanya, semoga membawa Jogja lebih baik... and im ready to welcome the Jogja Java Carnival :)
Sunday, August 28, 2011
BUKAN KITA? LALU SIAPA??
Walaupun saya telah mengenyam pendidikan ke barat, tapi pada dasarnya saya adalah dan tetap adalah orang Jawa dan Indonesia….
(Sri Sultan HB IX)
Bawalah ragamu keliling dunia, tapi berikan jiwamu pada Tuhan dan Indonesia..
(Sukarno)
Dua tokoh tersebut tampaknya bisa menjadi motivasi kita untuk tetap mencintai Negara Indonesia (baca: yang katanya sarang koruptor). Bahkan kalimat tersebut seringkali membuat saya merinding ketika membacanya beberapa kali. Suatu kalimat yang menurut saya cerdas, dan tepat sasaran.
Saya bukannya ingin sok tahu, tapi saya sempat prihatin dengan kepesimisan beberapa orang atau teman terdekat saya, yang sering menyacat negara ini. Negara yang telah menyediakan sumber daya alam yang melimpah ruah. Negara yang sangat kaya akan budaya dan adat istiadat. Ada beberapa hal di Indonesia yang sama sekali tidak ada di negara lain. Setidaknya ini yang saya tahu :
Sebenarnya masih banyak fakta lain, namun mungkin hanya beberapa itu saja yang saya tahu. Namun, yang jelas Indonesia itu kaya! Indonesia harus optimis dan yakin mampu melalui semua rintangan. Indonesia harus bangkit dan belajar, layaknya manusia yang harus belajar, seoah akan hidup selamanya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli? Hei, ini negeri kita. Seperti dalam kalimat patriotisme seorang bung Karno :
This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke! Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita!!!!
Dan saya rasa…..saya (harus) cinta Indonesia…
(Vinia Rizq Prima)
(Sri Sultan HB IX)
Bawalah ragamu keliling dunia, tapi berikan jiwamu pada Tuhan dan Indonesia..
(Sukarno)
Dua tokoh tersebut tampaknya bisa menjadi motivasi kita untuk tetap mencintai Negara Indonesia (baca: yang katanya sarang koruptor). Bahkan kalimat tersebut seringkali membuat saya merinding ketika membacanya beberapa kali. Suatu kalimat yang menurut saya cerdas, dan tepat sasaran.
Saya bukannya ingin sok tahu, tapi saya sempat prihatin dengan kepesimisan beberapa orang atau teman terdekat saya, yang sering menyacat negara ini. Negara yang telah menyediakan sumber daya alam yang melimpah ruah. Negara yang sangat kaya akan budaya dan adat istiadat. Ada beberapa hal di Indonesia yang sama sekali tidak ada di negara lain. Setidaknya ini yang saya tahu :
- Kecap botol, aneka jenis sambel, dan teh botol. Semua produk ini merupakan peroduk asli buatan Indonesia. Bahkan satu – satunya perusahaan yang berinisiatif untuk menjadikan teh dalam kemasan botol, hanya ada di Indonesia. Dan teh dalam kemasan botol, peloppornya adalah Indonesia. Aneka jenis sambel hanya dapat dibuat di Indonesia karena bahan-bahan pembuatnya hanya ada di Indonesia.
- Multikultural. Hal ini menyebabkan sebagian orang Indonesia lebih mudah bertoeransi. Dan bahkan Indonesia selalu menjadikan hari besar perayaan 5 agama yang diakui disini, sebagai hari libut nasional. Di negara lain, hanya hari yang benar-benar penting saja yang dijadikan sebagai libur nasional.
- Indomie.Ini adalah suatu merk mie instant yangsudah snagat terkenal, bahkan diimpor ke berbagai negara. Apabila anda pernah ke Eropa, akan snagat susah menemukan indomie walaupun sudah keliing mencari di berbagai supermarket besar.
- Tradisi Mudik. Terjadi ketika lebaran dan melibatkan semua elemen masyarakat. Semua sibuk, semua bingung untuk pulang kampung. Namun suasana tetap berkesan dan keharmonisan relative terjaga.
- Indonesia punya lebih kurang 17.000 pulau! Dan tentu saja what an amazing fact! Kita perlu memberdayakan setiap potensi yang ada di setiap pulau dan kepulauan sebagai salah satu daya tarik wisata…
- Indonesia punya berbagai kebudayaan yang sudah diakui dunia.
- Beberapa waktu lalu, bahkan UNESCO memberikan hak paten atas batik, angklung reog ponorogo, dll sebagai budaya asli Indonesia.
- Indonesia adalah negara dengan konsep demokrasi terbaik. Entah benar atau tidak, tentu saja ini merupakan suatu amanah sekaligus beban berat. Penghargaan bukan semata-mata prestise belaka, namun juga sebagai sebuah cambukan yang mendorong suatu pembuktian nyata.
- Indonesia memiliki keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia (tanah + udara + air) setelah Brasil.
- Jika kita membutuhkan satu hari untuk menjelajah satu pulau, maka butuh 64 tahun mengunjungi semua pulau yang kita miliki.
- Ada sekitar 300.000 tentara di Angkatan Darat Indonesia, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
- Badak Jawa! Hanya ada di Indonesia dan banyak diminati oleh berbagai orang dari belahan penjuru dunia.
- Tiga dari sepuluh pulau terbesar di dunia ada di Indonesia.
- Indonesia punya tim aerobtic yang patut dibanggakan, Jupiter Aerobatic Team. Semoga dalam kiprahnya ke depan, tidak kalah dengan tim2 aerobatic dari negara lain semacam Red Arrows (Inggris), The Roullettes (Australia), Black Eagles ( KorSel), Blue Angel ( Milik US Navy), Patrouille (Prancis) dsb. Semoga!
Sebenarnya masih banyak fakta lain, namun mungkin hanya beberapa itu saja yang saya tahu. Namun, yang jelas Indonesia itu kaya! Indonesia harus optimis dan yakin mampu melalui semua rintangan. Indonesia harus bangkit dan belajar, layaknya manusia yang harus belajar, seoah akan hidup selamanya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli? Hei, ini negeri kita. Seperti dalam kalimat patriotisme seorang bung Karno :
This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke! Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita!!!!
Dan saya rasa…..saya (harus) cinta Indonesia…
(Vinia Rizq Prima)
Friday, August 19, 2011
Yang Tak Terungkapkan...
by Vinia Rizq Prima on Friday, 30 April 2010 at 14:00
Ini terinspirasi dari cerita seorang temanku,tentang temannya, yang aku coba tuangkan ke bentuk huruf – huruf beralinea ini……….
Seorang lelaki muda berdiri termangu. Dilihatnya lagi foto ayah dan ibunya. Tak terasa air mata telah mengalir di matanya. Pelan – pelan diambilnya sapu tangan yang ada di saku celananya. Satu demi satu tetes air matanya diusapnya perlahan – lahan. Lelaki itu sudah sejak tadi mematung, tak menghiraukan udara siang yang panas menyengat.
Jarum jam telah lama bergerak ke berbagai sudut. Namun, lelaki itu tetap saja masih di tempat yang sama. Tempat dimana dia menghabiskan masa anak – anaknya. Masa kecil yang diisinya dengan keceriaan bersama orang tuanya. Lalu dia kemudian tertegun. Teringat permintaan ibunya yang terakhir kali.
*****
”Nak, jadi orang itu harus saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya.” kata sang ibu. ”Iya, bu, saya akan ingat pesan ibu,” jawab si lelaki.
”Lebih baik, kalu sudah besar, kamu jadi dokter saja, seperti ayahmu. Kan bisa menolong orang lain,” pinta ibunya kala itu.
Profesi sang ayah memang seorang dokter. Dokter yang cukup terpandang di desanya. Tak jarang, orang – orang miskin yang berobat, tidak dipungut biaya. Bahkan obat pun diberikan secara cuma – cuma. Hal itulah yang membuat sang ayah dihormati di desanya. Seorang dokter yang berjiwa besar dan tanpa pamrih.
Pernah suatu kali lelaki kecil diajak sang ayah berkunjung kerumah seorang kakek yang sudah renta. Si kakek tinggal di seorang diri di rumahnya yang sudah tak layak huni. Anak – anaknya sudah sibuk merantau dan jarang pulang ke rumah. Istrinya pun sudah lama menikah lagi dan meninggalkannya. Penyakitnya sudah menahun dan tidak kunjung disembuhkan karena tak ada biaya. Sang ayah pun dengan senang hati memberikan operasi gratis, sehingga sang kakek sembuh dan sehat kembali.
Dari situ kemudian si lelaki kecil dapat belajar dari pekerjaan anaknya. Dia jadi paham betapa mulianya menjadi seorang dokter. Sebuah permintaan ibunya untuk dirinya. Permintaan yang menjadi permintaan terakhirnya, sebab setelah itu ayah dan ibunnya meninggal dunia, dalam kecelakaan pesawat.
******
Waktu telah berganti sore. Sang lelaki masih juga tak berpindah tempat. Tampaknya ada kebimbangan yang menghinggapi dirinya. Rasa bimbang sebab dia tak lagi bisa bertemu dengan orang tuanya, hanya untuk sekadar memberi kabar dan mengucapkan kata maaf.
Dengan cepat disimpannya foto keluarganya itu lagi. Dan dia tiba – tiba beranjak. Kemudian beralih menuju sebuah tempat peristirahatan. Tempat peristirahatan terakhir. Dihampirinya dua nisan yang ada di pojokan. Lalu duduk bersimpuh di depan pusara kedua orang tuanya. Dia ingin mengungkapkan apa yang selama ini tak terungkapkan.
Pelan – pelan dia menata perasaannya. Lalu kemudian dia berbisik, ”Bu, maafkan anakmu tak bisa memenuhi pintamu. Mungkin aku anak tak berbakti, namun tampaknya hatiku telah berkata lain,” ucapnya pelan.
Dia berusaha mengambil nafas panjang, lalu dilanjutkanlah kata – katanya. ”Pak, Bu, kini aku ingin pamit, sebab ada tugas besar yang memanggilku. Inilah saatnya aku membuktikan ketangguhanku. Aku harus setia dengan sumpah dan janji yang telah aku ucapkan. Doakan semoga saya berhasil, saya tidak akan mengecewakan bapak dan ibu,” katanya. Perlahan ditinggalkannya pusara ayah ibunya. Hatinya masih bergejolak. Namun dia sadar, keputusan haruslah tetap diambilnya.
******
Hari telah berganti. Sang lelaki tengah bersiap – siap untuk melaksanakan kewajibannya. Dia tengah berbaris di barisan yang paling depan. Dilihatnya kembali kota yang telah menjadikan masa kecilnya indah. Dipandanginya kawan – kawan yang nanti akan menjadi kawan seperjuangannya. Dalam hati dia merasa iri, ketika kawan – kawannya diantarkan oleh orang tuanya. Dikecup di kening sebagai tanda perpisahan. Suatu hal yang kini tak bisa lagi dirasakannya. Sekali lagi batinnya berjanji, dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Dia akan berjuang memberikan yang terbaik.
Pesawat sudah disiapkan, kawan - kawannya sudah naik, kemudian disusul olehnya. Sang lelaki memantapkan hatinya , meyakinkan dirinya bahwa pilihannya tidak salah. Pesawat sudah siap take off, siap berangkat untuk sebuah misi perdamaian. Sang lelaki bergumam lirih dalam hatinya, ”Pak, Bu, negara telah memanggilku. Aku memilih menjadi tentara. Ini pilihan hidupku. Pemuda pembela tanah air,” batinnya.
Dedicated to : jiwa - jiwa pemberani yang berjuang di bawah naungan merah putih....... ;p
_di siang hari yang panas, jumat, 30 April 2010,pulang dari tanah lapang luas dikelilingi mesin2 berselubung baja_
A Letter to My Mother...ultah ke-46...
Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu
Sebagai balasannya kau menangis sepanjang malam
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan
Sebagai balasannya kau kabur saat dia memanggilmu
Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang
Sebagai balasannya, kau tuang piring berisi makanan ke lantai
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna
Sebagai balasannya, kau coret – coret dinding rumah dan meja makan
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian yang mahal dan indah
Sebagai balasannya kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah
Sebagai balasannya Kau berteriak , 'Nggak Mau!"
Saat kau berumur 7 tahun dia membelikanmu bola
Sebagai balasannya kau lemparkan bola ke jendela tetangga
Saat kau berumur 8 tahun, dia membelikanmu es krim
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tak pernah berlatih
Saat kau berukur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, kolam renang, hingga pesta ulang tahun
Sebagai balasannya kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam
Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman2mu ke bioskop
Sebagai balasannya , kau minta dia duduk di barisan lain
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk menonotn acara TV khusus orang dewasa
Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai keluar rumah
Saat kau berukur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk potong rambut, karena sudah waktunya
Sebagai balasannya, kau katakan dia tak tahu mode
Saat kau berukur 14 tahun, dia membayar biaya kempingmu selama sebulan
Sebagai balasannya, kau sama sekali tak pernah meneleponnya
Saat kau berumur 15 tahun, ketika dia pulang kerja ia ingin memelukmu
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu
Saat kau beurmur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilmu
Sebagai balasannya, kau pakai mobil setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar kuliahmu dan mengantarmu kuliah di hari pertama
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari gerbang agar tak malu pada teman2mu
Saat kau berumur 20 tahun, Dia berkata "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasaanya ," Ah, cerewet amat sih, mau tahu urusan orang..! "
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan suatu pekerjaan bagus untukmu di masa depan
Sebagai balasannya kau berkata ." Aku tidak mau seperti ibu!"
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu ketika kau lulus dari perguruan tinggiSebagai balasannya, kau bertanya kapan bisa berlibur ke Bali
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu
Sebagai balasannya, kau cerita pada temanmu betapa jeleknya furniture itu
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan
Sebagai balasannya , kau berkata, "Aduuh, gimana kok bertanya seperti itu?!"
Saat kau berumur 25 tahun, dia membantu membiayai pernikahanmu
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaranya lebih dari 500 km
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikanmu nasehat bagaimana cara merawat anakmu
Sebagai balasannya, Kau katakan padanya, "SEKARANG JAMANNYA SUDAH BERBEDA!"
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon utnuk memberitahu ada pesta ulang tahun seorang kerabat
Sebagai balasannya, kau berkata "Bu, saya sibuk sekali, Gak ada waktu! "
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit2an dan membutuhkan perawatanmu
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anaknya. Dan kemudian mengirimkan ke panti jompo.
Hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang, dan tiba2 kau menyadari banyak hal yang belum kau lakukan untuknya.
Dan perasaan bersalah datang bagai palu gondam, tanpa akhir.
THERE IS ONLY PRETTY CHILD IN THE WORLD AND EVERY MOTHER HAS IT.
Buat ibuku, Endang Sukmawati,
Terima kasih telah bertarung nyawa, membagi waktu, kasih sayang,canda, semuanya.
Maaf. Ini anakmu. Yah beginilah anakmu. Dengan segala jiwa dan jati diri yang masih rapuh. Dengan beribu dosa yang masih belum tuntas dimusnahkan. Dan tak pernah bisa mengembalikan semua yang telah kau berikan.
Terima kasih juga telah memberikanku pelajaran tentang hidup yang memang harus diselesaikan.
Dan aku ga pernah meragukan ketulusanmu, bu...
Semua itu karena ibu,
Kartiniku.
Selamat Ulang Tahun ke-46
21 APRIL 2011
Sebagai balasannya kau menangis sepanjang malam
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan
Sebagai balasannya kau kabur saat dia memanggilmu
Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang
Sebagai balasannya, kau tuang piring berisi makanan ke lantai
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna
Sebagai balasannya, kau coret – coret dinding rumah dan meja makan
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian yang mahal dan indah
Sebagai balasannya kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah
Sebagai balasannya Kau berteriak , 'Nggak Mau!"
Saat kau berumur 7 tahun dia membelikanmu bola
Sebagai balasannya kau lemparkan bola ke jendela tetangga
Saat kau berumur 8 tahun, dia membelikanmu es krim
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tak pernah berlatih
Saat kau berukur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, kolam renang, hingga pesta ulang tahun
Sebagai balasannya kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam
Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman2mu ke bioskop
Sebagai balasannya , kau minta dia duduk di barisan lain
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk menonotn acara TV khusus orang dewasa
Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai keluar rumah
Saat kau berukur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk potong rambut, karena sudah waktunya
Sebagai balasannya, kau katakan dia tak tahu mode
Saat kau berukur 14 tahun, dia membayar biaya kempingmu selama sebulan
Sebagai balasannya, kau sama sekali tak pernah meneleponnya
Saat kau berumur 15 tahun, ketika dia pulang kerja ia ingin memelukmu
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu
Saat kau beurmur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilmu
Sebagai balasannya, kau pakai mobil setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar kuliahmu dan mengantarmu kuliah di hari pertama
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari gerbang agar tak malu pada teman2mu
Saat kau berumur 20 tahun, Dia berkata "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasaanya ," Ah, cerewet amat sih, mau tahu urusan orang..! "
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan suatu pekerjaan bagus untukmu di masa depan
Sebagai balasannya kau berkata ." Aku tidak mau seperti ibu!"
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu ketika kau lulus dari perguruan tinggiSebagai balasannya, kau bertanya kapan bisa berlibur ke Bali
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu
Sebagai balasannya, kau cerita pada temanmu betapa jeleknya furniture itu
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan
Sebagai balasannya , kau berkata, "Aduuh, gimana kok bertanya seperti itu?!"
Saat kau berumur 25 tahun, dia membantu membiayai pernikahanmu
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaranya lebih dari 500 km
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikanmu nasehat bagaimana cara merawat anakmu
Sebagai balasannya, Kau katakan padanya, "SEKARANG JAMANNYA SUDAH BERBEDA!"
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon utnuk memberitahu ada pesta ulang tahun seorang kerabat
Sebagai balasannya, kau berkata "Bu, saya sibuk sekali, Gak ada waktu! "
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit2an dan membutuhkan perawatanmu
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anaknya. Dan kemudian mengirimkan ke panti jompo.
Hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang, dan tiba2 kau menyadari banyak hal yang belum kau lakukan untuknya.
Dan perasaan bersalah datang bagai palu gondam, tanpa akhir.
THERE IS ONLY PRETTY CHILD IN THE WORLD AND EVERY MOTHER HAS IT.
Buat ibuku, Endang Sukmawati,
Terima kasih telah bertarung nyawa, membagi waktu, kasih sayang,canda, semuanya.
Maaf. Ini anakmu. Yah beginilah anakmu. Dengan segala jiwa dan jati diri yang masih rapuh. Dengan beribu dosa yang masih belum tuntas dimusnahkan. Dan tak pernah bisa mengembalikan semua yang telah kau berikan.
Terima kasih juga telah memberikanku pelajaran tentang hidup yang memang harus diselesaikan.
Dan aku ga pernah meragukan ketulusanmu, bu...
Semua itu karena ibu,
Kartiniku.
Selamat Ulang Tahun ke-46
21 APRIL 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)






