Friday, August 19, 2011

Yang Tak Terungkapkan...


by Vinia Rizq Prima on Friday, 30 April 2010 at 14:00

Ini terinspirasi dari cerita seorang temanku,tentang temannya, yang aku coba tuangkan ke bentuk huruf – huruf beralinea ini……….



Seorang lelaki muda berdiri termangu. Dilihatnya lagi foto ayah dan ibunya. Tak terasa air mata telah mengalir di matanya. Pelan – pelan diambilnya sapu tangan yang ada di saku celananya. Satu demi satu tetes air matanya diusapnya perlahan – lahan. Lelaki itu sudah sejak tadi mematung, tak menghiraukan udara siang yang panas menyengat.
Jarum jam telah lama bergerak ke berbagai sudut. Namun, lelaki itu tetap saja masih di tempat yang sama. Tempat dimana dia menghabiskan masa anak – anaknya. Masa kecil yang diisinya dengan keceriaan bersama orang tuanya. Lalu dia kemudian tertegun. Teringat permintaan ibunya yang terakhir kali.
*****
”Nak, jadi orang itu harus saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya.” kata sang ibu. ”Iya, bu, saya akan ingat pesan ibu,” jawab si lelaki.
”Lebih baik, kalu sudah besar, kamu jadi dokter saja, seperti ayahmu. Kan bisa menolong orang lain,” pinta ibunya kala itu.
Profesi sang ayah memang seorang dokter. Dokter yang cukup terpandang di desanya. Tak jarang, orang – orang miskin yang berobat, tidak dipungut biaya. Bahkan obat pun diberikan secara cuma – cuma. Hal itulah yang membuat sang ayah dihormati di desanya. Seorang dokter yang berjiwa besar dan tanpa pamrih.
Pernah suatu kali lelaki kecil diajak sang ayah berkunjung kerumah seorang kakek yang sudah renta. Si kakek tinggal di seorang diri di rumahnya yang sudah tak layak huni. Anak – anaknya sudah sibuk merantau dan jarang pulang ke rumah. Istrinya pun sudah lama menikah lagi dan meninggalkannya. Penyakitnya sudah menahun dan tidak kunjung disembuhkan karena tak ada biaya. Sang ayah pun dengan senang hati memberikan operasi gratis, sehingga sang kakek sembuh dan sehat kembali.
Dari situ kemudian si lelaki kecil dapat belajar dari pekerjaan anaknya. Dia jadi paham betapa mulianya menjadi seorang dokter. Sebuah permintaan ibunya untuk dirinya. Permintaan yang menjadi permintaan terakhirnya, sebab setelah itu ayah dan ibunnya meninggal dunia, dalam kecelakaan pesawat.

******
Waktu telah berganti sore. Sang lelaki masih juga tak berpindah tempat. Tampaknya ada kebimbangan yang menghinggapi dirinya. Rasa bimbang sebab dia tak lagi bisa bertemu dengan orang tuanya, hanya untuk sekadar memberi kabar dan mengucapkan kata maaf.
Dengan cepat disimpannya foto keluarganya itu lagi. Dan dia tiba – tiba beranjak. Kemudian beralih menuju sebuah tempat peristirahatan. Tempat peristirahatan terakhir. Dihampirinya dua nisan yang ada di pojokan. Lalu duduk bersimpuh di depan pusara kedua orang tuanya. Dia ingin mengungkapkan apa yang selama ini tak terungkapkan.
Pelan – pelan dia menata perasaannya. Lalu kemudian dia berbisik, ”Bu, maafkan anakmu tak bisa memenuhi pintamu. Mungkin aku anak tak berbakti, namun tampaknya hatiku telah berkata lain,” ucapnya pelan.
Dia berusaha mengambil nafas panjang, lalu dilanjutkanlah kata – katanya. ”Pak, Bu, kini aku ingin pamit, sebab ada tugas besar yang memanggilku. Inilah saatnya aku membuktikan ketangguhanku. Aku harus setia dengan sumpah dan janji yang telah aku ucapkan. Doakan semoga saya berhasil, saya tidak akan mengecewakan bapak dan ibu,” katanya. Perlahan ditinggalkannya pusara ayah ibunya. Hatinya masih bergejolak. Namun dia sadar, keputusan haruslah tetap diambilnya.

******
Hari telah berganti. Sang lelaki tengah bersiap – siap untuk melaksanakan kewajibannya. Dia tengah berbaris di barisan yang paling depan. Dilihatnya kembali kota yang telah menjadikan masa kecilnya indah. Dipandanginya kawan – kawan yang nanti akan menjadi kawan seperjuangannya. Dalam hati dia merasa iri, ketika kawan – kawannya diantarkan oleh orang tuanya. Dikecup di kening sebagai tanda perpisahan. Suatu hal yang kini tak bisa lagi dirasakannya. Sekali lagi batinnya berjanji, dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Dia akan berjuang memberikan yang terbaik.
Pesawat sudah disiapkan, kawan - kawannya sudah naik, kemudian disusul olehnya. Sang lelaki memantapkan hatinya , meyakinkan dirinya bahwa pilihannya tidak salah. Pesawat sudah siap take off, siap berangkat untuk sebuah misi perdamaian. Sang lelaki bergumam lirih dalam hatinya, ”Pak, Bu, negara telah memanggilku. Aku memilih menjadi tentara. Ini pilihan hidupku. Pemuda pembela tanah air,” batinnya.

Dedicated to : jiwa - jiwa pemberani yang berjuang di bawah naungan merah putih....... ;p


_di siang hari yang panas, jumat, 30 April 2010,pulang dari tanah lapang luas dikelilingi mesin2 berselubung baja_

No comments:

Post a Comment