Friday, August 19, 2011

Mbah Kakung, 1 Maret, dan Pintu Hijaunya…

by Vinia Rizq Prima on Tuesday, 01 March 2011 at 19:36
Uaaaahhhh,,, ini tanggal 1 Maret ya……
Dan aku duduk di sini. Di sofa yang ada di sudut salah satu restoran fastfood, di salah satu mall yang ada di Jogja. Ini salah satu tempat favoritku, karena menawarkan view dan spot yang lumayan bagus di luar sana. Makanya aku lumayan sering kesini. Apalagi bisa melihat napak tilas mbah kakung yang memiliki makna yang luar biasa baginya.
Dari sini, aku seolah bisa melihat dengan jelas suatu cerita, bahwa di balik pintu hijau, di samping gedung di seberang jalan sana, telah terjadi suatu cerita yang mengubah hidup simbah.
Enam puluh satu tahun yang lalu tepatnya. Ketika seluruh wilayah Yogyakarta dikuasai oleh tentara Jepang. Semua daerah dikepung dan siapa saja orang pribumi yang lewat dan berkeliaran di jalan akan disandera,disiksa, dan diasingkan.Apalagi, di daerah ini dahulunya adalah markas tentara – tentara Jepang ketika mereka berada di Yogyakarta.  Dan simbah termasuk salah satu remaja yang bergerilya. Beliau tak pernah gentar dan takut, terhadap semua tentara yang sewaktu – waktu bisa saja menangkapnya.
Untuk itulah, beliau juga tidak pernah takut untuk tetap `berkeliaran` di jalan – jalan di sekitar sini. Terutama, sang pacar, yang kini adalah nenekku, tinggal di balik pintu hijau itu, di seberang jalan ini.
Suatu ketika, tepatnya 1 Maret 1949 ketika mbah kakung sedang mengunjungi kekasihya, tiba – tiba datang gerombolan tentara Jepang, dengan banyak tank – tank raksasa, yang berhenti di sepanjang jalan dan juga tiba – tiba berhenti di depan pintu hijau itu. Katanya, para tentara itu mencari simbah, karena dianggap sebagai salah satu gerilyawan. Dan tahu sendiri, bila mereka berhasil menangkap seorang gerilyawan hidup - hidup, maka akan langsung ditempak di tempat.
Dan lalu pintu hjau itu pun didobrak, calon simbah putriku yang cepat tanggap, sebelumnya telah menyuruh mbah kakung untuk bersembunyi, di kamar paling belakang, kamar yang cukup luas, di balik pintu kayu, dengan posisi pintu yang terbuka. Dan mbah putri sudah berkata bahwa mbah kakung tidak ada, dan dia tidak kenal mbah kakung. Namun, tetap saja, para tentara tak percaya.
Para tentara pun tak banyak ba-bi-bu, langsung memeriksa seluruh isi rumah. Mendobrak lemari, membuka kamar mandi, dapur, bawah kolong tempat tidur. Dan pada akhirnya, dua orang tentara yang terkenal keji menuju ke kamar tempat simbah bersembunyi. Dagdigdug jantung mbah putri, takut bila simbah kakung tertangkap.
Para tentara itu pun masuk ke dalam kamar itu, berkeliling, dan sempat melihat pintu kayu itu ….dan lalu…. Dorrrrr! Suara tembakan. Ada darah.
***
Namun, bukan simbah yang terkena peluru, namun seorang gerilyawan yang lain yang ada di rumah sebelah. Dia Dead. Tapi, simbah selamat. Berkat para tentara tidak memeriksa ada apa di balik pintu kayu itu. Sebab, mereka segera pergi setelah mendengar tembakan.
Dan simbah sangat bersyukur, bahwa dia berhasil selamat dari marabahaya.

Yeaaaahh,, dan sejak itu, setiap tanggal 1 Maret, simbah selalu mengadakan syukuran. , tumpengan nasi kuning. Beliau selalu mengadakan syukuran atas berkah masih diberikan kesempatan kepadanya dari Tuhan, untuk lebih lama hidup. Sekaligus kesadaran bahwa kematian bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Selama 59 tahun, ada 59 nasi kuning yang dibuat untuk memperingati hari bersejarah itu, setiap 1 Maret tiba.
Namun, sepeninggalan simbah 2008 lalu, sudah dua tahun ini, tidak ada lagi tumpengan. Termasuk hari ini. Jadi, total, sudah tiga 1 Maret tanpa tumpeng.
***
Mbah,, walau sudah tak ada tumpeng, namun cucu2mu masih sangat jelas ketika kau menceritakan pada kami kisahmu di balik pintu hijau itu. Dan semua pesanmu, bahwa hidup ini harus dihargai, hidup adalah sebuah tugas yang harus diselesaikan. Maka dari itu, kita harus mengisi hidup ini dengan sesuatu yang bermakna.

Baik, mbah, meski engkau telah mendahului kami, namun sisa2 cerita masa lalumu masih dapat terlihat jelas dari sini. Kami akan berusaha eling titahmu, bahwa hidup harus dihargai……eling titah seorang simbah kami, Poepunn Kawhit Muljahardjanna. Dan sejarah bukan hanya sekadar peringatan dan perayaan. tapi harus digunakan sebagai pengalaman untuk sesuatu yang lebih baik.
***
Dan aku masih asik disini, menghabiskan minumanku yang masih setengah. Sembari menikmati hari yang mulai beranjak makin malam. Memandang lalu lintas yang merayap di depan mata dan rintik hujan yang makin seksi. Menajamkan retina dengan terus menatap pintu hijau yang ada di seberang sana. Yaaa…walaupun sebagian bangunan yang dulunya adalah bagian dari pintu hijau itu telah berubah menjadi suatu pertokoan di Yogyakarta. Guess what? Sebut saja Time Gallery…..


Happy 1 Maret 2011……Lets brighter our life…

No comments:

Post a Comment