Sunday, April 7, 2013

Kamseupay : sebenarnya siapa yang payah??


Yeep. KAMSEUPAY. Istilah ini makin kondang semenjak digunakan di salah satu iklan provider seluler (seperti yang saya pake juga) di televisi. Kamseupay, bagi yang belum tahu, ini adalah semacam akronim, yakni KAMpungan SEkali Udik PAYah. Usut demi usut, menurut beberapa sumber tertulis, yang mempopulerkan justru artis ibukota kita, tante Marissa Haque, lewat perang twitternya dengan anak salah satu musisi papan atas negeri ini (baca : negeri BBM).

Sebenarnya yah, sebenarnya, menurut kacamata saya, apa malah kata – kata semacam itu justru menimbulkan efek diskriminasi terhadap suara akar rumput yang semakin terpinggirkan. Dan sebentar dulu, kata `kampungan` tentunya berasal dari kata dasar kampung, sedangkan udik, adalah desa pinggiran. Selama ini, penggunaan kata – kata kampungan justru mengidentikkan warga desa dan kampung memiliki pola pikir yang wagu, aneh, dan memiliki peradaban di bawah orang kota. Kalau mau berkiblat ke peradaban yang tinggi dan baik, yaa….ke orang – orang kota. Begituah kira – kira pemikiran sederhananya. Udik juga diibaratkan sebagai kata sifat bagi seseorang/hal yang sangat terbelakang/ketinggalan jaman.

Penggunaan kata – kata `kampungan` tentunya menyiratkan bahwa orang – orang desa dan kampung itu tampak seperti yang paling ga banget  dan kuno sekali. Kenapa tidak ada orang desa yang sudah tenar dan mampu berhasil lalu disebut dengan `kotaan` dan atau istilah lainnya. Apakah standar kehidupan orang yang tinggal di kampung justru lebih rendah daripada orang – orang (yang katanya) berkelas yang hidup di kota – kota. Mereka dengan rumah yang berpagar tinggi, atau tinggiii sekali (sampai tukang koran harus berlatih lombat galah) dan juga bahkan tak kenal lagi apa itu namanya kerja bakti dan siskamling.

Mengutip pernyataan dari Dhanang Dhave, seorang kompasianer, yang menambahkan bahwa suara orang – orang kampung -yang banyak ditipu oleh para pejabat neheri ini-, banyak yang memberikan suaranya dalam pemilu, agar para pejabat negeri ini menjadi orang nomor satu. Lalu kemudian kembali menipu lagi dan lagi.
Oh ya, dan apakah keramahan, toleransi, rasa saling menghargai, dan juga menghormati, yang sebagian besar masih bisa dirasakan di kampung, bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang `kampungan`? Lalu, apakah seorang yang sedang merantau di kota, kemudian kembali ke kota asalnya, atau yang ngetrend dengan istilah pulang kampung, juga bisa dikatakan sebagai seorang yang kampungan yang balik ke kampung?

Orang - orang besar dan pandai di negeri ini,  tumbuh dan berkembang karena jasa dari orang – orang kampung, orang desa. Tidak ada yang mampu menyangkal bahwa nasi dari padi yang setiap harinya merupakan makanan pokok bagi sebagian masyarakat Indonesia, ditanam dan didistribusikan oleh orang kampung, orang desa. Ikan yang lezat, buah – buahan, dan sayur mayur, juga demikian adanya, banyak berasal dari kerja keras para nelayan, petani, yang tinggal di kampung – kampung nelayan atau desa.


Sekarang pertanyaannya, kapan? Kapan orang kampung mendapat citra yang lebih baik? Lampiaskan kemarahan atau kekecewaan dengan istilah dan cara yang benar dan positif. Tidak adakah istilah yang lebih baik untuk mengungkapkan kekecewaan? Ayo, ada yang mau usul?
Agar setidaknya makin banyak yang tidak mendiskreditkan kampung sebagai tempat yang memiliki peradaban rendahan. Biar orang kampung bisa sedikiiiiit tersenyum. Tak juga terus – terusan berangan – angan. Berharap tentang sesuatu yang pernah dijanjikan kepada mereka. Membeli mimpi yang bahkan kadang mereka tak bisa mengusahakannya sendiri.

(#np_Iwan Fals : Mimpi Yang Terbeli)
Sampai Kapan Mimpi – Mimpi Itu kita Beli…
Sampai nanti sampai habis terjual, harga diri…

Ah, saya memang bukan guru bahasa dan sastra Indonesia, tapi yaaa…saya boleh juga dong menyuarakan pendapat demi perbaikan bersama. Negara kita kan negara demokrasi. Ini Indonesia kan??



_nasi goreng, cha sayur,dan jus jeruk didepan saya ini, sungguh.…harus saya lahap habis.
(260312, 20.20pm)

No comments:

Post a Comment