Sunday, April 7, 2013
SLUKU-SLUKU BATHOK
“Nduk maem dulu, lanjut nanti maen gamenya”
Nggih mbah…
Samar – samar suara simbah putri, tepatnya 18 tahun lalu, saat dimana aku masih getol2nya main Mario Bross, Pacmann, namun begitu aku sangat suka setrika dan cuci piring di usiaku yang masih kecil (mbakat babu kali yah,, haha). Simbah seringkali menungguiku di saat aku mengerjakan PR, atau terkadang meninabobokan aku dengan lau sluku-sluku bathok atau kadang juga lagu kidang talun atau menthog-menthog.
Dua lagu itu masih aku hafal sampai sebesar ini, lagu anak – anak versi Jawa. Dan bahkan masih terdengar jelas, suara simbah yang sedikit parau saat itu, pada usianya yang menginjak 72 tahun. Namun begitu, semangat simbah untuk hidup dan bekerja keras patut diacungi jempol.
Terlantun pula cerita ibu tentang kehidupannya saat kecil. Ibu adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Tinggal di sebuah kota yang dijuluki kota gadis (perdagangan dan industri), Madiun, suatu karesidenan kecil di Jawa Timur. Suami simbah putri, yaitu mbah kakungku, (yaiyalah) sudah menibggal dunia karena diabetes ketika ibuku masih berusia 6 tahun. Sejak saat itu, simbah menjadi seorang single parents untuk kelima anaknya yang masih belum bisa mandiri. Anak pertama simbahlah yang berprofesi sebagai mariner-lah yang menjadi tumpuan keluarga saat itu.
Pagi-siang-malam, simbah berjuang mencari seupil nasi untuk anak – anaknya. Tengah malam menjelang, simbah pergi ke sawah di belakang rumah dengan menggunakan caping kesayangannya. Dia melakukan apa itu yang diistilahkan dengan derep (menggarap sawah milik orang lain), menjual jasa kesana kemari. Terkadang anak – anaknya yang bungsu membantu sebisa mungkin, termasuk ibuku. Upah yang didapatkan juga tidak seberapa, namun simbah tetap saja bersyukur atas apa yang didapatkan. Yaah…walau katanya, upah itu tetap tidak cukup untuk makan sehari – hari. Terkadang, simbah harus mengerjakan beberpa sawah lagi untuk mendapat penghasilan tambahan. Atau bahkan, saking melasnya, harus berhutang satu kilogram beras di warung depan rumah. Itu pun tidak sekali atau dua kali,namun dua, tiga, hingga berkali - kali hingga utang – utangnya tidak terhitung di warung itu. Hingga pada suatu saat, sang pemilik warung tidak mau lagi memberikan beras tanpa dibayar terlebih dulu.
Apa yang terjadi di hidup simbah, tetaplah diterimanya dengan ikhlas, namun juga tetap berusaha. Simbah punya tekad yang membuatnya tetap bertahan : melihat kesuksesan anak – anaknya di masa depan kelak. Simbah pun tetap mati – matian berusaha agar semua anaknya tidak putus sekolah, karena menurutnya, pendidikan adalah bekal terbaik untuk hidup seorang manusia. Dia pun kemudian menitipkan salah satu anaknya yang perempuan, yaitu ibuku, kepada kakaknya yang telah menjadi seorang keluarga darah biru di Sukonandi, Yogyakarta. Sebab, kakak simbah menikah dengan anak seorang bupati kala itu dan masih keturunan keraton, dia menjadi seorang darah biru, dan lalu bergelar Raden Ajeng. Maka sudah dipastikan, ibu mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang layak ketika tinggal bersama kakak simbah. Ibu mendapat gemblengan mental dan tata karma yang sangat baik serta halus yang masih terpatri sampai sekarang. Salah satu anak simbah sudah bisa dikatakan sedikit keluar dari keterpurukan istilahnya. Anak simbah yang lain masih tinggal di Madiun, dengan masih berjuang untuk terus sekolah dan bekerja dengan baik. Ada yang kemudian menyusul ke Jogja dan menjadi guru, yang lainnya berpencar menemukan nasib yang telah dirancang sendiri.
Simbah selalu berusaha menjadi sosok yang baik bagi anak – anak mereka, bukan teladan, namun sebagai sosok yang mengayomi serta welas asih. Hingga pada suatu hari, aku, sebagai cucunya yang kesepuluh lahir, kata ibu, simbahlah yang pertama kali memandikan dan meninabobokanku. Simbah juga yang mengajari ayahku bagaimana caranya memendam tali pusarku.
Aku lahir secara caesar dan dirawat di incubator, sehingga membutuhkan perawatan yang intensif selama satu minggu. Simbah adalah orang yang rajin menunggu dan menjengukku setiap hari. Kata ibu, simbah juga yang mengusap – usap ubun – ubunku agar bentuknya lebih enak dilihat, sebab saat itu kepalaku sedikit peyang. Secara sabar dan telaten dirawatnya aku setiap hari. Yaahh..mungkin kepalaku tidak akan seperti ini bila bukan karena simbah.
Simbah.
Di usianya yang ke 75, dia terkena stroke gangguan pada sebagian saraf kanan tubuhnya. Tidak ada lagi kunjungan ke rumah kami. Tidak ada lagi lagu sluku – sluku bathok yang menggema di hati dan dinding2 rumah kami. And even, tidak ada yang memperdengarkan lagu ninabobo padaku lagi, lalu ibu yang menggantikannya.
Simbah harus terbaring di kasurnya yang sederhana, di Madiun sana. Berbaring diatas kesendirian, tanpa suami dan juga kesendirian masa tuanya. Kami, anak dan cucunya hanya sesekali menengok dan mengiriminya obat. Hanya ada dua anaknya yang tinggal bersama dan merawat simbah. Simbah tak lagi seperti dulu. Sifatnya berubah seperti anak – anak yang cari perhatian. Simbah bahkan seringkali tampak blank dan membuat bingung kami semua. Tak jarang pula, berulang kali simbah seperti ingin menyudahi hidupnya. Kami tetap berikhtiar semampunya dan berusaha, apapun yang terjadi semoga yang terbaik bagi simbah.
Tapi…
Mbah, dengarkan aku…
Walau jasad tak lagi bisa bertemu, kami yang perlu engkau tahu, usaha dan tugasmu sebagai nenek, ibu, dan orang tua, sudah selesai dan tuntas dengan bagus. Lihatlah lihat anak – anakmu sekarang. Kami sudah hidup lebih dari cukup, bahkan sangat cukup. Dengan kesehatan, ilmu, dan materi yang kami punyai, itu adalah buah kerja kerasmu yang tak kenal henti. Lihatlah lihat cucu - cucumu kini, sudah tumbuh dewasa dan siap menuai hasil kerja keras dan masa depan yang menjelang. Terima kasih.
Tanah, udara, dan sebuah lagu sluku – sluku bathok..Tengah mengantarkanmu ke peristirahatanmu yang terakhir, satu minggu lalu di suatu sudut tanah merah, berbaring didekat suamimu…
Selamat jalan simbah…Note ini untuk mengenang satu minggu kepergianmu…Hanya untuk simbah – simbah kami yang terbaring di sana,
Hardja Sahir dan Sumila Sahir (May 29th, 2012)
and did you know where`s the name of `Sahir` in my twitter name taken from? It takes from someone who did care of me since i was child.. i won`t replace it…
and there`s always a goodbye in every hello… R.I.P
Nb : …dan cucumu yang satu ini masih disini, berputar – putar di wilayah jogja bagian utara….sambil menyanyi lirih dalam hati… sluku – sluku bathok, bathoke ela elo…..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment