Sunday, April 7, 2013
(M)(P) ILIH
YuhuUu…ada sobekan kertas terkapar tak berdaya berlukiskan wajah-wajah Sigmund Freud setelah berhasil saya keluarkan dari tumpukan paling bontot di bawah kamus – kamus tebal. Sekilas saya pandangi sobekan yang sudah tak beraturan dengan gambar mbah Sigmund dengan berbagai posisi,gaya rambut, metamorfosa,namun tetap dengan sorot matanya yang angker dan khas. Khas seseorang yang berpikiran `njelimet`,tidak terjangkau, atau kalau disamain kaya harga, bukan harga mahasiswa, tidak terjangkau.
Pandangan saya menerawang mengingat bagaimana saya bisa punya gambar mbah Sigmund.Dan oh…yaap! Lalala, saya ingat kuliah psikologi komunikasi semester dua beberapa waktu lalu , yangmewajibkan saya membuat esay mengenai id, ego,dan super ego. Tiga hal fenomenal yang digelontorkan dan menjadi `signature word` si embah yang keturunan Yahudi ini. Ah,waktu itu saya sebal setengah mati, yasudahlah copy paste langsung jadi. Tapi ternyata sosok mbah Sigmund terus membayangi, terutama ketika ujian.Mau tak mau,akhirnya tugas tentang mbah Sigmund saya buat dengan sepenuh hati.
Yaaah..berbicara tentang id,ego,super ego…tampaknya hari ini,semuanya bekerja maksimal dalam diri saya, bisa juga kamu,engkau, anda,kita, semua. Ketiganya tengah berkolaborasi,seperti orchestra yang bermain apik membentuk kesatuan lagu hingga usai. Id.ku tadi mengatakan suatu prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan dan kebutuhan. Ego saya juga bekerja berdasarkan prinsip realitas. Serta Super Ego-ku memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Yup….hari ini saya sedang membuat keputusan. Semacam keputusan yang sulit,bagi saya.
Sebuah pilihan bukan lagi menjadi suatu objek, ia telah menjadi objek. Menjelma menjadi suatu kalimat perintah : Pilih namun juga dapat menjadi kalimat adjective : yaitu Milih/memilih. Hanya tinggal dipandang dari sudut pandang yang berlainan. Itu semacam gertakan pada diri sendiri, bisa jadi sebagai sesuatu yang setara dimana kita tinggal memilih salah satunya. Atau bila kita sudah mentog dan bingung mengambil keputusan,ubahlah suatu pilihan tersebut menjadi suatu perintah : Pilih. Maka dengan mudah kita akan mendapat kepastian. Dan tampaknya, memilih tidak bisa bekerja pada saya. Id,ego, dan super ego saya terlalu perfeksionis hanya dengan memilih. Mereka bertiga perlu sebuah gertakan : Pilih. Lalu akhirnya, saya pun membuat sebuah keputusan.
Dan kini sudah pukul 22.44pm, dua jam lalu, keputusan sudah diproklamasikan. Saya pilih apa yang benar-benar bisa menjadi rumah yang nyaman bagi id, ego, dan super ego saya. Saya pilih salah satu dari dua hal yang membingungkan saya. Ah, id,ego,super ego..andai tidak ada kalian,mungkin saya hanya akan memilih dan tidak ada gertakan bagi diri saya untuk berpikir lebih.
Ooooh,mbah Sigmund...Untuk kali ini, saya cinta padamu. Semoga apa yang saya `Pilih` benar – benar tepat.
(untuk cakrawalaku yang tanpa batas, juga maverick yang masih berkelana)
_saya masih menunggu datangnya keajaiban, ditemani tetes – tetes terakhir jus sari buah… serta alunan lagu Hotel California : I was talking to my self this could heaven or this could be the hell??
Yogyakarta, 5 September 2012, 22.50pm
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment